
Doni melangkah cepat memasuki kantornya. Rapat akan segera di mulai tapi dirinya masih berada di luar ruangan.
"Bos, mereka sudah munggu didalam."
Bagas menyambut kedatangan Doni dengan memberikan kertas berisikan laporan ke uangan.
Setelah memasuki ruangn Doni segera memulai acara rapat. Untung dia hanya terlambat lima menit. Jika tidak dia akan di cap sebagai pemimpin yang tidak cakap.
"Senang berkerja sama dengan Anda," ujar Pak Danu.
Doni menjabat tangn Pak Danu (Ayah Rama) setelah rapat selesai.
"Saya seharusnya yang berterima kasih, karena perusahaan Anda mau bekerja sama dengan perusahan saya. Jika di bandingkan dengan perusahaan Anda, perusahaan saya ini tidak ada apa-apanya."
Pak Danu menpuk bahu Doni, "Kau terlalu merendah anak muda, itu tidak baik," ujar Pak Danu.
Doni hanya tersenyum menaggapi ucapan Pak Danu.
"Aku harus pamit karena ada urusan," ujar Pak Danu seraya memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Sebenarnya aku masih ingin mengobrol lebih lama denganmu."
"Kita bisa mencari waktu lain Pak. Saya memahami kesibukan Anda."
"Baiklah, kita berjumpa di lain waktu anak muda. Aku akan sangat senag jika kau mau berkunjung ke kediamanku."
"Tentu, Pak. Dengan senang hati saya akan berkunjung."
Setelah itu Pak Danu keluar dari ruangan Doni.
*****
Bagas melangkahkan kakinya menuju kantin saat rapat telah selesai. Dia merasakan perutnya perih karena lapar. Saat akan memesan makanan Gea langsung menyodorkan kantung plastik yang berisikan makanan.
"Ini," Gea menaruh bungkusan yang dia pegang ke atas meja, "sebagai permintaan maaf saya," lanjut Gea yang tau tatapan bingung dari Bagas, "Baju bapak belum kering, besok akan saya bawa."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Gea langsung berbalik tanpa menunggu lebih lama. Sedangkang Bagas hanya terheran-heran dengan perilaku Gea.
"Kenapa dia bisa tau aku ada disini?"
Bagas menatap tubuh Gea yang akan masuk kedalam lift.
"Dasar aneh!" celetuk Bagas lagi.
Bagas duduk dan menatap plastik yang berisikan makanan.
"Ish," pria itu menatap aneh bekal yang ada di tanganya "Kenapa dia memberikan aku bekal seperti anak SD?" ucap Bagas sambil membukanya.
Jika yang di berikan bekal seperti itu anak berusia enam tahun, pasti mereka akan merasa sangat senag. Bagai mana tidak. Gea menghias nasi goreng yang berada di dalam bekal itu dengan sangat cantik. Maksudnya nasi goreng itu di hias menyerupai wajah anak perempuan yang sedang tersenyum.
__ADS_1
"Pasti mereka akan tertawa, jika melihat ini."
Bagas kemudian mengacak nasi gereng tersebut hingga tidak berbentuk lagi, setelahnya lelaki itu memasukan satu sendok ke dalam mulutnya.
"Lumayan," ucap Bagas saat suapan yang pertama.
"Enak," Bagas kembali memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Ternyata dia pintar juga membuat nasi goreng," lanjut bagas saat suapan yang entah keberapa.
Saat sedang asyik menikmati nasi boreng buatan Gea, tiba-tiba Bagas tersedak karena ada yang menepuknya dari belakang.
"Tidak baik berbicara saat makan."
Bagas berbalik dan menatap pria yang sudah membuatnya tersedak. Pria itu buru-biru mengambila air putih dan meminumnya hingga tandas.
"Bos, kau membuat aku kaget."
Bagas mengusap matanya yang merah karena menahan perih akibat tersedak.
"Aku melihatmu seperti orang gila."
Doni duduk di sebelah Bagas dengan membawa satu mangkuk Bakso.
"Kau juga melewatkan sarapan?"
"Wajarlah. Pasti semalam kau habis lembur."
"Aku seperti sedang bebicara dengan paranormal. Kau sok tahu sekali!"
"Tentu aku tahu siapa dirimu, Bos. Kau tipe orang yang tepat waktu."
Doni hanya mendengus. Nyatanya yang di ucpakan Bags memang benar. Tapi tidak mungkin dia mengakuinya. Bisa-bisa bagas akan meledeknya sampai seminggu penuh.
