Bos Duda

Bos Duda
Bab 18


__ADS_3

Rama mengantar Sinta sampai di tampat kos dengan selamat. Pria itu akan mampir, tapi Sinta sudah mengusirnya saat gadis itu turun dari mobil.


"Terimakasih. Kau tidak usah mampir, nanti aku yang repot," ucap Sinta.


Di tempat kos yang Sinta tempati, di sediakan ruang untuk menerima tamu. Bukan ruang tertutup, hanya ruang terbuka yang disediakan sofa. Jadi, penghuni kos bisa tau siapa yang sedang bertamu.Β Sinta khawatir, jika Rama masuk teman-temannya akan berkerumun untuk melihat Rama. Sama seperti Doni dulu, yang sempat mengantar Sinta sampai kedalam.


"Kenapa?" tanya Rama, "Kau takut, teman-temanmu melihat aku yang tampan ini," ucap Rama percaya diri.


Sinta memutar bola mata malas, "Kau memang tampan." Ucapan Sinta membuat Rama tersenyum bangga. "Tapi otakmu minus." Seketika senyuman Rama hilang.


"Kau suka sekali menghina," ucap Rama kesal.


"Aku sudah mengantarmu dengan selamat, tapi apa yang aku dapat. Bukan ucapan terimakasih, kau malah mengusir dan menghinaku," gerutu Rama pura-pura marah.


"Sudah, ya. Kita lanjutkan lagi kapan-kapan," potong Sinta.


Tidak ada jawaban dari Rama. Saat menoleh, Sinta mendapati wajah Rama yang di tekuk.


"Kau sudah tua, tapi tingkahmu seperti anak kecil," sindir Sinta.


"Aku belum tua," ucap Rama tidak terima


Sinta terkekeh menatap Rama. "Kau sudah tua. Umurmu saja sudah 26 tahun."


Rama mendengus dengan ucapan Sinta. "Aku dewasa bukan tua. Sudahlah, aku pulang saja."


Pria itu, segera melajukan mobil dari hadapan Sinta.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi hari buta, Sinta sudah di bangunkan dengan suara berisik Gea.


"Sin buka...!" Suara Gea dan gedoran pintu saling bersahutan.


Dengan malas Sinta bangun dari tempat tidur dan membuka pintu untuk Gea.


"Berisik!" gerutu Sinta saat pintu sudah terbuka.


Tanpa menunggu lama, Gea langsung menerobos masuk.


"Pagi buta begini lu mau ngapain sih, Ge?" tanya Sinta.


Dengan mata yang sedikit berat, Sinta menjatuhkan badannya lagi di atas kasur.


"Mau pinjem pembalut," ucap Gea santai.


Sinta langsung membuka matanya lebar-lebar, rasa kantuk yang bergelayut di matanya seketika hilang. Mengambil bantal dan menenggelamkan wajahnya, Sinta berteriak sekencang-kencangnya. Rasa dongkol menghimpit dada harus segera di keluarkan.


Gea yang melihat Sinta seperti itu merasa heran. "Sin! lu ngapain?" tanya Gea.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Sinta mengarahkan telunjuk ke arah lemari, untuk menunjukkan letak barang itu berada.


Gea yang mengerti maksud Sinta, langsung berjalan ke arah lemari.


"Pake kode-kode segala," Gerutu Gea. "Lu kesambet setan, ya. Pagi-pagi udah aneh," celetuk Gea tanpa Dosa.


Sinta mengibaskan tangan, agar Gea cepat keluar.


Gea berjalan keluar dengan menggerutu, "Dasar aneh!"


Sepeninggal Gea Sinta beringsut duduk, "Untung temen, kalo bukan udah gue kirim ke Arab tuh, anak," gerutu Sinta sambil memijat kepala yang terasa pusing.


Saat melihat jam di layar ponsel, sinta langsung mengacak rambutnya. "Masih jam setengah lima," kesal Sinta karena rasa kantuknya sudah hilang.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Saat tiba dikantor, Doni sudah mendapati Sinta disana. Padahal ini masih jam setengah tujuh.


"Kenapa pagi sekali?" tanya Doni.


Sinta yang tidak menyadari kekasihnya sudah tiba, terkejut dengan sapaan Doni.


"Kenapa mereka (Doni dan Rama) suka sekali membuatku terkejut?" gumam Sinta.


"Aku sedang ingin berangkat pagi," kilah Sinta.


