
Sinta terbangun karena tenggorokan terasa kering. Saat akan menggerakan badan seperti ada benda berat yang menimpa perutnya.
"Euuhh." Lenguh Sinta dengan mata terpejam, badan gadis itu masih terasa lemas. Sinta mengerjapkan matanya yang terasa berat untuk menyesuaikan cahaya. Gadis itu menoleh kesisi sebelah kiri tepat di dada Doni.
"Dada Siapa? kenapa tidak memakai baju?"
Kesadaran Sinta yang belum sepenuhnya pulih tidak tahu jika yang tidur di sampingnya adalah Doni. Tangan gadis itu merayap menyentuh dada bidang milik kekasihnya.
Saat mengadah mata Sinta bertemu dengan wajah Doni.
Lagi Sinta menyentuh wajah pria yang tidur disampingnya. "Apa aku bermimpi?" Gadis itu mengusap rahang kekasihnya. Sedangkan Doni yang masih terlelap tidak merasakan sentuhan tangan Sinta.
Tapi semua itu tidak bertahan lama, setelah kesadarannya pulih Sinta Langsung berteriak.
"Kyaaaa!"Β Sinta Langsung keluar dari selimut dan berdiri di sisi ranjang.
Doni yang mendengar teriakan Sinta langsung membuka matanya. "Ada apa!" tanya Doni. Pria itu memegangi kepalanya yang terasa pening karena terbangun secara tiba-tiba.
"Kemana bajumu? Kenapa kita bisa tidur satu ranjang?"
Doni tidak fokus dengan rentetan pertanyaan Sinta. Pemandangan di depannya membuat dia harus menelan ludah dengan kasar. Sinta yang belum sadar sepenuhnya tidak mengetahui jika dia tidak memakai baju. Hanya kain tipis yang membantu menutupi bagian intim tubuh nya.
"Jawab! kenapa kau diam saja."
Doni hanya menggerakkan dagu untuk mengatakan bahwa, kondisi Sinta juga sama seperti dirinya.
"Apa?" Sinta merasa tidak mengerti dengan kode yang di berikan Doni.
Gadis itu sadar saat pria itu menunjuk tubuhnya.
Sint langsung menutup daerah terlarang dengan tangannya. "Cepat tutup matamu! kenapa dari tadi kau hanya diam saja?
Doni menuruti perintah Sinta di takut jurus karate Sinta akan keluar jika dia menyela ucapan gadis itu. Padahal jika gadis itu ingat, Doni dari semalam sudah melihat tubuh Sinta yang hanya mengenakan pakaian dalam.
"Sudah. Sekarang buka matamu."
Sinta yang tidak menemukan bajunya, hanya mengenakan kaos Doni yang dia temukan diranjang. Baju itu namapak kebesaran di tubuh langsing milik Sinta.
"Kau jangan marah dulu, aku bisa menjelaskan semuanya."
Sinta hanya memandang Doni dengan tatapan menyelidik.
"Kau ingat. Kau tadi malam terkena Hipotermia."
"Ingat. Lalu pa yang kau lakukan hingga kita tidak memakai baju?"
"Kau kehilangan kesadaran. Aku sudah memberikan pertolongan pertama, tapi tidak berpengaruh untukmu. Aku ingin membawa-mu ke rumah sakit tapi mobil, kita tinggalkan di jalan. Dan itupun tidak ada bahan bakarnya."
Sinta mengingat itu semua tapi setelah kesadarannya hilang dia sudah tidak tahu apa-apa lagi. Maka dari itu dia merasa kaget saat terbangun dengan keadaan semi telanjang.
"Jadi dengan berat hati aku harus melakukan itu. Membuka bajumu untuk berbagi panas tubuh."
Padahal sedikitpun Doni tidak menyesal atas apa yang dia lakukan untuk kekasihnya. Anggaplah di menolong dengan ikhlas dan langsung mendapatkan bonus saat itu juga.
Gadis itu mendudukan dirinya di atas ranjang. "Maafkan aku sudah menuduh-mu."
