Bos Duda

Bos Duda
Bab 15


__ADS_3

Letak kantor yang berbeda, membuat Tiara harus turun di persimpangan lampu merah. Gadis itu tersenyum penuh arti, saat mobil Doni melaju pergi.


"Bos, aku rasa Tiara menyukaimu," ucap Bagas, saat mobil kembali membelah jalanan.


Doni menaikkan alis dan menoleh ke arah Bagas, "Apa pekerjaanmu selain menjadi tangan kanan, juga merangkap sebagai dukun," sindir Doni.


Bagas mendengus, "Kau sangat tidak peka, Bos. Aku bisa merasakan sikapnya berbeda saat denganmu."


"Aku tidak peduli!" jawab Doni acuh.


"Kau jangan terlalu cuek pada wanita. Lama-lama, kau jadi duda sampai tua," celetuk Bagas yang tidak tau bahwa Bosnya sudah mempunyai kekasih.


"Aku cuek saja banyak yang suka." Setelah itu, Doni mengarahkan pandangan ke Bagas. "Bagaimana, jika aku suka tebar pesona sepertimu?" sindir Doni yang tepat sasaran.


"Bukan tebar pesona, Bos" sanggah Bagas. "Aku hanya bersikap ramah."


"Iya. Kau ramah tapi pilih-pilih."


Bagas hanya nyengir, memperlihatkan deretan giginya. Orang kepercayaan Doni itu memang pilih-pilih, dia akan ramah, jika bertemu dengan wanita cantik. Sebaliknya, jika dia bertemu dengan wanita yang biasa saja.


"Bos, apa kau tidak bosan jadi duda?" celetuk Bagas.


"Bosan." Doni hanya menjawab singkat.


"Lalu, kenapa sampai sekarang kau masih betah sendiri?"


"Siapa bilang?" potong Doni yang masih sibuk bermain ponsel. "Aku sudah punya kekasih."


Bagas menoleh seolah yang ia dengar salah, "Jangan bercanda, Bos," ucap Bagas yang masih tidak percaya. "Kau, tidak pernah bercerita."


"Aku bukan dirimu, ukuran celana dalam saja sampai kau ceritakan."


"Berarti aku memang berusaha untuk terbuka kepadamu," uajar Bagas sambil memandang Doni sekilas, "Tidak ada yang aku rahasiakan," lanjutnya lagi.


Doni bergidik menatap Bagas dengan tatapan jijik.


"Siapa wanita itu, Bos?" tanya Bagas mengabaikan tatapan Doni. "Apa, aku mengenalnya?"


"Iya," jawab Doni.


"Wah ... Aku jadi penasaran siapa wanita itu," ucap Bagas penasaran.


Wanita itu yang kau puji tadi pagi, ucap Doni dalam hati. "Nanti juga kau akan tahu."


Setelah itu, Doni menyuruh Bagas untuk tidak berbicara lagi. Kepalanya terasa pusing, mendengar ocehan Bagas yang dari tadi tidak berhenti.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sampainya di kantor, Doni melihat Sinta sedang sibuk dengan pekerjaan. Dia tidak ingin mengganggu, jadi dia putuskan untuk langsung masuk keruangannya.


Sinta memasuki ruangan Doni untuk meletakkan laporan yang sudah selesai. Gadis itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, karena dia pikir Doni belum kembali.


Doni yang mendengar pintu ruangannya di buka, menoleh kearah suara.


"Maaf, aku tidak mengetuk dulu," ujar Sinta terkejut, karena mendapati Doni sudah duduk di meja kerja. "Aku tidak tahu kau sudah kembali," lanjut Sinta lagi.


"Tidak apa. Aku tadi ingin menghampir keruanganmu, tapi kau terlihat sangat sibuk," ucap Doni sambil tersenyum.


Sinta berjalan ke arah meja Doni dan meletakkan setumpuk map. "Ini berkas yang kau minta."


Setelah itu, Sinta pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat gadis itu akan melangkah, suara Doni lebih dulu menginterupsi.


"Hari ini kau ke apartemen, kan?" tanya Doni yang masih fokus pada layar komputer.


"Apa aku masih harus mengerjakan hukuman itu?" tanya Sinta. Gadis itu berharap bahwa dia tidak perlu repot untuk melanjutkan hukuman itu lagi.


"Tentu," jawab doni cepat.


"Aku kira, setelah menjadi kekasihmu, hukuman itu sudah tidak berlaku," ujar Sinta, masih berdiri di samping Doni.


