
Setelah kecelakaan kecil kemarin, Bagas harus mengantar, jemput Gea menuju kantor. Sebenarnya lelaki itu malas, jika saja Gea tidak mengancamnya.
"Aku akan beritahu kepada teman sesama karyawan, jika Bapak tidak bertanggung jawab."
Dan disinilah sekarang Bagas. Di area parkir kantor sambil menunggu Gea keluar.
"Sampai kapan aku akan seperti ini?"
Bagas bertanya saat Gea sudah masuk ke dalam mobil.
"Tentu saja sampai lukaku sembuh."
"Kau sudah sembuh, buktinya kau masih bisa berangkat ke kantor."
Bagas menatap siku dan lutut Gea yang hanya di tutupi dengan plaster.
"Aku bertanya sekali lagi. Bapak mau atau tidak untuk mengantar jemputku?"
Bagas menghela nafas seraya memyalakan mesin mobil.
"Sebenarnya aku sangat malas melakukan ini."
"Baiklah mungkin dengan sedikit cerita dan bukti lukaku ini, mereka akan percaya dengan ucapanku."
Bagas langsung menoleh ke arah Gea.
"Kau sedang mengancamku?"
"Aku tidak mengancam. Faktanya jelas, jika Bapak kemarin menabrak saya."
Bagas mendengus saat mendengar kalimat Gea. Baginya Gea sangat berlebihan Bagas tidak menabrak. Gea hanya sedikit tersenggol mobil yang dia kemudikan. Sebenarnya jika di lihat dari kamera pengawas Gea lah yang bersalah. Sayangnya ditempat kejadian tidak di pasang kemera pengawas jadi Bagas tidak bisa mengelak.
"Oke, baiklah," Bagas menyerah karena tidak mampu lagi berdebat dengan Gea, "Aku akan melakukan ini sampai kau sembuh," Bagas menatap Gea yang sedang tersenyum, "Ingat. Hamya sampai sembuh. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan denganmu."
"Nah, kenapa tidak dari tadi Bapak mengucapkan itu. Kita hanya buang-buang waktu saja untuk berdebat."
"Jika sekarang aku beri penawaran..."
"Tidak!"
Kalimat Bagas langsung di potong oleh Gea. Entah kenapa wanita itu senang jika berada di dekat Bagas.
Setelah mobil berjalan dan Gea sudah sedikit diam, tiba-tiba tangan wanita itu menepuk bahu Bagas.
"Pak! Bisa berhenti sebentar di depan."
Seperti sopir yang di perintah majikannya, Bagas langsung menepikan mobilnya.
"Ayo, cepat turun!"
Bagas hanya menurut saat Gea memberi perintah.
"Ada apa?"
Tanpa menjawab Gea langsung menarik lengan Bagas memasuki kedai es krim.
Gea yang melihat tampang Bagas yang seperti tidak suka, akhirnya berucapa, "Bapak tidak perlu khawatir saya yang traktir."
Bukan masalah uang, Bagas merasa tempat ini tidak cocok dengan dirinya.
"Bagaimana bisa kau membawaku ke tempat seperti ini?"
Bagas menatap ke sekeliling kedai, dimana dinding dan semua ornamen yang berada di tempat ini berwarna pink, dan jangan lupakan tema hello kitty yang mendominasi kedai ini.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Kita ke tempat lain saja. Akan aku belikan ea krim sampai kau puas."
"Aku tidak mau. Di tempat lain es krimnya tidak enak."
"Kalau kau tidak mau aku kan pulang saja. Terserah kau mau pulang dengan siapa."
"Tunggu! Es krimya aku makan di mobil saja, Bapak tunggu sebentar."
Setelah dua cup eskrim sudah berada di tangan Gea berlari untuk mengejar Bagas yang sudah melangkah terlebih dahulu.
"Pak tunggu!" Teriak Gea dengan nafas terputus.
Saat sudah dekat dengan Bagas, tiba-tiba sepatu yang di pakai Gea patah. Oromatis tubuh Gea limbung dan menabrak punggung Bagas.
"Shit!" umpat Bagas yang merasakan benda dingin memempel pada punggungnya.
Bagas berbalik dan menatap Gea dengan tajam, "Kau..." desis Bagas yang merasa geram dengan ulah Gea.
"Maafkan aku, Pak."
Gea menatap miris ke arah eskrim yang menempel di punggung bagas.
Belum sempat aku makan kenapa kau sudah menempel di punggung pria itu.
"Cepat masuk!" Bentak Bagas.
Gea merasa tidak aman setelah memasuki mobil. Wanita itu melihat Bagas melepas semua pakainya dan melemparkany tepat di samping Gea.
"Bapak mau apa?"
Bagas hanya menatap tajam ke arah Gea.
"Pak, jangan seperti itu saya takut."
