
Doni berlari menuju lift, dia tidak perduli lagi dengan panggilan Rena. Yang dia pikirkan sekarang adalah mengejar Sinta dan meminta maaf. Didalam hatinya, ada rasa penyesalan telah melakukan hal konyol kepada Sinta.
Doni memandang sekeliling, tapi tidak juga dia temukan Gadis itu.
"Apa dia sudah pulang ke kantor?" ucap Doni berlari menuju parkiran.
Didalam mobil, yang dia pikirkan sekarang adalah menghubungi Sinta.
Beberapa kali menghubungi panggilan Doni tidak di tanggapi.
Dia putuskan untuk menghubungi Bagas. "Gas, apa Sinta sudah berada di kantor?" tanya Doni setelah panggilan terjawab.
Doni menghela nafas kesal, setelah tau bahwa Sinta tidak kembali ke kantor.
Akhirnya pria gagah itu melajukan mobilnya ke kos Sinta.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sinta keluar dari rungan apartemen dengan wajah kesal. Saat akan memasuki lift dia teringat akan bentakan Doni.
Gadis itu menekan tombol lift dengan kasar. "Dasar Doni menyebalkan!" Sinta meremat tangan sambil membayangkan wajah Doni.
"Kenapa dia harus membentak? Aku hanya menyiramkan kopi. Lagi pula bukan aku yang memulai. Rubah itu yang dari tadi menguji kesabaranku." Sambil menunjuk ke udara, seolah dia sedang berbicara dengan Doni.
Gadis itu keluar dari lift dengan tergesa, tanpa peduli bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan.
"Hey! Nona, uangmu jatuh!" Seruan seseorang dari belakang Sinta.
Gadis itu berhenti dan menoleh. "Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba?" gerutu Sinta saat tau siapa yang memanggilnya.
Pria tampan dengan wajah oriental itu hanya terkekeh.
"Wow, sepertinya kita jodoh?" Ledek Rama sambil berjalan kearah Sinta.
Sinta mendengus dan mengeructkan bibir. "Jangan melawak, moodku sedang tidak bagus."
Rama mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Kau kesini dengan sipa?" tanya Sinta sambil berjalan.
Pria dengan badan tegap itu menoleh. "Sendiri, tapi sekarang tidak. Aku sedang jalan berdua dengan bidadari" ucapnya sambil tersenyum ke arah Sinta.
"Issh!" Sinta mendelik ke arah Rama "Kau tidak pandai merayu."
"Kenapa begitu," ucap Rama tidak terima. "Aku tidak sedang merayumu."
"Sudah jangan diteruskan," potong Sinta, malas melanjutkan debat. "Kau mau kemana?"
Rama hendak menjawab, tapi sudah di potong lagi oleh Sinta. "Kau akan pulang? Aku ikut denganmu."
Rama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu, dia nampak berbeda dengan saat terakhir bertemu. Sekarang terlihat sedikit bar-bar. Walau begitu Rama senang bisa jalan berdua dengan Sinta.
"Kita mau kemana?" tanya Rama hendak menyalakan mobil.
Sinta nampak berfikir. "Kau tidak sibuk, kan?" Rama hanya menggeleng. "Temani aku nonton! aku yang traktir," ujar sinta.
Pria tampan itu tertawa. "Baiklah. Walaupun aku anti di traktir wanita, tapi untukmu tidak masalah."
Sinta mencebik merasa pria di sebelahnya itu sangat sombong. "Kau sombong sekali tuan. Kalu begitu kau saja yang traktir."
"Tiadak! Kau yang traktir," sambar pemuda itu cepat. "Kemarin saat libur, aku ajak keluar kau selalu sibuk. Jadi, sekarang kau yang traktir." sela Rama tidak terima.
__ADS_1
Sinta yang sudah malas berdebat akhirnya mengalah "Baiklah, terserah kau saja."
Selanjutnya, Rama melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Sampainya disana Sinta langsung membeli tiket dan tidak lupa popcorn.
"Kita akan nonton film apa?" tanya Rama penasaran.
"Komedi," tunjuk Sinta pada tiket yang berada di genggaman. Merasa Rama sedikit tidak bersemangat, Sinta pun mengerti akan isi otak Rama. "Kau berharap kita akan nonton film horor?"
"Kenapa, kau takut," Tebak Rama.
"Ya, jika aku pilih film horor, itu sangat menguntungkan untukmu, tentunya."
Rama pura-pura sedih. "Padahal aku mengharapkan hal yang iya-iya akan terjadi saat nonton film horor."
Pletak.
Sinta langsung memukul kepala Rama dengan tangan. "Ini ternyata sifat asli-mu?" Sinta menatap Rama dari atas sampai kebawah. "Ternyata wajah polos-mu itu menipu."
Rama langsung meraba kepalanya, pria itu nampak merajuk.
"Hey, pria tua! Kau sudah tidak pantas
untuk merajuk. Cepat, filmnya sudah diputar!" Lalu Sinta menyeret paksa lengan Rama.
Selama film di putar, Sinta tidak berhenti tertawa. Pilihan Sinta ternyata tepat. Film yang dia pilih lumayan ampuh, untuk menghilangkan rasa kesalnya atas kejadian di apartemen.
Sedangkan pria yang duduk di samping Sinta, juga terlihat menikmati film yang tengah di putar. Sesekali, dia juga menyempatkan diri untuk melihat gadis di sampingnya yang sedang tertawa.
"Cantik, sepertinya aku jatuh cinta," gumam Rama disela tawanya.
Sinta yang mendengar ucapan Rama seketika menoleh. "Apa kau bilang?"
