
"Bagus juga," Sinta meletakkan koper yang dia bawa ke sisi ranjang saat sudah memasuki villa pantai.
Niat untuk tidur Sinta urungkan karena pemandangan indah lautan dan pohon bakau yang tertiup angin terlihat dari jendela kaca. Melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu yang menghadap langsung ke arah laut. Dia berjalan keluar menginjakkan kakinya di lantai dengan bahan kayu. Merentangkan tangan sinta menghirup dalam aroma khas pantai yang membuatnya selalu rindu.
"Hei!" seru seseorang dengan suar berat yang berdiri di villa seberang Sinta.
Seketika perasaan Sinta anjlok ketika melirik dengan ekor matanya siapa yang memanggilnya.
"Ah, kenpa bulu kudukku berdiri?" Sinta mengusap tengkuknya
"Apa disini ada hantu?" tanya Sinta lagi pura-pura tidak mengetahui keberadaan Rama.
"Hah, kau sedang ber-akting rupanya. Semoga saja malam ini ada yang menemanimu tidur."
Rama menatap Sinta yang masih pura-pura tidak melihatnya, seraya memasukna ke dua tangannya ke dalam saku celana.
"Kau tau? dulu di tempatmu berdiri, sebelum di bangun villa pernah di temukan mayat dengan wajah hancur," ujar Rama dengan wajah ngeri.
Sinta langsung menatap Rama dan memberikan tatapan tajam.
"Dasar menyebalkan!"
Sinta menghentakkan kakinya saat kembali masuk kedalam dan menutup pintu dengan kencang.
"Aku memang menyebalkan." Rama tertawa puas karena berhasil mengerjai Sinta.
"Aku perhatikan kau dan Sinta seperti tidak akur."
Mike tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Rama duduk di kursi yang tersedia di sana sambil mengarahkan tatapannya ke arah lautan yang terbentang luas.
"Aku hanya senang saja ketika menggodanya."
"Dari rasa iseng menggoda akan berlanjut ke hati nantinya," kata Mike seraya meraih kaleng soda.
Bahkan aku sudah jatuh cinta dengannya sejak dulu, sayangnya aku harus menguburnya dalam-dalam. Ujar Rama dalam hati.
Sampai sekarang Rama tidak tahu jika Doni sebenarnya sudah meninggal. Dia berpikir bahwa status Sinta masih menjadi istri orang. Begitupun sikap menyebalkan Rama dia lakukan semata-mata untuk menutupi bahwa sampai saat ini dia tidak berhasil melupakan perasaannya.
"Aku ingin menambah koleksi mobil. Menurutmu mobil jenis apa yang bagus?" tanya Mike.
Rama mengalihkan pandangannya ke arah pantai, karena disana pemandangannya lebih menarik dari pertanyaan Mike. terlihat Sinta berjalan menyusuri tepi pantai di ikuti Rio yang berjalan di sampingnya. Sesekali Rama melihat Sinta tersenyum ke arah Rio.
"Dasar centil!" gerutu Rama.
"Aku," tunjuk Mike ke arah dirinya sendiri. Mike nampak bingung, tapi pria itu kemudian mengerti ketika mengikuti arah pandangan Rama.
"Kau suka kepadanya?"
"Ya... maksudku tidak."
Mike mengrenyitkan kening merasa aneh dengan ucapan Rama.
"Aku hanya kasihan saja dengan suaminya yang menunggu dirumah," ujar Rama memperjelas.
Sedangkan Mike terkekeh merasa Rama sedang membual.
"Terserah kau saja," ucap Mike masih dengan kekehannya. "Memang, pria yang suka jual mahal sepertimu sering membuat alasan yang tidak jelas."
"Siaoa yang jual mahal?" tanya Rama. "Aku tidak bohong."
Mike bangkit dari kursi, "Ya, aku percaya," kata Mike agar Rama diam.
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan kau sedag mempercayaiku," kata Rama.
Mike mengedikan bahu seraya berjalan meninggalkan Rama.
"Hei kau mau kemana?!" teriak Rama.
"Aku mau ke kamar, ingin tidur dengn nyenyak. Rasanya remuk semua tubuhku."
__ADS_1
-----
"Apa kalian pernah ke pesta?" tanya Rania.
Sinta, Rania, dan Diska sedang berada di di tepi pantai saat ini. Mereka sedang berjemur. Merebahkan tibuh mereka di atas kursi panjang seraya menikmati ke indahan laut.
Terdengar suara teriakan dan tawa dari karyawan Daniel yang sedang menikmati wahan air yang tersedia di sana. Sebagian dari mereka ada yang ikut kapal menuju spot diving.
"Pernah," jawab Diska yang sedang mengoleskan sunblock di tangannya.
"Tapi hanya pesta ulang tahun anak kecil," lanjut Diska nyengir memamerkan deretan giginya.
"Ish," Rania mencebik.
Sedangkan Sinta hanya diam, memejamkan matanya menikmati semilir angin laut.
"Kenapa kau diam saja, Nona?" tanya Diska ke arah Sinta yang sedari tadi hanya diam.
Rania berjalan menghampiri dan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Sinta.
"Sepertinya di tidur," ucap Rania sambil menggeser sedikit kaca mata hitam yang di pakai Sinta.
Terlihat di sana mata Sinta terpejam dengan helaan nafas teratur.
