
Yumi menggambar sesuatu di dalam bukunya hingga Ardhi berkata sedikit keras.
"Kita harus menyerangnya terus menerus jangan beri jeda sedikipun."
"Baik."
Mereka semua berlari ke depan namun Yumi telah selesai mengaktifkan sihirnya, dia menciptakan seekor ular naga yang meluncur pada mereka.
Ardhi menarik satu pedangnya yang mana menahannya dengan silangan di depan, dia terdorong beberapa meter jauhnya meski demikian, tidak ada dari kelompoknya yang berhenti berlari ke arah Yumi.
Nisa melompat di atasnya untuk memberikan tendangan lokomotif, dia bergerak dengan sempurna seperti seorang atlet olahraga profesional hanya saja itu tidak berhasil karena Yumi mampu melompat mundur menghindarinya.
Dia tak menyerah dan melanjutkan dengan pukulan dan tendangan, saat dia hendak menarik belatinya Yumi menendang pergelangannya hingga belati menancap jauh di samping.
Selagi menggambar Yumi menendang wajah Nisa hingga dia juga turut terlempar jauh, Latifa muncul untuk menggantikannya sayangnya dia tidak terlalu mahir bertarung di depan.
"Seorang Arch Priest yang tidak menggunakan tongkat memang mengagumkan."
"Kata siapa aku tidak menggunakan tongkat, aku hanya selalu menyimpannya."
Latifa memunculkan tongkat perak di tangannya yang mana membuat Yumi terkejut karena jangkauan serangannya jadi lebih jauh.
Ketika dia bergerak sesuatu telah dirasakan tubuh Latifa hingga dia tak bisa bergerak, dia melihat ke bawah dan beberapa ular telah mengikatnya.
__ADS_1
Ular-ular itu naik dan mengambil tempat tidak senonoh di tubuhnya.
"A-apa ini, tidak... Ardhi jangan lihat ke sini aku sedang dipermalukan... Aaah."
Ardhi jelas tidak melihat hal itu dia terlalu sibuk berhadapan dengan naga, Mery yang muncul paling belakang kini meneruskan serangan. Dia mengayun-ayunkan perisainya.
"Benar-benar wanita yang kuat."
"Aku akan menjatuhkanmu."
"Itu baru semangat."
Nisa muncul dan membebaskan Latifa yang terengah-engah, tubuhnya dipenuhi keringat.
"Kau benar-benar merasa senang barusan bukan?"
"Aku tahu."
Tiga lawan satu adalah hal yang terjadi sekarang.
Ardhi menggunakan dua pedang dan berputar untuk memotong naga di depannya, ini adalah gerakan yang dia tiru dari seekor monster yang pernah ia hadapi yang disebut ''Spin' lebih tepatnya dari Hobgoblin waktu itu dan syukurlah bahwa itu sangat berguna.
Ardhi mengalihkan pandangan pada kelompoknya yang terjatuh dan terus bangkit tanpa memberikan waktu untuk Yumi menggambar.
__ADS_1
Dia berlari untuk membantu hingga sekarang berubah menjadi empat lawan satu.
"Kalian memang melakukan hal benar, selagi aku tidak bisa menggambar itu menjadi keuntungan bagi kalian."
Nisa menggunakan tebasan cepat yang mana dihindari oleh Yumi yang bergerak melewatinya selagi memegang ekornya.
"Ah, jangan menyentuh ekorku."
"Bukannya ini bagian sensitifmu."
"Tidak!"
Yumi menendang tubuh Nisa hingga dia terlempar sebelum menghadapi Latifa dan Mery, dengan hanya satu pukulan mereka diterbangkan dan saat Ardhi mengambil celah untuk menebas, Yumi telah menginjak pedangnya.
"Mustahil? Ada apa dengan gadis kecil ini nyan? Dia terlalu kuat."
Ardhi berusaha menjatuhkan sosok Yumi sayangnya malah dirinya yang terlempar, Ardhi membuat seluruh pedangnya melayang.. hanya saja.
Yumi menunjukkan gambarnya dan dalam sekejap sebuah kepala monster muncul dari sana menelan ke-enam pedang lalu menyeretnya masuk ke dalam buku bergambar.
"Tanpa pedang kau akan kesulitan bukan."
Ini jelas sebuah ujian terberat untuk mereka semua, seorang yang dengan mudah mengalahkan anggota sekte bukanlah orang yang bisa mereka kalahkan dengan cara biasa.
__ADS_1
Berfikirlah? Berfikirlah diriku? Apa kelemahannya? Dia hanya satu orang.
Ardhi memutar otaknya lebih keras dari biasanya.