Bos Duda

Bos Duda
Bab 11


__ADS_3

Setelah ciuman di pantai, hubungan Doni dan Sinta semakin dekat. Tidak jarang, Doni memberi perhatian kepada Sinta. Seperti saat ini, Doni mengajak Sinta untuk makan siang bersama.


"Sudah selesai," tanya Doni, yang tiba-tiba berada di depan meja kerja.


Sinta sedikit terhenyak, melihat doni yang muncul secara tiba-tiba.


"Sedikit lagi!" ucap Sinta, kembali fokus pada layar monitor.


Menoleh, Sinta mendapati Doni sudah duduk di sofa yang tersedia diruangan kerja. "Kenapa, Bapak masih disini?"


Doni yang sedang mengamati Sinta langsung berdiri dan memasukan tangan ke saku celana.


"Aku menunggumu" ucap doni, sambil menarik tangan Sinta. "Kau lama sekali aku sudah lapar."


Mau tidak mau, Sinta mengikuti langkah Doni yang lebar. Sinta memperhatikan tangan yang di genggam Doni, dia takut ada yang melihat dan menjadi perbincangan.


Sampai didalam lift Doni langsung mendorong badannya merapat pada Sinta, hingga badan gadis itu menempel pada dinding lift. "Ada apa?" tanya Doni, yang dapat merasakan kegelisahan Sinta.


 


Sinta terpejam, merasakan nafas Doni menerpa pipinya. "Kita terlalu dekat, Pak! Ini tidak baik jika ada yang melihat." Sambil sedikit mendorong dada kekar Doni.


Doni terkekeh "Siapa yang akan melihat?" kemudian mengecup sekilas bibir Sinta.


Sinta hanya menggerutu dalam hati, kenapa pria di hadapannya senang sekali mencuri ciuman. Padahal bisa saja petugas melihat mereka dari Cctv.


Sebenarnya, kegelisahan yang melanda Sinta tidak lain adalah tentang kedekatan mereka. Tidak ada status yang jelas, hanya pacar pura-pura yang saat ini menjadi statusnya. Tapi perlakuan yang dia dapat akhir ini juga ciuman mereka beberapa waktu lalu, membuat Sinta galau, dia terlalu takut, jika harus memulai membahas masalah ini.


Sedangkan Doni, mempunyai cara sendiri untuk menyikapi hubungan mereka, dia tidak akan banyak bicara mengenai perasaannya, apalagi umur dan status duda yang dia miliki. Doni hanya ingin Sinta merasakan perlakuan yang dia berikan sebagai wujud bahwa Doni menyukai Sinta. Akan tetapi, beda dengan Sinta yang ingin kejelasan status di antara mereka.


Doni keluar dari lift terlebih dahulu, sedangkan Sinta mengekor di belakang punggung Doni. Sebelum keluar, ada perdebatan antara mereka.


"Saya tidak mau makan, jika Bapak masih menggenggam tangan saya!"


Sinta terlalu takut, jika menjadi pembicaraan seisi kantor. Dia masih ingin bekerja dengan nyaman, walau tidak dipungkiri, dia cukup senang mendapat perlakuan seperti itu dari Doni.


Dan disini mereka sekarang, di restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor. Doni memilih restoran yang menyediakan masakan indonesia, karena dia tau Sinta tidak terlalu suka dengan masakan Barat.


"Kau mau pesan apa?" tanya Doni, yang masih sibuk membuka buku menu, Senyap tidak ada jawaban dari Sinta.  "Sint!" panggil Doni, yang mendapati Sinta masih fokus melihat ke arah jendela.


Sinta yang masih melamun, langsung menoleh karena panggilan Doni. "Ya?" tanya sinta yang masih belum fokus.


Doni menghela nafas dan meletakkan buku menu, "Apa pekerjaan yang saya berikan terlalu banyak?"

__ADS_1


"Eh?" Sinta meringis bingung "Tidak," jawab nya lagi.


"Saya amati dari tadi kamu banyak melamun."


Sinta menghela nafas sambil mengusap leher. "Mungkin saya sedang tidak enak badan."


"Setelah ini, kamu bisa pulang biar pekerjaan di handle Bagas, (Orang kepercayaan Doni)"


Sinta pun mengangguk pelan, menyetujui ucapan Doni, mungkin memang benar dia butuh istirahat.


Setelah kembalinya dari restoran, Sinta langsung mengambil tas, dia ingin pulang mengistirahatkan otak dan hati. Sampainya di tempat kos, Sinta langsung menjalankan misinya, tidur siang yang panjang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Sinta terbangun saat jam menuju angka tiga, lumayan untuk seorang seperti Sinta yang jarang bisa tidur siang.


