Bos Duda

Bos Duda
Ss 2 Bab 10


__ADS_3

"Apa kau tidak pernah membaca berita?" Mike menatap Rama yang sedang duduk dengan memangku salah satu kakinya. Dia heran kenapa Rama tidak mengetahui jika Doni sudah meninggal. Padahal beritanya menjadi trending utama di media masa.


Rama mengangkat wajahnya, "Iya, aku benar-benar tidak tahu. Papa juga tidak pernah memberitahukan, jika Doni meninggal. Padahal mereka rekan bisnis."


Mike mangangkat bahunya sekilas. Kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Daniel.


"Kenapa kau diam saja, Daniel?" tanya Mike.


Daniel menghela nafas dalam, "Aku tidak menyangka jika Sinta sebenarnya istri Doni."


Daniel masih terkejut, mendengar kabar yang baru saja keluar dari mulut Mike. Dia pikir Sinta masih lajang.


"Mungkin, karena dia tidak pernah tampil di depan kamera bersama, Doni," ucap Mike Ragu.


Sedangkan Rama masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Perasaannya sedikit lega karena dia tidak benar-benar mengganggu hubungan pernikahan Doni dan Sinta.


----


"Mau aku antar?" tanya Rama. Pria itu menawari tumpangan kepada Sinta, saat mereka keluar dari bandara.


"Tidak perlu," jawab Sinta acuh. Dia berjalan cepat menyeret kopernya untuk menghindari Rama.


"Aku tidak keberatan jika mengantarmu. Kau tidak usah malu-malu," ucap Rama sambil mengikuti langkah kaki Sinta.


Sinta berhenti dan langsung menoleh ke arah Rama. "Apa telingamu tuli? Aku tidak mau jadi jangan kau paksa," ujar Sinta kesal.


Rama menahan pergelangan tangan Sinta. Saat wanita itu akan berlalu dari hadapannya.


"Apa kau marah denganku?"


Sinta berontak saat pergelangan tangannya di genggam Rama. "Lepaskan dan menjauhlah," ucap Sinta tidak suka.


Sinta menatap tidak percaya ke arah Rama saat pria itu mempererat genggaman. Kenapa sikapnya cepat sekali berubah.


"Aku tidak mau!" tolak Rama.


Sudah cukup bagi Rama untuk menjauh. Saat ini dia akan benar-benar berusaha untuk mendapatkan hati Sinta. Ya, dia tidak akan mengulangi kesalahannya dulu, karena terlambat mengungkapkan perasaannya.


Sinta mendengkus untuk menormalkan emosinya. "Aku lebih senang, jika kau bersikap seolah kita tidak saling mengenal seperti biasanya," ucap Sinta. "Kau lupakan saja kejadian semalam."


RamaΒ  terkekeh, "Aku tidak akan pernah melupakannya." Sesaat mereka saling tatap. Ada kilat amarah di mata Sinta.


"Lalu maumu apa?" geram Sinta.


"Aku akan mengantarmu pulang." Rama menarik pergelangan tangan Sinta untuk mengikutinya menuju mobil.


"Tidak baik janda sepertimu pulang sendirian," lanjut Rama sambil membukakan pintu mobil untuk Sinta.


Sinta mengengkat salah satu alisnya saat Rama akan menutup pintu mobil. Ternyata Rama sudah tau jika statusnya janda sekarang.


Hanya ada keheningan saat mobil sudah melaju menembus jalan Raya. Sesekali Rama menoleh untuk melihat Sinta yang sedang fokus mentap ke arah luar jendela.


Sedangkan Sinta masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Kita semalam tidak melakukan apapun," ucap Rama memecah keheningan. Dia tahu Sinta pasti sedang memikirka kejadian semalam.


Sinta langsung menoleh ke arah Rama. "Maksudmu?"


"Jika kau berpikir kita semalam melakukan hubungan badan, kau salah besar," ucap Rama. Pria itu memberhentikan laju mobilnya, karena didepan lampu lalu lintas berwarna merah.

__ADS_1


"Lalu kenpa kau mandi pagi-pagi sekali? Dan kau bilang aku melakukan sesuatu." Wanita dengan bibir tipis itu bertanya dengan penasaran.


"Kau muntah itu yang akan aku ucapkan, tapi kau sudah memotong kalimatku. Mengenai mandi, itu karena aku kepanasan."


Rama melajukan mobilnya kembali saat lampu lalu lintas berganti warna.


Kemudian Sinta teringat sesuatu.


"Kau yang mengganti bajuku semalam?"


"Memang siapa lagi?" Rama menoleh sekilas, "mereka semua sibuk dengan pesta. Jadi, dengan terpakasa aku yang mengganti bajumu."


