Bos Duda

Bos Duda
Bab 30


__ADS_3

Rani dan Kusdi (Ayah Sinta), jalan dengan tergopoh menuju Balai Desa. Meraka mendapat kabar, bahwa Sinta akan segera dinikahkan, karena berbuat mesum dengan pria yang berasal dari kota.


Rani, merasa kaget mendengar berita itu. Karena tadi Sinta hanya pamit ingin pergi ke sungai. Dan juga, yang Dia tahu Sinta tidak memiliki kekasih, atau teman dekat pria yang berasal dari kota.


"Mak!?" ucap Sinta, saat melihat Rani dan Kusdi sampai di Balai Desa.


Sinta menatap ibunya dengan perasaan tidak menentu. Dia sudah membuat orang tuanya kecewa. Walau kejadian itu, sebenarnya tidak di sengaja.


Sedangkan kedua orangtua Sinta hanya diam saja. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sebenarnya, siapa pria yang duduk di sebelah Sinta.


Sinta pun tidak bisa menebak, bagaimana perasaan kedua orang tuanya. Tidak ada ekspresi yang terpancar di kedua wajah Rani dan Kusdi.


"Mari kita mulai!" ujar Pak RT.


Setelah itu, Kusdi memposisikan diri duduk di depan Doni.


"Sah!"


Hanya suara itu yang bisa Sinta dengar. Gadis itu tidak fokus pada sesi Ijab Qabul. Yang ada di pikiran hanyalah, bagaimana perasaan ke dua orang tuanya. Apa merereka akan marah dan mengusir Sinta keluar dari Rumah?


Sinta tidak bisa membayangkan itu semua.


*****


Rani dan Kusdi hanya diam, menunggu penjelasan Doni dan Sinta.


Sekarang mereka sudah berkumpul di ruang tamu. Setelah acara itu selesai, mereka langsung membubarkan diri.


"Maaf sebelumnya, sudah membuat Anda kecewa." Doni, memulai pembicaraan. "Saya, ingin menjelaskan sesuatu yang salah disini. Sebenarnya, yang di lihat warga tadi tidaklah benar. Saya, hanya berniat menolong Sinta yang akan terjatuh."


Rani dan Kusdi bisa sedikit lega, karena mereka percaya, bahwa putrinya tidak akan berbuat seperti yang di tuduhkan warga.


"Sebenarnya, yang saya khawatirkan bukan itu. Kami tidak mengetahui perasaan kalian bagaimana. Tapi, kami berharap kalian mau menjalani pernikahan ini secara wajar, walau terkesan seperti di paksa.


"Saya memang mempunyai hubungan khusus dengan anak anda. Tadinya, saya kesini untuk menyelesaikan sedikit masalah di antara kami. Dan setelah itu, niat saya ingin melamar Sinta." Doni kemudian tersenyum. "Saya tidak menyangka, jika kami langsung dinikahkan."


"Berarti, kalian sudah berpacaran?"sela Rani.


Doni dan Sinta, mengangguk bersama.


"Baiklah. Sepertinya, ada yang kami lewatkan disini." Rani menatap Sinta, sepeti ingin meminta penjelasan.


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu kami khawatirkan lagi," sela Kusdi. "Ajak suamimu istirahat, Sinta!"


Sinta merasa aneh dengan sebutan itu. Dia masih belum percaya, jika sekarang sudah menjadi istri, Doni Diharja.


Sampainya di kamar, mereka berdua hanya diam, merasa canggung dengan status mereka sekarang.


"Kau, mau mandi?" tanya Sinta untuk memecah kesunyian di antara mereka.


"Kau, duluan saja! Aku mau ambil baju dulu di mobil."


Setelah Doni keluar dari kamar, Sinta melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Gadis itu sudah merasa gerah.


Sinta menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Gadis itu lupa membawa baju. Setelah dirasa keberadaan Doni tidak ada, Sinta langsung keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.


"Untung Dia tidak ada. jika tidak, mau sampai kapan aku didalam sana," ujar  Sinta sambil memilih baju.


"Kau sedang membicarakan siapa?"

__ADS_1


Suara Doni membuat Sinta berhenti dari kegiatannya. Dia tidak berani berbalik badan karena merasa malu.


"Aku sudah pernah melihat, jadi kau tidak perlu malu," lanjut Doni.


Setelah itu, Sinta hanya mendengar bunyi pintu kamar mandi yang di tutup.


"Huhh!"


Akhirnya Sinta bisa bernafas kembali. Buru-buru gadis itu memakai pakaiannya.


"Sinta!"


