Bos Duda

Bos Duda
Bab 40


__ADS_3

Siang ini Sinta berencana untuk mengunjungi suaminya di kantor.


Saat tengah merapikan laci kerja suaminya. Sinta menemukan selember surat.


"Surat?"


Sinta membaca dengan perlahan surat itu.


*Untuk Doni.


Maafkan aku yang pergi saat acara pernikahan kita sudah dekat. Aku hanya sebentar, setelah semuanya selesai aku akan kembali lagi menemuimu. Aku tau kau pasti merasa kecewa tapi percayalah kesempatan ini tidak datang untuk ke dua kali. Ini yang aku impikan sejak dulu. Bukan kau tidak berarti untuku. Tapi... aku tau kau bisa menugguku. Percayalah aku mencitaimu. Tunggu aku sampai waktunya tiba.


Anne*.


Setelah selesai membaca Sinta mengembalikan surat itu ketempatnya. Dia tidak boleh berfikir buruk. Itu hanya surat dari masalalu suaminya. Dan sekarang dialah yang menjadi istri Doni. Jadi Sinta tidak perlu khawatir.


****


Semua karyawan tersenyum ke arah Sinta, saat langkahnya sudah memasuki gedung. Sinta sangat merindukan suasana kantor ini. Jika suaminya membolehkan ingin sekali dia kembali bekerja.


Sesaat kemudian senyum Sinta memudar saat dia berpapasan dengan Anne. Dia baru saja keluar dari lift, yang langsung menuju ke ruangan Doni.


"Dia?"


Sinta langsung teringat surat yang tadi pagi dia baca dan juga pesan singkat di handphone Doni.


"Apa yang mengirim pesan tadi pagi, Anne?" Sinta berdikir pendek, "Bisa saja, kan? jadi N itu adalah Anne."


Sinta bergumam sambil memandangi Anne yang berjalan menuju pintu keluar.


"Sinta!" teriak Gea yang sudah berlari ke arahnya.


Sinta menoleh.


Gea langsung memeluk tubuh Sinta saat mereka sudah berhadapan.


"Kemana aja. Mentanga-mentang udah kawin, lupa ama gue sekarang."


"Ge? Anne ngapain datang kesini?"


Sinta langsung bertanya tanpa memperdulikan ucpan Gea.


Sinta penasaran ketika Anne tiba-tuba muncul di kantor suaminya. Apa yang tertulis di surat itu benar, bahwa Anne jembali lagi untuk Doni.


"Mana?"


Gea celingukkan mencari sosok yang sedang di bicarakan oleh Sinta.


"Tadi gue papasan."


"Kagak tau. Tanya aja ama laki lu."


"Ya udah geu ke atas dulu nganterin ini."


Sinta menunjukan bekal yang dia bawa untuk Doni.


"Oke. Gue tunggu di kantin. Masih pengen ngobrol."


Sampainya di lantai tiga Sinta bertemu dengan Bagas. Dia sekarang menjadi sekretaris Doni merangkap juga sebagai tangan kanan suaminya.


"Mas Doni ada di ruangan?"


Bagas yang sedang mengerjakan tugasnya langsung menatap ke arah Sinta.


"Ada, Mba. Silahkan masuk saja."


Saat membuka pintu ruangan Sinta melihat Doni menunduk seraya memijat pelipisnya.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


Doni yang tidak tahu istrinya datang sedikit terhenyak.


"Kepalaku sedikit pusing."


Setelah itu Doni menyandarkan kepalanya di kursi.


"Istirahatlah dulu. Aku membawakan mekan siang untukmu."


"Apa boleh aku makan nanti saja? Aku sudah makan siang tadi."


Sinta langsung berhenti membuka bungkusan yang berisikan makanan.


"Dengan Siapa?" Sinta menatap ke arah suaminya, "Apa seorang wanita?"


"Iya. Hanya teman biasa."


Pikiran Sinta langsunga tertuju pada Anne. Apakah suaminya baru saja selesai makan siang dengan Anne.


Seketika fikiran negatif kembali berputar di kepalanya. Dia ragu apakah Anne akan kembali kepada suaminya. Mungkin juga sikap Doni yang akhir-akhir ini berubah menyangkut kembalinya Anne dari Itali.


"Kau memikirkan apa?" tanya Doni seolah tahu isi kepala Sinta, "Jangan berpikir buruk."


Doni melangkahkan kakinya menghampiri Sinta dan memeluknya.


"Kau cemburu jika aku makan dengan teman wanita?"


Sinta memeringkan kepala untuk mentap Doni. "Yakin hanya teman?"


"Tentu, kau tidak percaya?"


"Temanmu itu Anne, bukan?" tebak Sinta.


Doni diam, kenapa istrinya bisa tau Anne berkunjung kemari.


"Kenapa diam, benarkan yang aku ucapkan?"


Bagas tiba-tiba masuk sebelum Doni membuka mulutnya.


"Baikalah aku akan segera menyusul."


Setelah itu Bagas keluar dari ruangan Doni.


"Aku harus bertamu dengan rekan bisnis." Doni meraih jas yang tersampir di kursi kerja. "Aku akan pesankan taxi untuk mengantarmu pulang."


Doni mengecup kening Sinta, setelah itu membalik tubuhnya untuk menyusul Bagas.


Sedangkan Sinta merasa kesal. Bagaimana bisa Doni pergi sebelum menjelaskan semuanya.


