
Tiga bulan sudah usia pernikahan Doni dan Sinta. Mereka sudah melaksanakan resepsi pernikahan, digedung milik keluarga Doni. Yang hanya di hadiri kerabat dari kedua mempelai dan relasi bisnis dari keluarga Diharja.
Banyak yang kaget dengan pernikahan mendadak mereka termasuk Bagas dan Gea. Mereka berpikir bahwa Doni telah "Menanam saham" terlebih dahulu sebelum menikah dengan Sinta. Padahal sampai saat ini Sinta belum juga mengandung anak Doni.
"Bos, sebelumnya aku berpikir, bahwa kau sudah menghamili Mbak, Sinta."
Doni hanya menatap sekilas asistenya itu, "Banyak orang yang mengabarkan seperti itu, aku tidak heran."
"Sebenarnya bagaimana ceritanya kalian bisa menikah? Padahal saat itu kau kesana hanya untuk minta maaf bukan?"
Bgas penasaran dengan kisah pernikahan Doni dan Sinta.
"Aku malas menceritakan padamu."
"Atau jangan-jangan kau yang memaksa," tebak Bagas.
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu. Sedangkan Sinta saja terlihat bahagia saat di pelaminan."
"Mungkin saja kau ancam."
"Hei! kenapa kau berpikiran negatif seperti itu kepadaku?"
Doni merasa kesal bagaimana bisa Bagas mempunyai pikiran seperti itu. Sedangkan tidak ada sedikitpun Dini memaksa Sinta.
"Bos, kau mau kemana?"
Bagas menatap Doni yang sedang mengemasi barangnya.
"Pulang!"
"Bos, jangan tinggalkan aku," teriak Bagas, karena Doni melangkah lebar meninggalkan dirinya.
****
Di apartemen, Sinta sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya. Doni memutuskan agar Sinta tidak perlu lagi bekerja. Doni ingin Sinta fokus di rumah saja untuk mengurus dirinya. Pernah Doni ingin mempekerjakan seorang asisten untuk membantu Sinta, tapi istri Doni itu menolaknya. Dia beralasan bisa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa di bantu asistem rumah tangga. Menurut Sinta suaminya itu sangatlah berlebihan, dengan apartemen yang tidak terlalu besar Sinta dengan mudah bisa membersihkannya.
Bukan tidak mau Doni pindah kerumah yang lebih besar. Dia sedang menyiapkan kejutan untuk Sinta, karena rumah yang akan mereka tonggali masih dalam tahap penyelesaian.
Doni berjalan pelan saat memasuki apartemennya. Dia melihat Sinta sedang fokus memasak makan malam. Dengan berjalan mengendap, pria itu akan memeluk istrinya dari belakang.
"Mau apa?" tanya Sinta yang sedang mengaduk masakan.
Doni yang mendengar kalimat Sinta kaget. Niatnya ingin mengagetkan istrinya malah dia yang terkejut.
"Kenapa kau tau aku ada di belakang punggungmu?"
Pria itu langsung melingkarkan tangannya di perut Sinta. Doni senang sekali jika melakukan hal itu, meluk dan menghirup wangi tubuh istrinya.
"Aku sudah hafal bau tubuhmu. Jadi aku tidak terkejut."
"Kau sedang masak apa?" tanya Doni seraya menyandarkan dagunya di bahu Sinta.
"Ikan asam pedas," ucap Sinta, yang kemudian mencicipi hasil masakanya.
"Sepertinya sangat enak," ucap Doni, masih memempel di tubuh Sinta.
"Bisa lepaskan sebentar. Kau seperti itu membuatku geli.
__ADS_1
"Tidak mau," ujar Doni yang malah menciumi pipi Sinta.
"Nanti tangamu bisa terkena kuah panas."
Baru selesai Sinta berucap Doni memekik karena tangannya terkena pinggiran panci.
"Aduh," pekik Doni sereya melepaskan pelukan dari tubuh istrinya.
Sinta langsung menarik tangan Doni dan menempatkanya di bawah guyuran air keran. Setelah itu mengajak Doni untuk duduk di kursi.
"Seharusnya kau dengar perkataanku," Sinta melangkah mengambil kotak P3K.
Jika sudah begini siapa yang akan merasakan sakit?" tanya Sinta lagi, sambil mengoleskan salep agar tangan Doni tidak melepuh.
"Kenapa kau galak sekali."
Doni mendengus setelah itu, dia mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang marah.
Sinta yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia merasa mempunyai suami yang bertingkah seperti anak kecil. Jika di kantor bisa dikatan Doni sangat berwibawa. Tapi, jika di apartemen Sinta hanya bisa menghela nafas, karena Doni selalu menempel di ketiaknya seperti anak yang takut di tinggal ibunya.
