Bos Duda

Bos Duda
Ss 2 Bab 5


__ADS_3

Drt ... drt... drt ...


Getaran ponsel di atas nakas membuat Sinta terbangun dari tidur lelapnya. Dengan malas tangan Sinta meraih ponsel itu untuk mengangkat panggilan.


"Hallo," suara serak Sinta menyapa orang di seberang sana.


"Nona, kau sekarang dimana?" suara Rani bertanya sedikit cemas.


"Di rumah. Ada apa?"


"Ya ampun! Apa kau lupa sekarang ada jadwal pemotretan?" ujar Rania mengingatkan.


"Ini masih pagi, kenapa kau sudah cerewet?" ucap Sinta sambil menggeliat di dalam slimut.


"Ini sudah jam sembilan, Nona. Dan satu jam lagi jadwal pemotretan di mulai."


Sinta membuka matanya lebar-lebar. Rasa kantuk yang bergelayut di matanya seketika hilang.


"Astaga!" Sinta buru-buru bangun dari tidurnya dia lupa jika hari ini pemotretan di mulai jam sepuluh. "Terima kasih Rania, kau sudah mengingatkanku."


Untung saja Rania menelpon Sinta jika tidak, entah jam berapa dia akan terbangun dari tidurnya.


"Ya, semoga kau tidak mendapat masalah, Nona." Pesan Rania sebelum sambungan terputus.


Setelah panggilan terputus  Sinta buru-buru masuk ke kamar mandi. Tidak butuh waktu yang lama, dengan kecepatan kilat Sinta sudah rapih dengan setelan casul.


"Kau mau kemana?" tanya Diana yang melihat Sinta berlari menuruni anak tangga dengan tergesa.


"Aku ada pemotretan, Kak. Dan aku hampir terlambat sekarang." Sinta meraih gelas susu milik Diana dan meneguknya hingga tandas.


"Ish, kenapa kau menghabiskan susuku?" kesal Diana yang melihat gelas susunya sudah kosong.


Sinta hanya nyengir mempelihatkan deretan giginya. Dengan senyum tanpa dosa Sinta berjalan ke arah rak sepatu.


"Kau tidak sarapan?"


Sinta yang baru selesai memakai sepatunya berjalan untuk menghampiri Diana.


"Aku sarapan di mobil saja," ujar Sinta sambil meraih sebagian roti bakar milik Diana dan membawanya.


"Hei! itu punyaku," teriak Siana saat sadar roti bakarnya di ambil Sinta.


"Terima kasih!" Terik Sinta sambil berlari tanpa menghiraukan Diana yang sedang menggerutu.


"Kau mencuri, kenapa mengucapkan terimakasih?" gerutu Diana lagi.


Tapi setelah Sinta menghilang di balik pintu Diana tersenyum. Dia merasa bahagia karena Sinta sudah kembali memulai kehidupannya seperti semula.


"Kau lihat kan? istrimu itu wanita yang kuat," ucap Diana tetsenyum sambil menatapi foto Doni.


----


Saat mobil Sinta melaju menembus jalan raya, sura deringan telepon kembali berbunyi di ponsel Sinta.


"Iya aku sedang berada di jalan sekarang," jawab Sinta saat Rania menyanakan dia berada di mana.


Rania cemas karena Sinta belum juga  datang. Dia takut jika Daniel marah nantinya.


"Lima belas menit lagi aku sampai," ujar Sinta menenangkan Rania.


Setelah itu, Sinta menutup panggilan dari Rania dan kembali fokus pada mobil yang sedang dia kemudikan. Karena terburu-buru dan kurang berkonsentrasi Sinta menabrak bagian belakang mobil yang ada di depannya.

__ADS_1


"Duh, bagaimana ini?" ujar Sinta cemas. "Kenapa di saat seperti ini harus menbarak mobil orang?" Sinta merutukki kecerobohannya.


Mobil di depan Sinta terlihat memberi tanada untuk menepi. Setelah menepi pemilik mobil mewah itu turun untuk menghampiri Sinta dengan wajah kesal. Sinta bertambah gugup karena pemilik mobil itu ternyata adalah Rama.


"Turun!" Rama mengetuk kaca mobil Sinta dengan kencang.


"Apa matamu rabun?" tanya Rama sedikit kasar.


Sinta merasa kesal mendengar ucapan Rama yang kasar. Ternyata pria yang berdiri di depannya itu banyak berubah.


"Maaf, aku akan mengganti kerusakkan mobilmu."


Walau dengan menahan kesal Sinta tetap harus meminta maaf karena ini memang kesalahannya.


Rama tertawa sarkas, "Kau pikir aku tidak punya uang?"


Dasar sombong!


"Baiklah." Sinta kemudian kembali masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan kencang.


