Bos Duda

Bos Duda
Bab 26


__ADS_3

Pak David mengajak Doni untuk melihat pemandangan indah yang ada di sekitar rumahnya. Setelah puas berkeliling Doni mengikuti langkah Pak David, menuju gazebo yang terletak di samping rumah utama.


"Aku dengar, perusahaan 'mu sedang mengalami masalah." Pak David memulai pembicaraan.


"Hanya masalah kecil."


Kenyataanya berbeda dengan yang di ucapkan Doni. Proyek yang sedang ia tangani mengalami kesulitan mendapat perijinan dan pembebasan lahan.


Pak David tersenyum. Ayah Tiara itu mengetahui jika perusahaan Doni sedang mengalami masalah. Dan dia akan menawarkan bantuan yang tentunya tidak gratis.


"Aku bisa membantu." Doni hanya menatap Pak David tanpa menjawab. "Tentunya harus ada kesepakatanΒ  di antara kita."


Doni mengangkat alis, merasa tertarik dengan ucapan Pak David. "Apa maksud anda. Saya tidak mengerti."


Doni benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Pak David. Memang dia membutuhkan bantuan agar proyek yang dia tangani cepat berjalan, dia khawatir jika proyek tidak segera di tangani akan berpengaruh dengan perusahaaan yang ayahnya bangun dari nol.


"Jika kau mau menikah dengan Tiara, aku pastikan semua yang menjadi kendala di perusahaan 'mu akan beres." Pria tua itu kembali menatap Doni. "Bukan hanya itu saja aku akan menginvestasikan semua saham yang aku punya ke perusahaan 'mu."


Saat Doni diam masih mencerna ucapan Pak David, pria tua itu menepuk bahunya.Β  "Aku akan menunggu keputusannmu. Kau pikirkan saja karena kesempatan ini tidak datang dua kali." Setelah itu pria tua itu berlalu menuju kediamannya.


Pak David sebenarnya bukan orang yang suka memaksa apalagi mengenai perasaan. Tapi demi putri satu-satunya yang sangat dia sayangi, pria tua itu akan melakukannya. Walaupun dia tahu jika Doni tidak menyukai Tiara. Pak David jadi teringat percakapannya dengan Tiara tempo hari.


'*Kenapa wajahmu terlihat murung. Ada apa?'


'Aku menyukai seseorang. Apa papa bisa membantu 'ku?'


'Kenapa? apa dia tidak menyukaimu.'


'Mungkin belum. Maka dari itu aku butuh bantuan papa.


'Apa yang bisa papa bantu?'


'Aku mau dia harus menikah denganku. Masalah perasaan aku bisa membuatnya jatuh cinta setelah kami menikah. Aku sangat menyukainya Pa.'


'Papa tidak bisa berjanji... Tapi, akan papa usahakan*.'


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Sepeninggal Doni dan Pak David dua perempuan itu masih berada di meja makan. Semua makanan yang berada di atas meja sudah dibereskan pelayan, yang tersisa hanya mereka.


"Kau jangan merasa senang, karena masalah tadi." Sinis Tiara.


Sinta hanya tersenyum. "Aku tidak mendapatkan hadiah apapun, jadi untuk apa aku merasa senang." Gadis itu kemudian menyilangkan ke dua tangan di depan dada.


Tiara terkekeh. "Aku tahu, itu terlihat dari wajamu. Tapi setelah ini aku akan membuat kau selalu menangis."


"Wow sepertinya sangat menakutkan. Kenapa kau suka sekali mengancam"


"Aku tidak mengancam. Kau bisa memegang ucapanku." Tiara menyunggingkan senyum menantang ke arah Sinta. "Kau boleh senang sekarang. Tapi pada akhirnya akulah yang akan menjadi istri Doni.


Sinta terkekeh. "Percaya diri sekali."


"Tentu saja," sela Tiara cepat. "Kau tau, Papa ku sedang memberikan sesusatu yang tidak mungkin Doni tolak. Dan sebagai kesepakatan di harus menikah denganku."


