Bos Duda

Bos Duda
Bab 12


__ADS_3

Hampir satu minggu Doni merasakan bahwa Sinta seperti menjaga jarak dengan dirinya. Dia tidak akan berbicara jika bukan hal penting. Sebenarnya Doni sudah merasa aneh dengan ucapan Sinta tempo hari di apartemen.


"Temani aku makan siang!" ucap Doni yang sudah berdiri di depan meja kerja Sinta.


Sinta melirik sekilas "Aku sudah makan, Pak!"


Seperti itu, selalu saja ada penolakkan. Doni hanya menghela nafas. Wanita memang sangat rumit. Dia tidak tahu apa kesalahannya hingga Sinta mengabaikannya seperti ini.


"Saya tidak apa-apa." Itulah, jawaban Sinta saat Doni bertanya.


"Apa dia sedang datang bulan?" batin doni berucap.


Setiap dua hari sekali, saat pulang Doni mendapati makanan sudah siap di atas meja. Sedangkan gadis itu sudah tidak ada di apartemen. Doni berfikir apa gadis itu sedang menghindarinya.


Saat tengah asik berfikir tiba-tiba dering telepon mengusik.


"Pak, ada yang ingin bertemu." Ucap Sinta dari sambungan telepon.


"Siapa?"


"Nona, Rena." Doni tersenyum samar ada ide yang terlintas di otaknya.


"Suruh dia masuk!"


Rena adalah model yang akan bekerja sama dengan perusahaan. Paras yang cantik dan bodi aduhai membuat siapa saja mengagumi dirinya. Tapi tidak dengan Doni, dia merasa Rena biasa saja. Walaupun dia tahu bahwa Rena menyukainya sejak lama. Tak jarang dia menggoda Doni dengan pakaian minim, yang memperlihatkan bagian lekuk tubuh Rena.


Suara sepatu berhak tinggi menggema di ruangan Doni. Wanita dengan dress warna toska itu berjalan meliuk ke arahnya.


"Hai, Don!" suara mendayu itu menyapa. "Kau susah sekali, aku hubungi," ucap Rena sambil mencium pipi Doni.


Sebenarnya Doni ingin menghindar tapi kalah cepat. "Ada perlu apa?" ucap Doni yang mulai muak dengan sikap Rena.


Rena duduk di sofa dengan menyilangkan kaki, dress yang ia pakai tersingkap memperlihatkan paha putih miliknya. Dia sengaja melakukan itu agar Doni tergoda.


"Aku ingin lihat apartemen."


 


"Kenapa tidak langsung ke bagian pemasaran?"


Rena mendengus "Aku hanya ingin kau yang menemani," ucapnya manja.


Baiklah, Doni berfikir ini kesempatan baik untuk membalas Sinta. Rena cukup liar, jadi dia tidak perlu bersusah payah untuk berusaha.


"Oke, kita pergi bersama sekretarisku."


"Kenapa dia ikut? kita pergi berdua saja."


"Kalau kau tidak mau, kita batalkan saja."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sinta sudah diberi tau Doni, jika mereka akan pergi ke blok B, dimana gedung apartemen mewah berada. Mereka akan menemani Rena memilih apartemen.

__ADS_1


Mereka jalan beriringan keluar gedung perkantoran. Sinta mengekor di belakang sedang Rena begelayut manja di lengan kekar Doni.


"Aku ingin muntah melihat tingkah wanita itu," ujar Sinta dalam hati.


Hari ini, Sinta bertugas sebagai sopir, ini sudah perintah jadi dia tidak bisa protes.


"Sopir sedang sakit, jadi kau yang mengemudi," ucap Doni sambil melempar kunci mobil.


Sinta hanya memandangi kunci mobil yang berada di tangan.


"Hey! cepat. Kau ingin membuat kakiku kram, karena lama menunggu?" sindir Rena.


Sinta menghela nafas dan berjalan menuju mobil.


"Sabar Sinta, kau sedang di uji.


Saat dalam perjalanan, Sinta sesekali melirik ke arah kaca yang memperlihatkan dua orang yang sedang asik ngobrol di kursi belakang.


"Menyebalkan sekali. Tidak tahu kah dia? Seminggu ini aku harus berjuang dengan sangat keras, untuk tidak berbicara dengannya. Dan sekarangn dengan entengnya dia menyuruhku menjadi sopir, sedangkan dia asik berduaan dengan model itu," ucap sinta menggerutu.


