
Apa benar yang di katakan Tiara? jika Doni menerima tawaran Pak David berarti dia harus menikah denga Tiara. Pantas saja Doni selama ini terkesan menjauhiku. Lalu kenapa dia tidak berterus terang saja kepadaku. Bodoh sekali kau Sinta. Seharusnya kau bisa menebak itu sejak awal. Tentu saja uang yang lebih berkuasa.
"Keluarlah!" Sinta mengusir wanita itu dari ruangannya. Dia sudah tidak mau berbicara lagi dengan Tiara.
Sedangkan Tiara hanya tersenyum, tanpa berniat untuk meninggalkan ruangan Sinta, dia belum puas sebelum melihat Sinta menangis.
Karena melihat Tiara yang diam saja Sinta berniat meninggalkan ruangannya. Baru akan melangkah kakinya sudah di jegal oleh Tiara membuat Sinta jatuh tersungkur.
"Ohh maaf, aku tidak sengaja," ucap Tiara dengan nada kasihan yang di buat-baut.
Sinta berdiri dan melangkah ke hadapan Tiara. "Sebenarnya apa yang kau inginkan," desis Sinta menahan geram.
"Aku hanya senang jika kau terlihat menyedihkan." Tiara tersenyum bahagia. "Dan satu lagi aku ingin kau pergi dari hadapan Doni," ujar Tiara seraya mendorong bahu Sinta. "Wanita murahan sepertimu pasti bisa dengan mudah mendapatkan pria lain."
Tanpa menunggu lama Sinta meraih rambut Tiara. "Jaga ucapnmu. Kau pikir aku takut! Jangan mempermainkan emosi'ku!"
"Akhh" Tiara memegangi rambutnya yang di tarik Sinta. Gadis itu merasakan rambutnya seperti akan terlepas dari kepala. "Tolong lepaskan!"
Sinta tersenyum di depan wajah Tiara. "Bukanya kau tadi ingin bermain denganku? Jangan berpikir aku akan menangis Karena ucapan mu!"
Tiara terkekeh sambil menahan rasa sakit. "Setelah ini kau yang akan menangis."
Dan setelah Tiara menyelesaikan ucapannya tangan Sinta di tarik oleh Doni dengan kuat, membuat pinggang Sinta terbentur meja.
Sakit.
Tapi lebih sakit lagi saat melihat Doni lebih memilih menolong Tiara di bandingkan dirinya. Sinta tersenyum kecut melihat itu.
'Kau siapa Sinta? Doni pasti lebih memilih Tiara karena Ayahnya sangat berjasa di perusahaan ini.'
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku takut," ucap Tiara sambil memeluk Doni. "Aku hanya mengajak Sinta untuk pergi makan malam. Tapi dia menarik rambutku, karena dia tidak suka melihat aku berada di dekatmu," ucap Tiara dengan air mata palsu.
"Aktingmu bagus sekali," ujar Sinta yang merasa Tiara sedang memutar balik fakta.
Doni berdiri sambil memapah Tiara. Pria itu memandang Sinta dengan tatapan kecewa.
"Aku tau kau punya kemampuan bela diri tapi bisakah kau tidak menggunakannya disini."
"Seharusnya kau minta penjelasan dulu kepadaku. Jangan kau simpulkna sendiri apa yang kau lihat."
"Aku sudah melihatnya dengan jelas!"
Tiara tersenyum di pelukan Doni dia sedang merasa sangat puas sekarang, melihat Doni dan Sinta bertengkar.
"Aku tidak butuh sekertaris yang mempunyai sikap layaknya preman," lanjut Doni. Setelah itu Doni meinggalkan Sinta yang sedang berdiri di samping meja.
Luruh sudah bahu Sinta gadis itu merasa hubungan nya dengan Doni sudah berakhir.
Kekasihnya mengucapkan kalimat itu dengan nada kecewa tidak dengan nada keras. Tapi itu sangat berpengaruh bagi perasaan Sinta.
__ADS_1
'Ah apakah masih pantas di sebut kekasih? Sedangkan dia memeluk wanita dihadapanku.'
Gadis itu segera membereskan semua barang-barangnya. Dia butuh liburan untuk waktu yang lama.
'Doni tidak membutuhkan aku lagi. Dia akan menikah dengan Tiara. Aku harus pergi. Aku tidak mu mereka menatap kasihan kepadaku.' Itulah kat-kata yang berputar di otak Sinta.
Ucapan Doni barusan seolah perintah bahwa Sinta harus pergi dari hadapan Doni.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah kejadian itu Doni tidak melihat Sinta bekerja. Pria itu sangat merindukan Sinta. Padahal ucapannya tempo hari hanya ungkapan perasaan kecewa.
"Bos mbak Sinta mengirim surat pengunduran diri," ucap Bagas yang sudah duduk di depan meja kerja Doni.
