Bos Duda

Bos Duda
Bab 22


__ADS_3

Muak. Itulah yang Sinta rasakan saat ini, melihat tingkah tiara yang seperti dibuat - buat saat di dekat Doni. Pasalnya, hari ini Sinta harus menemani Doni untuk makan siang bersama Tiara.


"Kau mau yang ini?" tunjuk Tiara ke arah ayam panggang. "Ini enak sekali aku sering makan ayam panggang disini." Wanita itu sangat antusias saat berbicara.


"Tidak. Terimakasih."


"Atau kau mau ikan goreng? sambalnya sangat enak."


"Ini sudah Cukup!"


Spenggal percakapan antara Doni dan Tiara, membuat Makanan yang nikmat di atas meja terasa biasa saja. Sinta yang duduk di depan Doni, hanya bisa menghela nafas kesal karena mendengar celotehan tidak bermutu wanita itu. 'Kapan ini akan berakhir.'


"Makanlah yang banyak. Kau hanya makan sepotong ayam, itupun tidak habis-habis."


Sinta menatap Doni tidak mengerti.


Setelah itu, Doni menggeser mangkuk berisi sayur berkuah ke dekat Sinta. Sinta melirik sekilas ke arah Tiara sepertinya wanita itu nampak kesal karena Doni lebih memperhatikan dirinya.


"Terimakasih." Sinta tersenyum kearah Doni dan mengambil sedikit sayur yang di sodorkan pria itu.


Semua tidak luput dari perhatian Tiara. Wanita itu sedikit membanting sendok saat mengambil air minum.


Β 


"Kau manja sekali, Sinta. Untung bosmu sangat perhatian. Mungkin dia khawatir, jika karyawannya sakit," ucap Tiara dengan senyum palsu.


"Ah, iya. Bos memang sangat perhatian padaku," Sinta membalas ucapan Tiara dengan tersenyum.Β 


Doni ingin menyela ucapan Tiara, tapi Sinta memberi kode agar pria itu tidak melanjutkan ucapannya.


"Setelah ini kau mau kemana? kalau tidak ada acara, aku ingin mengajakmu ke galeri. Ada barang baru yang mungkin kau suka. Aku bisa memberikan diskon untukmu."


"Sepertinya, aku tidak bisa menemani kalian. Aku harus kembali, masih ada urusan yang harus diselesaikan."


Sinta tahu pertanyaan itu di ajukan hanya untuk Doni. Kalimat yang barusan dia ucpkan hanya basa basi. Sinta sudah tidak tahan lagi, jika harus berdekatan dengan Tiara. Gadis itu putuskan untuk tidak ikut. Dia lebih memilih pulang ke kantor untuk mengerjakan tugas. Biarkan saja jika kekasihnya ingin menerima tawaran dari Tiara, Sinta tidak bisa melarang.


"Maaf, Tiara aku tidak biasa. Aku harus pulang bersama sekretarisku."


Ada raut kecewa saat Doni menolak tawaran Wanita itu. Tapi setelah itu Tiara memasang wajah termanisnya.


"Tidak apa. Mungkin lain waktu kau bisa mampir."


Doni hanya tersenyum tidak menolak atau menerima tawaran Tiara.


Setelah itu, mereka melanjutkan makan dalam diam.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


"Kau kenapa?" Doni yang sedang menyalakan mesin membaca raut wajah Sinta yang tertekuk.


"Aku hanya merasa sedikit kesal."


Sinta menyandarkan kepalanya di jok mobil. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang menuju kantor.


"Kau cemburu?" Tebak Doni yang membuat Sinta lansung menoleh kearah pria yang sedang fokus mengemudi.


"Apa aku terlihat seperti itu?"


"Dari tadi wajahmu selalu di tekuk. Bahkan, makanan yang berada di dalam piring hanya kau jadikan hiasan."


Sinta menghela nafas, berarti Doni dari tadi memperhatikan dirinya. Apa benar dia cemburu?

__ADS_1


"Tidakkah kau merasa sikap Tiara terlalu berlebihan?"


"Mungkin dia akan menjaga sikapnya, jika tau kita menjalin hubungan."


Sinta tersenyum remeh. Tidak tahu bagaiman? bahkan Tiara dengan terang - terangan mengajak dirinya untuk bersaing. Tapi, Sinta berpikir ulang untuk apa repot - repot bersaing, kenyataannya Doni sekarang sudah menjadi kekasihnya sekarang.


"Ada yang lucu?"


Doni menatap sekilas kekasihnya yang sedang tersenyum.


"Iya, Tiara sangat lucu."


