Bos Duda

Bos Duda
Bab 20


__ADS_3

Setelah kepergian Tiara, Sinta di panggil untuk keruangan Doni. Saat memasuki ruangan, lelaki itu tidak ada yang terdengar hanya suara gemericik air di dalam kamar kecil. Gadis itu putuskan untuk menunggu, dan menjatuhkan badannya di sofa.


Doni baru keluar dari toilet dan sudah mendapati Sinta duduk disana.


"Ada apa?" tanya Sinta saat mendapati lelakinya keluar dari kamar kecil.


"Apa kau marah?" tanya Doni. Pria itu ikut duduk disebelah Sinta.


Sinta mengamati lelaki yang duduk di sebelahnya untuk beberapa saat. 'Selalu tampan dan rapih.'


Kembali ke topik yang sedang dibahas, Sinta balik bertanya sambil memperbaiki posisi duduknya.  "Menurutmu. Aku harusnya marah atau tidak?"


"Aku tidak tau," ucap Doni seraya menghela nafas, "Tapi aku harap kau tidak marah," ujar Doni sambil menggenggam tangan Sinta.


"Karena kejadiannya tidak seperti yang terlihat. Dia hanya membantu mengambil sesuatu yang tersangkut di rambut," lanjut Doni.


Sinta mengangguk. "Tenang saja aku tidak marah," ujar sinta. "Asal yang kau ucapkan itu benar."


Doni Tersenyum, Sikap dewasa Sinta membuat dia tidak perlu repot untuk menjelaskan secara rinci kejadian tadi. Biasanya gadis seusia Sinta lebih mendahulukan emosi daripada logika. Doni tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya, jika Sinta sedang emosi.


"Benarkah?" ujar Doni tidak percaya.


Sinta menghela nafas "Iya, aku benar-benar tidak marah," ucap Sinta sambil tersenyum, "Kau tidak lihat senyum di wajahku?"


"Aku tidak melihatnya? Coba lihat sini!" perintah Doni.


Pria itu, kemudian menangkup dan mendekatkan wajah Sinta seolah sedang mencari sesuatu.


Cup


Doni mengecup bibir Sinta sekilas. Gadis itu mebelalakan mata, atas serangan tiba-tiaba yang terjadi barusan.


Sinta mencubit pinggang Doni, "Kau ingin kita dilihat orang lagi.


"Aduh...!" Pekik Doni, sambil menahan serangan dari gadisnya, "Aku sudah menguncinya." Sambil memegang tangan Sinta agar tidak mencubit dia lagi.


"Jika kita melakukan hal lain, juga tidak akan ada yang melihatnya," ucap Doni sambil memainkan alisnya.


"Dasar mesum," ucap Sinta sambil berdiri.


"Apa kau bilang?" tanya Doni sambil menarik Sinta duduk kembali.


"Kau mesum." Ulang Sinta.


Tanpa menunggu lama Doni langsung mendorong bahu sinta sedikit kuat. Gadis itu jatuh terlentang, di bawah kungkungan kekasihnya.


Doni tersenyum, ada seringai yang terbit di bibirnya, "Kau ingin tahu, bagaimana mesumnya aku?" ucap Doni sambil memandang Sinta.

__ADS_1


Gadis itu tengah gugup dan pipinya bersemu merah, membuat Doni bertambah gemas.


Belum sempat Sinta menjawab Doni sudah menutup mulut gadis itu dengan bibirnya. Ciuman Doni kali ini sangat panas dan menuntut membuat Sinta kewalahan. Suara decapan terdengar menggema di ruangan.


Tangan Doni yang lincah sudah merambat di punggung, sedangkan satunya lagi sedang asik meraba perut Sinta. Terdengar desahan tertahan dari bibir gadis itu, tangan Doni yang bersentuhan langsung dengan kulit membuat tubuh Sinta seperti tersengat.


Mereka sama-sama sudah terbakar gairah, akal sehat Sinta sudah tidak terpakai lagi. Kini, Doni sudah berpindah ke leher jenjang milik Sinta. Menghirup, menghisap Dan membuat Kissmark disana.


Satu persatu kancing kemeja Sinta mulai terlepas, terlihat dua gundukan yang menonjol tertutup kain tipis berwarna hitam, sangat kontras dengan kulit putih milik gadis itu.


"Ahhh..."


Satu desahan lolos dari mulut Sinta, saat Doni bermain dengan gundukan itu. Suara itu sangat indah menurut pendengaran pria itu, semakin memicu gairah di dalam tubuh Doni.


Saat gairah sudah di ubun-ubun, suara ketukan membuat mereka menghentikan aktifitasnya. Mereka saling menatap seolah bertanya siapa yang berada di luar.


