
Sesuai pemintaan Sinta. Rama melajukan mobilnya menuju pasar malam. Walau sebelum itu harus ada perdebatan di antara mereka terlabih dahulu.
"Kita mau kemana?" tanya Rama saat akan menyalakan mobil.
Sinta masih diam dengan memegang dagunya. Gadis itu sedang berfikir kemana mereka akan pergi.
"Em... Aku mau ke pasar malam."
Mungkin dengan pergi kepasar malam dia bisa sedikit melupakan rasa kesalnya terhadap Doni.
Sedangkan Rama merasa tidak percaya Sinta mengajaknya untuk pergi ke tempat terkutuk itu. "Aku tidak mau! kenpa tidak ke tempat lain saja?
"Aku tidak bituh persetujuanmu! Kau sudah menjadi supirku sekarang. Jadi menurut saja!"
Rama membayangkan ramainya tempat itu saja sudah membuatnya merasa ngeri. Dulu sewaktu kecil dia pernah ketempat itu denga ibunya. Karena wajahnya yang menggemaskan dan lucu ada seseorang yang berniat menculik dirinya. Dan kejadian itu terulang lagi saat dia beranjak dewasa. Dia hampir saja menjadi korban penculikan seorang tante-tante yang sangat menyukai dirinya.
"Aku takut di culik," ucap Rama dengan wajah khawatir.
Seketika Sinta tertwa kencang mendengar ucapan Rama. "Kau sudah tua, siapa yang akan menculikmu," ucap Sinta, seraya memegangi perut yang terasa sakit akibat tertawa.
Rama mendengus melihat Sinta yang sepertinya tidak mempercayainya.
"Aku tidak bercanda. Kenapa kau seperti tidak percaya," ucap Rama dengan mimik serius.
"Aku pikir... kau sedang bercanda." Sinta menyeka air yang keluar dari sudut mata.
"Dua kali hampir di culik saat pergi ketempat itu," ucap rama serius.
"Benarkah?" Sinta tidak menyangka jika dulu Rama hampir menjadi korban penculikan.
"Yang terakhir membuatku takut untuk bertemu dengan wanita yang bermake up tebal. Aku hampir di culik wanita yang umurnya jauh di atasku." Rama mentap Sinta dengan wajah sedih.
"Aku tidak menyangka jika kau pernah mengalami hal buruk itu."
"Bahkan sekarang juga tidak berubah, banyak gadis yang mengejar diriku. Mungkin karena wajahku yang sangat tampan."
Kalimat terakhir Rama membuat Sinta memutar bola mata malas. Rasa iba Sinta seketika lenyap terbawa angin.
'Dasar pembual.'
"Kali ini aku pastikan, tidak akan ada yang mau menculikmu," ucap Sinta dengan nada kesal.
"Kau harus janji, tidak akan meningalkanku. Jika kau ke toilet aku juga harus ikut."
Sinta menatap tidak percaya ke arah Rama. Dia seperti mengajak pergi seorang anak kecil. Di awal pria itu merengek meminta imbalan dan sekarang ke toilet di harus membawa bayi besar itu ikut bersamanya. 'Yang benar saja!'
"Kalau begitu, akan aku tahan supaya tidak ke toilet."
"Oke. Kita berangkat."
Dan disinilah mereka sekarang mencoba satu persatu wahana yang berada di pasar malam.
"Hueekk" Rama memuntahkan isi perut. Dia dipaksa Sinta menaiki kora-kora yang membuatnya pusing dan mual.
Tanpa memperdulikan Rama, Sinta berjalan meninggalkan pria yang sedang muntah itu. "Ayo, kita sekarang masuk Rumah Hantu!" teriak Sinta.
Rama hanya menatap tidak percaya. Sinta sama sekali tidak merasa iba terhadap kondisinya. Tapi demi hadiah yang akan Sinta berikan nanti, membuat dia menuruti kemauan gadis yang berdiri di sampingnya.
"Kau takut?" tanya Sinta setelah mereka keluar dari Rumah Hantu.