"Sebenarnya, tadi aku ingin memberi tau Tiara. Tapi kau melarang."


"Kau tidak perlu repot untuk memberitahunya."


Doni mengangguk, "Baiklah."


Tidak memakan waktu lama mereka sudah tiba di area kantor. Saat akan mematikan mesin, hape Doni berdering pertanda ada panggilan masuk.


"Siapa yang menelpon?"


"Papa."


Doni memberi isyarat agar Sinta diam sebentar.


"Ada apa, Pa?"


.....


"Iya, nanti aku pulang."


"Iya, Papa tenang saja."


Setelah itu, Doni menutup sambungan telpon.


"Nanti aku tidak bisa mengantar pulang."


"Ada masalah?"


"Tidak ada. Kakak berada dirumah sekarang, dan aku harus pulang."


"Iya, aku tidak apa," ucap Sinta, "Oh, iya? sepertinya aku pernah melihat kakak perempuanmu, tapi aku lupa di mana tempatnya."


"Mungkin di majalah."


"Bukan. Sepertinya, aku pernah bertemu di suatu tempat, tapi aku lupa di mana tempatnya."


Doni mengangkat bahunya merasa pernyataan Sinta tidak perlu dijawab.


"Kau masih mau disini saja?" Pria itu menatap ke arah Sinta yang masih diam.


Sinta langsung turun dari mobil, saat mendengar teguran dari kekasihnya dan setelah itu, Sinta mengikuti langakah kaki Doni yang lebar.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Matahari mulai tenggelam, saat Sinta keluar dari tempatnya bekerja. Doni sudah pulang terlebih dahulu sesuai dengan ucapannya tadi siang.


"Jam segini angkutan umum pasti susah."


Sinta berdiri di tepi jalan sambil menunggu angkutan umum. Gadis itu sesekali melihat layar ponsel untuk memastikan, apakah ada taxi online yang bisa dia pesan.

__ADS_1


"Hai, Nona!"


Rama menyapa Sinta yang masih terpaku pada layar ponsel. Pria itu menghentikan mobil tepat di depan Sinta.


"Aku pikir mobilmu taxi yang aku pesan?"


Sinta memberi kode agar Rama membuka pintu mobil. Gadis itu memasuki kendaraan beroda empat milik Rama, berniat untuk menumpang.


Rama mendengus, "Kau sedang demam? Mana ada taxi online pakai ferrari."


Sinta tertawa, "Bisa saja sang pemilik mobil sedang bangkrut."


"Kau menyumpahi aku," ujar Rama. Pria itu langsung menyalakan mobil untuk mengantar Sinta pulang.


"Kau tau? sepertinya kita berjodoh."


Sinta yang masih menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan roda empat itu langsung tertawa terbahak.


"Sepertinya, jalanan yang macet membuat otakmu sedikit geser."


"Aku serius. Kita selalu bertemu pada saat tidak terduga."


"Iya, terserah kau saja."


Sinta mengiyakan ucapan Rama karena malas berdebat dengan pria di sampingnya.


"Lagi pula, kau juga belum punya kekasih. Kenapa kau tidak coba denganku saja?"


"Kau pikir beli baju?"


"Aku serius, Sinta."


Sinta menarik nafas perlahan. "Aku nyaman seperti ini, Rama."


"Kenapa? Aku tampan uangku juga banyak.


"Bukan seperti itu. Kau tampan jadi tidak susah untuk mencari gadis yang lebih baik dariku." Sinta menatap Rama, "Lagipula, aku sudah punya kekasih."


Rama tersenyum, "Baiklah, aku pikir kau seperti gadis lain yangΒ akan terpesona dengan ketampanan dan uang yang aku punya."


Sinta memukul bahu Rama, merasa sedang menjadi objek kejahilan pria di sampinya.


Tanpa Sinta ketahui, Rama hanya sedang menutupi rasa kecewanya. Padahal di hatinya dia sangat menginginkan Sinta. Tapi pada kenyataannya gadis yang dia suka sudah ada kekasih.


Jika menurut Sinta hubungan mereka yang seperti ini cukup nyaman Rama akan melakukannya. Jika untuk memiliki Sinta tidak bisa maka Rama akan memilih tetap di samping Sinta.


Melihat gadis yang dia suka tersenyum mungkin itu cukup untuk dirinya.


Bersambung...


πŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉ


Rama : Thor piknik yuk. Gue lagi patah hati nih.


Doni : Emang enak..


Author : Hayuk lah..


Maapin Author yang telat Up ya. Karena tugas negara yang tidak bisa di tunda.


Miss u....

__ADS_1


__ADS_2