Bos Duda

Bos Duda
Bab 8


__ADS_3

Sudah dua hari, Doni pergi keluar kota. Entah kenapa, Sinta mulai merasakan ada yang hilang. Susana kantor terasa sepi. Tidak ada yang membuat dia merasa kesal.


"Seharusnya, aku senang pria itu tidak ada di kantor. Tapi kenapa, aku seperti merindukannya?"


Setelah itu, Sinta melanjutkan pekerjaan, agar pikirannya tidak selalu tertuju kepada Doni.


Notifikasi pesan instan di ponsel membuat Sinta berhenti dari aktifitasnya. Dia berharap yang mengirim pesan adalah, orang yang saat ini dia pikirkan. Saat mengusap layar ponsel, dia sedikit kecewa karena yang mengirim pesan bukan orang yang dia tunggu.


"Hari minggu besok, apa kau ada acara?"


Isi pesan dari Rama.


"Kenapa?"


"Aku ingin mengajak kamu keluar."


"Kita lihat besok saja." Balas Sinta.


"Aku anggap kau setuju. Akan aku jemput jam sembilan."


Sinta tidak membalas lagi pesan dari Rama. Saat mengembalikan ponsel kedalam tas, dia melihat sebuah kunci.


"Lebih baik, pulang nanti aku segera mengerjakan tugas," ucapnya sambil, memegang kunci apartemen Doni.


Jam pulang sudah tiba, Sinta bergegas menuju apartemen Doni.


Tiba di gedung apartemen mewah, Sinta menuju ke lantai sepuluh. Dia sudah pernah ke apartemen ini. Jadi, dia sudah hafal dimana letaknya.


Sinta segera membuka pintu dengan anak kunci. Sebenarnya, apartemen mewah sepert ini bisa menggunakan akses yang lebih canggih dan terjamin keamanannya. Sinta jadi heran, kenapa Doni lebih memilih kunci.


Mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar sinta berdecak kagum.



 


Apartemen mewah yang cukup luas, dindinya di dominasi dengan warna coklat dan putih. Di lengkapi dengan dapur bersih, terdapat dua kamar yang bersebelahan di pojok sebelah kanan. Tidak lupa, sofa berwarna cokelat dan ada tangga menuju balkon yang akan mempermudah pemilik untuk melihat bintang.


Setelah itu, sinta segera membersihkan apartemen Bos'nya. Sebenarnya, apartemen Doni cukup rapi untuk ukuran pria. Tidak banyak yang ia lakukan. Untuk baju sudah ada jasa laundry, yang menjemput pakaian kotor Doni setiap pagi. Jadi, tugas Sinta hanya membereskan ruangan dan memasak untuk Doni.


"Pekerjaanku sudah beres, lebih baik aku istirahat sebentar," ucap Sinta, seraya merebahkan tubuh ke sofa.


Tanpa dia sadari, dia sudah tertidur lelap di atas sofa. Doni yang baru pulang dari luar kota sedikit bingung.


"Kenapa ada wanita disini?"


Saat dia dekati, dan melihat wajah wanita yang sedang tidur. Doni baru menyadari, dia adalah Sinta.


"Kenapa kau tidur disini? Padahal disana ada kamar satu lagi," gumam Doni.


Setelah itu, Doni mengangkat Sinta yang tertidur lelap. Di dipindahkannya Sinta ke kamar tidur.


"Kenapa tubuh gadis ini ringan sekali? Apa dia tidak pernah makan?"


Setelah menyalakan AC dan menyelimuti Sinta, Doni kembali keluar. Dia akan mandi, karena badannya sudah lengket semua.


Setelah mandi, Doni menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, dia cukup lelah, hingga dia lupa belum makan.


 

__ADS_1


"Kenapa aku sudah pindah?"


Sinta merasa bingung, kenapa dia sudah berada di tempat tidur.


Setelah itu, Sinta beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air putih.


Mungkin sudah menjadi kebiasaan Sinta, tengah malam bangun untuk minum.


Sampai di dapur, dia kaget melihat pintu kulkas terbuka. Ada pria disana, kondisi ruangan gelap membuat dia tidak bisa melihat pria itu.


"Siapa, kau?" tanya Sinta.


Yang ada di pikiran sinta saat ini, pria yang berada di depan adalah penyusup. Tanpa dia ketahui, yang dia maksud penyusup adalah Doni.


Doni yang belum sempat menjawab, sudah kaget dengan serangan yang di berikan Sinta. Badan Doni di kunci oleh Sinta. Sinta yang mempunyai ilmu karate, dengan mudah melakukan itu.


"Siapa kau, apa yang kau lakukan disini?" cecar Sinta.


Doni meringis kesakitan, tangannya ditarik kebelakang dan tubuhnya di duduki Sinta.


