
Dentuman menggema ke udara saat Mery menggunakan perisainya untuk menahan tebasan Hobgoblin, di saat yang sama Roy menggunakan skill Hide kemudian menusuk jantungnya dari belakang yang mana membuatnya roboh dalam sekejap mata.
Dibandingkan Nisa, kemampuannya sebagai thief berada di atas. Tubuh Hobgoblin jelas besar dan kuat tapi dia mampu menusuknya dalam satu percobaan.
Di sisi lain sisanya tampak menghabisi goblin penjaga, kerusuhan itu mulai menarik goblin lainnya hingga mereka segera bergegas untuk bersembunyi. Ketika mereka berada dalam jangkauan, mereka kembali menyerang.
Latifa menggunakan Flash, untuk membuat seluruh pandangan mereka buyar, Yugo menggunakan mantera Fire Bolt dan Nisa mengikuti dari belakang, adapun Yumi dia mengirimkan banyak harimau putih untuk menghabisi goblin yang melarikan diri, untuk Hobgoblin, Ardhi dan Tiffany mengambil peran menjatuhkannya.
Ketika Hobgoblin menggunakan Spin, keduanya mundur dan ketika dia berhenti mereka secara bersamaan mengirimkan tusukan mematikan.
"Hobgoblin lumayan hebat juga," ucap Tiffany mengelap noda darah di wajahnya, sementara Ardhi duduk selagi mengatur nafasnya yang kelelahan.
Ini adalah ke dua puluhnya mereka mengalahkan Hobgoblin. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Nisa yang telah menumbangkan goblin penjaga terakhir.
"Sebentar lagi malam, mari sudahi perburuan ini," atas pernyataan Ardhi mereka semua mengangguk mengiyakan.
Mereka tidak kembali ke kota melainkan membuat dua tenda di dekat pinggir sungai. Ardhi membasuh wajahnya bersama Roy dan Yugo, sementara para wanita sedang mandi di sisi lain.
Yugo berteriak.
"Ini tidak benar, seharusnya saat para wanita mandi kita mengintip mereka."
__ADS_1
"Yugo-chan serius mengatakan itu, Yumi-chan pasti akan membunuhmu."
"Ugh.... bagaimana menurutmu Ardhi?"
"Aku sering mandi bersama pelayanku aku merasa tidak aneh lagi dengan tubuh wanita."
"Apa? Kenapa hidupmu terlihat menyenangkan seperti itu."
"Menyenangkan apanya, aku selalu kerepotan menghadapi mereka," balas Ardhi lelah.
"Yare, yare, Ardhi-chan memang memiliki karakter yang unik.. itu bagus, aku menyarankan agar tidak menjadi pria brengsek seperti orang ini."
"Kau seorang pendeta tapi mabuk-mabukan, terlebih setelah menikahi banyak wanita kau malah meninggalkan mereka."
Perkataan Roy, membuat Yugo menutup telinganya selagi berguling-guling di tanah.
"Aku tidak ingin mendengarnya."
"Kau benar-benar tak ada ampun," atas pernyataan Ardhi, Roy hanya tersenyum selagi menjulurkan lidahnya.
Dibandingkan semua orang bukannya orang ini yang lebih unik. Yugo memutuskan untuk mulai menyiapkan makan malam mereka sementara Roy dan Ardhi akan mencari kayu bakar di hutan.
__ADS_1
Ketika mereka memiliki waktu, Ardhi bertanya pada Roy soal bagaimana cara mengisi ponsel miliknya.
"Hmm... aku belum pernah melihat hal seperti ini, tapi bagaimana jika menggunakan ini?"
Roy mengeluarkan sebuah batu berwarna putih dari kantong celananya, dia mendekatkan batu itu di dekat ponsel Ardhi dan dalam sekejap ikon baterai sedang mengisi muncul.
"Berhasil... batu apa ini?"
"Ini disebut Ore, batu ini cukup langka dimana digunakan sebagai penerangan, ini juga menerangi jalan-jalan di kota."
Ardhi segera menyadari hal itu, seharusnya dia lebih awal mengetahuinya.
Baru sebentar cahaya dalam batu tersebut mulai redup dan menghilang.
"Batu ini hanya sekali pakai, aku sering menggunakannya untuk bermain lempar tangkap pada malam hari."
"Di mana aku bisa mendapatkan batu yang serupa?"
"Tempat itu cukup terlarang untuk umum, meski aku mengatakannya pada Ardhi-chan, kamu perlu izin dari bangsawan untuk memasukinya, waktu itu aku mendapatkan ini dari bandit yang kami tangani... benar juga, kalau mau, bisa beli dari pemilik tanah juga."
Ardhi pikir hal itu bisa dicoba nanti.
__ADS_1