"Tidak apa. Itu reaksi yang wajar saat kau terbangun dalam keadaan seperti itu."
"Sekarang pakailah baju! Kau ingin masuk angin setelah ini."
Doni akan keluar dari selimut yang menutup tubuhnya. "Tunggu jangan keluar dulu. Biarkan aku yang mencarikan baju untukmu."
__ADS_1
Sinta sadar bahwa saat ini Doni hanya mengenakan boxer yang melekat di tubuhnya. "Di mana kau meletakkan baju?"
"Di bagian tengah."
Setelah itu Sinta mengambilkan baju untuk di kenakan Doni.
ππππππ
"Setelah makan, kita akan berangkat menuju kediaman Pak David (pemilik Royal Hotel)."
"Jauh tidak?
"Hanya satu jam perjalanan." Sinta mengangguk sambil mengunyah makanan.
Setelah selesai sarapan mereka bersiap untuk menuju kediaman Pak David.
Sinta yang merasakan cuaca daerah pegunungan cukup dingin memutuskan untuk menggunakan baju yang sedikit tebal.
"Jika badan mu masih kurang enak. Kau tinggal saja di villa."
"Tidak! Aku bisa bosan menunggumu. Lebih baik aku ikut, bisa melihat pemandangan indah di sekitar sini."
ππππππ
Doni melajukan kendaraan menembus jalanan yang berkelok. Perjalanan itu semakin menakjubkan saat Doni melawati hutan hijau yang berbatasan dengan garis pantai. Sedangkan Sinta tidak henti-hentinya mengucapkan rasa kagum atas pemandangan yang terhampar di sisi jalan.
Rumah penduduk yang masih asri dan hamparan sawah yang menghijau menjadi penyejuk untuk mata Sinta, tidak lupa padang rumput yang luas yang tidak kalah indah.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam, Sinta di sambut dengan rumah bergaya minimalis yang bangunannya didominasi dengan kayu.
"Silahkan masuk! anda sudah di tunggu." Pria berbadan tegap yang merupakan penjaga kediaman pak David, menyambut kedatangan Sinta dan Doni.
Mereka mengikuti langkah penjaga yang membawa mereka ke ruang tamu. Disana pria paruh baya sedang duduk menunggu dengan membaca koran.
"Apa kabar Pak? Senang bisa bertamu dengan anda." Doni mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak David.
"Sangat baik." Pak David menyambut uluran tangan Doni. Setelah itu mengalihkan tatapan kearah Sinta. "Apa di sekretaris, 'mu?"
Gadis itu mengangguk sopan dan memperkenalkan dirinya. "Saya, Sinta. Sekretaris Pak Doni. Senang bertemu dengan anda, Pak."
Sinta memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris, karena dia pikir ini adalah pertemuan bisnis. Jadi tidak wajar jika dia memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Doni.
"Saya juga sangat senang, kalian mau menerima undangan dari saya."
Pak David mempersilahkan Doni dan Sinta untuk duduk. Tidak lama kemudian, pelayan keluar membawa minuman hangat dan kue kering.
"Apa anda tinggal sendiri?"
"Aku di temani penjaga dan asistan rumah tangga."
"Bukan. Maksudku, kemana istri dan anak anda?"
Pak David tersenyum ke arah Doni.
"Aku seorang duda sama sepertimu. Istriku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Maaf jika pertanyaan ku membuat anda menjadi tidak nyaman."
"Tidak apa. Pasti kau merasa penasaran kemana mereka. Aku mempunyai seorang putri, dia sedang keluar mungkin sebentar lagi dia pulang.
Sinta yang duduk tidak jauh dari Doni cukup menjadi pendengar saja. Dia tidak akan berbicara sebelum ada yang bertanya.
__ADS_1
"Papa aku pulang!" Teriak seorang wanita dari belakang pintu.
Serempak mereka mengarahkan pandangan ke asal suara. Sinta dan Doni terkejut karena wanita yang baru saja masuk adalah seseorang yang mereka kenal.
"Tiara!" Gumam mereka secara bersamaan.