"Jangan bercanda!"
Doni merasa Bagas sedang bercanda. Sinta hanya sedang kecewa saja terhadapnya mana mungkin dia mengundurkan diri.
"Aku tidak bercanda, lihat ini!" Bagas memberikan selembar surat pengunduran diri Sinta.
Setelah membaca Doni melempar surat itu kedalam kotak sampah.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Bagas.
"Mbak Sinta terlihat murung sejak Bos sibuk mengurus proyek itu."
"Aku sedikit mengabaikannya waktu itu. 'Dan kejadian kemari mungkin membutnya bertambah kecewa,' lanjut Doni dalam hati.
Doni menatap Bagas sekilas.
"Aku rasa mbak Sinta tida melakukan hal itu. Kau bisa menilai sendiri bukan, selama ini dia seperti apa saat berada di kantor?"
Doni juga sebenarnya tidak percaya Sinta bisa bersikap kasar kepada Tiara. Tapi Doni melihat kejadian itu dengan matanya.
"Aku pikir kau harus mencari kebenaranya terlebih dahulu."
Kebenaran? Doni mengulang ucapan Bagas. Pria itu seperti mendapat pencerahan. Seketiaka pria itu memperbaiki duduknya dan menatap Bagas.
"Aku baru ingat jika aku memasang Cctv didepan ruangan Sinta."
"Coba kita cek. Agar Bos tidak penasaran."
Setelah itu Doni membuka komputer dan melihat rekanan Cctv di depan ruangan Sinta. Disana terlihat jelas bahwa adegan di mulai saat Tiara menjegal langkah Sinta.
"Bos sepertinya yang memulai itu semua Nona, Tiara."
Doni tidak mendengarkan ucapan Bagas lagi. Pria itu keluar ruangan dengan langkah cepat menuju tempat kos Sinta.
"Aku ingin bertemu Sinta," ujar Doni saat bertemu dengan Gas di depan gerbang.
"Bapak terlambat. Dia sudah pergi dari kemarin."
__ADS_1
"Pergi, kemana?"
"Pulang kerumah orang tuanya di kampung."
"Apa kau tahu alamatnya." Gea mengngguk. "Tolong berikan alamat lengkapnya."
Setelah Gea memberikan alamat lengkap rumah Sinta Doni langsung pamit. Mungkin besok dia akan mengunjungi Sinta, untuk meminta maaf. Dan saat ini Doni harus bertemu dengan Tiara. Dia harus membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Berikan alamat apartemen'mu!" ucap Doni setelah panggilannya di jawab Tiara.
"Kau akan menjemputku, ya? Wah aku merasa sangat senang."
"Cepat kirim! aku segera kesana."
Tiara berpikir Doni akan menjemputnya, untuk janji makan malam mereka bersama karyawan lain. Nyatanya lelaki itu sudah membatalkan janji itu.
Sampai di apartemen Tiara, wanita itu menyambut Doni dengan senyum sumringah. Tiara sudah rapi dengan gaun yang sudah membalut tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan kepada Sinta"
"Melakukan apa?" tanya Tiara. "Kau tau kan Dia yang menarik rambutku."
"Aku sudah melihat semuanya. Jadi jangan berpura-pura lagi."
"Iya aku tau. Bahkan kau yang mendorong Sinta untuk menyelamatkan aku."
Doni menarik lengan Tiara. Dia sudah muak dengan kepura-puraan yang Tiara buat. "Aku sudah melihat Cctv. Jadi aku harap kau jangan menganggu lagi hubunganku dengan Sinta. Atau kau akan tau akibatnya."
Tiara sedikit terkejut tapi gadis itu menutupi dengan senyum sinis.
"Kalu begitu aku akan meminta Papa membatalkan perjanjian kalian."
"Lakukanlah! karena di antara kami tidak ada perjanjian apapun. Ayahmu yang bersedia membantu dengan sukarela."
Tiara mengapalkan tangan merasa kesal kenapa ayahnya tidak menepati janji.
"Kau tau aku sama sekali tidak tertarik dengan dirimu walaupun ayahmu menjamin akan memberikan semua sahamnya kepadaku."
Doni masih mencengkeram lengan Tiara membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Kau seharusnya sadar diri, kau tak lebih baik dari Sinta."
Setelah itu Doni menghempaskan tangan Tiara membuat gadis itu jatuh terduduk di lantai.
"Aku mencintaimu! Aku lebih baik dari Sinta! Kau harus tau itu.
"Doni berhenti! jangan tinggalkan aku!"
Pria itu meninggalkan Tiara tanpa peduli teriakan wanita itu. Kondisi Tiara cukup mengenaskan dia terlihar seperti orang gila.
Bersambung...
__ADS_1
🌺💐🌸🏵💮🌼