Bos Duda

Bos Duda
Bab 42


__ADS_3

Hai... aku kembali lagi. Jangn lupa vote dan Rating 5.


Selamat membaca...


🍁🍁🍁


"Tentu saja," katanya. "Tadinya aku ingin melarangmu memanggil dokter. Sepertinya sudah terlamabat. Dan sialnya lagi Bagas sudah di sini."


Aku mengerutkan kening. Sepertinya ada yang aneh. Aku menatap Bagas dari pelukan mas Doni. Dia diam saja hanya meletakkan jari telunjuk kanan di bibirnya. Bagas memintaku untuk diam.


"Oh!" gamaku terdengar canggung sebagai tanggapan dari pernyataan mas Doni.


Mas Doni melepas pelukan dan menatapku dalam.


"Aku sebenarnya ingin memberimu kejutan..." Aku mengangkat alis, "bulan madu akhir bulan ini." Mas Doni meraih kedua tanganku dan mengusap-usap secara perlahan.


Aku menatapnya dengan heran. Bulan madu ini sudah kami rencanakan. Tanpa dia memberi kejutan pun aku sudah tahu. Tapi aku hanya mengangguk.


"Hmmm, akhir bulan ... kita akan bulan madu. Akhir bulan ini!" janjinya.


Aku menggigit bibir bawah. Mas Doni kenapa? Aku mencari celah untuk menatap Bagas tapi dia terhalang


oleh tubuh Mas Doni. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dengan segala pertanyaan dan rasa khawatir.


"Pergi sekarang, Bos?" Bagas menepuk bahu mas Doni, "kita sudah terlambat."


"Oke. Tunggu sebentar." Lalu mas Doni menatapku lagi. "Kami pergi dulu, ya. Bagas sangat cerewet akhir-akhir ini." Kemudian dia tertawa.


Aku turut tertawa dengan nada dan mimik wajah yang di paksakan.


Mereka lalu melangkah melewatiku. Tapi mas Doni kembali menghentikan langkah dan berbalik.


"Ada yang lupa?" tanyaku.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya. Jika tidak ada halangan, akhir bulan kita akan pergi bulan madu," ujar Mas Doni dengan senyum lebar. "Kau pasti akan menyukai yempat yang aku pilih."


Aku mematung. Aku rasa sedikit terguncang menyadari mas Doni mengulang semua yang pernah dia katakan sebelumnya. Seakan dia tidak mengingat semua itu.


"Tunggu aku di rumah," ujarnya sambil bergegas menghampiri Bagas yang sudah menunggunya di ambang pintu.


Mas Doni nyaris mencapai ambang pintu, ketika langkah kakinya terhenti.  Dia berdiri membelakangiku dengan Bagas yang berdiri dai hadapannya.


"Sinta ...," desisnya.


"Ya," aku mentap punggung mas Doni, "ada yang lupa?" aku mengulang pertanyaan yang sama. Mempersiapkan diri jika mas Doni akan mengulang kembali permintaan yang telah dia sebut sebelumnya.


"Kau pasti bosan mendengarkan aku yang terus mengulang perkataanku." Bahunya sedikit turun setelah mengucapkan kalimat itu. "Abaikan saja semuanya."


Lalu mas Doni melangkah cepat, melewati Bagas yang masih berada di ambang pintu.


Aku memandang Bagas dengan mata berkaca-kaca. Ada yang salah dengan mas Doni. Aku yakin Bagas tahu.


Bagas tersenyum tipis dengan pandangan perihatin. Setelah itu, berlalu begitu saja meninggalkan aku sendirian.


Aku yakin ada sesuatu yang Mas Doni sembunyikan.


Aku menatap meja di sisi kananku. Amplop cokelat dengan setempel rahasia masih tergeletak di sana.


Aku mentap curiga. Pasti ada jawaban di dalam amplop itu. Aku harus mencari tahu.


Dengan penasaran aku mengitari meja, berjalan ke sisi seberang.

__ADS_1


Pigura dengan foto kami berdua yang sedang tersenyum masih terpajang si meja. Seketika hatiku menghangat melihatnya.


Aku meraih amplop cokelat, tanganku bergerak membuka perlahan. Namun pada saat itu netraku menangkap rangkain kalimat di laptop dan mendekatkan pandangan ke layar monitor.


Keningku berkerut ketika membaca apa yang tertulis disana. Mas Doni menulis beberapa daftar nama orang terdekat yang tidak boleh dia lupakan.


Spertinya ada kata yang belum selesai. Apa dia terjatuh, sebelum dia meneyelesaikan kalimatnya?


Aku membayangkan aktifitas mas Doni sebelum dia terjatuh.


Setelah selesai dengan pekerjaanya mas Doni minum kopi. Di sana masih ada cangkir kopi yang belum habis dan juga setumpuk berkas yang terletak di atas meja. Dan setelah itu dia kembali menulis di laptop.


Apa dia terjatuh sesat sebelum aku masuk kedalam ruangan? Aku tidak menemukannya karena dia tergeletak tanpa suara?


Aku membekap mulut dengan telapak tangan kanan. Aku sedikit limbung. Tangan kiri aku gunakan untuk mencengkeram pinggigiran meja agar tubuhku tetap seimbang.


Apa Mas Doni sangat kesakitan hingga dia tidak mampu mengeluarkan suara? Hingga aku putuskan untuk meninggalkan ruangan dia baru mampu mengeluarkan erangan?


Atau Mas Doni sempat pingsan?