Suara Rani membuat Sinta buru-buru membuka pintu.


"Kenapa, Mak?"


"Ajak Doni makan dulu!"


"Iya."


Rani tersenyum kecil menatap Sinta yang rambutnya sedikit bawah. "Habis keramas? "


"Emang kenapa kalau Sinta keramas?


"Enggak apa-apa, Mamak cuma nanya aja," ucap Rani samil berlalu dari kamar Sinta.


******


"Tambah lagi Nak, Doni! Ini semua ibu yang masak."


Doni yang sedang mengunyah hanya mengangguk.


"Masakan Ibu tidak enak ya?"


"Terimakasih. O, ya. Nak Doni kenal Sinta dimana? Ibu penasaran karena Sinta ndak pernah cerita."


"Sinta Sekretaris saya, Bu."


Rani hampir menyemburkan air putih yang di minum. Dia tidak menyangka, jika yang menjadi menantunya seorang Direktur.


"Berarti, Nak Doni ini atasan, Sinta?" tanya Kusdi yang sedikit terkejut.


"Iya, Pak."


"Wah, saya tidak menyangka. Direktur sepertimu mau dengan, Sinta."


"Mak!" Sela Sinta, tidak suka.


"Saya, memang sudah menyukai Sinta sejak lama."


Sinta terkejut dengan ucapan Doni. Pertanyaanya hanya berputar di kepala. Kenapa Doni dulu selalu bersikap menyebalkan, jika dari dulu dia sudah menyukai dirinya.


Rani dan Kusdi, hanya menanggapi ucapan Doni dengan mengangguk.


******


Setelah makan malam, Sinta lebih dulu masuk kedalam kamar. Sedangkan Doni melanjutkan obrolan dengan kedua orang tuanya di ruang tamu. Mereka sangat asik hingga melupakan Sinta. Istri Doni itu merasa, dialah yang menjadi mantu bukan suaminya.


Sinta merebahkan badannya di atas kasur, sambil memandangi langit-langit kamar. Dia sedang memikirkan nasibnya yang bisa berubah dalam sekejap.

__ADS_1


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Doni, yang baru memasuki kamar.


"Tidak. Aku hanya sedikit terkejut, dengan kejadian ini."


"Apa, kau tidak suka kita menikah?"


Doni ikut merebahkan badannya disebelah Sinta.


"Tidak!"


Sinta langsung menutup mulutnya, menyadari kalimat yang terucap beberapa detik yang lalu.


"Maksudku, bukan seperti itu. Hanya saja, ini terlalu mendadak."


 


"Sebenarya aku ku juga tidak menduga, jika kita akan menikah secepat ini. Padahal niatku hanya ingin melamar."


"Benarkah? Aku pikir kau akan menikah dengan, Tiara," ucap Sinta.


Gadis itu masih merasa kesal, jika mengingat kejadian kemarin. Ingin rasa nya Dia menendang suaminya, mengingat dia pernah didorong hingga pinggangnya memar.


Doni memiringkan tubuhnya menghadap Sinta. Tiba-tiba, tangan Doni memegang baju Sinta seperti ingin membukanya.


"K-kau... Mau apa?" tanya Sinta terbata.


"Kenapa kau tegang sekali? Aku hanya ingin melihat pinggang mu yang memar."


Sinta pikir, dia harus menunaikan  kewajiban sebagai seorang istri  malam ini juga.


'Rupanya dia hanya melihat pinggangku.'


"Kenapa? Pasti kau berpikir aku akan memintanya malam ini juga. Iya, 'kan?"


"Tidak!"


"Aku melihat sepertinya kau kecewa."


"Kau, jangan menggodaku seperti itu."


"Tenang saja. Pagi-pagi sekali, kita akan bertempur."


"Aku geli mendengar ucapanmu."


"Tolong miringkan tubuhmu dan buka bajumu sedikit lebar!"


Saat Doni memberikan salep dia tidak  sengaja menekan luka memar Sinta.


"Ahh, sakit!" pekik Sinta. "Bisa kau melakukannya dan pelan?"


"Aku sudah melakukannya dengan pelan."


Sedangkan dua orang di balik pintu hanya bisa melongo mendengar percakapan sepasang pengantin baru didalam kamar.


"Apa tidak bisa mengecilkan suranya. Mereka pikir, hanya mereka saja yang berada didalam rumah."


"Kalau Mamak mau, kita bikin adik buat Sinta sekarng."


Rani tersenyum malu-malu dan mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


**Bersambung...


🌸🌺🌻🌼🌷🍃**


__ADS_2