Padahal gadis itu sengaja berangkat pagi sekali, karena dia kesal denganΒ  ulah Gea. Tidurnya terganggu dan dia harus terbangun di pagi buta.


"Kau terlalu sibuk dengan komputer." jawab Doni.


Saat sinta membenarkan letak kertas yang berserak, Doni melihat ada luka lebam di tangan Sinta.


"Kenapa ini?" tanya Doni, pria itu menarik tangan Sinta untuk melihat lebih jelas, "Kenapa bisa memar?" tanya Doni khawatir.


Sinta meringis saat tangan yang memar di sentuh Doni. Gadis itu tidak merasa, jika ada luka memar di tangannya. Mungkin pukulannya semalam terlalu kuat, jadi meninggalkan jejak di tangannya.


"Em... semalam ada sedikit gangguan," ujar Sinta terbata.


Doni melepaskan tangan Sinta dan memberikan kode, agar gadis itu mengikuti langkahnya. Tiba di ruangan, Doni menyuruh Sinta untuk duduk di sofa.


"Coba jelaskan!" ucap Doni sambil mencari sesuatu di laci.


"Taxi yang aku tumpangi mogok."


"Lalu?" tanya Doni yang masih sibuk membuka laci.


"Aku turun dan meninggalkan taxi. Aku pikir akan lama, jika menunggu sampai mobil selesai diperbaiki. Jadi, aku putuskan berjalan untuk mencari taxi selanjutnya."


Doni sudah mendapatkan benda yang dia cari dan selanjutnya berjalan menghampiri Sinta . "Kenapa kau tidak menelpon aku saja?" Doni bertanya Sambil mengoleskan salep di tangan Sinta.

__ADS_1


Sinta meringis, merasakan nyeri dan sensasi dingin saat salep itu di oleskan. "Kalau aku menelpon, kau akan mengantar pakai apa?"


Doni menghela nafas, mungkin dia sudah mengantar gadis itu, jika mobilnya tidak dibawa bagas. "Maaf. Seharusnya Bagas aku suruh naik taxi saja kemarin."


"Sudahlah. Tidak apa."


"Lalu, bagaimana tanganmu bisa memar," tanya Doni kemudian.


"Aku bertemu pemuda yang sedang mabuk."


Sinta menutup mulut Doni dengan tangannya karena ucapannya akan di potong, "Aku tinju wajahnya, karena dia kurang ajar."


Doni melepaskan tangan Sinta yang berada di mulutnya, karena dia sudah tidak tahan untuk angkat bicara, "Kau di apakan? apa dia menyentuhmu?"


"Dia belum sempat menyentuh, tanganku sudah sampai di wajahnya."Β  Sambil menunjukkan luka memar yang ada di tangan.


Doni merasa lega sekaligus khawatir. Bisa saja teman-teman pemuda itu datang dan berniat mencelakai Sinta.


"Besok jangan di ulangi lagi," perintah Doni, "Lebih baik kau berteriak atau lari. Bisa saja teman pria itu datang dan tidak terima atas perbuatanmu."


"Aku kemarin langsung pulang dengan Rama."


Pria itu mengerutkan kening karena nama rivalnya disebut "Kenapa bisa dengan Rama?" tanya Doni


"Aku juga tidak tau. Dia tiba-tiba datang menghampiri," papar Sinta.


"Jangan dekat lagi dengan Rama.


"Kenpa?" tanya Sinta.


Gadis itu tidak mengerti kenapa Doni melarangnya dekat dengan Rama. Padahal dia hanya berteman dengan pria itu.


"Ikuti saja permintaanku."


"Aku tidak mau!"


Saat akan beranjak dari sofa tangan Sinta ditarik. Dengan satu kali hentakan, gadis itu terjatuh di atas pangkuan Doni.


"Aku tidak suka kau dekat dengan pria, selain diriku," bisik Doni posesif.


Badan sinta menegang, mendengar bisikan Doni. Posisinya tidak memungkinkan Sinta untuk kabur, tangan Doni sudah melingkar sempurna di perut Sinta. Membuat Sinta harus menahan nafas karena posisi mereka sangat intim.


"Kau paham?" Sinta hanya mengangguk pasrah.


Ceklek


Pintu ruangan Doni terbuka dan sosok pria yang tidak di undang muncul dari balik pintu.


"Sepertinya aku mengganggu," celetuk Bagas yang mendapati Doni dan Sinta sedang duduk berpangkuan.

__ADS_1


Β 


Doni mengumpat, kenapa dia selalu lupa untuk mengunci ruangannya.


__ADS_2