Bos Duda

Bos Duda
Bab 45


__ADS_3

"Lebih baik kita periksakan ke dokter," Sinta membimbing Doni membantunya untuk duduk bersandar. Kemudian dia mengambil telepon genggam berniat untuk menghubungi Dokter Andi.


Belum sempat membuat panggilan, Doni sudah merebut dan membanting ponsel milik Sinta.


Brakk!


Sinta menghela napas, menatap telepon miliknya yang sudah terpisah dari bentuk semula.


"Keluar!" Bentak Doni.


"Aku mohon, jangan seperti ini. Dokter Andi bilang kau butuh perawatan."


Sinta menekan emosinya saat berbicara dengan Doni. Dia butuh kesabaran ekstra saat ini.


"Keluarlah," perintah Doni seraya bangkit dari duduknya.


"Kenapaka kau sangat keras kepala?"


Sinta menahan tubuh Doni yang akan pergi, "Kau sedang sekarat dan butuh perawatan saat ini."


Tanpa mengucapka sepatah kata Doni menyeret lengan Sinta untuk membawanya keluar dari kamar. Setelah itu, Doni kembali dan mengunci kamar dari dalam.


"Buka!" teriak Sinta.


"Hei, pria brengsek!" Sinta menggedor-gedor pintu dari luar.


"Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?" teriakan Sinta mulai memelan, "kenapa kau tega sekali membuatku seperti ini?"


Sinta meresot tubuhnya bersandar pada pintu. Air mata Sinta kembali menetes, Doni tidak menjawab sama sekali panggilannya.


Kemudian dia bangkit dan berjalan menuju sofa. Sepertinya malam dia akan tidur di luar.


***


Pagi hari Sinta sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya, matanya sembab karena menangis semalam.


Terdengar suara langkah Doni yang mulai mendekat, Sinta membalik tubuhnya dan mendapati Doni tersenyum ke arahnya. Sinta membalas senyuman itu, tapi dia merasakan tatapan Doni berbeda.


"Apa kau asisten rumah tangga yang baru?" Doni bertanya sambil menarik kursi untuk dia duduki.


Sinta diam, piring yang dia pegang sedikit bergetar. Tiba-tiba matanya memanas.


"Makanlah," Sinta meletakan piring dengan menunduk.


Doni merasa bingung dengan sikap wanita yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


"Masakanmu enak juga," Doni menyuapkan makanan dengan lahap, "seperti tidak asing dengan rasa masakan ini."


Sinta mendongak dengan mata yamg berkaca-kaca. Andi bilang pada kasus ini memang biasa terjadi, jika penderita tumor ingatannya melemah. Mungkin Sinta harus terbiasa jika Doni sewaktu-waktu melupakannya.


Perlahan ingatan Doni kembali pulih, dia ingat jika wanita di depan adalah Sinta. Dia mendongak untuk mentapa Sinta.


"Aku harus pergi." Doni berdiri menyudahi makannya. Dia benar-benar tidak ingin melihat wajah sedih Sinta.

__ADS_1


Sedangakan Sinta hanya diam, menatap tubuh Doni yang berlalu meninggalkanya. Kemudian Sinta berlari mengejar Doni, dia ingin bertanya suaminya akan pergi kemana. Tapi sampainya di depan mobil Doni sudah berlalu.


***


Di taman bunga milik Sita banyak pot dan tanah yang berserakan. Diana sedang mencoba untuk menanam bunga, mengalihkan rasa sedihnya.


Tiba-tiba dari arah samping Doni merebut pot yang di pegang Diana.


"Seharusnya kau menggunakan ke dua tanganmu untuk memasukan tanah ke dalam pot," komentar Doni yang sedang berjongkok di samping Diana.


Diana ingat, Doni pasti akan bersikap seperti ini saat dia melakukan sesuatu. Dadanya terasa sesak saat mengingat masa dimana dia sering bertengkar dengan Doni karena masalah sepele.


"Lihatlah ini!" Doni meraih tangan kakanya, "kukumu hitam semua karena tidak menggunakan sarung tangan."


Diana melihat tanganya dengan mata yang berkaca-kaca. Nanti, apakah ada yang akan mengomentarinya lagi? dia bertanya tanya di dalam hati. Dia merasa ini terlalu cepat. Bahkan adik kurang ajarnya itu belum memberikan dis keponakan.


"Dimana Mama?"


"Mama, sedang mengupas bawang." Diana mengucapkan itu dengan suara bergetar menahan tangis.


Mata Doni memanas, teringat semua orang yang ada di sekitarnya sedih. Tanpa mengucapkan sesuatu Doni berdiri meningalkan kakaknya.


