
Flashback
"Pacarmu luar biasa, Don. Di saat wanita lain dengan bangga pamer ke seluruh dunia, karena memiliki pacar seorang direktur, lain dengan pacarmu."
"Papa sangat merestui, jika hubungan kalian bisa berlanjut."
Doni hanya menanggapi ucapan sangΒ
Papa dengan senyuman.
"Sepertinya, ada hal penting Sayang. Hingga membuatmu sedikit terburu-buru," ucap Doni, sambil menatap Sinta penuh cinta.
"Ini berkas yang M-mas minta," ucap Sinta, seraya memberikan setumpuk berkas.
"Kalau begitu, aku kembali kemeja kerja dulu, Mas." Sinta mengangguk ke arah pria paruh baya itu. "Mari, Pak Diharja."
"Hei, kenapa kau masih memanggilku, Pak?" ucap Pak Diharja, menghentikan sinta yang akan melangkah.
"Jika, kau bisa memanggil istriku dengan sebutan, Tante. Kenapa kau tidak bisa memanggilku, Om?"
"Papa terlalu muda untuk di panggil, Om," sindir Doni.
"Memang benar, aku masih terlihat muda. Lihatlah, jika kita jalan berdua maka mereka akan mengira kita ini kakak beradik."
Doni hanya memutar bola mata malas.
"Papa itu sudah tua, harus sadar diri! Biar saja, nanti akan aku adukan pada Mama."
"Kenapa, kau sekarang jadi suka mengadu?"
"Baiklah, Om. Saya permisi dulu, silahkan lanjutkan diskusinya," pamit Sinta.
Kedua pria dewasa itu, akhirnya kembali melanjutkan debat.
ππππππ
Sinta mengingat kejadian barusan dengan tersenyum. Apalagi pelukan dan tatapan mata Doni, yang memandang penuh cinta.
"Kenapa dadaku jadi berdebar, jika mengingat itu?" ucap sinta sambil memegang dadanya, "Pak Doni aktingnya sangat bagus, aku rasa aku seperti pacar sungguhan."
Saat mata Sinta menangkap dua orang pria keluar dari ruangan, Sinta segera memperbaiki duduknya. Ruang kerja Sinta tepat berada di depan ruangan Doni, hanya di pisah dengan kaca.
"Sepertinya diskusi mereka sudah selesai," ucap Sinta sambil kembali fokus kedepan layar monitor.
Tak berselang lama, Doni kembali ke ruangan. Dia hanya mengantar sang Papa, sampai kedepan pintu lift. Sinta bergegas menuju ruangan Doni. Dia harus membicarakan perihal hukuman yang harus dia jalani.
Sinta mengetuk pintu, lalu masuk.
"Ada apa?" tanya suara berat, di balik meja kerja.
"Pak, saya setuju dengan hukuman yang Bapak berikan. Saya akan membersihkan apartemen bapak, dua hari sekali," ucap Sinta, menyetujui hukuman yang di nerikan Doni.
"Baiklah. Ini kuncinya," ucap Doni sambil menyerahkan kunci cadangan,Β Β
"Mungkin, beberapa hari ini aku harus berada di luar kota, aku masih ada kunci satu lagi."
"Sepertinya tidak ada jadwal untuk lusa."
"Papa yang memberi perintah, aku harus survei lokasi untuk cabang baru."
__ADS_1
Setelah itu, Sinta keluar karena tidak ada pembicaraan lagi.
ππππππ
Sinta hari ini pulang lebih awal. Dia putuskan pergi ke pusat perbelanjaan, untuk membeli keperluan yang ia butuhkan.
Dua kantung plastik belanjaan sudah di tangan. Saat keluar dari pusat perbelanjaan, Sinta tidak sengaja bertemu dengan Rama.
"Sinta," panggil Rama.
"Pak Rama, sedang apa disini? Mengantar seseorang, kah?" tanya Sinta heran karena kebetulan bertemu dengan Rama.
"Tidak. Aku hanya membeli sedikit keperluan," jawab Rama, sambil memperlihatkan belanjaan yang dia bawa.
"Kau sendirian?" tanya Rama.
Saat melihat Sinta mengangguk, Rama berinisiatif untuk mengantar.
"Biar aku antar."
"Tidak usah Pak! Aku selalu merepotkan anda," tolak Sinta.
"Tidak perlu sungkan. Aku bahkan senang bisa, mengantar kamu pulang."
Saat di dalam mobil, Rama bertanya dimana Sinta tinggal.
"Kau tinggal di mana?" tanya Rama.
