Bos Duda

Bos Duda
Bab 23


__ADS_3

Doni sampai di rumah orang tuanya saat senja sudah berganti malam. Pria itu masih mengenakan stelan jas lengkap. Melangkahkan kakinya yang lebar, pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak dia dapati satu orangpun disana.


"Kemana mereka?"


Doni kembali melangkahkan kaki ke lantai dua dimana kamaranya dan sang kakak berada.


"Ternyata disini mereka semua," ucap Doni yang mendengar suara orang berbicara.


Pria itu membuka pintu yang tidak di kunci, "Wa, lihat siapa yang datang,"


Diana kakak perempuan Doni menyambut dengan pelukan saat Doni yang memasuki kamar.


"Kalian semua menyuruhku pulang tapi tidak ada sambutan yang istimewa."


"Hey! yang seharusnya di sambut itu aku." Tunjuk Diana kepada dirinya sendiri.


Tanpa menggubris Doni melangkah menuju Sita yang duduk di kasur.


"Lihat lah, Ma." Tunjuk Doni kearah Diana, "Dia tidak berubah masih saja cerewet," ucap Doni sambil memeluk Mamanya manja.


Sedangkan Sita hanya tersenyum. Ini sudah biasa saat mereka semua berkumpul pasti akan ada keributan kecil antara Doni dan Diana.


"Dasar bayi besar!" ucap Diana.


"Apa kau tidak malu, jika pacarmu melihat kau masih manja seperti itu," celetuk pak Diharja yang sedari tadi mengamati.


"Apa dia sudah punya pacar?" sela Diana seperti mendapat berita bagus.


"Akhirnya Duda yang sudah karatan bisa laku juga." Wanita itu tersenyum mengejek ke arah adiknya.


"Pa, kenapa kau tidak bisa di ajak kompromi? perasaanku jadi tidak enak. Jika perawan tua itu mengetahui aku sudah punya pacar."


Pak Diharja hanya terkekeh, sedangkan Diana yang mendengar ucapan Doni barusan langsung melotot.


"Aku bukan perawan tua!"


Melihat interaksi antara Doni dan Diana, Sita ikut tersenyum. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti ini. Suasna yang sangat dirindukan oleh pak Diharja dan Sita karena kedua anaknya sangat sibuk.


"Umurmu sudah tua, tapi kau tak kunjung menikah juga."


Pletak


Diana memukul kepala adiknya dengan tangan, "Jangan kurang ajar. Atau kau akan tau akibatnya."


"Aduh!" Doni mengelus kepalanya yang terasa sakit, "Pantas saja kau tidak laku," ucap Doni seraya bersembunyi di balik punggung Sita.


Diana akan mengejar Doni, tapi lebih dahulu dihentikan Sita.


"Sudah, hentikan! Kalian seperti musuh, jika sedang bersama." Sita berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari kamar.


"Lanjutkan saja. Berhentilah, jika sudah merasa lapar," celetuk pak Diharja.  Setelah itu, menyusul istrinya turun untuk makan malam.


"Aku harus tau siapa pacarmu," ucap Diana sebelum ikut berlalu.


"Kenapa dia sangat memaksa? Dasar nenek lampir!"


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


 


Pagi hari, Doni sudah siap untuk berangkat ke kantor rencananya dia ingin menjemput Sinta.


"Aku ikut."


Doni yang sedang berjalan ke arah mobil langsung berhenti.


"Ikut kemana?" Melihat sang kakak masih mengenakan baju olahraga.


"Ke kantor, kau tunggu sebentar!" Diana yang baru selesai olahraga berbalik untuk bersih-bersih berganti pakaian.


"Menjengkelkan, jika harus menunggu kakak. Mandinya saja sampai satu jam." Pria itu putuskan untuk meninggalkan Diana.


Doni sedikit telat saat tiba di kantor, karena keadaan jalanan sedikit macet dia putuskan untuk tidak menjemput kekasihnya. Pria itu menghampiri Sinta yang sedang terpaku pada layar komputer.


"Kau sudah tiba?"


Doni mengangguk. "Siang nanti kau pulang saja."


"Kenapa?"


"Kau ikut denganku keluar kota nanti sore. Kau siapkan semua barang-barang yang akan dibawa."


"Biasanya Bagas yang ikut?"


Sinta tidak mengerti kenapa kali ini dia harus ikut keluar kota. Karena Bagas lah yang biasanya menemani Doni jika ada acara diluar kota.


"Tidak perlu banyak bertanya, kau persiapkan saja semua." Berjarak tiga langkah Soni membalikan badan.


"Oh, ya? setelah ini, kau bawakan laporan bulan kemarin ke ruanganku."