"Ya, sudah biarkan saja. Ayo kita bergabung dengan mereka," ajak Diska sembari memakai snorkel, alat selam yang berbentuk seperti huruf J.
Mereka akan berenang di permukaan dangan kedalaman 4-5 meter. Berenang di lautan dangkal juga tidak kalah menyenangkan dari diving. Terumbu karang dan berbagai jenis biota laut di pulau ini masih terjaga dengan baik tanpa harus menyelam ke bawah laut.
Sinta terbengun dengan bingung. Pasalnya Rania dan Diska yang tadi ada di sampingnya sudah tidak ada.
"Kemana mereka?" tanya Sinta sambil menggeliat meregangkan otot tubuhnya.
"Dasar," kata Sinta saat melihat dua temanya sedang asik berada di laut.
"Tega sekalia mereka tidak membangunkanku," lanjut Sinta seraya beranjak dari kursi.
Saat kakinya baru menginjak pasir ada bola yang tiba-tiba datang tepat mengeni kepalanya. Diseberang Sinta ada segerombolan pria sedang bermain volly.
"Jangan berdiri di Situ jika kau tidak ingin terkena bola," ujar seorang pria yang sepertinya teman Daniel.
Sinta hanya menahan geram saat pria itu dengan tidak bersalah memungut bola tanpa meminta maaf.
"Hei seharusnya kau meminta maaf jika melakukan salah," teriak Sinta.
"Bukan urusanku," jawab pria itu angkuh.
Pria itu hanya tersenyum remeh tanpa menanggapi ocehan Sinta. Dan mengajak mereka yang sedang menonton untuk memulai kembali bermain volly.
Rama, Mike, dan Daniel yang duduk tidak jauh disana serempak menoleh mendengar suara Sinta.
"Apa itu temanmu?" tanya Rama sambil menyeruput jus jeruk yang ada di depannya.
"Iya," jawab Daniel. "Memangnya kenapa?" tanya Daniel kemudian.
Sedangkan Mike sibuk memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya dan menjadi pendengar setia.
"Dia sebentar lagi akan mendapat masalah."
Rama memandang lurus ke depan, ke arah segerombolan orang yang sedang bermain volly.
"Aku tidak mengerti?"
"Kau lihat saja ke depan."
Sinta dengan kesal berjalan memutar untuk menghidar dari segerombolan orang yang sedang bermain volly. Tapi saat bru beberpa langkah lagi-lagi bola itu mengenainya dan pelakunya adalah pria yang sama.
Belum sempet pria itu datang Sinta sudah menendang bola itu jauh ke laut.
"Hei! Kenapa kau tendang bola itu?" teriak pria itu kesal.
"Lebih memilih bola itu yang aku tendang, atau kau?"
__ADS_1
"Jika bukan wanita sudah aku tampar kau."
"Benarkah?" Sinta memasag wajah takut yang di buat-buat.
"Sekarang ambil bola itu atau kau akan mendapat masalah."
"Bukan urusanku," ujar Sinta seraya berjalan pergi dari hadapan pria itu.
Dengan cepat kaki pria itu menjegal langkah Sinta membuatnya jatuh tersungkur.
"Kaua benar-benar mengujiku," desis Sinta.
Sedangkan pria tadi hanya tertawa tanpa rasa bersalah.
Sinta langsung berdiri dan memandang pria yang sedang tertawa itu dengan geram.
Bugh!
Satu pukulan Sinta bersarang tepat di pria tadi. Sontak pria itu menunduk memegangi perutnya menahan sakit.
"Kau mau lagi?" tanya Sinta.
Pria itu hanya melotot tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.
"Baiklah jika kau mau lagi," ujar Sinta.
Sinta mundur beberapa langkah.
Memasang kuda-kuda bersiap melancarkan aksi selanjutnya.
Sedangkan pria tadi hanya bisa menggelengkan kepala. Dia ingin berlari tapi tidak sanggup melangkahkan kakinya.
Stelah itu, Sinta berlari dan mendaratkan salah satu kakinya tepat di wajah pria tadi.
"Rasakan," ucap Sinta saat melihat pria tadi pingsan.
Sedangkan Mike dan Daniel hanya bisa melongo melihatnya.
"Kau lihat yang barusan terjadi?" Tanya Mike memastikan.
Daniel mengngguk, masih menatap tidak percaya Sinta yang berdiri didpan sana.
"Sepertinya, aku harus berhati-hati dengannya," ujar Daniel.
"Tapi kenapa kau bisa tau?" tanya Mike berpaling ke arah Rama.
"Tentu saja tau, karena dulu aku sering bersamanya."
"Maksudnya?"
"Maksudnya.... Ah, aku harus kekamar, aku lupa mematikan keran."
Rama buru-buru berdiri dia menyadari tadi salah berbicara.
"Aku curiga dengan Dia."
"Kenapa?" tanya Daniel.
"Menurut firasatku ada yang dia sembunyikan dari kita."
Daniel kemudian mengikuti arah tatapan Mike.
"Apa yang harus di curigai dari Rama. Dasar menyebalkan! Dia hanya mematikan air."
"Bukan itu yang aku maksud bodoh."
"Terserah kau saja, Mike. Aku tidak mengerti dengan ucapnamu."
Mike mendengus, seraya meninggalkan Daniel.
Bersambung...
__ADS_1
🍁🍁🍁