
Sinta memandangi jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Dia nampak resah karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh dimana biasanya Doni sudah berada di rumah sejak satu jam tadi. Sedangkan sekarang suaminya belum juga pulang. Sinta yang sedang duduk di sofa tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Apa dia lupa, jika ada janji denganku?"
Sinta berdiri menatap dirinya dalam pantulan cermin. Dia nampak anggung dengan dress berwarna mustard yang membalut tubuhnya.
Sinta mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, "Lebih baik aku hubungi saja, daripada aku terus merasa khawatir."
Setelah itu, Sinta mengirim pesan kepada suaminya, menanyakan dia sedang berada dimana. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kolam renang. Rupanya sinyal sedikit susah, membuat Sinta harus sedikit berjalan ke tempat yang lebih tinggi.
Pesan terkirim tapi belum juga di baca oleh suaminya. Saat akan membuat panggilan, Sinta merasakan tubuhnya di peluk dari belakang.
"Mas?" ucap Sinta terkejut.
Istri Doni itu memegang tangan yang melingkar di perutnya. Sinta ingin memastikan yang memeluknya adalah Doni. Tepat saat dia berbalik lampu dirumahnya padam.
Dia meraskan wajahnya di tangkup dengan kedua tangan kekar. Setelah itu, Sinta merasakan ada benda kenyal yang menempel di atas bibirnya. Sinta meremat kerah baju pria itu dan membalas ciumannya karena dia pikir itu adalah suaminya.
Ada apa dengan Doni, tidak biasanya dia seperti ini? gumam Sinta dalam hati di sela ciuman.
Sinta merasakan perbedaan ciuman itu. Tubuhnya di buat menegang saat laki-laki itu berbisik di telinganya.
"Aku merindukanmu."
Sinta langsung tersadar jika lelaki didepannya adalah Rama.
"Rama..."
Sinta bergumam karena merasa terkejut, dia tidak bisa mengeluarkan kalimatnya lagi.
"Lepaskan," lirih Sinta yang sadar jika dia masih didalam pelukan Rama.
Istri Doni itu berontak ingin lepas dari pelukan, karena dia tau pria yang memeluknya bukanlah suaminya. Tapi, tenaganya tidak sebanding dengan Rama.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," Rama berbisik di telinga Sinta, "Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama." Rama kembali mempererat pelukan saat tubuh Sinta sudah tidak berontak lagi.
"Aku ingin memberi tahu sesuatu," bisik Rama, "Aku menyukaimu .... Sangat menyukaimu ...." Rama menghela nafas dan mengecup kepala Sinta yang berada dalam pelukkannya, "Ucapanku dulu benar adanya, aku sama sekali tidak bercanda," Rama mengingatkan Sinta akan ucapanya yang dulu.
Sedangkan Sinta hanya diam saja. Yang ada di pikirkan saat ini adalah, bagaimana jika Doni pulang dan memergoki mereka sedang berpelukan.
"Aku ingin marah saat aku mendapat kabar, jika kau sudah menikah dengan Doni."
Rama kemudian terkekeh, "Tapi aku sadar, aku tidak berhak marah padamu. Karena aku bukan siapa-siapa."
Rama kemudian memunduk menatap wajah Sinta dari kegelapan. "Aku akan pergi. Aku berjanji tidak akan menwmuimu lagi," ujar Rama dengan senyum getir, "Jaga dirimu baik-baik. Jika suatu saat kita di takdirkan untuk bertemu, anggap saja kita tidak saling mengenal," kemudian Rama manghela nafas sedikit berat, "Agar aku tidak mengharapkanmu lagi."
Sinta mendongak menatap Rama Saat kalimat perpisahan itu terucap. Samar wajah pria itu terlihat dari caahaya bulan, yang memantul dari arah kolam renang.
"Aku mencintaimu." Rama kemudian mengecup kembali bibir Sinta.
Setelah itu Rama meninggalkan Sinta yang bergeming di tepian kolam renang.
Apa dia akan pergi?
__ADS_1
Entah kenapa air mata Sinta keluar dengan sendirinya.
"Kenapa air mata ini turun?
Aku sedang tidak merasa sedih.... Aku ... sedang marah karena dia sudah lancang menciumku."