"Aku hanya memberi peringatan padamu, bukan marah."
"Benarkah? kalau begitu coba cium aku."
"Tidak mau!"
"Kenapa tidak mau? tadi kau bilang tidak marah.
"Aku tidak mau, karena kau belum mandi."
"Kalau begitu kita mandi bersama."
Tanpa aba-aba Doni langsung mengangkat tubuh Sinta dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Doni mendorong pintu kamar mandi dan memasukkan Sinta ke dalam bathtub tanpa mendengar teriakan Sinta.
"Apa yang kau lakukan!"
Sinta kesal karena bajunya sekarang sudah basah.
"Nah, sekarang kau harus mandi lagi," ucap Doni tanpa rasa bersalah.
Setelah melepaskan pakainnya Doni langsung ikut masuk ke dalam bathtub dan tanpa memperdulikan lagi ocehan Sinta
*****
Pulang dari kantor Bagas menyadari ada sesuatu yang harus dia beli. Saat menuju parkiran mini market, tiba-tiba ada yang melintas di depan mobilnya. Reflek Bagas langsung menginjak rem secara tiba-tiba.
"Brengsek!" umpat wanita yang tersenggol oleh mobil Bagas.
"Hei keluar, lu!" bentak wanita itu, "Lu harus tanggung jawab, udah bikin gue nyusruk"
Saat Bagas akan keluar, wanita itu menunduk untuk melihat siku dan lututnya yang lecet. Dia meringis meraskan perih di daerah yang terluka.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Bagas menghampiri wanita yang sedang bersandar di mobilnya itu.
"Seharusnya lu pake tu mata bener-bener. Kalau nggak bisa bawa, mending di rongsokin aja mobilnya," gerutu wanita itu yang masih bisa didengar oleh Bagas.
Saat wanita itu mendongak dia terkejut karena yang menabraknya adalah orang kepercayaan Doni.
__ADS_1
"Gea... "
"Pak Bagas..."
Mereka berucap secara bersamaan karena sama-sama merasa terkejut. Gea langsung menyesali kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi, saat menyadari Bagaslah yang hampir menabrak dirinya.
Walau sedikit kesal karena mendengar umpatan Gea Bagas tetap memapah tubuh Gea untuk memasuki mobilnya.
"Kenapa kau tadi muncul didepan mobilku secara tiba-tiba?"
Bagas membuka pintu mobil dan mendudukan Gea di bangku penumpang.
"Kenapa saya yang disalahkan? Jelas Bapak yang tidak bisa membawa mobil dengan benar."
"Hei! Aku sedang bertanya, seharusnya kau cermati dulu kalimatku.
Gea mengerucutkan bibirnya saat Bagas berbicara sedikit keras.
"Aku tadi sedang mengejar anak kucing."
Gea mengipasi lututnya yang tetsa perih.
"Dan kau tidak memperhatikan sekitarmu? Jika tadi aku menabrakmu bagaimana?"
"Buktinya aku masih selamat bukan?"
Gea berbicara dengan santai seolah kejadian tadi tidak ada efek untuk dirinya.
"Itu karena aku buru-buru menginjak rem."
"Tapi tetap saja Bapak yang bersalah karena membuat tangan dan kaki saya lecet."
Bagas menghela nafas panjang untuk meredam emosinya, "Baiklah, sekarang kita ke dokter untuk mengobati lukamu."
Gea melotot saat mendengar kata "Dokter" dia sedikit takut jika berurusan dengan ahli pengobatan itu.
"Aku tidak mau!"
"Kau tadi menyuruhku untuk bertanggung jawab bukan?"
"Aku... takut jarum suntik."
Bagas hanya menatap Gea seolah tidak percaya dengan ucapan wanita itu.
"Sekarang tolong obati saja lukaku dan jangn bawa aku ke dokter!"
Gea memerintah Bagas tanpa rasa takut atau sungakan. Wanita itu langsung meluruskan kaki dan tanganya yang terluka untuk segera di obati.
"Kau tau siapa aku bukan?"
"Aku tau. Bapak, atasan saya."
"Kenapa berani sekali kau memerintah?"
"Itu di kantor. Saat seperti Bapak bukan siapa-siapa. Dan Bapak harus ingat, tadi bapak yang sudah menabrak saya."
Jika bukan wanita ingin di remasnya mulut Gea yang tidak berhenti berbicara. Jika Bagas menyadari seperti itulah perasaan Doni saat berada di samping Bagas.
Dengan rasa kesal Bagas mengambil kotak P3K. Setelah itu, mengobati bagian tubuh Gea yang terluka.
__ADS_1
**Bersambung...
🌷🌼🌻🌺🌸🌹**