"Kalian sudah mengenal putriku?" Sepasang kekasih itu mengangguk. "Wah... Kebutulan yang pas! Aku jadi tidak perlu repot untuk memperkenalkan kalian."
"Sepertinya kita kedatangan tamu?" ucap Tiara yang melihat ayahnya tidak duduk sendiri. "Hai apa kabar? Kalian pasti tidak menyangka kita akan berjumpa disini."
Sinta hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Tiara. Sedangkan Doni hanya diam saja. Pria itu menebak, jika pertemuan ini sudah di atur sebelumya oleh Tiara.
"Mari kita kemeja makan! Kita lanjutkan obrolan diasana." Pak DavidΒ memberi isyarat agar mereka semua mengikutinya.
Setelah itu mereka semua menuju meja makan mengikuti langkah Pak David. Disana sudah berjajar rapi berbagai menu masakan yang menggugah selera. Tiara mulai menyendokkan nasi untuk ayahnya setelah itu beralih ke piringnya sendiri.
Tiara melihat pergerkan pria didepannya yang akan mengambil nasi, wanita itu segera mencegah tangan Doni. "Biar aku saja yang ambilkan."
Pak Dvid tersenyum "Sepertinya aku akan mendapat mantu sebentar lagi," ucap Pak David.Β Pria paruh baya itu melihat sepertinya putrinya sangat antusias melayani Doni.
Tiara tersenyum ke arah Ayahnya. Sedangkan Doni melirik Sinta yang hanya bersikap biasa saja srperti tidak terganggu dengan ucapan Pak David.
"Kau mau makan yang mana? biar aku ambilkan."
"Tidak usah Tiara aku bisa ambil sendiri," tolak Doni. Senyum Tiara yang tadinya terkembang sedikit memudar.
"Tidak apa, kau tidak usah merasa sungkan. Aku malah merasa senang berarti Tiara sudah siap untuk memiliki suami," sela Pak David.
Sebenarnya hati Sinta sudah
mendidih, tapi dia tidak boleh ceroboh. Gadis itu tau jika Tiara sedang mempermainkan emosinya. Jadi dia harus bersikap elegan dan memaham emosi untuk menghadapi Tiara.
Gadis itu akan tetap bertahan di samping Doni sebelum pria itu sendiri yang memintanya pergi. Jadi Sinta tidak perlu ambil pusing dengan sikap Tiara.
"Apa masakanya tidak enak?" tanya Pak David ke arah Sinta.
"Sangat nikmat. Pasti Tiara yang memasak ini semua?"
"Bukan Tiara yang memasak. Mana mau di pergi ke dapur dia hanya sibuk mengurus kantor yang baru dirintis."
"Sayang sekali. Padahal jika ingin segera memiliki suami kita harus bisa memasak, itu adalah hal yang wajib, agar lebih mudah menarik hati lelaki yang kita sukai."
Pak David setuju dengan ucapan Sinta. "Apa kau bisa memasak?"
"Dia sangat pintar mengolah makanan." Kali ini Doni yang menjawab pertanyaan Pak David.
"Berarti Tiara harus banyak belajar darimu."
Tiara membanting sendok dan memberikan tatapan tidak suka ke arah Ayahnya. "Sudahlah Pa! aku bisa mencari chef yang lebih handal. Aku malas jika harus belajar dari dia." Tunjuk Tiara ke arah Sinta dengan muka kesal.
"Jaga sopan santunmu Tiara! Papa tidak suka kau menunjuk orang saat di meja makan."
Tiara hanya menunduk dengan muka merah.
"Saya minta maaf Pak. Mungkin adaΒ ucapan saya yang membuat Tiara tidak suka."
"Tidak perlu minta maaf Sinta. Seharusnya yang meminta maaf itu Tiara." Pak David beralih menatap putrinya. "Jangan kau ulangi lagi Tiara!"
Sinta terwa di dalam hati. Akhirnya di berhasil mempermainkan emosi Tiara. Dengan sedikit bumbu dia berhasil membut wanita itu malu.
Bersambung...
__ADS_1
ππΊπ·βπππ±