Apa mereka ingin mengulang kisah mereka lagi?"


Sinta berasumsi dengan kesimpulan yang dia buat sendiri.


Tidak sengaja netra sinta bertemu dengan buku kecil yang berada di atas meja.


"Buku apa ini?"


Sinta tertarik dengn buku itu.


"Buku pengingat?" ucap sinta saat melihat catatan tangan Doni di dalam buku.


Sinta tidak berpikir buruk. Karena memang suaminya akhir-akhir ini sedikit pelupa.


***


Pov Sinta


Aku diam saja saat Mas Doni berjalan memasuki kamar. Sebenarnya aku sudah bersikap biasa saja. Tapi setiap kali melihat Mas Doni yang terbayang adalah pikiran saat dia makan siang dengan Anne. Istri mana yang tidak cemburu, jika suaminya pergi dengan wanita yang meminta suaminya untuk selalu menunggunya.


Aku pikir Mas Doni akan langsung masuk ke kamar mandi. Tapi, aku salah dia malah menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

__ADS_1


"Hmm, sayang ...."Β 


"Ya," aku menengadah terkejut dan menatap Mas Doni.


"Jika ada dokter yang menelpon atau juga datang. Apa bisa kau bilang saja aku sedang tidak berada di rumah."


Aku mengerutkan kening. Dokter? setahuku Mas Doni sedang tidak sakit. Jadi untuk apa dokter datang kemari? Tapi menurutku dia masih terlihat sehat. Apa penyakit lupanya sangat parah hingga dia memerlukan dokter?


"Hanya medical check up." Mas Doni menjelaskan seolah tahu isi kepalaku. "Masalahnya aku sudah lama tidak melakukan medical check up."


Oh!


"Iya," jawabku tanpa banyak bertanya, lalu kembali menunduk seakan berkonsentrasi pada novel yang sedang aku baca.


Mas Doni membalik tubuhnya seperti akan memasuki kamar mandi. Menatapi punggungnya dari belakang, aku hanya bisa menghela nafas. Rasanya aneh jika aku harus mendiamkanya seperti ini


Tapi sepertinya aku salah, alih-alih menuju kamar mandi dia malah berbalik dan menangkap basah mataku yang sedang memandangi sosoknya dari belakang. Membuatku jadi salah tingkah.


Mas Doni tersenyum, aku rasa pipiku saat ini memerah karena menahan malu. Lalu Mas Doni menghilang di balik pintu kamar mandi yang menutup.


Aku menghela nafas kecewa saat tidak ada penjelasan dari mas Doni mengenai makan siangnya dengan Anne.


"Sinta..."


Aku terperanjat nyaris menjatuhkan novel saat sebuah desisan memanggilku. Mataku membelalak karena terkejut melihat Mas Doni yang sudah berada di sebelah dengan nyengir jail ke araku.


Aku langsung memasang wajah kesal.


"Ada apa, sih? Kenapa kesal begitu?"


Mas Doni melepas handuk dan memakai pakaiannya. Nampak jelas otot yang menonjol di bagian atas tubuhnya.


"Kamu kenapa?" tanyaya sambil sedikit menekuk lutut, menyejajarkan wajahnya denganku. Kupalingkan wajah dengan cemberut.


"Gara-gara aku meninggalkanmu saat di kantor?" tebakny


Nah! itu dia sadar.


Itu salah satunya. Tapi yang palinga menyebalkan adalah mengapa dia harus makan siang bersama Anne.


"Mengenai makan siang dengan Anne?" tebaknya lagi.


Aku langsung menatapnya dengan garang. Mas Doni langsung menegakkan tubuhnya, lalu tersenyum sambil mebgadipkan mata ke arahku.


"Itu apa maksudnya?!" semburku marah.


"Maksudnya yang mana? kedipan tadi? atau meninggalkanmu saat di kantor? atau Anne?" Mas Doni pura-pura bodoh dan itu sangat menjengkelkan.


"Semuanya!" hardikku.


Mas Doni tidak menjawab. Dia menghela nafas untuk kemudian menatapku dalam. Tangannya bergerak mengusap kepalaku dan menarikku ke dalam pelukan.


"Aku kangen," katanya sambil mempererat pelukan. Dia sepertinya sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaanku.


Aku tidak membalas pelukannya. Tidak, bukan karena aku kesal atau marah dia tidak menjawab pertanyaanku. Tapi lebih karena jantungku yang mendadak berdebar lebih cepat, membuatku bingung harus melakukan apa. Walau sudah menikah hal-hal seperti ini selalu membuatku salah tingkah.


"Satu hari itu rasa seperti berabad-abad, ya?" Mas Doni mendesah di atas kepalaku.


"Bagaimana rasanya jika nanti benar-benar tidak bisa melihatmu. Aku pasti sangat merindukanmu." Sepertinya mas Doni mulai melantur.


"Sinta..." Kali ini Mas Doni berbisik tepat di telingaku, "Aku mencintaimu."


Aku menegang dengan bulu kuduk meremang. Untuk beberapa saat aku lupa cara bagaimana untuk bernafas.


Ya ampun!


Kenapa aku masih saja seperti ini?


"Rileks, sayang. Jangan lupa untuk bernafas." Lagi. Mas Doni menggoda. Dia mengikik perlahan seperti tidak serius. Dia menyebalkan!

__ADS_1


Bersambung...


🌼🌻🌷🌺🌸🌹


__ADS_2