Tanpa Sinta sadari Doni ternyata juga melakukan hal yang sama. Dia tidak fokus pada obrolan. Dia hanya sibuk melirik gadis yang dirindukan akhir-akhir ini.


Setelah sampai, Sinta menurunkan Bos dan model itu di pintu masuk gedung apartemen. Sedangkan Sinta memarkirkan mobil terlebih dahulu.


Saat Sinta tiba Doni dan Rena sudah menunggu di depan lift.


"Lama sekali. Seharusnya kau tidak usah ikut," Gerutu Rena


Doni hanya menatap datar. Sebenarnya dia tidak rela gadis nya di perlakukan seperti itu.


Setelah itu, Doni menjelaskan tipe-tipe apartemen yang ada di gedung ini. Model itu mendengarkan dengan antusias.


"Aku pilih tipe Penthouse saja." Pilih Rena pada salah satu tipe apartemen.


Mereka memasuki lift menuju lantai atas. Rena tidak melepaskan tangannya dari lengan Doni. Pria itu, sebenarnya risih tapi demi misinya dia harus bertahan. Sesekali Doni melirik Sinta yang hanya diam.


"Setelah dari sini, kau makan denganku." Tawar Doni kepada Rena.


"Mau!" Rena yang memang sudah menunggu saat seperti ini langsung mengangguk antusias.


Sebenarnya ajakan itu hanya trik Doni saja untuk membuat Sinta panas.


Tapi dugaannya salah gadis itu hanya diam tidak menunjukkan reaksi apapun.


Tanpa mereka ketahui hati Sinta sebenarnya sedang mengumpat dan memaki Doni.


Setelah sampai, mereka masuk ke apartemen yang dipilih Rena. Doni langsung menjelaskan detail yang ada didalam nya.


Rena yang dari tadi sudah tidak suka dengan Sinta, berjalan menghampiri dan menatap gadis itu.


"Hey! kau. Belikan aku kopi," ucap Rena sambil memberikan uang pecahan seratus ribu. "Biar kau terlihat sedikit berguna," bisik Rena agar Doni tidak mendengar.


Sinta menarik nafas berat dan mengeluarkannya. Dia sedang meredam emosi yang siap meledak.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama dia mengambil uang itu dan pergi.


"Ren! bisa jaga cara bicaramu," ucap Doni.


"Aku hanya menyuruh dia beli kopi. Memang salah?"


"Tidak. Tapi cara bicaramu sangat tidak sopan."


"Mungkin hanya perasaanmu saja."


Doni berdiri dari duduknya. "kau mau kemana?" tanya rena cepat.


"Toilet."


Saat Doni di toilet Sinta membawa dua cup kopi pesanan Rena.


Tanpa bicara Sinta meletakan kopi.


"Aku ingin capuccino kenapa kau belikan kopi hitam?"


"Jika kau tidak suka, beli sendiri." Sinta menjawab dengan datar.


"Kau ... berani melawanku!" Rena menatap bengis mata Sinta. Setelah itu, Rena menyiram baju Sinta dengan kopi.


Sinta tersenyum sinis, lalu berjalan kearah Rena dan mencengkeram pipinya. Akhirnya, dia bisa melampiaskan emosi.


"Kau bodoh! menyiram kopi pada baju yang berwarna hitam" ledek Sinta. "Biar aku ajari caranya" Sinta mengambil kopi dan menyiramkan ke wajah mulus Rena.


Gadis 22tahun itu melakukannya dengan tatapan datar. Membuat Rena ketakutan. Dia tidak menyangka sekretaris Doni seberani ini.


"Sinta! Hentikan!" teriak Doni dari arah toilet.


Sinta menarik nafas dan melepaskan cengkeraman tangan di pipi Rena.


"Apa yang kau lakukan?" geram Doni.


"Tanya saja dengan wanita rubah itu."


"Jaga bicaramu."


"Aku pulang." Melempar kunci mobil ke atas meja.


Saat akan menyusul Sinta, lengan Doni di tahan oleh Rena. Pria itu menjatuhkan badannya di sofa.


"Jelaskan padaku," tanya Doni Datar.


"Maaf Don, aku yang mulai," jawab Rena jujur.


"Brengsek!"


Setelah itu Doni berlari mengejar Sinta.


 

__ADS_1


__ADS_2