
Jika kalian berpuasa. Disarankan membaca part ini saat malam hari.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Pagi ini, Sinta sedang memebantu Rani membuat sarapan.
"Mak, hari ini Sinta ikut Doni pulang."
"Kenapa buru-buru?" tanya Rani yang sedang menggoreng ikan.
"Doni, tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama," ujar Sinta. "Lagi pula pernikahan ini mendadak, jadi dia tidak semapat ambil cuti."
Saat menoleh ke arah Rani, Sinta mendapati wajah sendu ibunya.
"Maaf, Mak. Sinta, sudah membuat Mamak kecewa."
Sinta menunduk merasakan penyesalan di dalam hatinya, dia merasa pasti ibunya kecewa dengan pernikahan mendadak ini. Bukan keinginan Sinta dan Doni, wargalah yang memakasa dan tidak mau mendengarkan penjelasan mereka.
"Bukan itu," ucap Rani menepuk bahu Sinta, seraya menggelengkan kepala. "Aku malah senang, karena manantuku seorang direktur."
Rani mengangkat ikan dan meletakkannya di atas piring, kemudian menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Apa, Mamak sedih karena Sinta akan pergi?" tanya Sinta lagi.
"Mamak, sebenarnya sedih karena belum sempat pamer kepada teman arisan."
Sinta memutar bola mata malas. Dia pikir Rani sedih karena Sinta akan ikut Doni ke kota.
"Sinta, mau kemana?" tanya Rani yang melihat anaknya berbalik badan.
"Mau mandi!" ucap Sinta.
Gadis itu meninggalkan ibunya dengan wajah kesal.
Kalian pasti bertanya bukan, kenapa "Gadis" karena semalam Sinta dan Doni belum melakukan skidipapap sawadikap. Mereka berdua terlalu lelah, apalagi Doni yang sudah menempuh perjalanan jauh, untuk sampai di rumah Sinta.
Doni sudah bangun saat Sinta masuk ke dalam kamar. Pria itu baru selesai mandi mengenakan kaos putih dan celana berwarna hitam. Rambutnya yang basah menambah kesan segar di wajah tampan Doni.
Pantas saja, Rena dan Tiara mati-matian mengejar Doni, walau harus merendahkan harga diri mereka.
"Beruntungkah, aku?"
Sinta bertanya pada dirinya sendiri. Saat banyak wanita mengejar Doni dan gadis itu, mulai berpikir untuk mundur. Tapi takdir malah berkata lain, dia harus menikah dengan Doni, karena tuduhan warga yang sama sekali tidak mereka lakukan.
Walaupun sinta mencintai Doni, tapi dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan status barunya.
"Apa, pakaian yang akan kau bawa sudah dibereskan?"
Sinta yang masih berdiri di ambang pintu hanya mengangguk.
"Mamak dan Bapak, sudah menunggu di maja makan."
Sinta berjalan masuk, mengambil handuk basah yang doni letakkan disembarang tempat.
"Besok lagi jangan letakkan handuk basah disini," tunjuk Sinta kearah tempat tidur.
Doni hanya tersenyum menanggapi ucapan Sinta, yang mengomentari kebiasaan buruknya.
"Sudah lama, aku tidak mendengar ocehan wanita di pagi hari."
"Maksudmu?" tanya Sinta sambil meletakkan handuk di gantungan.
Doni menarik lembut tangan Sinta, setelah itu mendudukanya di atas pangkuan.
Sinta yang merasa gugup akan berdiri, tapi Doni lebih dulu menahan bahunya dengan tangannya.
"Tidak perlu malu, kau sekarang istriku," celetuk Doni.
Pria itu, melihat istrinya selalu menghindar dari tatapanya.
"Aku belum mandi." Sinta memalingkan wajah karena posisi mereka sangat dekat.
"Setelah melakukan sesuatu yang aku janjikan tadi mlam, kau boleh mandi."
