
Setelah selesai makan dan membereskan peralatan Sinta memutuskan untuk pulang.
"Maaf, aku tidak bisa mengantar sampai rumah," ucap Doni dengan nada menyesal.
Mereka sedang berjalan bersama ke arah lift. Doni tidak bisa mengantar Sinta karena mobilnya di bawa Bagas. Sebenarnya lelaki itu ingin mengantar sampai rumah menggunakan taxi. Tapi Sinta melarang karena terlalu berlebihan.
"Tidak apa. Aku sudah biasa pulang sendiri," ujar Sinta sambil menunggu lift terbuka.
"Kau jangan naik angkot. Aku sudah pesankan taxi."
Sinta mengangguk. Tidak lama kemudian, lift terbuka mengantar sepasang kekasih ke lantai bawah. Saat tiba di lobby, taxi pesanan Doni sudah menunggu.
"Aku pulang dulu," ucap Sinta berpamitan.
"Jangan mampir kemana-mana. Kau harus langsung pulang," ucap Doni sambil membuka pintu taxi untuk Sinta.
"Iya," ujar Sinta sambil tersenyum.
Sinta melambaikan tangann, saat mobil taxi yang dia tumpangi mulai berjalan.
"Rasanya aku malas pulang," gumam Sinta. Menoleh kebelakang, Sinta melihat Doni masih berdiri di depan lobby, sambil menatap taxi yang Sinta tumpangi.
Saat mobil mulai menembus jalan raya, tiba-tiba sopir taxi menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Ada apa, Pak?" tanya Sinta bingung
Sang sopir menoleh ke arah Sinta yang duduk di bangku penumpang,
"Tidak tau, Mbak. Sepertinya mesin mobilnya mati." Setelah itu sopir keluar untuk melihat mesin.
"Gimana, Pak," tanya Sinta yang ikut keluar dari dalam mobil.
"Saya panggil orang bengkel, jika mau menunggu."
Sinta berfikir pasti sangat lama, jika menunggu orang bengkel tiba.
"Saya jalan saja kedepan," ujar Sinta.
Setelah itu, Sinta berjalan meninggalkan taxi yang dia tumpangi tadi. Melangkahkan kaki di pinggir jalan, sinta sesekali mengedarkan pandangan untuk melihat taxi yang lewat.
Sinta mendengus, karena taxi yang coba ia hentikan selalu saja berpenumpang.
"Haahh!" Sinta membuang nafas kasar. "Bisa bengkak nih kaki, misalkan jalan nyampek kosan," gerutu Sinta sambil menghentakkan kakinya.
Saat berjalan melewati daerah pertokoan yang sudah sepi, Sinta berpapasan dengan seorang pemuda yang sepertinya sedang mabuk.
Pemuda itu mendekat dan menyapa Sinta.
__ADS_1
"Hai manis," sapa pemuda itu dengan sempoyongan.
Sinta melotot kesal ke arah pemuda itu. "Berdiri aja belum bener, sok-sokan nyapa gue," sindir Sinta.
Pemuda itu terkekeh, merasa ucapan Sinta lucu, "Galak bener. Bikin abang tambah greget," ucapnya lagi.
Saat tangan pemuda itu akan menyentuh pipi Sinta, gadis itu buru-buru menepis, "Eh! jan kurang ajar lu, ya. Gue tampol pingsan, lu!" geram Sinta."
Pemuda itu tidak peduli lagi dengan ocehan Sinta, dia malah semakin mendekat ingin menggapai tubuh gadis itu.
"Bener-bener nih orang, pengen gue beri," gerutu Sinta.
Belum sempat tangan mencapai tubuh Sinta, pemuda itu sudah tersungkur. Pukulan kuat Sinta tepat mengenai wajah.
Sinta tersenyum sinis memandang pemuda yang sedang kesusahan untuk berdiri.
"Nyari gara-gara lu ama, gue. Kagak tau ape, gue dari tadi udah nahan kesel," gerutu Sinta
Gadis itu segera beranjak dari tempatnya. Dia takut jika teman-teman pemuda itu menghampiri. Walupun dia pemegang sabuk hitam, tapi dia juga merasa takut jika di dikeroyok.
Tepat satu langkah, tubuh sinta di tepuk dari belakang.
"Mati gue ini pasti temennya," ucap Sinta dalam hati.
Gadis itu langsung menggenggam dan memelintir tangan yang menepuknya dari belakang.
Sinta langsung melepaskan tangan Rama.
"Ya, ampun!" pekik Sinta. "Kamu itu seneng banget kalau muncul tiba-tiba," kesal Sinta.
