
Bagas melihat Doni banyak tersenyum, pagi ini. "Sepertinya kau sedang bahagia, Bos," celetuk Bagas sambil berjalan memasuki ruangan Doni.
"Benarkah?" tanya Doni yang sedang duduk di meja kerja.
"Kau banyak tersenyum pagi ini."
"Kau memperhatikan ku?" tanya Doni yang menatap Bagas dengan mata menyelidik.
Bagas meringis melihat tatapan bosnya. "Apa aku salah bicara?" Bagas bertanya dalam hati.
Doni berdiri menghampiri Bagas. "Kau ternyata sangat perhatian," ucap Doni sambil menepuk bahu orang kepercayaannya itu.
Mulut Bagas menganga dia pikir Doni akan marah. "Benar-benar aneh," ujar Bagas sambil memandang Doni yang beranjak dari ruangan.
ππππππ
Doni berjalan kearah ruangan Sinta. Dia melihat, gadis itu sedang berdiri memunggungi pintu. Dengan langkah pelan Doni menghampiri gadisnya.
Sinta sedikit terkejut, karena ada tangan yang memeluknya dari belakang.
"Jangan seperti ini aku malu," ucap Sinta saat tau siapa pelakunya. "Nanti ada yang lihat," lanjut Sinta lagi.
"Kenapa?" tanya Doni seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sinta. "Aku malah senang jika ada yang lihat. Agar mereka tau, kau kakasihku," ujar Doni sambil menghirup aroma tubuh Sinta.
Sinta merasa geli, dengan perlakuan pria itu. Doni seperti anak kucing yang sedang mengendus makanan.
"Kau sudah sarapan," tanya Sinta menghentikan aksi Doni.
"Sudah," jawab Doni sambil melepaskan pelukan dan mendudukkan bokong di sofa. "Aku nanti keluar bersama, Bagas. Ada meeting dengan dekorator interior."
Simta mengangguk. "Oh, iya. Kau belum menjawab pertanyaanku semalam."
"Yang mana?" tanya Doni pura-pura lupa.
Semalam, Sinta menanyakan tentang sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Sebenarnya, bagaimana hubungan Doni dengan Anne. Dia ingin tau bagaimana cerita sebenarnya.
Sinta mendengus dan duduk menghampiri Doni. "Jangan pura-pura!"
Doni menarik nafas, sebenarnya dia enggan menceritakan semua itu.
"Kau pasti sudah tau, jika Anne adalah kembaran Lidya," Sinta mengangguk.
"Kau benar-benar yakin ingin mendengarnya?" tanya Doni lagi. "Dan jangan cemburu."
Sinta lagi-lagi mengangguk. "Aku ingin tau ceritanya dari mulutmu. Aku tidak mau mendengarnya dari orang lain."
Akhirnya Doni menceritakan masalalunya dengan Anne.
"Dia ... yang membantuku sadar dari keterpurukan," ujar Doni lirih.
"Aku dulu sempat depresi dan sempat di rawat di rumah sakit. Karena terlalu merasa kehilangan, aku akan menangis histeris, jika melihat foto atau barang milik, Lidya." Ada nada bergetar saat Doni menceritakan masa itu.
__ADS_1
Sinta mengelus tangan pria yang duduk di sampingnya, menyalurkan kekuatan.
"Dan mama, berinisiatif untuk menyimpan semua barang milik istriku."
Pantas saja Sinta tidak pernah melihat foto Lidya, saat berada di rumah atau apartemen Doni.
"Karena seringnya kami bertemu dan wajahnya yang sangat mirip dengan Lidya, membuatku dengan mudah menyukainya."
Doni berhenti sejenak dan memandang Sinta. Gadis itu tersenyum dan mengangguk agar Doni melanjutkan ceritanya.
"Saat hari pernikahan sudah di tentukan, dia pergi dan hanya menitipkan selembar surat."
"Apa isi nya?" tanya Sinta cepat.
"Dia pergi untuk mengejar cita-citanya, mejadi model di italy." Dan di dalam surat itu, dia berjanji akan kembali, lanjut Doni dalam hati.
Setelah itu, doni berhenti dari ceritanya. Dia tidak mau membahas tentang Anne, lagi. Anne hanya masa lalu, sekarang yang menjadi tujuannya adalah Sinta.
"Sepertinya aku harus segera pergi," ucap Doni menyudahi ceritanya.
"Kenpa cepat-cepat." Rajuk Sinta karena merasa belum puas dengan cerita Doni.
