
Malam ini pesta di adakan sangat meriah. Mereka yang hadir nampak gagah dan cantik. Mengenakan baju terbaik koleksi mereka. Tidak berbeda dengan Sinta. Walupun hanya menyapukan bedak tipis dan menggunakan lipstik berwarna nude, membuatnya sudah terlihat cantik dengan dress hitam tanpa lengan yang membalut tubuhnya.
Daniel, nampak sedang berbincang-bincang dengan wanita yang berdiri mengelilinginya. Sedangkan Rama, Sinta tidak tahu pria itu ada dimana.
"Aksimu tadi membuatku tidak percaya jika itu kau, Nona," ujar Mike kagum.
Mike dan Sinta sedang duduk di private bar milik Daniel. Suara riuh dan dentuman musik terdengar saling bersahut-sahutan.
Sinta hanya tersenyum.
"Aku merasa kagum melihat wanita sepertimu," lanjut Mike.
"Kau berlebihan. Aku hanya memberi dia sedikit pelajaran."
"Mau minum?" Mike meawari Sinta.
"Boleh. Tapi tanpa alkohol."
"Oke. Kalau begitu aku pesankan minum tanpa alkohol."
Sinta mengangguk. "Aku permisi ke toilet sebentar."
"Ya."
Setelah itu Mike mempersilahkan Sinta berjalan menuju toilet.
"Buatkan aku wiski dan satu gelas jus," pinta Mike kepada bartender.
"Tadi itu siapa?" tanya bartender seraya menuangkan minuman dengan warna mirip seperti teh itu kedalam gelas.
"Salah satu model Daniel."
"Cantik juga," kata bartender.
"Ternyata matamu masih bisa membedakan," kelakar Mike seraya terkekeh.
"Tentu saja, mataku masih waras."
Saat Mike akan mengangkat gelas minuman miliknya tangan Mike tidak sengaja menyenggol jus milik Sinta. Dan tumpahan jus itu mengenai jas milim Mike.
"Astaga!" ucapa Mike seraya membersihkan jas yang dia kenakan.
"Kenapa?" tanya bartender.
"Aku tidak sengaja meyenggol jus itu," jelas Mike.
"Kau tolong urus ini," tunjuk Mike ke arah tumpahan jus. "Aku harus mengganti jasku sekarang."
"Iya," jawab bartender."
----
"Kau tau model yang baru bergabung itu?" tanya wanita dengan dress ketat warna merah.
"Sinta, maksudmu? Aku tidak menyukainya," wanita dengan potongan rambut sebahu itu ikut menimpali.
Dua wanita itu sedang membenahi dandananya di kaca besar yang terdapat didalam toilet. Meraka tidak tahu jika didalam sana juga ada Sinta.
"Ya, aku pun sama. Kau tau? semua pria dia dekati," ucap wanita dengan deress merah sembari menyapukan lipstik pada bibirnya. "Dia pikir dia cantik?" lanjutnya lagi.
"Ha, ha, ha, kau benar." wanita dengan rambut pendek tertawa mengejek.
Wanita dengan dress merah terkejut melihat Sinta keluar dari kamar kecil.
"Aku juga heran kenapa Daniel mau menjadikan dia model? Padahal dibandingkan denganku tentu jauh berbeda," lanjut wanita berambut pendek sambil memasukkan kembali bedaknya ke dalam tas.
"Tentu saja berbeda," sahut Sinta.
__ADS_1
Dengan santai Sinta berjalan mendekati dua orang wanita yang sedang membicarakannya. Nampak wanita dengan rambut pendek itu terkejut.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku?" bisik wanita itu kepada temannya.
"Aku sudah memberikan kode dengan menyenggol lenganmu, tapi kau tidak menaggapi," wanita dengan dress merah ikut berbisik.
"Aku tidak pernah menjual tubuhku pada klien untuk mendapatkan job," lanjut Sinta sambil mencuci tangannya.
Wanita dengan rambut pendek itu seketika melotot mendengar ucapan Sinta.
"Jaga ucapanmu!"
"Kenapa kau yang marah? apa aku tadi lupa memyebut namamu?" ujar Sinat satai.
Wanita dengan rambut pendek itu mentap Sinta dengan geram. Bagaiman Sinta bisa tahu jika dia bermain dengan orang yang pernah memakai jasanya sebagai model.
"Kau terkejut kenapa aku bisa tahu, bukan?" tanya Sinta. "Itu sudah menjadi rahasia umum. Sebenarnya itu tidak penting bagiku. Tapi tidak ada salahnya juga, jika aku memberi saran kepada Daniel untuk membersihkan sampah seperti kalian."
Wanita tadi melangkah mendekat ingin menampar Sinta. Tapi, temannya mencegah.
"Ayo kita kembali," ajak wanita dengan dress merah. "Kau tidak ingin mendapat masalah dengan Daniel bukan?"
"Kita belum selesai," tunjuk wanita dengan rambut pendek itu ke arah Sinta.
Sinta hanya tersenyum. Kemudian mekangkahkan kakinya menuju bar.
"Hah, dasar aneh," gerutu Sinta.
"Kenapa jadi mereka yang marah?" bukankah aku yang menjadi bahan pembicaraan tadi?"
Sinta duduk dan meraih gelas yang ada di atas meja.
"Kenapa es teh ini rasanya sangat aneh?" ujar Sinta setelah menenggak habis minuman itu.
