
Tanpa perlu diragukan kemenangan jatuh pada Mery, dia sudah sangat kuat bahkan ketika dia di daratan maka jika di air kekuatannya dua kali lipat dari biasanya tanpa armor ataupun perisai untuk memperberatnya.
"Tolong siapkan makan siang yang enak untukku," perkataan Mery seolah lebih menjatuhkan orang-orang yang kalah.
Masih terlalu lama untuk siang hari jadi mereka kembali berkompetisi dengan pertarungan bola voli, hanya Ardhi dan Eve saja yang tidak ikut dan hanya memperhatikan dari luar pertarungan mereka.
"Saat kalian bertarung dengan raja iblis bagaimana Ardhi mengalahkannya?"
"Hanya sebuah keberuntungan, saat itu Dewi Naya menyelamatkan kami."
"Dewi Naya kah, hampir tidak ada yang mengingat soal dirinya."
Ardhi belum sepenuhnya mengetahui alasan sesungguhnya layaknya sebuah kepentingan puzzle yang harus dia susun sendiri, yang jelas semua jawaban itu akan dia dapat setelah alarm dari ponselnya berdering. Kini masalah daya telah terselesaikan dan hanya menunggu sampai satu persatu kepingan itu melengkapi dirinya sendiri.
Pahlawan, dewi, raja iblis dan juga masa lalu, semua itu terhubung satu sama lain.
Ardhi menghela nafas panjang sebelum membaringkan tubuhnya di pasir untuk melihat betapa birunya langit tersebut.
Dia hanya memikirkan apa benar-benar dia jatuh cinta pada Dewi Naya, mungkin.. saat itu aku hanya terpengaruh pesonanya, dengan kata lain aku saat itu hanya diguna-guna dan alasan kenapa dirinya melakukan ini karena ingin membantunya sepenuhnya.
Ardhi mengenal dirinya lebih baik dibandingkan siapapun, dia bukan seseorang yang mampu membiarkan seseorang dalam kesulitan bahkan jika itu dewi sendiri.
Kemungkinan besar itulah yang terjadi dan agar dia tidak terpengaruh pesona dewi makanya dia juga meminta ingatannya dihapus namun tidak sepenuhnya.
__ADS_1
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, hanya saja di sini terasa damai."
"Itu perkataan yang dikatakan seseorang yang selalu kerepotan."
Ardhi pikir dia mungkin termasuk salah satunya. Setelah makan siang mereka kembali ke kota Georginia dan menemukan semua orang dalam keterpurukan.
"Kenapa dengan mereka? Terlihat seperti seorang yang kehilangan rasa semangat mereka," ucap Latifa disusul Nisa.
"Mungkin mereka lapar."
Lapar bukan selalu menjadi alasan mereka terlihat lesu, hampir berubah 360° dari yang diingat Ardhi saat meninggalkan kota. Dia bertanya pada seorang pria berjenggot dan berkumis yang masih mengenakan gaun Purin.
Kakinya yang berbulu sudah cukup membuat mereka tidak nyaman dengannya termasuk pelayan Ardhi di dalamnya.
"Ah, kita mendapatkan berita buruk dari Purin."
"Apa dia tidak jadi datang kemari?"
"Jika hal itu terjadi tidak masalah, lebih buruk dari itu, dia sudah diculik oleh bandit Skull Darkness."
Eve menjelaskan.
__ADS_1
"Skull Darkness adalah bandit terbesar di kerajaan ini, awalnya mereka selalu beroperasi di hutan dan perbukitan tapi sekarang mereka kerap merampok desa, kota ataupun menculik orang berpengaruh, dengan popularitas Purin miliki tidak aneh jika dia menjadi targetnya."
Cathy dengan alasan tertentu tampak sedikit tersenyum.
"Sebaiknya kalian memilih idol baru, aku yakin dia pasti sudah dinodai atau sebagainya."
"Kenapa kau mengatakan hal sekejam itu, Purin akan selalu suci kapanpun."
Ardhi bertepuk tangan sekali untuk menyelesaikan perkataan yang semakin ngawur.
"Bukannya kalian bisa mencoba menyelamatkannya, kalian petualang."
"Percuma, Skull Darkness diisi petualang peringkat A... kita tidak ada harapan."
Terkadang Ardhi lupa bahwa kota ini terlalu banyak orang lemah termasuk dirinya.
"Nah Ardhi kenapa kau tidak melakukannya? Bukannya kalian menginginkan jadi peringkat A, aku bisa menaikan satu rank kalian ke B.jika kalian mau menyelamatkannya."
"Apa bisa begitu?"
"Ah, jika Purin tidak kembali maka seluruh kota ini dalam keterpurukan dan itu cukuplah buruk untuk semua orang... anggap saja ini ujian khusus dari guild master."
Ardhi saling bertatap mata dengan rekan partynya dan mereka semua mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Aku tidak senang dengannya tapi melihat penduduk seperti ini, aku lebih tidak senang lagi," ucap Cathy dan Ardhi memutuskan untuk menerimanya.
Jika dia berhasil hanya selangkah lagi menuju peringkat A.