Pria tampan dan berhidung mancung itu langsung menoleh ke arah Sinta, memberi tatapan tajam. Seolah memastikan ucapan Sinta barusan.


"Aku hanya bercanda," ucap Sinta tersenyum sambil mencubit pipi Doni.


Setelah itu, Sinta kembali ke meja kerjanya. Saat akan duduk, dia merasakan ada getaran didalam tasnya. Mengambil benda pipih yang berada di dalam tas dan mengusap layarnya.


Saat tau Siapa yang mengirim pesan, Sinta langsung tersenyum. Dia jadi ingat, setelah kejadian kemarin dia sama sekali belum menghubungi Rama.


'Kau tega sekali. setelah meninggalkan aku kau juga lupa untuk menghubungiku😢😢.'


'Maafkan aku. Aku terlalu sibuk, aku jadi lupa untuk menghubungi pria tampan dengan otak mesum 😔.'


"Terimakasih untuk pujiannya."


Setelah itu, sinta tidak membalas pesan Rama. Gadis itu, memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.


Waktu pulang sudah tiba, Doni mengajak Sinta untuk satu mobil dengannya. Gadis itu setuju, karena mereka akan menuju tempat yang sama.


"Bos, tunggu!" seruan Bagas membuat Doni urung untuk membuka pintu mobil.


Sinta dan Doni saling bertatapan merasa bingung dengan panggilan  Bagas.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Doni, saat Bagas sudah berada di hadapannya.


Bagas masih mengatur nafas lelah, karena mengejar doni dengan jarak yang tidak seberapa jauh.


"Aku ikut," ujar Bagas dengan nafas terputus. "Mobilku masih di bengkel," ujarnya memperjelas.


Doni mendengus, merasa kesal karena Bagas mengganggu waktu berharganya dengan Sinta.


"Kau yang mengemudi," perintah Doni sambil memberikan kunci.


"Perbanyaklah olah raga, agar kau kuat menggendong wanita," sindir Doni saat mereka sudah memasuki mobil.


"Jangan salah, Bos. Saya ini sangat rajin olah raga," ujar Bagas bangga sambil memamerkan otot lengannya.


Doni yang merasa tidak percaya hanya terkekeh. "Olah raga apa? Kau lari dengan jarak beberapa langkah saja, nafasmu sudah terputus-putus.


Sinta yang mendengar sindiran Doni ikut terkekeh.


Bagas mendengus merasa kesal karena sindiran Doni yang kenyataannya benar. Saat akan membalas ucapan Doni, Bagas mendengar kekehan seorang wanita.


"Aku lupa jika disini ada wanita cantik," sapa Bagas kearah Sinta. "Tumben mbak Sinta ikut mobil, Bos Doni?" tanya Bagas yang merasa aneh karena Doni mengajak wanita masuk dalam mobilnya.


"Iya, saya sedang ada perlu dengan pak Doni," jawab Sinta halus.


"Wah. Ini suatu ...."


Bagas tidak melanjutkan ucapannya karena sudah dipotong oleh Doni.


"Hey, kau jangan banyak bicara," tunjuk Doni ke arah Bagas. "Kapan kau akan jalankan mobilnya. Bisa sampai rumah besok, kalau menunggu kau berhenti berceloteh," sungut Doni.


Bagas melajukan mobil sambil menggerutu. "Untung aku sayang padamu, Bos. Kalau tidak sudah lama aku tinggalkan."


Saat mobil sudah menembus jalan raya, Doni memberi perintah agar Bagas membawa mereka ke supermarket terlebih dahulu.


"Kenapa kita ke supermarket?" tanya sinta. Gadis itu merasa bahwa ini bukan tujuan awal mereka.


"Ada sesuatu yang harus kita beli," ujar Doni.


Setelah itu Sinta diam tidak bertanya lagi.


Sebenarnya, Bagas merasa bahwa Doni dan Sinta mempunyai hubungan. Dia sudah merasa aneh sejak kejadian di restoran. Bagas bisa melihat bahwa Doni tidak suka saat Sinta berada dekat dengan Rama.


Hampir tidak pernah, Doni membawa wanita masuk ke dalam mobilnya. Saat kejadian tadi dengan Tiara, itupun Bagas yang berinisiatif. Dia khawatir, jika bosnya terlalu cuek dengan wanita. Tapi kekhawatiran Bagas tidak terbukti ternyata bosnya mau kembali dekat dengan wanita.


 

__ADS_1


__ADS_2