
"Kau mau ikut atau tidak?" tanya doni kepada Bagas, saat mereka sudah berada di area parkir supermarket.
"Aku mau cari makan dulu," ucap Bagas sembari melepas sabuk pengaman. "Jika, Bos sudah selesai telepon saja."
Doni mengangguk, lebih baik Bagas tidak mengekor mereka lagi. Itu bagus untuk kesehatsn telinga Doni yang dari tadi sudah berdengung, mendengar kicauan Bagas.
Mereka akhirnya, berpisah di area parkir. Doni dan Sinta berjalan meninggalkan Bagas Yang sedang merapikan rambut di kaca spion. Pada saat itu, tidak sengaja Bagas menangkap tangan Doni menggenggam lembut tangan Sinta.
"Aku tau sekarang wanita yang kau maksud, Bos," gumam Bagas, sambil menatap punggung Sinta.
Setelah itu, Bagas berjalan menuju restoran cepat sajinyang berada di supermarket. Karena cacing di perutnya sudah protes untuk segera diberi makanan.
ππππππ
Doni dan Sinta berjalan memasuki supermarket.
"Pak, kenapa kita mampir ke supermarket?" tanya sinta penasaran. Dia pikir mereka akan langsung ke apartemen.
"Jika di luar jangan panggil aku, Pak!" sela Doni tidak suka.
Sinta tersenyum, gadis itu lupa, jika sekarang mereka adalah pasangan kekasih. "Iya, kita kesini mau cari apa, Mas?"
"Membeli bahan makanan," jawab Doni. Sinta mengangguk mengerti. mungkin bahan makanan yang tersedia di apartemen Doni sudah habis.
"Aku ingin kau buatkan sambel terasi." Ucapan Doni Barusan sedikit membuat Sinta terkejut.
"Yang benar?!" tanya Sinta tidak percaya.
Β
Karena yang gadis itu tau, orang tua Doni punya alergi dengan terasi. Jadi, dia merasa aneh saat Doni meminta untuk dibuatkan sambel terasi.
"Iya, aku tidak pernah makan sambel itu." Doni diam sejenak untuk mengingat beberapa waktu lalu saat Sinta makan. "Sepertinya sambal terasi itu enak. Aku melihat kau sangat lahap menyantapnya."
Sinta tersenyum kaku kearah Doni. Di sebenarnya malu, karena dia memang sangat lahap jika sedang makan.
"Ya, sudah aku buatkan. Tapi makannya jangan banyak-banyak. Aku takut kau ada alergi," ucap Sinta sambil memilih bahan yang mereka perlukan.
Semua yang di perlukan sudah masuk kedalam keranjang. Malam ini, sinta akan masak ikan bakar, sambal terasi. Tidak lupa, Sinta membeli lalapan sebagai teman sambel terasi dan ikan bakar.
Saat berbalik, Sinta tidak menemukan Doni. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, akhirnya matanya menemukan direktur tampan kekasih hati.
Pria itu sedang memilih buah, dari jauh terlihat sangat mengagumkan. Jas yang dia pakai sudah dilepas, hanya menggunakan kemeja yang ia gulung sampai lengan. Tangan kekarnya yang sedang sibuk memilih buah, mbuat sinta gemas. Bibir itu yang sudah beberapa kali mendarat di bibir manis Sinta, juga tidak mau diam. Dari jauh, terlihat Doni sepertinya sedang menggerutu, membuat gadis itu tersenyum.
__ADS_1
Langkah Sinta terhenti, saat wanita dengan rambut sebahu menghampiri Doni. Dari tempat sinta berdiri dia melihat, sepertinya mereka sudah saling kenal. Doni hanya menjawab pertanyaan wanita itu dengan biasa, membuat sinta yakin bahwa Doni bukan lelaki mata keranjang. Tapi, lain dengan sang wanita, dari tatapan mata Sinta bisa memastikan bahwa wanita itu menyukai Doni.
Akhirnya, gadis itu putuskan untuk melangkah menghampiri kekasihnya. Sinta tersenyum, saat bersitatap dengan mata wanita itu.
"Mas, aku sudah selesai," ucap Sinta.
Doni yang tidak sadar akan kedatangan Sinta, langsung menoleh dan tersenyum.
"Ayo," ajak Doni sambil menggenggam jari Sinta.
Sinta menyadari, senyum manis yang berkembang di bibir wanita itu sedikit memudar, berganti dengan senyum sinis saat sinta menyapa.
