
Jangan lupa vote dan Rating 5...
🍁🍁🍁
Doni mendorong salah satu dari dua daun pintu yang berada di depannya. Setelah pintu terbuka nampak wajah cemas Sinta yang sedang menunggu kepulangan Doni.
"Sayang ...."
Sinta mendongak, berjalan cepat menghampiri suaminya.
"Apa yang terjadi?" suaranya bergetar. Matanya nanar memandang Doni.
"Kita duduk dulu." Doni membawa istrinya untuk duduk di sofa.
Sinta menuriti perintah Doni. Dia terlihat menghela nafas berkali-kali. Nampak jelas dia sedang menenangkan diri.
"Kau dari mana?"
"Perikasa," sahut Doni.
"Untuk." Mata Sinta membulat dengan cemas.
"Kau taukan aku akhir-akhir ini sedikit pelupa? Aku memeriksakan pikunku yang terlalu dini."
Doni tersenyum lebar ke arah istrinya.
Memindai wajah cantik Sinta, membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana, jika dia tidak bisa melihat wajah istrinya lagi.
Doni merengkuh bahu Sinta membawanya dalam dekapan.
"Aku baik-baik saja," Doni mengusap lembut kepala Sinta.
"Aku sangat mencemaskanmu." Sinta membenamkan wajahnya di dada Doni.
Sinta terisak, bahunya bergetar.
"Aku takut terjadi hal buruk menimpamu."
Doni merasakan kemejanya basah oleh air mata Sinta.
Tangan Doni bergerak untuk mengusap punggung istrinya. Saat merasakan Sinta sudah sedikit tenang Doni mengurai pelukan.
"Sudah?"
Doni menangkup wajah Sinta. Hati Doni terasa perih saat melihat air mata sinta yang masih mengalir. Bagaimana jadinya jika Sinta benar-benar tahu akan penyakitnya.
"Kau jelek sekali." Doni terkekh melihat wajah sembap dan hidung yang memerah milik Sinta.
"Ish," Sinta mencebik karena Doni menggodanya.
"Aku lapar," ucap Doni.
Sinta langsung menepuk keningnya. Dia lupa membuat makan malam untuk Doni karena terlalu mencemaskan suaminya.
__ADS_1
"Aku lupa belum masak." Sinta menatap suaminya dengan pandangan meminta maaf, "bagaiman jika aku buatkan dulu sebentar."
Doni mengangguk.
Sinta membalik tubuhnya melangkah menuju dapur. Dia membuka kulkas dan menyiapkan semua yang dia perlukan.
"Apa yang bisa aku bantu."
Sinta mendongak untuk melihat Doni. Suaminya sudah berdiri didepan pintu kulkas. Jas yang Doni pakai sudah di lepaskan, mengenakan kemeja yang di gulung sampai batas siku.
Sinta berdiri untuk mengambil tepung.
"Tolong tuangkan tepung ke mangkuk ini."
Doni yang tidak pernah berada di dapur sedikit kaku saat membantu Sinta. Pria itu mebuka tepung dengan tanganya, sehingga membuat tepung berhamburan kemana-mana, karena doni menyobek plastiknya dengan paksa.
"Ukhuk," Doni menepuk dada. Ada tepung yang masuk ke dalam mulutnya.
"Ya ampun! Kenapa tepungnya tumpah semua?" tanya Sinta, melihat meja dapur yang sudah berantakan.
"Plastiknya sobek, saat aku membukanya dengan tangan."
Sinta meraih tisu, melap wajah Doni yang penuh dengan tepung.
"Kan ada gunting. Kenapa harus susah payah?"
Doni Diam, dia berfikir untuk menjahili Sinta.
Jarinya bergerak untuk menoel pipi Sinta. Satu coretan tepung mendarat di sana.
"Hey!"
Sinta melirik tajam ke arah Doni.
Menaruh telapak tangan di atas mangkuk yang berisi tepung. Setelah itu mengarahkan tangannya tepat di wajah Doni.
Doni alan membalas tapi Sinta lebih dulu berlari ke lantai dua, ia menantikan Doni untuk mengejarnya. Namun, untuk beberapa saat Doni tidak juga muncul untuk menangkapnya. Sinta mulai penasaran dia berjalan menuju lantai satu untuk mencari keberadaan Doni.
Dia cemas, takut kejadian di kantor terulang kembali. Tapi kecemasan itu hilang saat Doni memeluknya dari belakang.