Saat memasuki dapur, Doni melihat ibunya sedang duduk di lantai dengan beralaskan karpet. Banyak bawang yang sudah ibunya kupas.


Doni mengambil tempat didepan ibunya yang sedang mengupas bawang.


"Ma, jangan menunduk, aku ingin melihat wajahmu yang seksi." Doni mendekatkan wajahnya.


Sita tak bisa menahan tangisnya lagi.


"Diana bilang, jika mengupas bawang dengan kaca mata hitam, Mama tidak akan menangis," ucap Sita dengan terisak. "Tapi kenapa masih menangis?"


Sita menahan kesedihan yang mendalam. Dia tidak sanggup menatap wajah putranya. Kenapa takdir sangat tidak adil. Seharusnya yang di berikan penyakit adalah dirinya.


"Sepertinya Mama harus membasuh wajah dulu." Sita meninggalkan Doni masih dengan tangisannya.


Sampainya di kamar Sinta langsung melampiaskan tangisannya. Dia menangis pedih tanpa menahannya lagi, Sita mencurahkan semua kesedihannya.


Doni masih duduk di sana saat Sita berlalu dari hadapannya. Dia menahan kesedihan yang sama dalamnya dengan Sita.


Doni menunduk dan terdiam untuk beberapa saat.


"Kau sedang apa, Nak?"


Pak Diharja menepuk bahu anaknya yang sedang menunduk.


"Aku sedang menunggumu, Pa." Doni menatap pak Diharja dengan senyum ceria, sikapnya saat ini seperti remaja. "Aku di terima di perguruan tinggi yang aku impikan."


Pak Diharja ikut duduk di sebelah Doni, matanya berkaca-kaca menatap anaknya.


"Aku berharap cepat menyelesaikan pendidikanku. Agar aku bisa membantumu di perusahaan."


Pak Diharja tidak bisa menahan tangisnya lagi.

__ADS_1


"Papa sepertinya kurang sehat." Doni menatap Pak Diharja yang sedang menutupi wajahnya. "Jika aku pergi Papa harus jaga kesehatan dengan baik." Doni mengutarakan harapanya dengan wajah polos khas remaja.


Tangis pak Diharja tak tertahankan lagi saat Doni sudah pergi. Dia menyadari betapa buruk kondisi anaknya saat ini.


Doni berjalan keluar melewati pintu besar kediaman orang tuanya. Ponselnya bergetar, notifikasi menujukan ada pesan masuk dari Sinta.


"Sinta?" Doni tertegun keheranan.


Saat membuka kunci pada layar ponsel, dia menatap fotonya dengan Sinta yang di jadikan sebagi tema. Ingatan Doni kembali pulih, dia buru-buru melangkahkan kakinya untuk pergi.


Sampai tengah hari Doni belum juga pulang. Sinta merasa khawatir, pesannya sudah terkirim tapi tidak di baca oleh Doni.


Suara ketukan pintu membuatnya merasa lega, awlanya Sinta mengira yang datang adalah Doni. Namun yang mengetuk pintunya ternyata kurir yang mengantarkan makanan.


Sinta melekatkan makanan itu di atas meja. Dia hanya menatap, tidak berniat untuk memakannya, meskipun ia merasa nyeri pada perutnya.


Sinta kembali menghubungi ponsel suaminya, tapi panggilannya tidak ada satupun yang di angkat. Dia kembali memegangi perutnya yang terasa sakit. Wajah Sinta semakin pucat.


***


Sampainya di rumah Doni langsung mencari keberadaan istrinya. Saat kakinya sudah berada di ruang tamu, dia mendapati Sinta tengah tidur meringgkuk di sofa.


"Kau sudah pulang?"


Doni menghampiri Sinta tanpa menjawab pertanyaan istrinya. Dia menyentuh dahi Sinta yang terasa panas.


"Kenapa kau tidak panggil dokter?"


"Ini hanya panas biasa." jawab Sinta yang masih meringkuk.


"Ayo, kita ke dokter."


"Aku tidak mau."


"Kau bisa mati."


"Aku tidak peduli."


Doni menatap Sinta, "Ku ingin mati bersamaku?" tanya Doni sedikit kesal.


"Kenapa? apa tidak boleh?" Sinta membalas tatapan Doni.


"Dasar bodoh."


Sinta bangkit dari tidurnya, "Iya, aku memang bodoh." Sinta mentap tajam suaminya. "Bodoh. Kenpa aku mencintai suami yang sangat payah, sepertimu."


"Baiklah kita akan mati bersama."


Kemudian Doni membopong tubuh Sinta dan membawanya masuk ke dalam mobil.


**Bersambung...


🍁🍁🍁**

__ADS_1


__ADS_2