"Brengsek!" umpat Doni. "Jika itu Bagas, akan aku bunuh, dia," gumam Doni


Pria itu akan melangkah, tapi tangannya ditahan oleh Sinta.


"Tunggu!" cegah Sinta, "Aku harus bersembunyi dan merapikan bajuku," ucap Sinta seraya menunduk.


Doni sadar gadisnya sedang menahan malu. Segera peia itu meraih lengan Sinta dan membawanya masuk ke kamar.


"Kau disini saja." Setelah itu, Doni berlalu dari kamar.


"Kenapa aku baru tau jika disini ada kamar?" gumam Sinta.


Gadis itu duduk di depan cermin, merapikan bajunya kembali. Namapak wajah yang kusut dan rambut yang sedikit berantakan. Saat memperbaiki kancing baju yang terbuka Dia menyadari banyak tanda merah disana.


Sinta meringis "Dia seperti drakula, kenapa banyak sekali?" gumam Sinta sambil meraba tanda merah yang Doni buat.


Sinta sedikit melotot saat tau di lehernya juga ada tanda sialan itu,


"Bagaiman aku bisa keluar dengan tanda sebanyak ini?"


Gadis itu memijat kepalanya, "Dia bukan mesum lagi. Aku hampir saja diperkosa olehnya," lanjut Sinta.


Gadis itu terkekeh menyadari ucapannya barusan. Bagaimana, gadis itu menyimpulkan bahwa dia diperkosa oleh Doni. Bahkan, gadis itu juga menikmati permainan yang kekasihnya buat.


Sinta kembali tersenyum mengingat kejadian panas tadi, "Kenapa aku tadi diam saja?" ujar Sinta sambil menopang dagu.


Gadis itu menyadari bahwa tubuhnya merespon baik saat disentuh Doni.


"Kalau benar terjadi. Apa aku bisa di sebut janda?" tanya Sinta didepan cermin. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.


....................

__ADS_1


Doni kaget saat tau siapa yang mengetuk pintu ruangannya.


"Kenapa kau berantakan sekali?" ucap pria paruh baya itu.


"Aku sedang banyak pekerjaan," jawab Doni. Pria itu mengingat kembali pekerjaan panas yang akan dia lakukan dengan Sinta, tapi semua itu gagal karena Papanya.


Doni nampak kusut, dengan baju yang sedikit berantakan dan rambut yang sudah tidak tertata rapi membuat, Diharja sedikit curiga.


Setelah itu, Doni mempersilahkan papanya masuk.


Diharja mengamati Doni "Aku sebenarnya sedikit merasa aneh," celetuk Diharja


Doni mengangkat alisnya, "Kenapa?"


"Aku tidak pernah melihat kau sangat berantakan, walaupun kerjaan menumpuk."


Doni meringis memijat kepalanya yang terasa sakit. Benar yang di ucapkan Bagas tadi pagi, "Sesuatu yang tertunda bisa membuat sakit kepala" dan sekarang Doni sudah membuktikanya. Apalagi ditambah papanya yang sedang menginterogasi dirinya.


"Memang kenapa kalu aku sedikit berantakan?" tanya Doni


Diharja menghela nafas, "Yang aku tahu itu bukan gayamu."


Doni menyerah bagaiamana bisa dia membohongi orang yang tau luar dalam tentang dirinya. Bahkan, darah mereka sama.


"Sudahlah, Pa. Ada perlu apa sebenarnya papa kemari?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Ini perusahaanku, jadi terserah aku mau kesini kapanpun," sungut Diharja.


"Kau durhaka sekali, Papamu kemari bukan kau tanyakan kabar, malah kau tanyakan yang lain," cerocos Diharja.


Doni menghela nafas. "Bukan begitu, Pa!" sanggah Doni, "Kenapa Papa tidak telpon dulu. Aku bisa menyiapkan jamuan, jika tau papa akan datang."


Pak Diharja mendengus, "Tidak usah." tolak Diharja. Seketika Diharja teringat sesuatu "Papa, meletakkan sesuatu dikamarmu," tunjuk kearah ruangan di balik rak, "Sekarang Papa ingin mengambilnya."


...........................


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Author: Habislah kau Doni..... (Author ketawa jahat.)


Doni : Lagian kenapa sih thor.... lu nyuruh gue umpetin sinta di dalem kamar. 'Kan enak tuh kalo ketauan Bokap, bakal dinikahin. Gue bisa langsung mantab-mantab.


Author: Lu nyalahin gue? (sambil nimpuk kepala Doni pakai selop)


Gaes apa yang akan terjadi selanjutnya. Jangan lupa berikan like dan komen kalian .


Author juga mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan kalian selama ini. Semoga kalian selalu di berikan kesehatan.

__ADS_1


I Love you gaes.


__ADS_2