
"Pak, aku lapar," ucap Sinta, saat mobil mereka mulai meninggalkan area pemakaman.
Doni menoleh "Mau makan apa?" tanya Doni, yang masih fokus dibalik kemudi.
Sinta berfikir sejenak, "Sepertinya, makan bakso enak."
Sinta beralih menatap ke jendela sambil mencari sesuatu. "Itu, Pak!" tunjuk Sinta ke arah luar. "Berhenti didepan, kita makan disana!"
Alis Doni menyatu. "Kau yakin makan disana," tunjuk Doni ke arah gerobak bakso.
Sinta mengangguk. Setelah itu, mobil Doni menepi, dan Sinta langsung menghampiri tukang bakso.
"Mang!" panggil Sinta ke tukang bakso. "Bakso dua, sama es teh manis dua.
"Siap, Mbak!" jawab si tukang bakso.
Setelah itu, mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan disana.
"Kamu yakin makan disini," tanya Doni sambil menatap sekeliling.
Alis Sinta terangkat "Kenapa?" tanya Sinta. "Bapak tidak pernah makan di tempat seperti ini?"
Doni menghela nafas "Sepertinya, kurang higienis."
Sinta memutar bola mata, "Pak, saya sudah sangat lapar, jika bapak tidak mau biar saya yang makan."
Doni memandang Sinta datar, dia tidak yakin makanan disini sehat. Secara, gerobak bakso berada tidak jauh dari jalan raya.
Setelah itu, pesanan mereka datang, tanpa menunggu lama, Sinta langsung menyantap makanan yang berbahan dasar daging itu. Tidak lupa memberi kecap, saos dan sambal sangat banyak membuat Doni ngeri melihatnya.
Doni yang melihat sinta sangat lahap hampir saja meneteskan air liur, tanpa menunggu aba-aba, pria itu langsung ikut makan.
'Ini sangat enak,' batin doni berucap.
Tidak terasa, dia sudah menghabiskan satu mangkuk bakso.
"Mang, satu lagi," ucap Doni.
Sinta yang sedang makan tersenyum.
__ADS_1
"Katanya tidak higienis, tapi minta nambah," sindir sinta sambil menyeruput es teh.
"Aku hanya sedang lapar, " sanggah Doni. "Kau mau lagi?" tawar Doni.
"Aku sudah kenyang," jawab Sinta dengan mulut merah karena pedas
Setelah menghabiskan dua mangkuk bakso dan satu gelas es teh, Doni mengajak Sinta untuk segera beranjak.
"Pak, kita mau kemana?" tanya Sinta, saat berada di dalam mobil. "Kenapa jalannya berbeda," sambil melihat ke arah luar.
"Aku mau mengajakmu pergi ke pantai,"
"Pantai!" Sinta menatap doni dengan mata berbinar. "Sudah lama sekali aku tidak ke pantai," ucap Sinta antusias.
Doni tersenyum, melihat binar bahagia di wajah Sinta. Sepanjang perjalanan Sinta terus berceloteh, kali ini, Doni tidak banyak menimpali, hanya sesekali dia jawab.
"Wah, indah sekali," ucap Sinta, setelah mereka sampai di pantai.
Pasir lembut, dan suasana pantai yang cukup tenang, dengan ombak yang tidak terlalu besar, membuat siapa saja betah di sini. Panorama alam pegunungan sekeliling yang menarik, menambah daya tarik pantai ini.
Sinta yang sejak tadi sudah tidak sabar, akhirnya melepas alas kaki yang ia pakai. Dia berlari kegirangan seperti anak kecil yang menemukan mainan.
"Sangat polos," ucap Doni.
"Pak, ayo, kesini!" teriak Sinta yang sudah menceburkan diri di tepi pantai, untuk mencari kerang.
Melihat Doni tidak bergerak dari posisinya, membuat Sinta berlari menghampiri dan menarik paksa Doni.
"Hey, kau mau apa?" Sinta tidak menanggapi Doni. "Nanti bajuku basah." Sinta masih tidak perduli. Setelah itu, dia langsung mendorong Doni, karena tidak siap membuat Doni terjatuh di dalam air. Untung benda penting dalam sakunya sudah ditinggal di dalam mobil.
"Beraninya ka"
Doni tidak melanjutkan ucapannya, karena Sinta sudah berlari menjauhi Doni dengan tawa berderai.
