Bos Duda

Bos Duda
Ss 2 Bab 4


__ADS_3

"Rama, kau akan menelponku lagi, kan?" tanya wanita yang tengah duduk manja di pangkuan pria yang sudah lama dia sukai.


Wanita itu harus bersusah payah membujuk Mike agar dia bisa bertemu dengan Rama.


"Tentu," ucap Rama sambil tersenyum menawan ke arah wanita itu. "Tapi, sekarang kau harus segera pergi."


"Apa kau sedang mengusirku?" tanya wanita itu manja seraya mengelus dada Rama.


Terlihat dari balik punggung wanita yang berada di pangkuan Rama, Daniel sudah tiba dengan seorang wanita.


"Tidak. Aku hanya butuh waktu berkumpul dengan teman-temanku." jelas Rama. "Kau pasti akan bosan jika berada disini." Rama mengusap pipi wanita yang tidak dia ketahui namanya itu.


Sedangkan Mike yang duduk tidak jauh dari Rama merasa muak. Dia lebih memilih menyapa Daniel yang baru saja tiba.


"Baiklah. Lagi pula aku juga ada janji dengan seseorang." Wanita itu mengecup bibir rama sejenak.


Menurut Rama wanita yang berada di pangkuannya terlalu berani dan liar.


"Pria?" tebak Rama.


"Iya," sahut wanita itu sambil bangkit dari pangkuan Rama.


"Kau cemburu?" tanya wanita itu.


Rama hanya terkekeh merasa lucu mendengar ucapan wanita itu. Mana mungkin dia akan cemburu.


"Jika kau mau serius menjalin hubungan, aku akan dengan senang hati menerimanya," lanjut wanita itu.


"Sayang sekali aku belum berniat untuk menjalin hubungan serius."


Wanita itu tersenyum, ucapan Rama barusan bukan masalah besar baginya.


"Baiklah aku pergi dulu." Pamit wanita itu.


"Siapa dia?" tanya Daniel yang sudah duduk di sebelah Rama.


Rama mengedikkan bahu, "Aku tidak tahu. Mike yang membawanya kemari."


"Kau ingin bermain-main lagi dengan wanita?" tanya Mike serius. "Aku pikir kau sudah sembuh?"


"Kali ini bukan aku. Dia sendiri yang datang kemari," kilah Rama. "Seharusnya kau salahkan saja Mike."


"Kenapa aku?" sela Mike, dia yang sedari tadi diam merasa tidak terima jika ikut di salahkan.


"Kau yang membawa dia kemari."


"Dia yang memaksa ingin bertemu denganmu. Lalu aku bisa apa jika dia menagis di klub?"


"Sudah! Apa kalian tidak malu berdebat di depan wanita?" Daniel mencoba menengahi.


Rama melihat wanita yang sedari tadi diam. Dia tertutup oleh tubuh Daniel sehingga Rama tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.


"Ini Sinta." Daniel menggeser tubuhnya untuk memberi ruang. "Dia anggota baru di agensi."


Rama membeku, ketika menatap wanita yang susah payah untuk dia lupakan.


"Kenapa kau menatap Sinta seperti itu?" tanaya Daniel. "Apa kalian saling mengenal?"


"Tidak. Dia hanya mirip seseorang di masa lalau."


Rama memeilih pura-pura tidak mengenali Sinta. Mungkin ini lebih baik untuknya. Padahal banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya. Kenapa Sinta sekarang memilih menjadi model, padahala uang Doni tentu lebih banyak Sinta tidak perlu repot-repot untuk bekerja. Tapi, pertanyaan itu hanya tersangkut di tenggorokan.


Kemudian Rama mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Sinta layaknya orang yang baru pertama jumpa.

__ADS_1


Sinta menerima uluran tangan Rama, dia merasa Rama sedang mengajaknya untuk beradu akting. Dan Sinta akan melihat sampai dimana Rama akan malokoni sandiwara dengannya.


"Senang berkenalan denganmu, Rama."


Sinta tersenyum penuh arti ke arah Rama.


"Iya," ucap Rama canggung.


"Kau terlihat gugup," bisisk Mike. "Padahala beberapa menit yang lalu aku baru saja melihat wajah buayamu." Mike terkikik merasa lucu dengan tingkah Rama yang mirip anak remaja.


"Hentikan ocehanmu atau kau lebih memeilih aku meratakan tempat usahamu."


"Baiklah aku diam." Mike kemudian sedikit mejauh dari Rama.


----


Setelah acara makan malam selesai Sinta mengajak Daniel untuk segera pulang. Selain tu


"Astaga!"


Sinta terkejut karena Diana sudah berada di dalam rumah. Jika tidak ada cahaya dari televisi mungkin Sinta tidak tahu jika di dalam rumah ada Diana.


"Kau membuatku terkejut, Kak."


Sinta menyalakan lampu agar ruangan terlihat lebih terang.


"Kau dari mana?" tanya Diana yang masih sibuk dengan acara televisi.


"Makan malam."


Sinta melepas sepatu dan kardigan yang di pakai.


"Dengan kekasihmu?" Diana menoleh untuk menatap Sinta.


"Pemilik DnL?" ulang Diana. "Bukankah DnL itu brand fashion ternama dia juga mempunayai agensi model, bukan?" tanya Diana memastikan.


