Bos Duda

Bos Duda
Bab 29


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin, Sinta putuskan pagi ini untuk pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk dia dan Doni.


Bukan tidak mau berjuang atau mempertahankan hubungan. Tapi bagi Sinta itu semua sudah cukup. Dia tidak mau menjatuhkan harga diri demi laki-laki.


Gadis itu sudah menerima dengan lapang dada apa yang akan menjadi keputusan Doni. Walau sampai sekarang, tidak ada kejelasan mengenai hubungan mereka yang membuat Sinta kecewa.


Kalian boleh berfikir bahwa Sinta seorang pengecut, karena tidak mau menjelaskan bagaimana kejadian sebenarnya. Tapi percayalah, gadis itu sedang mempertahankan harga dirinya.


"Mau kemana?" tanya Gea penasaran.


"Gue mau liburan di kampung."


Sinta terpaksa membohongi Gea, karena jika dia berkata jujur pasti Gea tidak membolehkannya pulang.


"Emang udah dapet ijin? Liburannya bareng Pak Doni, ya?"


"Udah dapet ijin tapi dari Bagas. Doni nggak tau kalo gue mau liburan.


"Lu kenapa ambil cuti gak bilang-bilang, sih? Gue 'kan pengen ikut."


"Lu kalau ikut ntar ngabisin stok di rumah gue, lagi."


"Ishh." Ge mencebik seraya mengerucutkan bibirnya.


"Udah, gue cuma bercanda. Lu ati-ati di kosan gue berangkat dulu.


"Jangan lama-lama."


Sinta menatap Gea dengan tersenyum.


'Gue mungkin nggak bakal balik lagi Ge. Maafin gue yang gak jujur. Gue gak mau lihat lu sedih.'


*****


Sinta sampai di kampung halaman saat hari sudah beranjak siang. Mobil Bus yang dia naiki harus berhenti beberapa kali karena mencari penumpang terlebih dahulu. Jika penumpang ramai, mungkin hanya memerlukan waktu sekitar tiga setengah jam saja.


Gadis itu sudah menginjakkan kaki.di kampung halaman. Sinta menghirup dalam udara segar khas pedesaan. Suasana disini selalu membuatnya merasa rindu.


Sinta tersenyum, saat berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain di saluran irigasi sawah. Mereka tampak bahagia, tersenyum tanpa beban.


"Hei. Lihat, itu mbak Sinta!" Teriak salah satu anak yang badannya sudah berlumuran dengan lumpur.


"Mbak Sinta!" panggil mereka serempak.


Sinta hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka. Setelah itu melanjutkan kembali langkahnya menuju rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Rani yang masih fokus menanam bunga.


"Yang punya rumah ada?"


"Ada perlu apa?"


"Mau nagih hutang!"


Rani langsung menoleh dan mendapati putrinya sudah berdiri tidak jauh darinya. Dia bernafas lega dia pikir yang datang adalah tukang kredit.


"Mamak pikir yang dateng tukang kredit."


"Lagian Mamak gimana sih? anaknya pulang bukannya di sambut malah di biarin aja."


"Tadinya, mau Mamak sambut pakai orgen. Tapi sama pak Rt kagak boleh."


"Mak!" Gadis itu menarik nafas jengah. "Mamak mah becanda terus."


Rani tersenyum menatap Sinta. "Biar nggak cepet tua." Setelah itu Rani memeluk anak semata wayangnya.


Sinta memutar bola mata malas. Dia merasa tuhan sangat sayang kepadanya, karena memberikan ibu yang sangat unik untuk dirinya.


"Kenapa masih berdiri? Emang Sinta nggak capek." Rani merasa heran karena putrinya tidak kunjung masuk ke dalam rumah. "Kamu itu kayak tamu aja. Masuk rumah harus di suruh dulu."

__ADS_1


"Pintunya Mamak kunci gimana Sinta mau masuk!"


"Ah iya, Mamak lupa," ucap Rani.


Setelah masuk Sinta langsung meletakan semua barang kedalam kamarnya.


"Bapak kemana?" tanya Sinta.


Gadis itu tengah mengisi perutnya karena lapar.


"Bapak lagi lihat pertandingan bola." Kemudian Rani mulai fokus menatap Sinta.


"Kamu beneran yakin, keluar dari perusahaan."


"Sinta capek Mak, pengen ngerasain jadi bos," kilah Sinta.


Gadis itu tidak mau ibunya mengetahui bahwa dia sedang patah hati.


'Maafin Sinta Mak harus bohong. Kalau Sinta ngomong jujur pasti Mamak bakal ngebully Sinta.'


Rani tidak mempermasalahkan jika Sinta ingin keluar dari perusahaan. Dia malah merasa senang jika Sinta ingin membuka usaha di Kampung.


*****


"Permisi apa anda mengetahui alamat ini?" tanya Doni.


"Tidak jauh lagi jaraknya dari sini sekitar Dua kilometer lagi."


"Terimakasih."


Pagi ini Doni putuskan untuk pergi ke kampung halaman Sinta. Perjalanan Doni tempuh dengan waktu sekitar Lima jam.


"Bisa tunjukan dimana rumah Sinta." tanya Doni kepada anak kecil yang sedang bermain dipinggir sawah.


"Itu rumah mbak Sinta!" tunjuk anak kecil itu ke rumah sederhana bercat putih. "Abang mau cari mbak Sinta ya? tanya anak itu lagi. "Mbak Sinta tidak ada. Dia lagi di sungai."


"Bisa antarkan aku kesana?"


"Ini!" Doni menyodorkan uang itu dan langsung disambut cepat.