"Hey, tunggu!" teriak Doni, berlari mengejar Sinta.
Dan terjadilah aksi kejaran antara mereka. Sinta yang gesit, selalu berhasil menghindar dari tangkapan Doni, sesekali Sinta mengejek Doni yang tidak berhasil menangkap dirinya. Sinta mulai kelelahan dan itulah kesempatan Doni.
"Kena kau," ucap Doni, yang berhasil menangkap Sinta. Setelah itu, Doni melancarkan aksi untu menggelitik pinggang Sinta.
__ADS_1
"Ampun, Pak!" pekik Sinta, tidak kuat dengan rasa geli akibat ulah Doni.
Doni menghentikan aksinya melihat sinta sudah kelelahan. Tanpa mereka sadari, posisi mereka sangat intim, dimana Sinta sudah berada dalam pelukan Doni. Membuat mereka bisa merasakan hangat nafas satu sama lain.
Langit sore di pantai dan angin yang bertiup sepoi menemani dua insan yang masih terdiam dalam pikiran masing- masing. Mereka saling tatap, seolah mata mereka terkunci.
"Pak!" Sinta tidak melanjutkan ucapannya, karen bibir doni sudah menempel sempurna di atas bibir Sinta.
Doni ******* bibir sinta dengan lembut, membuat Sinta terbuai. Entah dorongan dari mana, Sinta memberanikan diri membalas ciuman Doni. Tangan Doni yang berada di pinggang Sinta, kini meraba punggung dan tengkuk, sedikit menekan untuk memperdalam ciuman mereka.
Ingatkan Doni, jika dia tidak bisa menatap lama mata indah Sinta. Dan bibir merah muda milik Sinta yang merekah membuat Doni tidak bisa menahan diri. Hasrat yang lama terpendam, membuat akal sehatnya seketika hilang, dan membuat dia lupa diri.
Sinta lebih dulu menghentikan ciuman itu, karena dia sudah kehabisan nafas.
"Pak!" lirih sinta dengan nafas sedikit terputus. "Apa ini tidak salah?" tanya Sinta dengan dahi yang masih saling menempel.
"Tidak!" Doni menatap Sinta dengan tatapan sayu. "Kita sama-sama tidak mempunyai pasangan."
Bukan ini yang dimaksud Sinta, tentang perasaan Doni dan kejelasan status mereka yang menjadi ganjalan.
Saat sinta akan bersuara, Doni kembali menarik tengkuk Sinta, melanjutkan ciuman yang belum usai. Ciuman yang lembut dan sedikit menuntut. Doni sangat lihai dalam hal ini, Sinta mengakuinya, wajar saja Doni sudah sangat berpengalaman, Sinta yang tadinya bimbang kini kembali terbuai dengan ciuman Doni.
Persetan dengan status, yang ada di pikiran sinta saat ini hanyalah menikmati sentuhan Doni.
Bersamaan itu, langit sore sudah berganti dengan senja yang indah. Dan di bawahnya, dua orang anak manusia sedang terbakar hasrat ditemani dengan susana pantai yang sendu.
Tangan Doni mulai berani bergerilya, Sinta menyadari itu dan berniat menghentikannya. Pikiran Sinta masih waras dia tidak mau berbuat terlalu jauh.
Lagi, Sinta menghentikan ciuman, dengan nafas sedikit terputus dia menggeleng, "Jangan!" lirih Sinta dengan tatapan sayu.
Ucapan Sinta membuat Doni berhenti dari aksinya, dapat Sinta lihat ada raut kecewa disana. Tapi Doni menghargai keputusan Sinta, jika tidak dihentikan mungkin Doni sudah merusak anak gadis orang.
Setelah sediki merapikan pakaian, Sinta mengajak Doni untuk segera pulang.
"Lebih baik kita pulang, ini sudah malam," ucapan Sinta memecah kesunyian mereka.
Doni tersenyum dan mengangguk kearah Sinta, gadis itu merasakan ada genggaman lembut yang menyentuh tangannya. Sinta mendongak menatap ke arah sang pemilik.
"Takut hilang." Dengan tersenyum Doni mengatakan itu, membuat wajah sinta memerah, karena mendapat perlakuan manis.
__ADS_1
Sampai di depan mobil genggaman meraka harus terlepas, jika dapat kalian lihat tingkah mereka tak ubahanya seperti anak ABG yang sedang kasmaran.