Sinta beringsut duduk, menyandarkan punggung di kepala ranjang.


"Jadwalku sore ini, sepertinya membersihkan apartemen Pak Doni?" Sinta mengingatkan diri sendiri.


"Aku takut, takut tidak bisa menahan diri," ucap Sinta sambil memegangi dada yang berdebar.


Sinta terburu ke kamar mandi, dia ingin segera pergi ke apartemen dan mengerjakan pekerjaan dengan cepat, agar dia tidak bertemu pria itu di apartemen.


 


Mengenakan dress floral berwarna mustard dan sepatu berwarna putih Sinta bersiap menuju apartemen.


Perjalanan menuju apartemen Doni tidak terlalu lama, karena keadaan jalan tidak macet.


Sampainya di apartemen, Sinta langsung merapikan setiap sudut apartemen Doni, tidak terkecuali kamar sang pemilik. Sinta sudah diberi ijin untuk membersihkannya.


Saat membereskan tempat tidur, sinta tertarik dengan foto yang berada di atas nakas.


"Apa ini foto Pak Doni dan Lidya?"


Lalu sinta mengambil foto itu.


Saat Sinta membalik frame tertulis nama Doni & Anne, di dalam foto Doni menggenggam tangan dan tersenyum manis ke arah Anne. Sinta tersenyum miris merasa kasihan kepada dirinya, ada rasa cemburu yang terselip di hatinya.


"Kenapa tidak foto Lidya saja yang di letakkan disini."


Dia tidak akan merasa cemburu dengan orang mati, lalu dengan Anne yang kenyataannya orang itu masih hidup. Dia tidak tahu lagi intinya di sudut hatinya terasa sakit.

__ADS_1


"Apa yang kau harapkan Sinta? Lihat apa kau tidak merasa iri? Jangan membuat dirimu seperti wanita murahan." Dia bergumam.


Setelah ini, Sinta berjanji kepada dirinya bahwa dia akan menjaga jarak dengan Doni.


Sinta keluar kamar, lalu menuju dapur untuk membuat makanan.


"Tcekk..." Sinta berdecak.


Lagi, dia terpikir akan nasibnya.


"Mungkin, aku hanya selingan." Lalu dia tertawa hambar menertawakan dirinya.


"Ah, malang sekali nasibmu, Sinta," ucapnya, sambil membuang nafas berat.


Makanan sudah tersaji di atas meja, sekarang waktunya Sinta untuk pulang.


Memutar gagang pintu Sinta bersiap keluar. Bertepatan dengan itu, pria gagah berbadan tegap yang mengusik hatinya sudah berdiri dihadapan.


"Mau kemana?" Suara berat itu membuat sinta sedikit kaget.


"Hah!" Sinta tiba-tiba linglung, pria rupawan itu masih berdiri di hadapannya, dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana


"Kau sudah baikan, hingga terburu membereskan apartemen?" ucapnya, seolah sedang menginterogasi Sinta.


"Ingat sinta, dia bukan siapa-siapa. jangan lemah!" ucapnya dalam hati.


"Sudah, dan semua ruangan Anda sudah saya bersihkan," ucap Sinta sedikit acuh. "Sekarang, saya ingin pamit."


"Kau tidak mau makan dulu." Doni berbasa-basi untuk menahan Sinta.


"Terimakasih, Pak! Saya masih kenyang."


Setelah itu, Doni menggeser badannya membiarkan Sinta lewat. Setelah berjalan beberapa langkah, Sinta berhenti dan berbalik ke arah Doni.


"Oh, ya. Satu lagi!" Dia berseru kearah Doni yang hanya berjarak beberapa langkah. "Kapan tugas saya selesai, menjadi pacar pura-pura, Bapak? Saya tunggu kabar itu!"


Sampainya di dalam lift Sinta menyandarkan tubuhnya di dinding lift, pikirannya kacau dia ingin marah dan memaki Doni. Hanya saja Sinta berfikir ulang.


"Untuk apa aku marah? Aku tidak punya hak, aku hanya bawahan!"


Sambil menghapus air mata, Sinta berfikir disini yang sepatutnya disalah kan adalah dirinya.


"Air mata sialan!" kesal Sinta saat air matanya kembali menetes. "Setelah ini, jangan lemah lagi Sinta," ucapnya menyemangati diri.

__ADS_1


__ADS_2