
Jenifer mendapatkan pembayarannya di pelabuhan Orleans dan setiap malam di bar dia akan senang menceritakan petualangannya yang berbahaya tentu sembari sedikit memberikan bumbu di atas ceritanya dimana Adhi begitu heroik dan sebagainya, tanpa disadarinya Ardhi mulai disebut sebagai pembunuh Kraken.
Orang-orang bahkan dengan senang memberikan uang hanya untuk mendengarkannya.
Beberapa hari berikutnya kelompok Ardhi telah sampai di kota Georginia, mereka terlalu lelah untuk melaporkan ke guild jadi mereka akan mengambil waktu besok saja.
Di penginapan Nisa terkejut dengan mata terbelalak, dia bertingkah seperti kucing nakal yang duduk dipojokan.
"Tak kusangka Ardhi tidak merasa cukup denganku dan sekarang membawa dua gadis bersamanya ke tempat tidur, aku akan diabaikan."
"Jangan mengatakan hal aneh-aneh yang bikin salah paham Oi."
"Nyan~"
Adhi menjelaskan gambaran kasar tentang Mery.
"Kamu sepertinya kuat, aku tidak keberatan jika kamu bergabung bersama kami... dilihat dari penampilanmu kau pasti Warrior."
"Aku pandai menggunakan perisai."
"Namaku Nisa nyan~ jobku Thief, jika Ardhi Sword Master."
"Senang bertemu denganmu."
Nisa mendekatkan dirinya ke arah Latifa.
"Lalu bagaimana denganmu nona pendeta, kau mungkin ingin bergabung juga nyan~"
__ADS_1
Latifa mengerenyitkan alisnya, gadis ini memang memiliki perilaku buruk, dia berusaha menggodanya.
"Aku ingin bergabung dengan kelompok ini," teriaknya selagi meringkuk dengan wajah memerah.
"Hehe sudah kuduga, tidak ada yang bisa menolak pesona Ardhi."
"Tunggu Nisa, dia adalah Arch Priest dari ibukota."
"Tak masalah kan, jika ada orang ini kita bisa hemat uang untuk beli botol penyembuhan."
"Jadi itu niatmu."
"Bukannya ini bagus juga untukmu nyan~ Ardhi punya kelompok Harem."
Ardhi tidak terlalu memikirkan hal seperti itu, sejujurnya dia hanya ingin tahu kenapa dia berada di dunia ini, serta bertahan hidup dengan uang yang cukup lumayan.
"Entah bagaimana kedepannya, aku akan menerima Latifa juga."
"Sepakat."
Hanya ada dua ranjang di sini jadi Ardhi memilih menyatukannya menjadi satu sementara dia akan tidur di lantai.
Membiarkan Latifa dan Mery mandi duluan, Adhi berkata ke arah Nisa.
"Bagaimana latihanmu?"
"Aku sudah menguasai sihirnya, lihat ini nyan."
__ADS_1
Lingkaran sihir muncul di telapak tangan kirinya dan memunculkan api kecil di sana.
"Itu bagus."
"Hehe apa kita akan kembali berpetualang lagi."
"Kita masih punya urusan yang jauh lebih mendesak, sebelum itu kita harus tanyakan pada Guild Master."
Tengah malam itu Ardhi mulai menyadari bahwa dia benar-benar harus segera membeli rumah sendiri.
Entah siapapun di ruangan ini tidak ada yang mau tidur di atas ranjang sebaliknya kini, Latifa tidur di samping kirinya, Mery di kanan dan Nisa tidur di atas tubuhnya.
Dia mengerenyitkan alisnya selagi berteriak dalam hati.
"Apa-apaan ini semua!"
Dia benar-benar belum pernah berpengalaman dengan hal seperti ini.
Keesokan paginya Latifa mengenakan pakaian pendeta seperti biasanya dan Mery tengah merapihkan rambutnya yang basah di depan cermin.
Untuk Nisa dia masih tertidur di atas ranjang dengan pose kucing.
"Kalian semua terlalu santai."
Di ruangan guild master, seperti biasanya sosok Eve tidak luput dari asap rokok, dia melirik ke arah bola kristal yang diletakkan Latifa di meja.
Bola itu sebesar kelereng jadi dia juga memiliki pikiran sama dengan semua orang.
__ADS_1
"Apa bola ini bisa menahan 50.000 monster?" tidak ada yang bisa menjawabnya.