Bagas yang melihat, merasa bingung dengan perilaku Gea.
"Jangan membuat drama," ujar Bagas.
"Cuci bajuku sampai noda eskrim itu hilang," ujar Bagas seraya menjalankan mobilnya.
Sedangkan Gea hanya mentap bodoh ke arah Bagas.
"Dasar otak kotor!" gumam Bagas yang masih bisa didengar Gea.
Sepanjang perjalanan pulang, Gea tidak bisa fokus. Tubuhnya panas dingin karena duduk di sebelah pria yang hanya mengenakan celana kerja.
*****
Doni dan Sinta sudah menempati rumah baru. Mereka nampak bahagia, terlebih Sinta yang merasa beruntung mendapat suami seperti Doni. Hanya satu yang membuat Sinta sedikit khawatir. Sampai saat ini dia belum juga hamil.
"Bagaimana?"
Doni bertanya saat Sinta keluar dari kamar mandi.
"Belum," ujar Sinta. Wanita itu menggelengkan kepala saat melihat lagi alat tes kehamilan di tanganya.
"Tidak apa, mungkin belum waktunya kita untuk mempunyai anak."
Walau Doni mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum, tapi Sinta bisa merasakan ada rasa kecewa saat dia menunjukan garis satu pada alat tes kehamilan.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Doni langsung memeluk istrinya, "Kenapa kau meminta maaf."
"Kau pasti kecewa."
Sinta semakin menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan Doni.
"Tidak," ujar Doni seraya membelai kepala istrinya, "Kau tau? Mungkin ini cara Tuhan agar kita lebih lama bermesraan, seperti orang yang sedang berpacaran."
Sebenarnya mereka sudah melakukan tes di rumah sakit dan hasilnya bagus, dimana tidak ada masalah pada kesuburan mereka.
"Sudah, kau jangan bersedih. Bagaimana jika kita rencanakan bulan madu lagi."
"Kau kan sangat sibuk, bagaiman dengan urusan kantor?"
"Akan aku atur waktunya, semoga saja bulan depan kita bisa berangkat bulan madu untuk yang kedua."
Setelah itu Doni mengurai pelukanya dan menatap Sinta, "Sekarang kita perbanyak saja mencoba di rumah."
Sinta langsung mencubit pinggang suaminya, "Tadi kan sudah."
"Kita coba sekali lagi, siapa tahu langsung berhasil."
Sinta hanya mendengus, tanpa menjawab ucpan suaminya, dia tau itu hanya akal-akalan Doni saja untuk menambah jatah. Wanita itu langsung meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
"Kebetulan sekali aku juga belum mandi."
Doni langsung melangkah lebar sebelum pintu di tutup oleh Sinta.
"Aduh." Sinta meras tubuhnya terdorong maju, karena langkah Doni uang terburu-buru.
"Aku ikut mandi," ucap Doni saat mendapat pelototan dari Sinta.
Doni berpikir ini waktu yang tepat untuk menambah jatah.
*****
Pagi ini Sinta terbangun sedikit kesiangan. Dia terkejut saat melihat jam sudah menunjukan pukul enam lewat. Ia harus segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Sebenarnya di rumah yang baru Sinta di bantu dengan seorang asisten rumah tangga. Tapi untuk urusan makan Doni, Sinta yang mengerjakannya sendiri.
Setelah selesai dengan sarapan, Sinta melangkah menaiki tangga untuk membangunkan suaminya.
Saat membuka pintu kamar, ternyata Doni baru selesai mandi. Terlihat dari tubuhnya yang basah dan juga handuk yang melilit tubuh tegapnya.
"Aku pikir kau belum bangun."
"Bisa tolong siapkan bajuku. Sebentar lagi ada rapat."
Sinta segera menuju lemari dan menyiapkan segala keperluan Doni.
"Aku sarapan di kantor saja," ucap Doni yang masih mengenakan pakainya.
Sinta melangkah untuk memakaikan dasi pada suaminya, "Padahal aku sudah buatkan nasi goreng," ujar Sinta kesal.
Wanita itu mengerucutkan bibirnya karena jengkel suaminya tidak sarapan dirumah. Padahal dia tadi berusaha untuk menyelesaikan masakan tepat waktu, agar suaminya bisa sarapan terlebih dahulu.
"Maaf, aku sudah kesiangan sekarang," ucap Doni yang tahu kekesalan Sinta. "Kau jangan marah," ujar Doni seraya mengecup bibir istrinya.
Saat akan berangkat, Doni berbalik ke arah Sinta.
"Nanti malam dandan yang cantik, aku akan mengajakmu makan malam."
Sinta tersenyum membayangkan makan malam romantis bersama Doni.
__ADS_1
Bersambung...
🌼🌺🌻🌸🌷🌹