"Hei! Aku belum selesai," teriak Rama yang melihat mobil Sinta berlalu dari hadapannya.


Sedangkan Sinta yang berada di dalam mobil meremat stir dengan kuat menahan geram.


"Dasar arogan," ujar sinta dengan bibir  bersungut.


Padahal di sudah meminta maaf, dan berjanji akan mengganti rugi semua kerusakan yang di akibatkan kelalaiannya. Tapi dengan sombong Rama menolaknya.


"Dia benar-benar berubah."


Sinta mengingat kembali masa dimana dia pertama kali bertemu dengan Rama. Saat itu dia pria yang hangat, ceria, dan mempunyai selera humor yang tinggi. Tapi setelah hampir setahun tidak bertemu Sinta seperti tidak mengenali Rama yang dulu.


----


Sinta sudah selesai dengan pemotretan. Dia tiba di studio, lima menit sebelum sesi pemotretan itu di mulai. Seharusnya dia tiba tiga puluh menit sebelumya. Untung saja orang-orang yang bekerja dengan Sinta memaklumi alasannya.


"Sepertinya makan. Perutku sudah lapar," Sinta meraba perut datarnya yang meminta untuk di isi.


"Bagaimana jika makan bersama?"


Rio menawarkan untuk mentraktir Sinta.


"Boleh juga," ujar Sinta menyetujui ajakan Rio.


Setelah itu Sinta dan Rio berangkat menuju restoran.


"Apa tidak ada yang marah jika kita jalan berdua?" tanya Rio memecah keheningan di antara mereka.


"Tidak ada yang akan marah," jawab Sinta biasa.


"Apa kau single?"


"Bisa di bilang begitu."


"Aku lega jika kau masih single."


Tidak ada yang tahu jika status Sinta saat ini adalah janda. Mereka semua berpikir jika dia masih lajang


"Memang kenapa jika aku tidak single," Sinta membalik pertanyaan untuk Rio.


"Aku berniat merebutmu dari pasanganmu."

__ADS_1


Sinta tertawa kencang merasa kalimat Rio sangatlah lucu.


"Tetnyata selera humormu bagus juga."


----


"Hei kenapa dengan mobilmu?" tanya Mike yang baru turun dari mobil Rama.


Mike menyadari jika mobil Rama penyok di bagian belakang, seperti habis di tabrak.


"Pagi, Pak!" sapa para karyawan saat Rama berjalan melewati mereka.


"Ada wanita gila yang menabrak mobilku," ujar Rama sambil berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai enam.


"Lalu?"


"Apanya?" teriak Rama kesal. Moodnya hari ini sedang tidak baik, karena mobil kesayangannya tidak mulus lagi.


Mike menghela nafas mencoba untuk bersabar.


"Maksudku, apa dia mau bertanggung jawab?"


"Dia tidak mau," jawab Rama.


Padahal, jika Mike tahu dengan sombongnya Rama menolak ketika Sinta akan bertanggung jawab.


"Kenapa kau tidak lapor polosi saja, jika dia menolak untuk bertanggung jawab."


"Tidak perlu. Aku akan membuat perhitungan sendiri dengannya," ujar Rama dengan senyum miring.


Mike mengedikan bahu, merasa masa bodo dengan renacana yang ada di pikiran Rama.


"Daniel mengajak kita untuk berlibur akhir bulan ini."


Mike menjatuhkan pantatnya di sofa saat sudah sampai di ruangan Rama.


"Kemana?" tanya Rama sedikit malas.


"Pulau yang dia beli belum lama ini."


Rama tidak menanggapi ucapan Mike karena pintu ruangannya di ketuk oleh diego.


"Ini Dokumen yang harus Anda pelajari," ujar Siego setelah Rama mempersilahkannya masuk.


Diego, orang kepercayaan Danu memberikan setumpuk berkas di atas meja untuk di pelajari Rama.


"Jika ada yang ingin di tanyakan lagi, Anda bisa memanggil saya."


"Terima kasih. Aku akan pelajari ini dulu."


Setelah itu Diego undur diri dari ruangan Rama.


"Aku tidak tahu jika Daniel membeli pulau," Lanjut Rama sambil membuka lembaran kertas yang ada di atas meja.


"Dia mendapatkan pulau itu dari hasil pelelangan. Kau akan ikut atau tidak?"


"Aku sibuk."


"Kabarnya Daniel akan membawa semua karyawannya berlibur, termasuk Sinta, model cantik yang baru bergabung di perusahaannya."


Rama berhenti sejenak dari aktivitasnya membolak balikan kertas  saat mendengar nama Sinta. Tapi untuk beberapa saat kemudian dia kembali fokus.

__ADS_1


Bersambung...


🍁🍁🍁


__ADS_2