"Ada meeting, aku takut terlambat." ujar doni sambil mengusap kepala Sinta.
"Kau jangan lupa makan Siang," ucap Doni lagi seraya mengecup kening Sinta.
"Hati-hat di jalan! Kau juga jangan lupa makan siang."
ππππππ
Doni dan Bagas menuju restoran dimana mereka akan melakukan meeting. Pertemuan itu, akan membahas mengenai desain ruanganΒ di gedung apartemen baru. Jika persentasenya bagus Doni akan melakukan kerja sama.
"Bos, mbak Sinta cantik, ya?" tanya Bagas.
Doni yang duduk di samping Bagas langsung menoleh ke arah pria yang sedang fokus mengemudi. Jangan bilang saingannya bertambah satu.
"Kau suka padanya?" tanya doni tajam.
"Siapa yang tidak suka? Dia cantik, baik dan ramah apalagi matanya," ucap Bagas tersenyum sambil fokus ke arah jalanan. "Sepertinya, Pak Rama juga terlihat menyukai mbak Sinta."
"Kau tau dari mana?" tanya pria itu cepat. Sebenarnya Doni juga merasa bahwa Rama juga menyukai Sinta. Untung dia bergerak cepat.
"Kemarin saya melihat mereka memasuki restoran, dengan bergandengan tangan."
"Kau juga makan disana?"
"Iya. Waktu Bos membawa pergi mbak Sinta, pak Rama terlihat tidak senang. Setelah itu, dia juga pergi dari restoran tanpa memesan makanan."
Alarm di otak Doni seketika menyala, dia harus lebih waspada, karena saingannya cukup berat. Wajah Rama tak kalah tampan dari dirinya, Doni mengakui itu.
Β
__ADS_1
"Aku dan Rama lebih tampan siapa?"Β tanya Doni sambil merapikan jas yang ia pakai.
Bagas menoleh sekilas ke arah Doni. Dia sedikit merasa aneh, saat bosnya bertanya seperti itu.
Secepat itu bosnya berpindah haluan, padahal dia baru dua tahun menduda.
"Bos, kau baik-baik saja, kan?" tanya Bagas dengan nada khawatir.
"Kau pasti berfikir yang tidak-tidak. Iya, kan?" Doni menebak isi kepala Bagas.
"Kau dari tadi pagi terlihat aneh, Bos."
"Jangan banyak bicara," sungut Doni. "Sekarang kau jawab. Lebih tampan siapa," tanya Doni tidak sabaran.
"Tentu saja tampan, Bos," ucap Bagas sambil tersenyum.
"Bagus. Kau nanti aku traktir."
Wajah Bagas nampak sumringah dia membayangkan Bosnya akan mentraktir makanan enak.
Β ππππππ
Saat mereka tiba di restoran disana sudah duduk seorang wanita muda.
Wanita itu berdiri dari duduknya menyapa Doni dan Bagas "Selamat siang,"
Doni hanya mengangguk. "Apa anda sudah menunggu lama?" tanya Doni.
"Tidak. Saya juga baru sampai."
"Baiklah, Nona. Mari kita mulai," sela Bagas. "Sebelumnya saya bisa memanggil anda siapa?" lanjut Bagas lagi.
"Panggil saja, Tiara."
Setelah itu, Tiara mulai memberi contoh desain dan furniture yang akan di pakai di gedung baru milik Doni. Di sela meeting, Bagas melihat Tiara sering mencuri pandang ke arah Doni.
Meeting selesai dengan lancar, Tiara dan Doni akhirnya menjalin kerja sama.
Tiara sangat senang, bukan karen kesepakatan kerja sama. Tapi lebih karena dia bisa lebih dekat dengan Doni. Pria yang membuatnya langsung berpaling saat jumpa pertama.
"Pak, boleh saya ikut di mobil anda?" ujar Tiara saat mereka keluar dari Restoran.
"Boleh." sambar Bagas cepat
Doni membuka pintu belakang, memberi kesempatan agar wanita itu duduk di sebelah Bagas. Tapi dugaannya salah Tiara malah ikut duduk di bangku belakang.
"Nasip, jadi sopir." Celetuk Bagas yang masih bisa didengar Doni.
Saat di perjalanan, Tiara sering mengajukan pertanyaan kepada Doni.
Tapi hanya Doni jawab seperlunya saja. Di lebih memilih membalas pesan Dari Sinta.
__ADS_1
Tiara yang merasakan sikap Doni sedikit cuek membuat dia jadi penasaran. Dia berjanji, akan membuat Doni bertekuk lutut di hadapannya.