Sinta membalik tubuhnya menatap Doni penuh khawatir. Entah kenapa dia merasa sangat takut kehilangan Doni.
Tanpa mengucapkan kata, Doni meraih tengkuk mendaratkan bibirnya di atas bibir Sinta. Melingkarkan tangan di punggung dan pinggang istrinya, Doni medekap tubuh Sinta lebih erat. Dia sangat takut jika esok hari tidak bisa membuka matanya lagi.
"Aku mempunyai impian ... dimana aku akan hidup bahagia bersama istri dan anak-anaku. Menggengam lembut tangan wanita yang ku cintai hingga menua. Meskipun aku tahu ... hidupku tidak akan lama lagi, aku tidak akan menyerah. Mungkin aku tidak biasa hidup seratus tahun, tapi aku akan menghabiskan sisa usiaku untuk membahagiakan orang yang ku cintai."
Narasi Doni di dalam hati.
***
Kabar mengenai penyakit Doni sudah sampi ke telinga ke dua orang tuanya.
Mereka syok. Tidak jauh berbeda dengan Sinta. Sebenarnya Sinta tidak ongin mempercayai itu. Tapi ucapan Bagas dan bukti dari neurologist membuat dia tidak biasa mengelak. Suaminya sedang tidak baik - baik saja.
"Ada tumor di otak, Bos Doni," ucap Bagas kala itu.
__ADS_1
Mendadak dada Sinta terasa sesak. Dia meremat tas yang ada di pangkuanya. Dan berfikir Bagas sedang bercanda.
"Bohong!" Sinta mentap tajam Bagas.
Bagas nenarik napas. "Aku juga berharap, jika ini hanya sebuah kebohongan."
"Apa karena itu, ingatanya mulai melemah?" lirih Sinta.
Bagas mengangguk.
"Apa dia akan sembuh?" Sinta bertanya penuh harap.
"Aku tidak tahu." Nagas menggelengkan kepala. "Dia sudah bertemu neurologist kemarin."
"Kenapa baru sekarang kau beri tahu aku?" Sinta menatap Bagas tidak suka.
Dia seperti istri yang tidak berguna.
"Aku juga tidak tahu. Dia hanya mengeluh kepalanya sakit. Saat aku menyuruhnya memeriksakan diri, dia selalu menolak."
Sinta tidak bisa menyalahkan Bagas yang baru memberinya kabar. Mereka semua sama-sama tidak mengetahui pemyakit Doni, karena saat di rumah Doni tidak ada sedikitpun keluhan.
***
Doni sedang duduk di ruangan kerjanya, sedangkan Bagas berdiri di sisi Doni. Setelah dokter memberi vonis bahwa hidupnya hanya tinggal tiga bulan lagi dia memutuskan untuk beristirahat di rumah.
"Mereka semua sudah tahu," Bagas memulai pembicaraan.
Semua orang yang berada dikantor merasa simpatik dan mendoakan semoga Doni bisa melawan penyakitnya. Kebanyakan mereka ada yang menangis, mengingat kebaikan Doni.
Doni hanya mengangguk.
"Jangan banyak bicara jika kau bekerja dengan Papa, nanti," kata Doni, "Aku titip mereka."
Pak Diharja akan mengambil alih kembali perusahaan selama Doni menjalani pengobatan.
"Jangan berbicara seperti itu. Kau seperti akan mati saja," sergah bagas.
Doni tersenyum, "Aku memang akan mati."
Bagas meletakan map di atas meja dan berlalu meninggalkan ruangan Doni. Dia memimilih pergi daripada meneruskan pembicaraan dengan Doni.
Bagas bersandar di tembok setelah keluar ruangan. Matanya merah menahan tangis. Dia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja dan berpikir bahwa Doni akan baik-baik saja, tapi kenyataanya dia tidak bisa.
Saat matanya masih fokus menatap langit-langit. Terdengar suara isakan yang menyayat di seberang Bagas.
Nida dan Gea tengah berjongkok di depan ruangan Doni.
"Kalian tidak usah menemui, Bos, jika tidak bisa menahan tangis," ucap Bagas dengan mata yang memerah.
"Ini tidak masuk akal. Pak Doni masih sangat muda." Gea terisak. "Ini sangat tidak adil," lanjut Gea.
Mendenagar kalimat Gea, tubuh Bagas yang tadinya bersandar, langsung merosot. Mereka menangis sedih.
Bersambung...
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