Sinta meyakinkan dirinya sendiri, jika dia sesang marah.
Tapi, seperti ada yang hilang saat dia mengucapkan salam perpisahan?
Sinta hanya bisa menatap punggung Rama yang mulai menghilang di balik kegelapan. Tepat saat suara deru mobil Rama mulai menjauh lampu di rumahnya menyala.
Sinta berbalik dan mendongak ke arah langit. Mentap rembulan yang masih malu menampakan wajahnya yang tersembunyi di balik awan.
Apa yang di lakukanya barusan adalah benar?
****
Doni keluar dari kantornya saat matahari mulai tenggelam. Dia merasa kesal karena pekerjaannya tidak selesai-selesai. Dia juga teringat akan janjinya dengan Sinta.
"Brengsek!" umpat Doni saat dia terjebak di tengah kemacetan.
"Semoga Sinta tidak marah."
Doni menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
Hampir satu jam Doni terjebak di tengah kemacetan. Dia melihat jam tangan saat akan sampai di rumah.
Sampainya dirumah Doni melihat istrinya berdiri di pinggiran kolam. Wanita itu mendongak, terlihat sedang menatap rembulan yang bersinar dengan indah.
"Kau pasti sudah menunggu lama."
Sinta berbalik dan melihat Doni sudah berdiri di belakang.
"Sedikit. Kau sudah dari tadi?"
"Aku baru sampai."
"Maafkan aku, tidak menyadari kau sudah pulang."
"Tidak apa," Doni mengaitkan alisnya saat menatap wajah Sinta, "Apa kau baru saja menangis?" doni mengusap pipi istrinya, "kenapa ada air di pipimu?" Doni beralih menatap netra Sinta, "Ke dua matamu juga terlihat merah."
"Em ... mataku kemasukan sesuatu, saat melihat rembulan."
Sinta berbohong karena dia tidak ingin sumainya tahu, jika dia menangis karena ulah Rama.
"Oh... kalau begitu kau tunggu sebentar. Aku akan mandi."
"Mau aku siapkan air hangat?" tanya Sinta saat langkah Doni sudah sampai di anak tangga.
"Tidak usah. Kau tunggu saja disini. Aku hanya sebentar.
Setelah dua puluh menit berada di dalam kamar. Doni keluar dengan keadaan lebih segar. Suami Sinta itu mengenakan kemeja warna maroon yang membalut tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo," Doni meraih tangan Sinta yang sedang menatap ke arahnya.
Sinta tersenyum saat tangannya berada genggaman Doni. Bagaimana bisa dia memikirkan Rama, sedangkan suaminya saja sudah sangat sempurna.
Doni melajukan mobilnya menuju pantai. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ketempat itu.
"Aku pikir kita akan makan malam di restoran," ujar Sinta yang tahu Doni akan membawanya ke pantai, "Apa aku tidak salah kostum?"
Doni tersenyum menatap istrinya, "Tidak. Kau selalu cantik, apalagi jika tidak mengenakan pakaian."
"Ish," Sinta mencebik, "Kau akan menyuruhku menanggalkan semua pakaianku saat disana?"
Sinta menyilangkan tangan di depan dada. Dia berbalik dan menatap tajam ke arah suaminyan
"Maksudku setelah selesai makan malam nanti."
"Dasar mesum."
"Biar saja. Toh, aku berbicara dengan istriku sendiri."
Doni kemudian mematikan mesin mobil saat mereka sudah sampai. Dia mengitari mobil untuk membukakan pintu. Setelah itu meraih tangan Sinta dan mengajaknya turun.
"Wah... kau yang mempersiapkan ini semua?"
"Tentu. Makan malam spesial untuk orang istimewa."
Sinta merasa sangat bahagia. Dia berharap semoga hubungan mereka awet sampai maut memisahkan.
Bersambung...
🌸🌺🌻🌼🌷🌹🌸
Siapa nih yang penasaran sama visual tokohnya. Coba angkat tangan.
Nih, Mamak kasih fotonya.
Mas Rama
Ini Mas Rama lagi galau. Di tinggal kaein sama Sinta..
Sinta
Yang nunggu visulnya Babang Doni, di episode selanjutnya ya gaess.
__ADS_1