"Sepertinya ceritaimu sangat bagus jika dibuat sinetron."


Sinta tidak menanggapi serius ucapan Tiara. Bagi dirinya semua yang keluar dari mulut wanita yang duduk di depannya hanyalah bualan.


Sedangkan Tiara mengepalkan tangan menahan geram karena Sinta tidak terpengaruh dengan ucapannya.


"Kalian sudah selesai," sela Doni, membuat kedua wanita itu menoleh.


Tiara langsung memasang wajah semanis mungkin. "Kau sudah selesai berbicara dengan Papa?"

__ADS_1


"Sudah. Bahkan dia sudah kembali dari tadi. Tolong sampaikan ke Pak David aku harus pamit sekarang."


"Mungkin sekarang Dia sedang istirahat. Biar nanti aku sampaikan jika kalian sudah pulang.


Doni mengangguk. "Baiklah kami harus pulang sekarang. Terimakasih atas makan siangnya," ucap Doni datar. Setelah itu Doni dan Sinta keluar dari rumah Pak David.


Wanita itu tersenyum kecut saat tanpa sengaja melihat Doni menggenggam tangan Sinta.


"Cih. Sepertinya, usahaku harus lebih keras lagi untuk memisahkan kalian."


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Sinta mengamati Doni yang sedang fokus mengemudi. Perasaan Sinta mengatakan Doni sedikit berbeda, dia nampak sedikit pendiam.


"Ada apa? Kau dari tadi menatapku tanpa berkedip."


"Aku merasa kau sedikit pendiam. Apa ada masalah?"


"Mungkin hanya perasaanmu saja."


Sinta mengangguk benar apa yang di katakan Doni. Mungkin ini efek dari pembicaraannya dengan Tiara Sinta jadi sedikit sensitif.


"Setelah ini kau bersiap, nanti sore kita akan pulang."


"Kenapa? kau bilang kita disini selama tiga hari."


"Ada yang harus aku selesaikan segera. Besok kau tidak usah berangkat ke kantor jika masih merasa lelah."


Sinta menghela nafas seraya menurunkan bahunya. Batal sudah rencananya mengajak Doni ke taman bunga yang dia lihat tadi. Lebih tepatnya padang rumput luas, yang di tumbuh berbagai macam bunga liar yang tumbuh subur disana.


Sampainya di villa gadis itu segera membereskan semua barang-barang yang dia bawa dari rumah. Setelah selesai dia putuskan untuk istirahat sebentar.


Saat akan terbang ke alam mimpi, pintu kamar Sinta diketuk Doni. Pria itu mengabarkan bahwa sebentar lagi mereka harus segera berangkat. Dengan kepala yang sedikit pusing Sinta beranjak dari tempat tidur.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Sudah dua hari setelah kembalinya dari villa Sinta melihat perubahan sikap pada diri Doni. Pria itu jarang berada di kantor, juga saat bertemu dengan Sinta Doni jarang menyapa atau menanyakan kabar Sinta.


Saat Doni meminta sinta keruangannya untuk membawakan kopi gadis itu merasa mungkin ini saatnya dia bertanya kenapa Doni mendiamkannya.


Setelah meletakan kopi di meja Doni, Sinta duduk didepan kekasihnya.


"Ada apa?" tanya Doni yang masih sibuk dengan setumpuk kertas di atas meja.


"Aku merasa kau sedikit berubah." Pria itu tidak merespon ucapan Sinta "Apa aku ada salah?"


Doni masih sibuk dengan setumpuk kertas di atas meja tanpa menghiraukan pertanyaan kekasihnya. Dan itu membuat Sinta merasa kesal karena diacuhkan.


"Jika aku ada salah katakan saja."


Gadis itu menarik nafas.


"Atau kau sudah tidak membutuhkan aku lagi? aku bisa menerima itu jika kau berkata jujur."