Sedangkan di kediaman orang tua Doni, Diana yang sudah rapi bingung kemana perginya Doni.


"Pak! Doni ke mana?" Diana bertanya kepada Pak Agus, tukang kebun yang bekerja di rumahnya.


"Mas Doni baru saja keluar, Mbak."


"Kurang ajar. Dia ternyata meninggalkanku. Awas saja, jika aku sudah tiba di kantor akan aku beri pelajaran."


Setelah itu, Diana mengeluarkan mobil  membawanya menuju kantor Doni.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sinta sudah selesai mengerjakan tugas yang di berikan segera gadis itu mengantarkan keruangan Doni.


"Bisa tolong ambilkan buku berwarna hitam di rak itu!" Tunjuk Doni ketempat penyimpanan buku yang berjajar rapi.


Segera Sinta mengambilkan buku yanga di pinta Doni. Letaknya sedikit tinggi, karena kurang berhati-hati Sinta juga menjatuhkan buku yang lain. Tapi salah satu buku itu jatuh tepat mengenai kepalanya.


"Kau tidak apa?"


Doni yang melihat kejadian barusan langsung berjalan menghampiri Sinta yang sedang memegangi kepalanya.


"Kepalaku sedikit pusing."


"Biar aku bantu duduk di sofa."

__ADS_1


Saat membantu Sinta berjalan pintu ruangan Doni terbuka.


"Kenapa kau meninggalkanku?" Diana langsung menodong pertanyaan kepada adiknya.


"Kenapa dia?" tanya Diana yang melihat Sinta berjalan di bantu Doni.


"Dia tertimpa buku."


Sinta terkejut saat menatap wanita yang memasuki ruangan Doni secara tiba - tiba. Wanita yang pernah dia temui di suatu tempat dan dia juga kakak perempuan kekasihnya.


"Kau wanita yang berada di toko bunga itu, kan?" Diana mengamati Sinta seraya berjalan mendekati gadis itu.


Gadis itu seketika ingat, jika dia pernah bertemu dengan kakak perempuan Doni di toko bunga.


Sinta tersenyum kearah Diana, "Senang bertemu denganmu lagi."


"Tidak kusangka kia bertemu lagi disini." Diana teringat sesuatu. "Apa dia Bos yang kau maksud itu?" tunjuk Diana ke arah Doni.


Sinta tersenyum kaku. "Iya. Aku juga tidak tahu jika dia adikmu." Perasaan Sinta mulai tidak enak, dia ingat percakapannya saat di toko bunga.


Doni yang dari tadi hanya menjadi penonton akhirnya bertanya.


"Kalian pernah bertemu?"


"Iya. Waktu aku mencari bunga kesukaan Mama. Dan di toko itu habis, hanya tersisa satu bucket yang di pegang sekretarismu. Aku ingin membelinya tapi dia bilang itu pesanan bosnya yang sudah duda dan menyebalkan." Diana mendudukan bokongnya di sebelah Doni.


Pria itulangsung menatap Sinta tajam, dan lihatlah firasat Sinta sekarang sudah terbukti.


"Ah, waktu itu aku hanya bercanda." Sinta tersenyum menutupi rasa kikuk.


"Ngomong - ngomong di mana kekasih-mu? Papa bilang dia bekerja disini.


Doni menyandarkan punggungnya di sofa. Menyilangkan tangan kedepan dada, pria itu kembali mengarahkan tatapanya ke arah Sinta.


"Kau sudah melihatnya. Dia yang menyebutku Duda menyebalkan."


"Wow... Kalian berpacaran. Aku tidak percaya kau mau dengan Doni."


"Aku adikmu kenapa kau tak membela atau sedikit menyanjung?"


Doni tidak percaya kenapa sang kakak bisa berbicara seperti itu.


"Kau tadi sudah meniggalkan aku, jadi untuk apa aku harus menyanjung adik durhaka sepertimu."


"Kau pernah menghitung, berapa lama kau menghsabiskan waktu hanya untuk mandi."


"Hanya tigapuluh lima menit. Kau berlebihan sekali itu hal yang biasa untuk model seperti ku."


Doni menatap tidak percaya ke arah sang kakak. Waktu tigapuluh lima menit di habiskan hanya untuk mandi saja.


"Yang benar saja, aku harus menunggumu selama itu. Kau menggunakan tigapuluh lima menit hanya untuk mandi. Lalu berapa lama lagi aku harus menunggumu selesai berdandan."


Sinta hanya diam saja melihat Doni dan Diana bebicara. Kepalanya yang pusing jadi bertambah sakit saat melihat mereka beradu argumen.


"Berhenti!"


Bersambung....

__ADS_1


🍃🌹🍃🌹🍃🌹


__ADS_2