"Janji apa?" tanya Sinta bingung.
"Semalam aku bilang kita akan melakukan, "itu" pagi-Pagi sekali. Karena aku kesiangan, jadi kita lakukan sekarang saja," ucap Doni sambil menaik turunkan alisnya.
Sinta merasakan bulu kuduknya meramang. Bibir Doni sudah memulai aksinya dengan bermain di leher Sinta.
"Bagaimana, jika kita tunda dulu?"
__ADS_1
Sinta menggigit bibir bawah berusaha untuk tidak mengeluarkan suara desahan.
"Tidak ada penawaran," jawab Doni yang masih fokus menghirup aroma tubuh Sinta.
Bukannya Sinta tidak mau. Bisakah dia melakukan hubungan suami istri? jika kedu orang tuanya sudah menunggu mereka di meja makan.
Ada panggilan dari balik pintu, saat tangan Doni mulai merayap di balik baju Sinta.
"Sinta!" panggil Rani dari balik pintu.
Gadis itu merasa lega, karena Doni langsung menghentikan permainannya saat mendengar panggilan Rani.
"Tunggu sebentar, Mak!"
Sinta buru-buru berdiri dan membukakan pintu.
"Ya, ampun! Mamak, pikir kau sudah mandi."
Sinta hanya bisa diam, menanggapi ocehan ibunya. Ini semua salah Doni, karena tidak mau sedikit bersabar.
"Cepat mandi! Setelah itu ajak suamimu sarapan."
"Iya, Mak."
Setelah itu Rani berlalu dari kamar Sinta.
"Aku tunggu diluar," ucap Doni.
Setelah Doni meninggalkan kamar, Sinta segera membersihkan badannya.
*****
Setelah sarapan, mereka semua duduk di ruang tamu. Dini dan Sinta sedang berpamitan, karena mereka akan segera kembali ke kota.
"Apa, orang tuamu sudah tahu, dengan pernikahan kalian?" tanya Kusdi.
"Sudah. Mereka senang karena kami akhirnya menikah. Walaupun mereka sedikit terkejut mendengar kabar dariku."
"Baguslah, jika orang tuamu mau menerima Sinta. Aku tidak perlu khawatir sekarang."
"Bapak, tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menjaga Sinta dengan baik."
"Kami pegang janjimu, Nak," ujar Rani ikut menimpali dengan wajah sendu.
Kusdi menghapus setitik air yang keluar dari sudut matanya. Dia teramat menyayangi putrinya. Walau sedikit berat di harus rela putrinya ikut bersama Doni.
Sinta yang melihat itu langsung menggenggam tangan Kusdi. Dia merasa sedih melihat cinta pertamanya menangis.
"Jika Bapak merasa berat, Sinta akan tinggal disini saja."
Kusdi menggeleng. "Sekarang tanggung jawab Bapak sudah beralih pada Doni. Jadilah istri yang baik, patuhi setiap ucapan suamimu."
ย
Sinta mengangguk mendengar pesan dari Kusdi. Sedangkan Rani tidak bisa berkata-kata lagi, hanya air mata yang keluar membasahi pipinya.
"Mak, Sinta berangkat, ya?
Rani langsung memeluk puterinya.
"Sinta, harus sering-sering jenguk Mamak!" ucap Rani sambil menangis.
"Iya, Mak."
Rani merasa sedih karena Sinta baru lima hari berada dirumah dengan status gadis. Dan kini dia harus pergi di bawa Doni dengan status baru.
Setelah Rani melepas pelukan, Sinta bersalaman dan mencium kedua tangan orang tuanya secara bergantian.
Sinta melambaikan tangan ke arah Rani dan Kusdi, saat mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah.
"Kau tidak menangis?" tanya Doni.
"Untuk apa?"
"Aku pikir kau akan menangis, seperti kebanyakan wanita yang berpisah dari orangtuanya."
"Aku pernah berpisah dengan mereka. Jadi aku sudah terbiasa."
