
Di dalam kamar mandi itu Ardhi sedang membasuh punggung Carmen, sementara dia melakukannya Carmen mengeluarkan suara imut bergairah.
"Hufh... hufh.. tuan sangat bagus memperlakukan tubuh wanita, sekarang bagian depan."
"Haruskah."
"Anda bilang ingin menggosok tubuhku karena itu lakukan sampai akhir."
Di luar pintu putrinya dan Lynn menguping.
"Apa yang sedang mereka lakukan?"
"Melakukan hal dewasa."
"Melakukan hal dewasa?"
"Kamu terlalu muda untuk cepat tahu, ngomong-ngomong aku membuat cemilan, apa Lila mau?"
"Aku mau."
Lynn layaknya wanita dewasa membawa Lila pergi ke dapur, sementara Ardhi dan Carmen hanya menghabiskan waktu di bak mandi yang sama.
"Bagaimana keadaan tuan putri?"
"Setelah dua hari ingatan putri telah kembali, aku yakin bahwa semuanya berkat nona Latifa yang terus berada di dekatnya."
"Itu melegakan."
Ardhi benar-benar merasakan perasaan seperti itu, mungkin dia memang terlalu baik sebagai petualang.
__ADS_1
"Dari yang aku dengar, seluruh bawahan istana termasuk ratu telah dikendalikan oleh para sekte serigala hitam... mereka bergerak layaknya sebuah boneka, bahkan keberuntungan bahwa nona Latifa tidak terpengaruh adalah yang tidak bisa diduga."
Karena kekuatan sucinya melebihi siapapun dia secara tidak sadar terlindungi dari pengaruh tersebut.
"Ratu?"
"Kerajaan Lyndon tidak memiliki raja semua urusan negara dikelola oleh ratu."
"Ah jadi begitu, ngomong-ngomong raja maksudku suami ratu berada di mana?"
"Biasanya mereka tinggal di tempat lain bersama para selir, biasanya beliau hanya berperan sebagai alat untuk mendapatkan keturunan."
Ardhi bisa mengerti sedikit gambaran besarnya.
Apa ini yang dimaksud kegelapan keluarga kerajaan? pikirnya dalam hati, sebelum mengalihkan pada urusan sebenarnya.
Jika seseorang menyamar jadi Asenola berarti dia akan jadi ratu berikutnya dan untuk itu ratu harus dibunuh, dengan kata lain, dia dalam bahaya.
Setelah mandi Ardhi mengumpulkan semua orang untuk membahas soal apa yang mereka lakukan. Carmen, Lynn dan Nemesis berada di belakangnya sementara Lila duduk di pangkuannya.
Melihat itu anggota partynya begitu terkejut.
"Ada apa dengan posisi Harem ini nyan?"
"Aku iri."
"Apa seperti ini gaya pria di kota."
Eve hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kita juga tidak boleh kalah."
Ardhi pikir kenapa tempat ini malah berubah menjadi tempat persaingan aneh, dia ingat dia hanya seorang yang tiba-tiba muncul di sini dan diluar dugaan malah terlibat hal semacam ini. Ardhi memilih mengabaikan hal-hal aneh yang tak masuk akal untuk mendengarkan penjelasan Asenola yang telah mendapatkan ingatannya.
Suatu hari dia berada di taman dan melihat ke dalam kolam air untuk memperhatikan pantulan dirinya, entah bagaimana dirinya di air tiba-tiba menyeruak keluar dan lalu mencekiknya.
"Sekarang kerajaan ini adalah milikku, lebih baik kau hiduplah sebagai orang biasa," bagaimana makhluk itu berkata padanya, dan lalu ia dibawa dan berakhir saat kelompok Ardhi menemukannya di dalam persembunyian itu.
"Aku benar-benar beruntung bahwa kalian berhasil menemukanku terlebih soal Latifa, terima kasih banyak.. Latifa sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, aku benar-benar berterima kasih."
"Tuan putri."
Keduanya saling berpelukan erat, melihatnya membuat semua orang memiliki perasaan hangat di hatinya. Tapi yang jelas kini mereka akan bergerak dengan waktu.
"Apa kita tidak bisa memanggil kelompok Yumi juga?" tanya Eve di luar perkarangan rumah bersama yang lainnya.
"Kita tidak punya waktu, kirim kami dulu baru minta mereka menyusul besok pagi."
"Aku mengerti, semoga beruntung."
Eve melalui sihir perpindahannya telah memindahkan kelompok Ardhi serta putri ke ibukota, tepatnya di sebuah gang yang jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Ibukota kerajaan Lyndon begitu luas bahkan tanpa siapapun yang tahu jalan, sulit untuk melewati setiap distrik.
Mereka mengenakan mantel cokelat untuk menyembunyikan dirinya dan menyelinap di antara orang-orang yang berlalu lalang, ini sudah malam hari tapi tidak benar-benar larut malam hingga orang-orang masih berada di jalan untuk beraktivitas sedia kala.
"Tuan putri tolong tunjukkan jalannya."
"Baik."
__ADS_1
Dia mengangguk mantap.