Sinta memberikan tatapan tajam ke arah Rama


"Jangan menatapku seperti itu. Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah menolongmu."


Sinta mendengus, "Aku tidak yakin, jika matamu tidak melotot saat mengganti pakaianku."


"Apa yang akan aku pelototi jika yang ada di sana semuanya rata," gerutu Rama.


"Apanya yang rata?"


Seketika Rama panik.


"I-itu... jalan rayanya sangat rata," jawab Rama gagap. "Pintar sekali mereka memilih aspal," lanjut Rama.


Sinta kemudian melipatkan tangan ke depan dada, bola matanya bergerak gerak mengamati Rama.


"Berhenti di mini market sebentar," perintah Sinta.


"Oke."


Rama menghela nagas lega. Dia pikir Sinta mendengar ucapannya tadi.


-----


"Aku tidak tahu," ucap Rania.


"Yang benar saja kau tidak tahu?" tanya Diska tidak percaya.


"Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan gosip. Kau tau kan? pekerjaanku sangat banyak."


"Sesekali kau harus mendengarkan berita. Agar hidupmu tidak terlalu kaku."


Bibir Rania mencebik, "Memang apa beritanya?"


Diska memperlambat langkahnya untuk berhenti.


"Nona Sinta, ternyata janda," ujar Diska. Tapi dia bingung saat tidak ada tanggapan dari Rania.


"Aku sudah tau," jawab Rania seraya melangkahkan kakinya kembali.


"Kau tau dari mana?"


"Tentu saja saat menanda tangani kontrak."


"Kenapa kau tidak pernah menceritakan padaku?"


"Untuk apa? Sudahlah kita jangan terlalu banyak bergosip. Aku sudah lelah," ujar Rania seraya menarik kopernya malas.

__ADS_1


-----


"Kenapa berhenti?" tanya Sinta saat mobil Rama menepi di pinggir jalan.


"Aku lapar."


Mereka melanjutkan perjalanan kembali setelah Sinta membeli keperluannya di mini market.


"Kau mau ikut atau di sini saja?" lanjut Rama.


"Aku disini saja?" jawab Sinta. Dia malas sekali ingin turun.


"Memangnya kau tidak lapar?"


Sinta menggeleng "Tidak," jawab Sinta.


Tapi sesaat kemudian bunyi aneh terdengar dari dalam perut Sinta. Rama menahan tawa saat mendengar bunyi itu.


"Sepertinya cacing di dalam perutmu yang lapar," celetuk Rama.


Sinta menunduk dan menggigit bibirnya menahan malu. Dia diam saja saat Rama membukakan pintu.


Setelah masuk ke dalam rumah makan dan duduk di bangku paling pojok, seoran wanita datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu.


Sinta membolak balikan buku menu untuk memilih makanan. Pilihannya jatuh kepada bakso pelakor. Tampilan bakso itu sangat menggoda dan ukurannya juga cukup besar. Begitu pun dengan Rama pilihan mereka sama hanya minumannya saja yang berbeda.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka akhirnya tiba.


"Silahkan," ucap wanita itu dengan senyuman. Senyuman genit ke arah Rama tepatnya.


Sinta menelan air liur saat dia membelah bakso dan didalamnya meleleh sambal cabai merah.


"Sangat menggoda," ujar Rama saat wanita tadi berlalu untuk melayani pelanggan lain.


"Siapa? wanita tadi?" tanya Sinta seraya mengunyah bakso yang baru masuk ke dalam mulutnya.


"Bukan," Rama menunjuk bakso barukuran besar di dalam mangkoknya.


Oh!


Setelah itu, mereka diam menikmati bakso yang mempunyai nama yang sedikit aneh menurut Sinta.


"Aku kekamar kecil sebentar," ujar Sinta meninggalakan Rama dengan terburu-buru.


Sinta melangkahkan kakinya menuju toilet seperti arahan pelayan di sana. Dia berhenti karena melihat wanita pemilik rumah makan sedang berpelukan dengan seorang pria.


Sesaat kemudian ada teriakan dari belakang Sinta. Dia adalah istri leleki itu.


"Dasar ********, berani kau selingkuh dengan wanita sialan ini!" teriak wanita yang datang dari arah belakang Sinta.


----


"Kenapa cepat sekali?" tanya Rama heran sambil mendongak menatap ke arah Sinta.


Sinta menghela nafas, "Aku tidak jadi."


"Kenapa?"


"Aku salah mengartikan. Yang pelakor itu bukan baksonya tapi orangnya."

__ADS_1


Bersambung...


🍁🍁🍁


__ADS_2