"Tidak! Mereka semua hanya hantu bohongan kenapa aku harus takut?"
"Lalu, kenapa kening'mu berkeringat?"
"Aku begini karena menahan mual," ucap Rama sambil menyeka keringat.
__ADS_1
"Kau masuk angin?" tanya Sinta khawatir. "Ya ampun! kenapa tidak bilang dari tadi."
"Aku bukan masuk angin. Ini semua karena kau memaksa untuk menaiki wahana sialan itu."
"Pftt..." Sinta menahan tawa. "Kau kampunagan sekali. Menaiki wahana seperti itu saja muntah."
Rama hanya mendengus mendengar ucapan Sinta. setelahnya Gadis itu memberi kode agar Rama mengikuti langkah kakinya. Dia ingin melihat atraksi sulap.
"Hei lihat pesulapnya heb--" Uacapan Sinta terputus karena saat menoleh Rama tidak ada di sampingnya.
Seketika sinta panik merasa takut jika yang di ucapakan Rama menjadi kenyataan. "Kemana dia?"
Gadis itu berjalan mengitari seisi pasar malam, tidak juga di temukan dimana pria itu berada.
Sinta berhenti sesaat, mengatur nafasnya yang kelelahan. Saat akan melanjutkan pencarian dari belakan ada yang menepuk bahunya.
"Kau-"
Ucapan Sinta terhenti karena Rama langsung menyodorkan permen kapas besar di depan wajahnya.
"Untukku?" tanya Sinta.
Rama mengangguk. "Makanlah! Tapi setelah ini kita pulang."
"Apa ini sebuah sogokan agar aku mau pulang?"
"Tepat! Aku sudah lelah mengikutimu. Kau seperti anak ayam yang lepas dari kandang."
Sinta tidak menjawab ucapan Rama. Dia malah melangkahkan kakinya meninggalakan pria itu. "Kau mau kemana?"
"Pulang! Kau bilang sudah lelah," ucap Sinta sambil memasukkan permen kapas ke dalam mulutnya.
"Jangan ulangi lagi yang tadi. Aku panik mencari kemana kau pergi." Rama yang berjalan di belakang Sinta tersenyum. Gadis itu ternyata menghawatirkanya.
"Aku mau menagih janji," ujar Rama saat mereka sudah sampai di tempat kos Sinta.
"Aku malu," ucap Sinta menunduk. "Bisa kau tutup mata, dan tolong pintunya jangan di kunci. Agar aku bisa langsung keluar setelah memberi kiss," cicit Sinta.
Rama menuruti semua yang di perintahkan Sinta.
'Mungkin Sinta itu malu untuk melakukan ini. Jadi dia meminta pintu mobil jangan di kunci agar dia bisa keluar setelah memberi aku kiss. Mungkin juga Sinta takut aku melihat wajahnya yang mereh menahan malu. Ah manis sekali!!'
Rama kemudian memajukan bibirnya. Dan setelah itu Rama merasakan benda dingin keras mendarat di bibirnya.
'Apa Sinta sedang kedinginan? kenapa rasanya dingin.'
Blam!
Suara pintu mobil di tutup.
'Jika Sinta sudah keluar lalu apa yang berada di bibirku?'
Rama kaget saat membuka mata dia mendapati permen yang menempel di bibirnya.
"Astaga! Jadi dia hanya memberi permen."
Rama melongok dari pintu mobil.
"Hey bukan ini yang aku maksud!" teriak Rama yang melihat Sinta akan membuka gerbang.
Sinta tersenyum tanpa Dosa. "Kau baca saja tulisan disana!"
"Kiss!" gumam Rama saat membaca bungkus permen yang berada di tangannya.
Sinta terkekeh melihat wajah bodoh Rama. "Terimakasih sudah mau menjadi supirku hari ini." Setelah itu Sinta menutup gerbang dan melambaikan tangan ke arah Rama. "Da dah..."
__ADS_1
"Brengsek!" umpat Rama karena merasa dibodohi oleh Sinta.
Setelah itu Rama tersenyum. "Kau semakin membuatku penasaran.