"Saya permisi, Tiara," ujar Doni.
ππππππ
"Mas, wanita tadi itu siapa? tanya Sinta sembari berjalan ke arah kasir.
"Tadi itu, Tiara. Dekorator interior yang akan bekerja sama dengan perusahaan."
Sinta mengangguk, dia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi karena mereka sudah sampai di depan kasir.
Setelah selesai membayar mereka menuju parkiran. Sebelum itu, Doni lebih dulu menghubungi Bagas.
"Bagas, sudah menunggu di mobil. Sini belanjaannya biar aku bawa," pinta Doni.
"Ternyata, kau kekasih yang sangat perhatian," ucap Sinta sambil meninggalkan Doni.
Doni hanya melongo, melihat semua kantung plastik yang berjajar di dekat kakinya.
"Hey! kenapa semuanya?" ujar Doni yang kepayahan "Keterlaluan," gerutu Doni saat Sinta tidak menggubris ucapannya.
Sampainya di mobil, Doni sudah di sapa dengan senyum Bagas yang mengejek.
"Bos, kau romantis sekali," sindir Bagas.
"Jangan banyak bicara!" sungut Doni, "Jalankan saja mobilnya."
Setelah Bagas menjalankan mobil, Doni sedikit menggeser tubuhnya ke arah Sinta.
"Setelah ini, kau harus menerima hukuman," Bisik Doni.
Sinta diam tidak menjawab ucapan Doni. Yang dia pikirkan adalah hukuman apalagi yang akan di berikan. Padahal hukuman yang pertama saja belum selesai.
__ADS_1
"Ekheem!"
Deheman Bagas membuat Doni kembali memperbaiki posisi duduknya.
Bagas tersenyum, melihat tingkah Bosnya yang seperti pemuda sedang jatuh cinta. Sebenarnya Bagas ingin menggoda, tapi dia terlalu lelah karena seharian ini dia banyak bercerita.
ππππππ
Sampainya di apartemen, Sinta dengan cekatan langsung menyiapkan semua bahan untuk ikan bakar dan sambel terasi. Doni ingin membantu, tapi di cegah oleh Sinta.
"Aku tidak leluasa, jika kau ikut membantu. Lebih baik kau mandi saja," ujar Sinta saat itu.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, akhirnya Sinta menyelesaikan masakan. Doni yang berada di dalam kamar langsung keluar saat mencium bau harum makanan.
Mengenakan kaos berwarna hitam dan celana training. Doni berjalan menghampiri meja makan.
"Sepertinya sudah siap. Wangi masakannya dari jauh sudah tercium."
"Benarkah?" tanya sinta "Kalau begitu, ayo kita makan."
Sinta mengambilkan makanan ke dalam piring Doni.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sinta saat Doni memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Enak. Aku suka rasanya," dengan mata merah menahan pedas. "Besok kau masakan lagi yang seperti ini. Tapi, dengan lauk yang berbeda dan juga jangan terlalu pedas."
Sinta berhenti mengunyah dan menatap Doni dengan tidak percaya. "Kenapa harus aku? bahkan aku lebih terlihat seperti pembantu dari pada pacar," ujar Sinta tak terima.
"Tentu tidak. Mana mungkin pembantu secantik dirmu?" sanggah Doni.
Gadis itu, mengambil air putih dan meminumnya sampai tandas.
"Lalu, kalu bukan pembantu apalagi? Dua hari sekali, setelah bekerja aku harus membersihkan apartemen pacarku dan memberinya makan," papar Sinta.
Doni merasa keadaannya sudah gawat. Sebenarnya bukan bermaksudΒ menjadikan pacarnya sebagai pembantu. Lelaki itu hanya senang, jika Sinta terus berada di sekitarnya.
"Sudah, jangan marah lagi, besok kau tidak perlu membersihkan apartemen lagi," ucap Doni yang melihat raut muka gadisnya tertekuk. "Maafkan aku, jika membuatmu merasa seperti pembantu. Aku hanya senang, jika kau lama didekatku."
Seketika perasaan Sinta menjadi tidak enak.
"Kau masih maukan? Jika, kapan-kapan aku ingin makan masakanmu?"
Sinta mengangguk "Tentu."
__ADS_1
"Tapi kau sudah tidak marah, kan?" tanya Doni memastikan.
"Tidak. Asal hukuman ku selesai."