*****
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Sinta merasa lelah karena terlalu lama duduk.
__ADS_1
"Kau mau kemana? tanya Doni.
Dia melihat Sinta akan memasuki kamar tamu.
"Ke kamar."
"Kau ingat, kan? Sekarang kita suami istri. Jadi kamarmu disana," tunjuk Doni ke arah kamarnya.
Doni langsung menarik koper milik Sinta dan memasukkanya ke dalam kamar. Sinta yang tahu statusnya sekarang pasrah mengikuti langkah Doni.
"Istirahatlah!" ucap Doni.
"Kau mau kemana?" tanya Sinta yang melihat Doni akan keluar kamar.
"Aku harus bertemu Bagas. Hanya sebentar."
"Apa dia tidak lelah?" herutu Sinta saat punggung Doni sudah tidak terlihat.
"Aku harus tidur, badanku lelah sekali," ucap Sinta seraya merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Karena keadaan lelah dan mengantuk, tidak menunggu lama gadis itu sudah berada di alam mimpi.
*****
Hampir tiga jam Sinta tertidur, gadis itu mulai tidak nyaman karena tubuhnya merasa gerah.
"Aku lupa menyalakan AC," gumam Sinta.
Dengan malas, gadis itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Ah, segarnya," ujar Sinta yang baru saja selesai mandi.
Gadis itu merasa bingung, saat akanย memgambil pakaian di dalam koper.
"Dimana koperku?" tanya gadis itu. "Apa Doni yang memindahkan?"
Sinta berbalik menatap lemari besar yang berada di didepanya. Dia ragu saat akan membukanya.
"Ada apa? tanya Doni yang sudah berada di belakang punggung Sinta.
Sinta terkejut dengan suara Doni. "Apa sudah selesai?" Sinta merasakan tangan suaminya melingkar di perutnya.
"Sudah dari tadi, kau tidur sangat nyenyak."
"Apa kau yang memindahkan pakaianku? tanya Sinta.
Doni tidak menjawab, dia malah menggendong tubuh Sinta menuju kasur. Dia merasa tubuhnya bereaksi saat melihat Sinta hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.
"Aku ingin sekarang," ucap Doni dengan netra yang sudah berkabut gairah.
"Aku ... Hemmpp!"
Kalimat Sinta terpotong karena bibirnya sudah lebih dulu di ***** oleh Doni.
Lama bibir mereka saling menyatu, hingga Doni melepaskan ciuman itu.
Setalahnya, Sinta merasakan handuk yang dia kenakan di tarik oleh Doni.
Dia hendak meraih selimut, tapi tangannya di tahan oleh Doni.
"Aku malu," ucap Sinta seraya memalingkan wajah.
Pipi gadis itu bersemu merah, karena dari tadi Doni terus memandangi dirinya.
"Apa ini akan sakit," tanya Sinta lagi.
"Akan aku lakukan secara perlahan, jika nanti kau merasa sakit, kau boleh menghentikannya.
Setelah mengatakan itu, Doni melepas satu persatu pakainya. Sinta menelan ludah dengan susah payah, karena melihat sesuatu yang berdiri menjulang di bawah sana. Dan jangan lupakan bentuk tubuh Doni yang membuat Sinta ingin menyentuhnya.
Doni kembali mencium bibir Sinta dengan sedikit menuntut. Sinta merasakan sesuatu saat tangan Doni memasuki area sensitif milik Sinta.
Tubuh Sinta menggelinjang saat Doni menambah kecepatannya.
Suami Sinta itu langsung melepaskan ciumanya karena di merasa istrinya akan mencapai puncak.
Saat itu juga Sinta merasakan sesuatu yang meledak di dalam tubuhnya.
"Akhhh!" satu desahan lolos dari bibir Sinta.
**Bersambung...
__ADS_1
๐ธ๐บ๐ป๐ผ๐ท๐**