Rama gelagapan. "Itu ... pemeran wanitanya cantik," kilah Rama.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mereka keluar dari gedung bioskop saat matahari mulai tenggelam.
"Sin, kita makan dulu disana," tunjuk Rama pada restoran yang terletak tidak jauh dari gedung bioskop.
"Ayo!" Sinta jalan mendahului Rama.
"Tunggu!" teriak Rama yang tertinggal. "Bawa sini tanganmu, aku takut di culik"
Sinta diam saja karena tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Tanpa menunggu lama pria itu langsung meraih tangan Sinta.
Tanpa Sinta sadari, di seberang jalan Doni melihat Rama meraih tangan Sinta.
"Brengsek!" umpat Doni yang sedang berada di dalam mobil.
Dia tampak kesal karena gadisnya di sentuh pria lain. Tidak tahukah Sinta, bahwa Doni tadi sibuk mencari dirinya.
Saat memasuki restoran, Sinta melihat para wanita menatap mereka. Bukan, lebih tepatnya menatap kagum ke arah Rama. Kebanyakan dari mereka adalah tante-tante yang memberikan tatapan genit ke arah Rama.
"Kau lihat para wanita itu?" tunjuk Rama kearah samping Sinta.
Sinta mengangguk. "Jika tadi aku tidak menggenggam tanganmu, pasti mereka sudah menghampiriku," ucap Rama sambil bergidik ngeri membayangkan tante girang menghampiri Rama.
Sinta tertawa. "Ku kira, tadi modus."
__ADS_1
"Ekheem!" Deheman seseorang membuat Rama urung menjawab ucapan Sinta.
"Maaf, mengganggu." Sapa Doni membuat Sinta menoleh.
Rama tidak menjawab, hanya menatap Doni datar. Ada aura persaingan di antara mereka.
Sinta sedikit terkejut, mendapati Doni berdiri dibelakangnya.
"Bisa ku pinjam sekretarisku? Ada urusan mendadak yang harus di selesaikan."
Sinta memandang Rama, dia berharap agar Rama mencegahnya pergi dengan Doni. Dia tau, jika urusan itu bukan tentang masalah perusahaan, melainkan mengenai masalah di apartemen. Gadis itu masih merasa kesal, jika harus berbicara dengan Doni. Tapi jawaban Rama membuat Sinta pasrah.
"Pergilah! Aku tidak apa." ucap Rama.
Setelah itu,sinta beranjak dari kursi mendahului langkah Doni.
Sampainya di halaman restoran, Doni langsung mencekal tangan Sinta.
"Dimana ponselmu?"
Sinta lupa jika ponselnya sudah kehabisan daya. "Mati," jawab Sinta singkat
"Aku ingin bicara."
Setelah itu Doni membawa Sinta masuk kedalam mobilnya.
"Aku minta maaf atas hal yang terjadi tadi siang. Seharusnya aku tidak membentak tadi."
"Aku sudah memafkan, Bapak!" jawab Sinta sambil memandang kearah luar kaca mobil.
"Aku terlalu takut, jika kau nanti berurusan dengan, Rena."
"Bapak, tidak usah berlebihan."
"Aku tidak suka kau pergi dengan, Rama," ungkap Doni setelah jeda beberapa saat.
Sinta menarik nafas dalam. Ucapan Doni barusan membuat hatinya sedikit goyah.
"Kenapa?" Sinta memandang Doni.
"Apa hubungannya dengan bapak!" Sinta berbicara dengan nada bergetar.
"Bukankah aku tidak pernah ikut campur urusan Bapak? Jangan buat aku seperti orang bodoh!" Airmata Sinta mulai menetes.
"Saat kau mencium bibirku, aku pikir kau melakukannya karena kau suka kepadaku. Tapi, aku baru sadar saat aku melihat foto di kamar mu. Aku hanya wanita bodoh, yang hanya kau jadikan pelampiasan." Setelah itu, Sinta memandang Doni yang hanya Diam.
"Mungkin, disini hanya aku yang mempunyai perasaan (cinta) itu." Sinta tersenyum getir. "Jadi, jangan berlebihan agar aku tidak berharap padamu. Agar aku bisa dengan mudah melupakannya."
Doni langsung menarik Sinta kedalam rengkuhanya.
"Kau hanya milikku! Jangan harap kau bisa membuang rasa itu." Doni mempererat pelukan. "Aku menyukaimu sudah lama, sejak kau menjadi sekretarisku"
Doni merasakan ada isakan tangis dalam dekapannya. Setelah itu, dia sedikit mengurai pelukan dan membingkai wajah sinta dengan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu," ungkap Doni. "Kau dengar?" Sinta mengangguk di sela isakan.
"Jangan menangis, kau bukan wanita bodoh." ucap Doni sambil menghapus air mata Sinta dengan ibu jari.
Setelah itu, Doni mencium bibir Sinta dengan mesra. Akhirnya ada perasaan lega di hati Sinta. Gadis itu tidak bisa menjelaskan lagi tetang perasaannya. Yang ia tahu, ada perasaan menggelitik dan membuncah di dalam sana.
"Kau milikku!" ucap Doni, saat mereka mengambil jeda untuk bernafas
__ADS_1
Setelah itu, Doni menarik tengkuk Sinta kembali, mencium bibir gadis itu sedikit panas dan menuntut. Seolah dia takut kehilangan. Doni sedikit mengigit bibir Sinta agar gadis itu memberi akses.
Bibir mereka saling menghisap dan lidah mereka saling membelit, membuat bunyi decapan halus di sela ciuman mereka. Sinta merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.