"Ya, bahkan aku bekerja disana sebagai model."


"Apa!" Diana langsung membalikkan tubuhnya merasa terkejut dengan ucapan Sinta.


Sinta hampir saja menyemburkan kembali air yang sudah dia telan karena mendengar teriakkan Diana. Perasaan Sinta tiba-tiba jadi tidak enak saat melihat ekspresi Diana. Sinta takut jika kaka iparnya itu akan marah, karena dia bekerja sebagai model. Profesi yang sama dengan Dianan. Bedanya Diana adalah model profesional bahkan jam terbangnya sudah padat.


"Maafkan aku, Kak, belum membicarakan masalah ini denganmu."


"Kenapa?" tanya Diana pura-pura marah.


"Tawaran ini terlalu mendadak. Jadi aku tidak sempat membicarakannya denganmu.


"Apa kau senang?"


"Lumayan menyenangkan. Aku jadi punya kesibukan sekarang," jelas Sinta.


"Kak, apa kau marah?" tanya Sinta yang melihat Diana hanya diam saja.


"Tentu saja aku marah." Diana mencebikkan mulutnya. "Sainganku akan sangat berat karena kau sudah jadi model sekarang."


Sinta mengambil tempat duduk di sebelah Diana dan langsung memeluknya.


"Tentu tidak. Kau kan model terkenal mana mungkin aku akan menyaingimu? Apalagi wajahmu yang cantik ini, aku tidak ada apa-apanya di bandingkan denganmu," puji Sinta.


"Dasar penjilat," gerutu Diana.


Sinta hanya terkekeh, dia sama sekali tidak marah karena dia tau Diana sedang bercanda dengannya.

__ADS_1


"Aku hanya memberikan pesan untukmu agar kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Jangan sampai kau menukar harga dirimu demi uang, karir yang lebih baik atau penawaran lainnya. Kau tau Ada oknum model yang rela menjual harga dirinya demi itu."


"Aku kira itu hanya gosip saja."


"Itu benar. Aku bahkan pernah di tawari untuk menjadi istri simpanan."


"Benarka?" tanya Sinta terkejut.


Dina mengangguk. "Tapi aku menolaknya. Jika yang menawariku itu Sultan dan hartanya tidak akan habis tujuh turunan baru aku terima."


Diana kemudian terkekeh melihat wajah kesal Sinta.


"Aku hanya bercanda barusan. Tapi pesanku yang tadi harus kau ingat."


"Iya," jawab Sinta.


----


Pagi ini Rama sudah rapi dengan stelan jas yang melekat di tubuhnya. Dengan wajah sedikit masam pria itu menuruni anak tangga dan menyapa ayahnya saat sampai di meja makan.


"Pagi, Pa," Rama mengambil tempat duduk tepat di sebelah Danu.


"Pagi," balas Danu.


Pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepala saat melihat wajah masam Rama.


"Kau sudah siap memuali hari baru di kantor?"


"Aku harus siap. Menolak pun aku tidak sanggup," celetuk Rama.


Rama akhirnya mau mengambil alih perusahaan ayahnya yang berada di dalam negeri. Niatnya, Rama ingin kemabali lagi ke Turki dan menetap di sana. Tapi ayahnya melarang, jika Rama tetap keras kepala dia akan langsung menikahkan Rama dengan kerabat jauhnya. Atau lebih parah Danu tidak segan-segan mencoret Rama dari daftar penerima warisan.


"Kau memang anak yang berbakti."


Danu kembali mengunyah makanannya dengan tetsenyum. Dia merasa lega karena Rama mau mengurus perusahaan, jadi Danu bisa menikmati masa tuanya dengan tenang.


"Apa yang kau pikirkan, Pa?" tanya Rama yang melihat ayahnya tersenyum. "Jangan berpikir kau akan memberiku ibu baru?" tebak Rama


Danu langsung melebarkan matanya mendengar kalimat Rama. Hampir saja makanan yang masih di dalam mulut itu menyembur keluar.


"Ide yang bagus," ujar Danu setelah menelan makanannya.


"Aku pikir kau akan marah," ucap Rama tidak percaya. "Tidak kusangka kenapa malah kalimat itu yang aku denagar."


"Bukankah bagus, anakmu dan anakku nantinya umurnya tidak akan terpaut jauh."


Rama merasa shok dengan ucapan Danu. Dia berpikir ayahnya sedang mengalami puber ke dua.


"Aku belum ada calon. Papa saja yang menikah duluan."


"Aku akan carikan calon. Kita menikah bersama."


Rama langsung tersedak Roti yang dia kunyah. Rama tidak bisa membayangkan bagaiman jadinya jika dia benar-benar berada satu pelaminan dengan Danu.


Bukan sebagai orang tua mempelai tapi sama-sama menjadi penganti.


"Aku tidak mau." Rama meletakkan Roti dan bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus segera ke kantor. Aku tidak sanggup membahas masalah ini lagi dengan, Papa."


Danu hanya tersenyum menatap punggung Rama yang terlihat menjauh. Sebenarnya ucapannya hanya lelucon saja, dia hanya rindu bersenda gurau dengan anaknya. Tapi Danu berpikir tidak masalah jika menikah lagi nantinya.


Bersambung...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2