Tanpa mereka sadari Tiara menyuruh orang untuk mengikuti mereka. Dia sedang tersenyum menyerinagai menatap Sinta dan Rama di dalam foto yang anak buahnya dapat.
"Mungkin ini bisa dijadikan pemanasan."
Di lain tempat.
Doni sedang melangkahkan kaki menuju apartemen. Pertemuan dengan Pak David berjalan dengan lancar. Membuahkan kesepakatan bahwa perusahaan mereka akan menjalin kerjasama. Hari yang melelahkan membuat dia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Saat akan membuka pintu gawainya bergetar. Ada yang mengirim pesan, dari nomor tidak dikenal. Pria itu mengerenyit saat membuka pesan. Doni mengepalkan tangannya, karena mendapatkan kiriman foto Sinta yang sedang bersama dengan Rama.
"Brengsek!"
Sebenarnya hanya foto bisa dimana Sinta sedang memakan permen kapas dan Rama di belakangnya tersenyum menatap ke arah Sinta. Tapi itu membuat Doni tidak suka. Hatinya terasa panas mengetahui Sinta pergi dengan orang lain.
*****
"Bagaimana menurutmu?" tanya Tiara memperlihatkan hasil kerja kerasnya.
Pagi ini mereka berada di gedung apartemen mengevaluasi hasil kerja Tiara yang Doni tunjuk sebagai Dekorator Interior. Doni cukup puas dengan kerja Tim tiara, mereka bekerja dengan cepat. Hasilnya juga sangat memuaskan.
"Aku cukup puas dengan kerja kalian."
"Terimakasih," ucpa Tiara. "Apa kau tidak ingin membuat perayaan untuk ini?"
"Perayaan?" ulang Doni.
"Bagaimana kalau makan malam?" tawar Tiara.
Doni melirik sekilas Sinta yang berada beberapa langkah di sampingnya.
"Baiklah." Doni menerima tawaran Tiara. "Ajak juga semua tim yang menangani proyek ini." Perintah Doni kepada Bagas.
"Siap, Bos!"
Sinta hanya diam saja. Sebisa mungkin gadis itu bersikap profesional melupakan masalahnya dengan Doni. Walau dihatinya menyimpan rasa kesal karena Doni sampai sekarang tidak berniat untuk meminta maaf.
Karena waktu yang masih panjang menuju makan malam, Doni putuskan untuk kembali ke kantor. Tiara ikut karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Doni.
Sampainya di kantor Sinta langsung masuk keruangan tanpa memperdulikan lagi Doni dan Tiara yang berada dibelakangnya.
"Sepertinya sedang ada yang kesal." Tiara memasuki ruangan Sinta tanpa permisi.
"Bisa permisi terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan orang!"
"Maaf. Aku hanya sedang merasa senang, jadi aku lupa untuk mengucapkan salam.
Sinta tidak menjawab ucapan Tiara. Dia memandang wanita itu dengan tatapan datar.
"Kau tau proyek Doni yang terbengkalai karena mendapat masalah," ucap Tiara.
Sinta tentu tahu itu semua dari Bagas. Karena untuk hal seperti ini Bagas lah yang menjadi orang kepercayaan Doni. Dan proyek itu sekarang sudah berjalan kembali. Jadi untuk apa Tiara menanyakan hal itu.
"Proyek itu tidak akan bisa berjalan kembali jika tidak ada orang yang berpengaruh di belakang Doni." Tiara menatap Sinta dengan senyum sinis.
"Kau ingat bukan yang aku katakan Tempo hari. Tawaran Ayahku yang tidak bisa di tolak Doni."
Apa benar yang di katakan Tiara? jika Doni menerima tawaran Pak David berarti dia harus menikah denga Tiara. Pantas saja Doni selama ini terkesan menjauhiku. Lalu kenapa dia tidak berterus terang saja kepadaku. Bodoh sekali kau Sinta. Seharusnya kau bisa nembak itu sejak awal. Tentu saja uang yang lebih berkuasa.
Bersambung...
🌼🌺💐🌸🏵💮🌹
__ADS_1