"Kau ini laki-laki atau perempuan," celetuk Rama, "Tenagamu kuat sekali," ucap pria dengan wajah oriental itu, sambil mengelus tangannya yang terasa sakit.
Sinta mencebik seraya mengerucutkan bibirnya. "Siapa suruh, buat orang kaget."
Rama memandang ngeri, kerah tubuh pemuda yang sedang mabuk. Dia terkapar, dengan hidung mengeluarkan darah karena pukulan Sinta.
Rama bergidik, "Aku tadi melihat wanita yang sedang di goda oleh pria mabuk," ujar Rama kearah Sinta, "Tapi aku salah, niatku ingin menolong, malah aku jadi korban juga."
Sinta tersenyum melihat tanpa menjawab ucapan Rama, "Antarkan aku pulang!" perintah Sinta.
Tanpa menunggu jawaban Rama, Sinta sudah melenggang ke arah mobil, yang terparkir tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri.
"Tanganmu masih sakit," tanya Sinta.
Gadis itu duduk di kursi depan dengan menyandarkan punggung mencari posisi nyaman.
Rama yang baru masuk kedalam mobil mengangguk.
__ADS_1
"Bawa sini tanganmu," perintah Sinta.
Mencondongkan badan untuk meraih tangan Rama, gadis itu melakukannya dengan pelan. Sesaat kemudian, dengan satu kali sentakan, Sinta menarik tangan Rama dengan kuat.
"Aaaa!" Rama berteriak karena sakit dan merasa kaget tangannya di tarik Sinta dengan kencang, "Kau kasar sekali," ucapnya dengan wajah merah menahan sakit.
"Sakitnya hanya sebentar, coba sekarang kau gerakkan tanganmu," perintah Sinta.
Dan benar, saat Rama menggerakkan tangan, sakitnya sudah tidak terasa lagi.
"Wah ... kau hebat sekali, sakitnya sudah hilang," ucap Rama sambil menatap Sinta kagum.
"Jangan menatapku terlalu lama. Aku memang memesona," ucap sinta Sambil mengibaskan rambut panjang milik nya.
Rama mendengus "Percaya diri sekali."
Padahal di dalam hati Rama, dia mengakui bahwa Sinta sangat mengagumkan. Apa lagi saat dia melihat Sinta melawan pemuda yang sedang mabuk tadi. Kecantikannya bertambah berkali-kali lipat.
Sinta mencebik akan ucapan Rama barusan. "Sekarang, ntar aku pulang," perintah Sinta seperti nyonya besar.
"Siapa bilang aku mau mengantarmu."
Sinta menatap Rama dengan tidak percaya, terlihat juga mata Sinta yang berkaca-kaca, dia sudah lelah berjalan jauh, ditambah duel dengan pemuda tadi. Dan sekarang, pria menyebalkan yang duduk disampingnya tidak mau mengantar.
"Kau tega sekali," ujar Sinta dengan wajah di tekuk, "Aku sudah berjalan jauh. Sedangkan taxi tidak ada yang berhenti, karena selalu ada penumpang. Dan sekarang, kau tidak mau mengantar," ucapnya dengan bibir dilipat.
Rama tersenyum menatap gadis yang duduk disampingnya, dia mempunyai sifat yang sangat unik. Dalam sekejap, sifat Sinta bisa berubah dari bar-bar, menjadi manja. Rama sebenarnya hanya bercanda. Mana bisa dia membiarkan gadis yang dia sukai kesusahan.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali."
"Syukurlah, aku pikir kau tidak mau mengantar."
"Mana bisa. Siapa tau aku mengantar gadis yang sedang kesusahan, saat pulang akan mendapatkan hadiah."
"Hadiah?" ulang Sinta.
Gadis itu tidak paham apa yang dimaksud Rama.
"Sebuah pelukan, misalnya. Jika kau mau, ciuman juga boleh," sambil mengedipkan mata ke arah Sinta.
"Boleh," ucap Sinta dengan seringai di bibir, "Setelah itu, nasibmu akan sama seperti pemuda yang tadi."
Ingatan rama kembali ke pemuda yang terkapar dipinggir jalan, dengan hidung mengeluarkan darah akibat pukulan Sinta.
Rama bergidik membayangkan tinjuan Sinta mendarat di wajah tampannya.
"Aku hanya bercanda," ujar Rama. "Aku ikhlas mengantarmu. Kau tidak perlu meberikan hadiah," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Setelah itu Rama melajukan mobil, untuk mengantar Sinta.