"Lepaskan, kau harus tanggung jawab, jika tanganku patah!" ucap Doni, menahan sakit.


Sinta yang mengenali suara itu, segera beranjak dari posisinya.


Keadaan seketika terang, saat Doni menyalakan lampu.


"Pak Doni!"


Sinta kaget karena Doni sudah pulang.


"Kau kecil, tapi tenaga mu seperti laki-laki," ucap Doni, sambil memegangi tangan kanan yang terkilir.


"Bapak, kapan pulang? Kenapa mengendap-endap seperti penyusup? Kenapa tidak dinyalakan saja lampunya?" tanya sinta, tanpa jeda.


Sinta tau, itu semua karena ulahnya, dan dia jadi merasa bersalah.


"Akan saya buatkan makanan. Bapak tunggu sebentar!"


Setelah itu, sinta membuatkan nasi goreng untuk Doni.


"Apa, Bapak suka pedas?" tanya sinta yang sedang menyiapkan bumbu.


"Iya,"  jawab Doni, yang sedang duduk di sofa.


Tiga puluh menit kemudian, Sinta sudah selesai dengan masakannya.


"Pak, makanannya sudah siap!" panggil Sinta.


Doni pun segera bangkit dari sofa dan menghampiri Sinta di meja makan.


"Aku hanya buatkan nasi goreng untuk Bapak," tunjuk Sinta, kearah meja.


"Tidak apa, aku pemakan segalanya. Apa kau bisa menyuapiku. Tanganku sakit saat digerakkan."


Sinta hanya mengangguk dan mulai menyuapi Doni. Pandangan mereka sesekali bertemu. Sinta mulai merasakan dadanya berdetak tidak karuan.


"Masakanmu enak," ucap Doni sambil mengunyah makanan.


Sinta tersenyum. "Apa bapak jarang menggunakan dapur? Semua masih terlihat baru."

__ADS_1


"Iya, sudah lama tidak digunakan, semenjak istriku meninggal," ucap Doni, dengan raut wajah sendu.


"Maaf, membuat bapak sedih."


"Tidak apa, aku sudah ikhlas atas kepergiannya," ucap Doni, dengan senyum yang sedikit di paksakan.


Wanita mana yang tidak akan tergoda dengan senyum, Doni. Dan anehnya, Sinta baru menyadari, jika atasannya mempunyai aura ketampanan yang luar biasa.


"Ayo, suapin aku lagi!" perintah Doni, memecah lamunan Sinta.


"Kau sedang melamunkanku?" tanya Doni lagi, membuat Sinta gelagapan.


"Tidak!" jawab sinta cepat.


"Jangan berbohong. Aku bisa membaca pikiran orang."


"Benarkah!" tanya sinta terkejut.


Doni seketika tertawa kencang.


"Aku hanya bercanda. Ternyata kau sangat polos."


Sinta yang jengkel, seketika memukul lengan Doni yang terkilir.


"Akhh" pekik Doni yang kesakitan.


"Maaf, Pak. Aku sungguh tidak sengaja," ucap Sinta, menyesal sambil meletakkan piring ke atas meja.


"Tenagamu kuat sekali," ucap Doni, sambil meringis.


Doni melihat mata Sinta sedikit berembun. Dia tau Sinta sedang merasa bersalah.


"Sudah, jangan terlalu difikirkan. Mungkin besok, sudah lebih baik."


"Tidak bisa begitu! Aku sangat menyesal. Bawa sini lengan Bapak yang sakit. Biar, aku pijat."


Doni segera menyerahkan lengannya yang sakit. Dan Sinta mulai menggeser tempat duduknya ke samping Doni. Setelah itu, Sinta mulai memijat.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Sinta.


"Iya, kau pintar memijat ternyata?"


"Nenek, yang mengajariku," ucap Sinta, yang masih fokus pada lengan Doni.


"Benarkah? Nenekmu hebat sekali."


"Iya," jawab sinta, sambil mengangkat wajahnya lalu tersenyum.


Saat akan kembali menunduk, dagu Sinta di tahan oleh Doni. Lama mereka saling berpandangan. Hingga Doni perlahan mendekatkan wajah nya ke bibir Sinta. Dan detik kemudian, bibir mereka saling menempel. Hanya kecupan, tapi berpengaruh untuk sinta. Tubuhnya seperti tersengat listrik ratusan volt.


"Terimakasih," ucap Doni, setelah kecupan itu terlepas.


Sinta hanya mengangguk. Otaknya masih memproses apa yang barusan terjadi.


"Menginap saja disini! Sekarang sudah larut," ucap Doni.


"Ya," hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.


Setelah Doni menghilang, Sinta menyandarkan punggungnya sambil memegangi bibir.

__ADS_1


"Ciuman pertamaku ...


... kenapa harus dengan duda."


__ADS_2