"Apa kau yan meminum?" tanya bartender saat melihat gelas milik Mike sudah kosong.
Sinta mengangguk. "Kenapa memangnya?"
"Aku tidak mau rasanya tidak enak," tolak Sinta.
Dia merasakan kepalanya sedikit pusinga dan panas pada tubuhnya.
"Aku baru tau jika es teh disini tidak enak."
Sinta beranjak dari kursi. Dia ingin keluar karena menurutnya di sini terlalu gerah.
"Tolong beri tahu Mike untuk tidak meminum es teh disini."
"Es teh?" ulang bartender.
"Apa dia tidak tahu jika yang dia minum adalah minuman beralkohol?" ujar bartender sambil menatap Sinta yang berjalan menuju kolam renang."
----
"Ish, kenapa panas sekali," ujar Sinta saat sudah keluar.
Dia berjalan menuju kursi di pinggiran kolam renang yang biasanya di pakai untuk berjemur.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Rama yang terganggu dengan kedatangan Sinta.
"Oh, ternyatanada pria menyebalkan disini?"
Sinta tidak perduli dengan sindiran Rama. Dengan cuek dia menyandarkan tubuhnya di kursi panjang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rama lagi.
"Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu. Di dalam panas jadi aku putuskan keluar."
__ADS_1
Rama mematap Sinta, dia merasa ada yang aneh dengan perilaku wanita yang sedang duduk bersandar di kursi yang berada di sebelahnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rama mastikan.
Sinta menoleh, "Kenapa kau memilih tidak mengenaliku saat pertama kali bertemu?" tanya Sinta menatap tepat ke mata Rama.
"Tidak. Itu hanya pilihanku saja."
"Pilihan untuk apa?"
"Bertahan atau melupakan."
Sinta mengerjapkan matanya merasa tidakengerti denagan ucapan Rama.
"Aku tidak mungkin bertahan pada perasaanku saat kau sudah resmi menjadi istri Doni," lanjut Rama.
Sinta terkekeh, "Apa kau berhasil melupakankku?" tanya Sinta seraya bangkit dari duduknya.
"Lalu ciuman yang itu apa artinya?" tanya Sinta, "bukankah itu membuatmu semakin sulit untuk melupakanku?"
Sinta tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat berdiri, membuat dia sedikit oleng.
"Aku sudah melupakan itu," bohong Rama.
Kenyataannya sampai sekarang pun Rama tidak bisa melupakan Sinta. Sudah banyak wanita yang ia kencani, berharap menemukan perasan baru. Usahanya kembali di persulit saat lagi-lagi Rama di pertemukan kembali dengan Sinta.
"Benarkah?"
Rama terkejut saat Sinta tiba-tiba duduk mengangakang di atas pangkuannya. Belahan tinggi gaun yang di kenakan Sinta membuat pahanya ter-ekspose. Dengan susah payah Rama menelan saliva karena melihat pemandangan paha putih, mulus milik Sinta.
"Apa yang kau lakuakan?" tanya Rama sedikit gugup.
Rama mengumpat di dalam hati karena tidak bisa berkutik di hadapan Sinta.
"Aku akan membuatmu tidak bisa melupakanku," ucap Sinta seraya menatap kedua netra milik Rama.
Sinta kemudian menekan pipi Rama dengan ke dua tangannya, membuat bibir Rama mengerucut. Dengan sedikit kasar menarik wajah Rama mendekat dan menempelkan bibirnya ke tas bibir Rama yang mengerucut.
Jika kalian tahu, ini seperti pemaksaan saat Sinta mencium Rama.
Ternyata dia mabuk. Ucap rama di dalam hati saat menghirup bau alkohol dari bibir Sinta.
"Kau harus bertanggung jawab, Nona," ujar Rama saat Sinta melapskan ciuman.
Sinta lagi-lagi hanya mengerjapkan matanya kecil.
Tangan Rama terulur untuk mengelus pipi milik Sinta, membuat wanita itu memejam merasakan sentuhan tangan Rama. Kemudian tangannya merambat ke tengkuk dan memposisikan wajanya agar mendekat.
"Yang tadi itu pemaksaan," bisik Rama saat wajah mereka sudah dekat.
Dengan lembut Rama menarik tengkuk Sinta, dan mendaratkan ciuman di atas bibir Sinta untuk beberapa saat. Rama melakukannya dengan lembut membuat Sinta terbui dan membalasnya.
"Dasar!" Gerutu Mike saat tidak sengaja memergoki Rama dan Sinta sedang berciuman.
"Di saat bersama orang lain mereka seperti anjing dan kucing. Tapi lihat sekarang, mereka seperti dua sejoli saat berada di tempat sepi," ujar Mike tidak percaya.
-----
"Kau membuatku gila," desis Rama saat Sinta sudah tidur di dalam pelukannya.
Pria itu memandang ka arah langit, menatap bulan yang bersinar dengan indah. Rama sedang berpikir apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Jangan salahkan aku, jika aku memilih bertahan sekarang. Aku akan merebutmu dari Doni," bisik Rama tepat di telinga Sinta.
Setelah itu Rama berdiri dengan posisi Sinta di dalam gendongannya. Berjalan menuju villa tempatnya menginap.
"Kau harus bertanggung jawab," gumam Rama sebelum masuk ke dalam villa.
__ADS_1
Bersambung...
🍁🍁🍁