"Tolong jangan mendiamkan aku seperti ini."


"Kau bisa Diam!" Bentak doni.


Sinta merasa terkejut atas bentakan kelasihnya. Gadis itu tidak menyangka respon Doni akan seperti itu.


"Maaf," ucap Sinta seraya berlalu dari hadapan Doni.


Seketika Doni menyesal dengan apa yang dia lakukan. Pria itu hanya merasa lelah dengan pekerjaannya yang tak kunjung selesai. Saat akan mengejar Sinta, ada panggilan masuk di gawainya membuat dia mengurungkan niat untuk mengejar Sinta.

__ADS_1


Doni keluar daria ruangan setelah menutp panggilan. Sampai di depan pintu, Dia menatap dari jauh kekasihnya. Doni tidak mungkin menghampiri Sinta karena harus segera bertamu dengan Pak David yang sudah menunggunya.


Sinta tau, Doni sedang menatapnya, tanpa berniat untuk meminta maaf. Sinta pura-pura sibuk dengan pekerjaan, ia masih merasa kesal atas kejadian tadi. Lebih baik Doni berbicara apa kesalahan yang dia buat. Jangan mendiamkannya seperti ini yang membuat Sinta menjadi penasaran letak kesalahannya dimana.


Sinta mengambil handphone saat benda itu bergetar. Setelah mengusap layar gawai ada pesan masuk dari Rama.


'*Aku didepan kantor.'


'Tunggu aku segera turun.' balas Sinta*.


Sinta tersenyum. Ternyata pria itu menjemputnya pulang. Jika ada Doni mana mungkin dia mau menerima begitu saja tawaran Rama. Kekasihnya tidak suka jika dia berdekatan dengan Rama.


Saat gadis itu tiba di lobby, Rama sudah menunggunya disana. Pria itu sangat Tampan, tapi sayang Sinta tidak ada perasaan untuk Rama. Membuat Rama semakin penasaran terhadap Sinta. Baru kali ini ada yang menolak pesona seorang Rama.


Plak.


Sinta menepuk pipi Rama yang dari tadi hanya diam memandangi dirinya.


"Aduh!" Rama merasakan panas di saat tangan Sinta mendarat di pipinya.


"Jangan terlalu banyak melamun. Sayang, ganteng-ganteng kemasukan setan."


"Knapa kau suka sekali menganiaya," ucap Rama, sambil memegang pipinya.


"Kau terlalu berlebihan." Saat Rama akan membalas ucapan Sinta, tangannya sudah terlebih dahulu di tarik gadis itu. "Ayo cepat! aku sedang ingin jalan-jalan," ucapnya seraya menarik pria yang berbadan tegap di sampingnya. "Hari ini, kau aku angkat menjadi supirku."


Rama mengangkat alisnya "Apa istimewanya menjadi supir 'mu?"


"Aku akan mentraktir kau makan."


"Tidak mau makanan."


"Lalu kau mau apa?"


"Kiss!" ucap Rama dengan senyum manis.


Lagi Sinta langsung berbalik dan memukul kepala Rama.


Peletak.


"Sudah aku lakukan. Jadi sekarang jangan banyak protes."


"Apa-apaan? Barusan kau memukulku bukan mencium."


"Anggap saja aku sedang mencium dirimu."


"Kiss atau aku laporkan ke pihak yang berwajib atas kasus penganiayaan."


"Kau cerewet sekali! cepat buka pintu mobilnya."


"Kiss."


Sinta memutar bola matanya malas. "Oke. Setelah mengantar jalan akan aku beri kiss."


Rama tersenyum sumringah membayangkan apa yang akan dilakukan dia nanti setelah mengantar Sinta pulang.


"Tutup mulutmu. Air liurmu menetes."


Sindir Sinta.


**Bersambung...


πŸƒπŸŒΉπŸŒΊπŸŒΌπŸ΅πŸŒΈπŸ’**

__ADS_1


__ADS_2