"Ayo bang saya antar," ujar anak itu dengan senyum terkembang.


Sampainya di sungai Doni melihat Sinta berdiri di batu besar. Dimana aliran sungai di bawahnya mengalir dengan sangat deras. Doni yang melihat itu langsung berpikir negatif.


"Sinta!" teriak Doni sambil melangkah lebar. "Tolong jangan lakukan hal bodoh!"


Sinta kaget karena tidak menyangka Doni menyusulnya sampai disini.


"Kenapa kau disini?"


"Aku mohon jangan lakukan hal gila," ujar Doni menghiraukan pertanyaan Sinta.


Doni mendongak menatap Sinta yang berdiri di atas batu.


"Aku tau aku salah, jadi tolong tenang dan dengarkan penjelasan'ku dulu."


Sinta bingung dengan kalimat awal yang di ucapkan Doni. 'Hal gila apa yang dia maksud?'


"Pertama, aku ingin minta maaf karena aku pernah membentak'mu."


Doni berbicara dengan nada serius.


"Kedua, Aku ingin meminta maaf karena mengabaikan dirimu beberapa waktu lalu. Aku cemburu karena kau pergi dengan Rama.


'Bagaimana dia tahu aku pergi dengan Rama?'


"Ada yang mengirimkan foto saat kau pergi ke pasar malam dengan Rama," lanjut Doni, seolah tau isi otak Sinta.


Doni menarik nafas melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Untuk yang ketiga, aku sangat menyesal karena tidak mendengarkan penjelasan'mu terlebih dahulu. Aku tau kau pasti marah saat itu. Tapi Aku sanga menyesal setelah mengetahui semuanya."

__ADS_1


"Aku tau, kau sudah menerima tawaran Pak David. Jadi kau akan menikah dengan Tiara bukan?" ujar Sinta.


"Bagaimana kau tahu?"


Yang di maksud Doni kenapa Sinta bisa tahu mengenai perjanjian yang di tawarkan Pak David. Bukan mengenai pernikahannya dengan Tiara, karena itu tidak akan pernah terjadi. Tapi karena kalimat yang tidak di lanjutkan Doni, membuat Sinta salah mengartikan.


Sinta tersenyum "Selamat. Semoga kalian bahagia."


"Kau salah mengerti! aku bisa menjelaskan semuanya!"


Sinta tidak mendengarkan teriakan Doni. Gadis itu malah melompat dari atas batu.


"Sinta!" teriak Doni panik melihat Sinta melompat dari atas batu.


Seketika kakinya terasa lemas. Pria itu jatuh bersimpuh menjadikan kedua lutut sebagai tumpuan.


"Kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasan'ku dulu," lirih Doni penuh penyesalan.


"Tidak ada pernikahan antara aku danย  Tiara." Doni menghirup udara dalam untuk melonggarkan paru-parunya yang terasa sesak. "Aku mencintaimu. Aku mohon maafkan aku." Tidak terasa air mata Doni jatuh.


Pria itu terdiam menikmati rasa sakit yang menusuk jantungnya. Kenapa balasan seperti ini yang Sinta berikan. Kenapa tidak memukulnya saja untuk meluapkan emosinya.


"Aku maafkan!" ucapan Sinta sambil menepuk bahu Doni.


Membuat Doni tersadar dari pikiran negatif. Lalu Pria itu berdiri dan berbalik menghadap Sinta.


"Kau...." Doni merasa bingung dengan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. Perasaan kaget dan senang bercampur jadi satu.


Sinta tersenyum "Kau pikir aku akan bunuh diri?"


"Lalu kenapa kau melompat tadi? bukanya disana arusnya sangat deras?"


"Memang harus turun dari sana. Karena dibawahnya ada batu yang bertingkat untuk turun dari batu besar di belakang'mu."


Doni hanya menggaruk tengkuknya merasa seperti iring bodoh.


"Kau menangis?" Sinta menyadari ada air di sekitar area mata Doni.


"Tidak. Ini... hanya keringat."


Sinta hanya tersenyum. Di tau Doni sedang berbohong.


"Kita lanjutkan di rumah saja. Tidak enak berbicara di tempat seperti ini."


Doni mengangguk menyutujui ajakan Sinta. Saat berjalan pria itu melihat Sinta akan terjatuh karena kakinya berpijak pada permukaan batu yang licin.


"Akkh" pekik Sinta.


Doni heran kenapa merasa sangat kesakitan, padahal dia menangkap Sinta di waktu yang tepat.


"Apa ada yang sakit?" tanya Doni yang masih memeluk pinggang Sinta.


"Pinggangku, sakit."


Tanpa menunggu lama Doni langsung menyingkap kaos yang di kenakan Sinta. Dan benar saja ada memar di sekitar pinggang kekasihnya.


Doni teringat pasti ini karena ulahnya yang mendorong Sinta waktu itu. Rasa penyesalan muncul di hati Doni, betapa banyak dia membuat kekasihnya sakit. Belum sempat dia berucap. Segerombolan pria sudah menghampirinya.


"Hei. Kalian mau berbuat mesum!"


Teriakan segerombolan pria yang akan pergi memancing, membuat Doni langsung menurunkan kembali baju Sinta yang tersingkap.


"Kalian salah paham. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan."


"Bagaimana kalu kita laporkan ke Pak RT saja. Agar mereka segera dinikahkan," ucap pria berbadan tambun, yang menghiraukan penjelasan Doni.


Doni dan Sinta hanya bisa melotot mendengar ucapan pria itu.


Bersambung...


๐ŸŒน๐ŸŒธ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒท

__ADS_1


__ADS_2