Bos Duda

Bos Duda
Bab 41


__ADS_3

Pov Sinta


"Rileks, sayang. Jangan lupa untuk bernafas." Lagi. Mas Doni menggoda. Dia mengikik perlahan seperti tidak serius. Dia menyebalkan!


Serta merta aku menghadiahi mas Doni dengan cubitan kecil pada pinggangnya, dan setelah itu, sedikit mendorong tubuhnya. Mas Doni nampak terkejut dengan perlakuanku.


Aku menangkup kedua telapak tangan ke dada. Mencoba meraba debaran yang mulai memelan.


"Kali ini salahku apa?" Mas Doni menatapku sambil memiringkan kepala.


Aku mendengkus pendek dan keras.


"Jangan pernah makan siang lagi dengan Anne."


Mas Doni langsung tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya. "Siap!" ucapnya lantang.


Aku merebahkan badan dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku.


Mas Doni terdengar mendesah, "Apa hari ini aku tidak dapat jatah?"


"Tidak," jawabku dari balik selimut. Aku masih merasa kesal karena dari tadi Mas Doni terus menggodaku.


Aku merasakan tempat tidur sedikit bergerak. Rupanya Mas Doni ikut merebahkan badan di sampingku. Diaย  sedikit menyibak selimut dan melingkarkan tangannya di perutku.


"Mimpi yang indah," terasa mas Doni memberikan kecupan lembut di kepalaku. Setelah itu, kami sama-sama memasuki alam mimpi.


*****


Seperti biasa aku menyiapkanmakan siang untuk mas Doni. Sekarang hampir jam dua belas, sepertinya aku harus segera mengantarkan makanan ini.


"Mba Sinta..."


Aku menoleh ke arah suara. Nida, penggantiku sebagai sekretaris sudah berdiri di hadapanku dengan membawa amplop cokelat besar.


"Hai, Nida," aku menyapanya.


"Ini untuk Bapak," Nida mengulurkan amplop itu kepadaku.


"Kenapa tidak langsung di berikan saja?"


"Maaf membuat tepit. Aku, harus turun ada urusan sebentar.


Aku segera meraih amplop itu dan menatapnya untuk memeriksa. Kenapa setempelnya rahasia di atasnya?


"Ini dari mana? Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" aku membolak balik amplop untuk mencari nama pengirim, tapi nihil.


Nida hanya mengedikkan bahu, tanda bahwa dia juga tidak tahu.


"Harus segera di sampaikan, ya, Mba, ke Bapak," katanya lagi mengingatkan sebelum di menjauh dan pergi.


Aku berjalan ke arah ruangan Mas Doni. Karena ada stempel rahasia, jadi aku berpikir ini adalah dokumen penting. Ada baiknya lansung kuberikkan ke Mas Doni.


Aku mengetuk pintu ruangan Mas Doni.


Satu kali... tidak ada jawaban.

__ADS_1


Dua kali...


Tiga kali... masih sama, tidak ada jawaban.


Apa mas Doni sedang berada di kamar kecil?


Aku meraih knop pintu dan membukanya perlahan.


"Mas?" aku melongok terlebih dahulu. Menatap ke arah meja kerja. Kursinya kosong. Mas Doni tidak ada di sana.


Mataku menjelajah, mengitari ruangan kerja suamiku. Dia tetap tidak ada. Apa dia pergi dengan Bagas? Bisa saja, kan?


Aku membuka pintu lebih lebar dan masuk dengan membiarkan pintu terbuka.


Aku semakin heran saat melihat pintu kamar mandi terbuka. Itu artinya, Mas Doni tidak beraada di kamar mandi.


Aku melangkahkan kaki mendekati meja kerja Mas Doni. Meletakkan kotak makan siang yang aku bawa dan juga amplop cokelat di sana.


"Mas Doni?" panggilku karena masih penasaran dengan keberadaanya.


Aku menghela nafas karena tidak ada jawaban.


Mungkin aku harus mencobanya sekali lagi. "Mas?" panggilku lebih keras.


Tapi hening.


Baiklah aku menyerah. Lebih baik aku menemui Gea saja, menunggu sampai Mas Doni kembali. Kubalik tubuhku saat terdengar suara erangan.


"Sin ... ta .... Akhhh!"


Aku yakin suara erangan itu berasal dari meja kerja Mas Doni. Perlahan aku memutari meja, ketika aku melihat Mas Doni tergeletak tidak berdaya di lantai. Ke dua tangannya memegang kepala dan menarik-narik rambutnya.


Terkejut. Aku langsung berlutut, mencoba membantunya untuk duduk. Tapi yang ada hanya rintihan.


"Sin-ta i-ni sa-kit ... " desisnya dengan wajah menahan sakit.


Panik. Dan menatap tidak tega mas Doni dengan wajah seperti itu.


