
"Duduklah Sinta!" perintah Sita sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.
"Iya, Ma," Sinta menuruti perintah ibu mertuanya.
Mereka berdua sekarang sedang berada di halaman belakang rumah. Menikmati indahnya bunga mawar merah milik Sita yang tumbuh subur disana. Sinta jadi teringat saat Doni menyuruhanya untuk membeli bunga mawar dan saat itu pula dia harus berebut bunga mawar dengan Diana.
"Apa kau bahagia dengan pernikahan mendadak ini?" tanya Sita.
Sinta menatap ibu mertuanya yang juga melakukan hal sama , "Untuk saat ini Sinta bahagia, Ma. Doni pria yang baik dan bertanggung jawab."
Sita tersenyum ke arah menantunya, " Mama, harap kalian selalau bahagia. Mama juga senang ternyata kau yang menjadi istri, Doni."
"Ma, bolehkah aku bertanya?"
"Boleh. Tanyakan saja Sinta."
"Mengenai Anne dan Doni?" Sita hanya menatap Sinta seolah menyuruh menantunya melanjutkan kalimat.
"Apa mereka dulu saling mencintai?"
Sinta bertanya seperti itu karena dia masih merasa penasaran. Menurutnya cerita Doni belum memuaskan, dia merasa Doni masih merahasiakan sesuatu.
Sita menarik nafas dan membuamgnya secara perlahan, "Mama tidak tahu pasti, Doni mencintai Anne atau tidak tapi kehadiran Anne membuat Doni menemukan kembali semangat hidupnya, setelah kepergian Lidya. Tapi meraka semua sekarang sudah menjadi masalalu Doni."
Sita menatap menantunya dan menggengam tangan Sinta, "Sekarang kamulah istri Doni, jadi jangan terlalu memikirkan itu. Kalian fokus saja untuk segera memberikan Mama cucu."
Sinta hanya tersenyum saat Sita menyinggung masalah itu. Wanita itu teringat betapa panasnya Doni saat berada di ranjang.
"Kalian sudah memulainya, kan?" Tanya Sita.
"Em ... anu, Ma?" tiba-tiba Sinta merasa gugup, dia tidak menyangka ibu mertuanya akan menamyakan hal itu.
Sita hanya tersenyum geli melihat menantunya yang kebingungan dengan pertanyaannya. Mertua Sinta itu bisa menyimpulkan bahwa mereka telah melakukanya. Apalagi saat melihat anak laki-lakinya selalu tersenyum.
"Sudah, tidak usah di jawab, jika kau merasa malu."
Sinta merasa lega karena dia merasa malu jika berbicara hal seperti itu, walupun kepada ibu mertuanya sendiri.
"Kalian sudah mencari tanggal untuk acara resepsi?" tanya Sita.
"Kami belum membicarakanya, Ma."
"Kalau menurut Mama sebaiknya akhir bulan ini saja. Tapi itu terserah kalian, Mama hanya memberi saran."
"Iya, Ma."
"Bagaimana, kalau kalian bulan madu saja dulu?"
"Bulan madu?" ulang Sinta
"Ide yang bagus," sela Doni dari arah belakang, "Menurut Mama dimana tempat yang bagus untuk kami berbulan madu?" ucapnya sambil memeluk bahu Sinta.
Sinta yang sedang duduk terkejut dengam kedatangan Doni yang tiba-tiba muncul. Pria itu senang sekali membuat Sinta jantungan.
__ADS_1
Ibu mertua Sinta mentap ke arah langit, wanita itu nampak sedang berpikir, "Mungkin di daerah yang pantainya bagus. Kalian bisa menikmati pemandangan saat matahari tenggelam," ucap Sita yang akhirnya menemukan tempat indah untuk berbulan madu. "Pasti sangat romantis sekali."
"Bagaimana menurutmu, sayang?"
Sinta tidak bisa berkata-kata lagi saat Dibi menyebutnya sayang.
"Kau melamun?" tanya Doni yang melihat istrinya diam saja.
"Em... tidak, aku tidak melamun."
"Kalau begitu kau setuju tidak kita berbulan madu?"
"Aku setuju."
****
Di lain tempat, Rama sedang menuju tempat dimana dia dan teman-temanya biasa menghabiskan waktu. Tempat ini sudah lama tidak ia kunjungi semenjak Rama mengenal Sinta. Dia tadi mendapatkan kabar dari ayahnya bahwa Doni sudah menikah. Dan yang membuat Rama terkejut adalah Sinta yang menjadi istri Doni. Dia tidak menyangka jika sebelumnya mereka menjalin hubungan. Rama pikir kekasih Sinta bukanlah pria seperti Doni.
Para wanita sudah menyapa dan memberikan tatapan menggoda ke arah Rama, saat langkah pria itu memasuki klub malam.
"Akan aku berikan tarif gratis jika kau mau," ujar wanita yang memakai dress mini dan menonjolkan lekuk tubuhnya.
"Singkirkan tanganmu, Nona," ujar Rama dingin.
Walaupun wajah wanita itu cukup cantik dan tubuhnya seperti model papan atas, tapi sayang Rama seperti tidak tergoda. Rama menyingkirkan tangan wanita itu dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan VIP.