"Aku kost, di daerah jalan melati, Pak."
"Jangan terlalu formal. Panggil aku Rama saja. Seperti waktu itu."
"Baiklah."
"Boleh saja. Tapi, tunggu waktuku sedikit longgar."
"Aku siap menunggu, untuk wanita sepertimu. Oh, ya. Boleh aku minta nomor ponsel, agar lebih mudah aku hubungi."
Sinta pun memberikan nomor ponselnya. Tak berselang lama, mereka sedikit lagi sampai.
"Berhenti didepan saja," tunjuk Sinta kearah plang yang bertuliskan KOST PUTRI.
Setelah mobil berhenti, Rama segera turun dan membukakan pintu untuk Sinta.
"Terimakasih Rama, sudah mengantar aku pulang."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku langsung pulang."
Rama kembali memasuki mobil dan berlalu dari hadapan Sinta. Saat berbalik, Sinta dikagetkan dengan sosok yang berdiri dibelakang nya.
"Lu mau bikin gue kena serangan jantung!" geram Sinta, karena kaget.
"Kaget lu, ya? gue sengaja." ucap Gea, polos tanpa dosa.
Sinta pun melempar Gea dengan pembalut, yang ada di dalam kantung belanjaan.
"Salah apa gue, punya temen kayak, lu," ucap Sinta sambil memungut kembali bungkusan pembalut.
"Sin, tunggu!"
__ADS_1
Gea berteriak, saat sinta berjalan meninggalkan dirinya.
"Ada apa?" ucap Sinta, sambil membuka pintu yang terkunci.
"Gue heran deh sama, lu. Pergi sama pak Doni, giliran pulang sama anaknya Pak Danu," tanya Gea yang sedang penasaran.
"Ceritanya panjang," ucap Sinta sambil melepas sepatu nya.
"Sepanjang apa? Gue siap dengerin."
"Emang bener, lu pantes nya jadi admin Lambe Tipis, Ge," sindir Sinta.
"Ayo dong Sin, gue penasaran. Lu sama pak Doni kemana, trus lu tidur dimana, dan kenapa lu pulang sama anak nya pak Danu," ceriwis Gea yang tanpa jeda.
"Udah ah! gue mau mandi dulu. Kalo lu mau dengerin cerita, beresin dulu belanjaan gue," tunjuk sinta, kearah kasur.
"Males, gue," ucap Gea lesu.
"Kalok lu males gak apa-apa. Abis ini gue mau tidur," ucap Sinta sedikit, mengancam.
"Iya deh gue beresin. Awas kalau lu nggak jadi cerita."
Sinta tertawa pelan di kamar mandi. Akhirnya, jiwa kepo Gea bisa dia manfaatkan.
Selepas mandi, Sinta langsung berganti pakaian dan duduk disamping Gea yang sudah menunggu. Tidak lupa, dia membawa dua bungkus makanan ringan sebagai teman ngobrol.
"Jadi, gimana?" tanya Gea tidak sabar, sambil mengambil makanan yang ada di tangan Sinta.
Akhirnya, Sinta mulai menjelaskan, satu persatu kejadian yang dia alami.
"Apa, lu tidur dikamar pak Doni!" teriak Gea kaget.
"Biasa aja dong mulut lo, nggak usah teriak-teriak kaya di hutan," kesal Sinta.
"Jadi, lu tidur di kamar si duda?"Β tanya, Gea sedikit pelan.
"Iya, gue kan udah jelasin gue nggak sengaja. Gue kira, itu kamar yang gue tempatin."
"Terus, lu di bayar berapa sama pak Doni, buat jadi pacar pura-pura."
"Dua kali gaji, gue. Dan itu udah di bayar di muka."
"Wah, banyak duit dong lu. Kapan traktir makan?"
"Tapi lu harus janji gak boleh ada yang tahu masalah ini."
"Iya, gue janji."
"Ya, udah gue mau tidur dulu. Pulang dulu sana ke kamar, lu."
"Males. Gue mau tidur disini," ucap Gea sambil merebahkan diri di samping Sinta.
Setelah itu tidak ada yang bersuara.
"Ge, gue mau nanya."
"Apa'an," jawab Gea sedikit malas.
"Pak Doni sama Rama, lebih tampan siapa?" tanya Sinta.
__ADS_1
Lama tidak ada jawaban dari orang yang di tanya. Sinta akhirnya melirik Gea.
"Ternyata udah tidur, padahal gue mau nanya. Kenapa kalu gue deket sama pak Doni bawaannya deg-deg'an."