*****


Dokter klinik yang membuka prakter dekat kantor, kupanggil untuk memeriksa Mas Doni. Setelah pemeriksaannya selesai dia menemuiku. Mas Doni sendiri kubiarkan berbaring di atas sofa di ruangannya. Wajahnya pucat, dia memejamkan mata terlihat lelah.


"Sepertinya suami Anda kelelahan. Ada baiknya dia beristirahat untuk beberapa waktu." Dokter itu memeberi saran


Aku mengangguk. Sepertinya Mas Doni memang terlalu memforsir pekerjaanya beberapa hari ini. Dia selalu pulang telat.


Tiba-tiba aku teringat mengenai bagaimana dia menarik-narik rambutnya saat mengerang kesakitan.


"Aku ingin bertanya, Dok." Kembali melanjutkan pertanyaanya saat dokter itu mengangguk. "Aku lihat tadi dia seperti merasakan sakit di kepala?"


"Tekanan darahnya memang agak tinggi." Dokter itu kembali menjelaskan, "Tapi ada baiknya melakukan CT scan di rumah sakit besar. Agar lebih pasti."


Aku mengangguk-angguk lagi.


Tidak lama dokter itu pamit. Tinggal aku dan mas Doni. Pintu kubiarkan terbuka. Sementara aku berlutut di sisi sofa. Kening Mas Doni terlihat berkerut dan berkeringat. Kuraih tisu di atas meja, melap keringatnya perlahan. Dia sedikit mengerang namun tidak membuka mata sama sekali.

__ADS_1


"Ada apa dengan, Bos Doni?"


Aku menoleh, menengadah dan menemukan Bagas sudah berdiri di sisiku. Dia memandang Mas Doni dengan khawatir.


Melihat Bagas ada sedikit rasa lega. Pasti dia tahu sesuatu, karena dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan mas Doni.


"Kata dokter dia kelelahan."


Bagas berlutut disisiku, "Dia benar-benar keras kepala?" Bagas mendesis.


Aku mentap Bagas bingung. Tidak mengerti dengan maksudnya.


"Memang Mas Doni kenpa?" tanyaku meminta penjelasan. Aku benar-benar merasa sebagai istri yang bodoh.


Bagas menatapku ragu. Seolah berat untuk mengucapkan kalimatnya.


"Mba Sinta ...," katanya lalu mendesis.ย  Apa yang sebenarnya Bagas tahu. Dia benar-benar kesulitan untuk mengungkapakan sesuatu.


"Mba Sinta, begini ...."


"Aku sudah bilang kan, Sint. Supaya kamu tidak mengijinkan dokter untuk menemuiku!"


Sontak aku dan Bagas menatap mas Doni secara bersamaan. Suaranya lemah dengan sedikit mata yang terbuka.


"Apa kamu tidak bisa sedikit saja menuruti semua perintah suami kamu, hah?!" bentaknya dengan suara serak.


Aku terkejut dengan bentakkan Mas Doni. Baru kali ini selama menikah aku mendengar dia bicara sedikit keras.


"Maaf, sepertinya aku mau muntah!" Mas Doni menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan bangkit dari sofa dengan susah payah.


Dai menepis tanganku saat aku mencoba membantu dan menghambur ke kamar mandi.


Aku menatap punggung Mas Doni dengan mata yang memanas membiarkanya tahu bahwa aku sedang terluka dengan perlakuanya.


Saat menoleh ke arah Bagas. Dia hanya tersenyum tipis. Tanganya bergerak seolah memberi isyarat agar aku bersabar. Aku akan menyusul mas Doni tapi Bagas menghentikan langkahku.


"Biar saya saja," kemudian Bagas menyusul suamiku dan menutup pintu kamar mandi. Aku tidak dapat mendengar apapun.


Aku yang gelisah hanya bisa mondar-mandir dalam ruangan. Menunggu itu memang menyiksa.


Apa aku kurang memeperhatikan suamiku saat di rumah. Hingga dia begitu lemah dan sakitnya?


Akhirnya pintu kamarandi terbuka, Mas Doni muncul di ikuti oleh Bagas.


Mas Doni menatapaku, wajahnya basah, sepertinya habis di basuh. Aku mematapnya dengan tegang.


Tiba-tiba senyum mas Doni merekah. Dia berjalan menuju ke arahku. Serta merta sia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


"Kenapa tegang, Sayang?" tanyanya sambil mengusap kepalaku lembut.


Aku menenggelamkan wajahku ke dalam pelukan mas Doni. Mungkin Bagas yang berdiri tidak jauh di belakang mas Doni, saat ini sedang memalingkan wajah. Dia mungkin enggan melihat kami berpelukan.


Aku melingkarkan tanganku ke pinggang mas Doni dan menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Bau citrus segar, berbaur dengan aroma mint dari shampo yang mas Doni pakai. Ini adalah aroma favoritku.


**Bersambung...

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒบ๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน**


__ADS_2