Saat membuka pintu, Rama disuguhkan pemandangan dimana kedua temanya sibuk bermain dengan para wanita yang menemani mereka.
"Apa uang kalian tidak cukup untuk menyewa kamar?" celetuk Rama.
Ke dua teman Rama itu langsung memberi kode kepada para wanitanya, untuk meninggalkan ruangan.
"Wah ... kita kedatangan tamu spesial," celetuk Daniel.
Mike terkekeh menanggapi ucapan Daniel, "Ternyata dia tidak bisa jauh dari kita, Daniel. Apa kau merindukan kami?" tanya Mike.
Rama hanya mendengus mendengar sindiran kedua sahabatnya itu.
"Kalian terlalu banyak bicara," ujar Rama sambil menjatuhkan badannya di atas kursi.
"Wow, nampaknya kau sedang kesal. Aku punya barang bagus, apa kau mau?" tawar Mike.
Sedangkan Rama hanya diam saja, dia masih memikirkan Sinta yang sudah menikah. Niatnya untuk berusaha mendapatkan Sinta, kembali pupus karena gadis yang dia sukai sudah resmi menjadi milik orang lain.
"Sepertinya dia sedang tidak ada nafsu, Mike. Hampir satu bulan Rama tidak berkunju kemari, itu suatu pencapaian yang luar biasa untuk dia bukan?"
"Seharusnya kita buat saja syukuran," sahut Daniel, yang langsung membuat kedunya tergelak.
"Kalian cerewet sekali! Aku sedang tidak nafsu untuk melihat koleksimu."
"Benarkah? Kau pasti akan suka, aku tau persis tipemu. Wanita tanpa makup tebal bukan?"
Mike adalah pemilik klub malam yang menydiakan wanita untuk disewakan bagi para pelanggannya. Dia tahu wanita seperti apa yang Rama suka karena mereka bertiga sudah berteman sejak SMA.
__ADS_1
"Kenapa otakmu isinya hanya ************," celetuk Rama.
Daniel menepuk bahu Rama yang duduk di sebelahnya, "Ayolah, kau sama saja seperti kami," ujar Daniel sambil memenggak minumannya.
"Enak saja. Tentu aku berbeda dengan kalian," Rama mendengus karena merasa tidak suka.
"Ya, baiklah. Kau memeng berbeda dengan kami," kata Daniel, "lalu kenapa kau datang kemari dengan wajah bodoh seperti itu."
Rama menghela nafas dan menyandarkan punggungya, "Wanita yang aku sukai sudah menikah."
Mike menautkan alis mendengar kalimat yang di ucapkan Rama, "Makasudmu, kau menyukai wanita dan sekarang orang itu sudah menikah?" tanya Mike.
Rama hanya mengangguk.
"Kau tidak ke tempat ini selama satu bulan juga karena sibuk untuk mengejar wanita itu?" Daniel ikut bertanya.
Lagi-lagi Rama hanya mengangguk yang membuat kedu temanya sontak tertawa kencang.
"Miris sekali nasipmu, Nak," Mike menggelengkan kepala seraya memasang wajah sedih yang dibuat-buat.
"Kau lucu sekali," ucap Daniel yang masih terkekeh, "banyak wanita diluaran sana berlomba untuk bisa menjadi kekasihmu. Tapi kau malah sibuk mengejar wanita yang nyatanya menikah dengan orang lain."
"Kalian seharusnya menghiburku bukan malah mengejek."
"Aku sudah tawarkan hiburan, tapi kau tidak mau," ucap Mike, "Aku harus menjemput pacarku sekarang, kalian nikmati saja hiburan yang ada disini" lanjut Mike sambil memasukan lagi ponselnya kedalam saku.
"Dasar ********," gumam Rama, saat Mike sudah keluar dari ruangan.
"Berkacalah pada kami, kau akan tahu bahwa kau juga sama brengseknya."
"Aish, sudah kubilang aku berbeda dengan kalian!"
"Kita sama-sama suka wanita yang tidur diranjang. Lalu apa bedanya?" tanya Daniel
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu," ucap Rama, "Bagaimana jadinya designer sepertimu saat bertemu klien wanita, jika otaknya di penuhi dengan ************," gumam Rama.
"Kau menyindirku?" tanya Daniel.
Rama hanya menatap sekilas sahabatnya itu, "Kau sudah banyak meniduri pelangganmu bukan?" tebak Rama.
"Salah," ujar Daniel, "Aku tidak pernah meniduri mereka. Kami melakukanya dengan berdiri, di ruangan fitting."
Rama langsung melempar bungkusan rokok tepat di kepala Daniel, "Itu sama saja bodoh!"
"Kau kenapa melemparku, aku berkata benar kami melakukanya dengan posisi berdiri bukan tidur."
"Hei, kau mau kemana?" tanya Daniel.
Rama di buat pusing dengan kepintaran Daniel. Pria itu langsung meninggalkan ruangan karena sudah malas mendengar ocehan sahabatnya.
Bersambung...
πΉπΈπΊπ»πΌπ·
__ADS_1