Ini tidak masuk akal, jika hanya kelelahan. Dan bodohnya aku kenapa baru tahu sekarang.


Aku sedikit berlari saat keluar dari ruangan Mas Doni. Meraih ponsel di dalam tas dengan tergesa.


Dengan tangan gemetar. Aku beberapa kali gagal untuk membuka buku panggilan. Akhirnya aku bisa menemukan nama Bagas.


Aku langsung menekan tombol panggilan agar bisa terhubung dengan Bagas. Aku sangat khawatir saat ini dengan ke adaan mas Doni. Bagas pasti tahu sesuatu.


Panggilanku langsung di angkat.


"Bagas!" Panggilku cepat bahkan Bagas belum sempat menyapa.


"Aku yakin kamu mengetahui sesuatu. Seharusnya kamu jujur! Ada apa dengan Mas Doni?!"


"Bagas," panggilku sedikit tegas. "Aku istrinya, sudah sepatutnya aku tahu mengenai kondosi suamiku."


"Bos, Doni sedang tidur, Mba."


Aku menunggu.


"Tetaplah berada di sampingnya, Mba Sinta. Dia butuh seseorang untuk terus memotivasi."


Aku memdadak gagu, tidak bisa berkata-kata lagi.


"Semoga dia bisa bertahan lebih lama lagi," lanjut Bagas dengan nada lirih.


Tiba-tiba aku merasakan sakit di dada. Tanganku mulai gemetar.


"Kau sedang berbicara dengan seseorang?"


Suara mas Doni!


"Tidak, Bos ... kau lanjutkan saja istirahatnya. Kita sebentar lagi sampai."


"Aku mulai lupa. Sinta ...."


Tutttt....


Panggilanku terputus. Saat aku mencoba kembali menghubungi Bagas, mendadak nomornya tidak aktif.


Kuusap wajah dengan telapak tangan. Menghembuskan nafas dengan perlahan. Aku harus berfikir jernih. Mas Doni akan baik-baik saja. Dia berolahraga hampir setiap hari, dia makan dengan baik dan bugar. Dia tidak pernah terlihat sakit.

__ADS_1


Tapi kalimat Bagas terus berputar di kepalaku. Bagas meminta aku tetap berada di samping mas Doni. Dan kemungkinan dia tidak bisa menungguku.


Dengan langkah gontai aku menuju lift yang akan membawaku turun ke lantai dasar. Langkah ku terhenti sebelum mencapai lift. Aku teringat mama.


Apa keluarga mas Doni ada yang tahu mengenai perubahan pada diri anaknya?


Kembali merogoh tas, aku mengambil telpon genggam dan menghubungi mama. Siapa tahu mama mengetahui sesuatu tentang mas Doni.


Panggilanku di angakt saat nada dering ke tiga.


"Hallo, Sinta," mama menyapa di seberang sana.


"Ma ...," aku menghela nafas untuk meredam suaraku yang sedikit bergetar.


Aku tidak boleh membuat mama panik.


"Ada apa Sinta?"


"Aku hanya ingin bertanya, apa mas Doni sselama ini mempunyai penyakit?"


"Tidak ada. Doni sangat menjaga kesehatanya. Memangnya kenapa?"


Mama tidak tahu.


"Ah, tidak ma. Aku hanya ingin tahu saja. Agar aku lebih tahu lagi mengenai mas Doni."


Setelah sedikit berbasa basi aku menutup panggilan.


***


Bagas dan Doni kini duduk bersebelahan di ruangan spesialis neurologist, untuk melakukan pemeriksaan.


"Bukankah sudah kubilang untuk segera memeriksakan kepalamu," kata Bagas sambil menoleh ke arah Doni.


Bagas merasa manusia di sebelahnya ini sangat keras kepala. Sebenarnya Doni sudah mengetahui ada yang salah dengan kepalany. Tapi dia menolak untuk memeriksakan dirinya.


"Andi (Neurologist) bilang dia sudah menghubungimu kemarin."


Doni mengangkat kepala dan tersenyum tipis, "Aku lupa jika dia mengajak bertemu, di kontak hanya kuberi nama N."


N, yang artinya Andi Neurolgist.


"Lagi pula .... mereka pasti akan meberikan vonis aku akan segera mati." Doni mengembuskan nafas perlahan seolah tahu penyakit yang sedang dia derita.


"Setidaknya kau tau penyakit apa yang ada di kepalamu itu. Akan lebih baik lagi jika kau masih punya harapan hidup." Bagas menyandarkan tubuhnya dan melipat tangan ke depan dada.


Doni mentap kosong ke arah tembok, "Sakit kepalanya sudah parah," Doni mendongak untuk menahan agar air matanya tidak keluar. "Dan aku tidak mau Sinta mengetahui kondisiku."


Tiba-tiba Andi masuk ke dalam. Membuat Bagas dan Doni menoleh serentak.


Andi duduk dan meletakkan lembaran hasil CT scan.


"Aku sudah melihat hasil CT scan." Andi menghela nafas sedikit ragu untuk berbicara. "Ada tumor di kepalamu."


Doni mengusap wajahnya dengan telapak tangan, tertunduk mendengar kalimat Andi. Dia sadar bahwa sebentar lagi akan mati.


"Masih ada kemungkinan sebelum tumornya berkembang menjadi kanker." Andi tersenyum.


Doni mengangkat kepalanya merasa tertarik dengan ucapan Andi.


"Tapi itu semua akan berjalan lancar jika kau bisa bekerja sama."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2