
Sudut pandang Nisa.
Ini sungguh mengejutkan bahwa kami bisa mengalahkan Yumi, sejujurnya aku tidak percaya itu.
Dia bertarung bahkan tak menahan diri tapi hasilnya kami tetap menang, apa ini hanya mimpi... kurasa tidak, aku terus mencubit pipiku dan itu terasa sakit.
"Apa yang kau lakukan?" yang bertanya itu adalah Latifa yang berjalan di sampingku, dia seorang Arch Priest yang dikenal sebagai orang suci tapi bagiku dia sama sekali berbeda, selain pikirannya mesum sifatnya juga buruk.
"Aku hanya memikirkan apa ini kenyataan nyan, kita baru saja mengalahkan Yumi?"
"Kurasa begitu. Aku tidak terlalu mengenal siapa Yumi, tapi bagaimana dia bisa mengalahkan seluruh petualang dan monster aku pikir dia memang orang kuat."
Yumi yang berada di depan kami menunjuk ke arah air terjun dan berkata.
"Di dalam sana ada gua, kita bisa menggunakannya untuk sementara waktu."
Aku tidak bisa melihat gua itu dari luar namun saat kami berjalan ke belakangnya kami bisa menemukannya, gua itu cukup besar dan diisi lumut-lumut bercahaya, entah kenapa Mery malah berbaring di sana selagi melebarkan kaki dan tangannya.
"Ini sangat nyaman."
Ia selalu bertindak tak terduga bahkan dari kami ia yang paling jarang berbicara, selain itu tubuh Mery benar-benar cukup besar untuk mampu menutupi seluruh lumutnya, kami mengambil beberapa kepiting di sungai untuk dijadikan makan malam dan kemudian tidur.
__ADS_1
Keesokan paginya aku sepertinya telah bangun lebih awal dari semua orang, aku menggosok mataku kasar sebelum mengitari pandangan ke sekeliling dan menemukan fakta bahwa bukan aku yang pertama.
Di mana Ardhi berada sudah tidak ada lagi, dia jelas sudah bangun duluan.
Aku mencoba mencari keberadaannya namun tidak bisa aku temukan, setelah keluar dari gua aku baru bisa menemukannya sedang duduk di batang pohon selagi memperhatikan sesuatu di tangannya.
Itu sebuah benda yang asing bagiku.
Menyadari kedatanganku Ardhi berbalik dan aku tersenyum ke arahnya selagi mengibaskan ekorku.
"Kau di sini rupanya nyan~"
"Nisa, kau bangun lebih awal."
"Ah benar juga, kamu yang paling susah di bangunkan di pagi hari."
Aku membalas dengan sedikit tertawa lalu duduk di sebelah Ardhi sambil melirik ke arah benda yang dipegangnya, menyadari tatapanku ia mulai menjelaskan.
"Ini benda dari kampung halamanku, aku perlu mengisi energinya tapi aku tidak tahu bagaimana caranya karena tidak ada alat yang bisa melakukannya."
"Eh, begitukah."
__ADS_1
Aku terkejut karena tiba-tiba saja benda itu mengeluarkan suara aneh.
"Heh, apa itu? Apa?"
"Hanya pemutar musik, mau mendengarkan lagi."
Aku mengangguk ragu.
Sebuah benda tertentu diletakan di telingaku dan terdengar suara yang begitu aneh di dalam kepalaku. Itu sebuah musik yang benar-benar baru untukku namun semuanya terdengar merdu.
Saat aku mulai menikmatinya tiba-tiba tidak terdengar apapun.
"Baterainya sudah habis."
"Ah.. sayang sekali, apa kita bisa mengisinya dengan mana?"
"Aku belum mencobanya."
Ardhi mencoba seperti apa yang kukatakan dan sayangnya itu tidak terjadi apapun.
"Sepertinya tidak bisa, setelah kembali, aku akan mencoba mencari tahu caranya di kota."
__ADS_1
"Itu hanya satu-satunya pilihan nyan."
Saat matahari terbit kami tidak pernah jauh dari gua, hampir seluruh poin telah kami miliki dan jelas bahwa seluruh petualang telah jatuh dalam keputusasaan, meski begitu mereka tidak memilih keluar karena pada dasarnya hanya berpartisipasi mereka sudah naik satu peringkat.