Suami Sinta itu kembali menyantap bakso yang sudah sedikit dingin.
*****
"Kau yakin akan terbang ke turki?"
Pak Danu bertanya pada Rama yang sedanga duduk di depan televisi. Pria paruh baya itu ikut duduk di sebalah anaknya yang sedit keras kepala.
"Iya," Rama masih fokus menatap benda datar didepannya, "Papa bilang aku harus membuktikan, aku pantas atau tidak untuk menjadi pewarismu?"
Pak Danu menghela nafas. Ternyata Rama masih mengingat ucapan Pak Danu saat marah dulu. Pak Danu marah bukan tanpa alasan. Dia kesal karena Rama hanya menghamburkan uang untuk pergi ke klub malam. Dia anak satu-satunya jadi wajar jika Pak Danu bersikap seperti itu.
"Kenapa tidak kau coba perusahaan yang ada disini?"
__ADS_1
Pak Danu memberi penawaran agar Rama mengelola perusahaan yang ada di dalam negeri saja.
"Tidak. Aku hanya ingin perusahaan yang ada di, Turki."
"Baiklah jika kau masih bersikeras. Papa hanya ingin memberitahu. Kau harus berusaha keras jika menginginkan perusahaan itu."
Rama tahu jika perusahaan yang ada di turki sedang mengalami krisis. Tapi, di situlah keyakinan Rama bahwa dia bisa membangkitkan kembali perusahaan itu. Juga, sebagai pembuktian kepada ayahnya bahwa dia juga mampu menjadi pemimpin.
"Semoga kau beruntung."
Pak Danu memepuk bahu anaknya sebelum berlalu menuju kamar.
Rama menyandarkan tubuhnya di atas kepala kursi. Dia harus menemui seseorang agar dia bisa berangkat dengan tenang esok pagi.
Mengambil jaket dan kunci mobil yang terletak di atas meja, pria itu melangkahkan kakinya menuju kendaraan roda empat yang terpakir di garasi.
Tidak memerlukan waktu lama pria itu sampai di sebuah rumah yang terletak di pinggiran kota. Lama pria itu memandangi rumah yang terletak di seberang jalan. Dia sedikit ragu saat akan melangkah keluar.
"Aku harus menerima resikonya," ucap Rama seolah meyakinkan diri.
Pria itu melangkah dengan yakin memasuki rumah tersebut. Dapat dia lihat sesorang sedang berdiri menghadap cermin besar yang ada di ruang tamu. Dia terlihat sedang memperbaiki penampilannya. Setelahnya, wanita itu berjalan menuju kolam renang. Dia nampak fokus dengan gawai yang ada di tangan tanpa mengetahui jika Rama sudah ada di belakangnya.
Dada Rama berdetak dengan kencang saat kakinya sudah dekat dengan wanita itu. Tanpa menunggu lama, Rama langsung merengkuh tubuh wanita yang berdiri didepanya. Rama bisa merasakan tubuh wanita itu menegang karena terkejut.
Wanita itu berbalik tepat saat pemadan listrik terjadi. Rama tersenyum, karena waktu berpihak kepadanya.
Lelaki itu langsung meraih tengkuk dan mencium bibir wanita di depanya.Β Tidak ada penolakan saat dia melakukan itu. Tanggal ini akan selalu di ingat oleh Rama sebagai hari keberuntunganya.
"Aku merindukanmu."
Rama berbisik tepat di telinga, membuat wanita itu kembali menegang. Rama kembali mencium bibir wanita itu sebagai salam perpisahan.
Rama berjalan keluar meninggalkan wanita yang sedang berdiri mematung di pinggir kolam.
"Aku sudah gila," Rama menggelengkan kepalanya karena kejadian barusan.
Itu, terlihat seperti bukan dirinya. Karena dia merasa seperti pengecut yang sedang mencuri ciuman.
Pria itu segera menyalakn mobilnya melaju menembus jalanan meninggalkan rumah mewah itu. Tepat saat mobil Rama pergi lampu di rumah itu menyala.
"Rama..."
Wanita itu tau siapa yang telah menciumnya beberapa menit yang lalu.
Bersambung...
πΈπΊπ»πΌπ·πΉ
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung Author, dengan memberikan like dan vaforite sebagai tanda cinta kalian kepada Author. Jangan lupa... vote dan Rating 5 ya...