Bos Duda

Bos Duda
Bab 9


__ADS_3

"Ternyata, sudah masuk subuh," ujar Sinta, sambil merubah posisi tidurnya. "Kenapa mata ini tidak mau terpejam?"


Sinta gelisah, matanya tidak mau terpejam, dia memikirkan tentang ciuman tadi. Dadanya masih bergemuruh, jika mengingatnya.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa kejadian tadi masih nampak jelas saat aku menutup mata?"


Di kamar yang bersebelahan, seseorang juga sedang merasakan gelisah. Dari tadi dia memaki, kenapa di tidak bisa menahan diri saat menatap mata Sinta.


"Apa mungkin, duda selama dua tahun membuatku tidak bisa menahan nafsu?" ucapnya, sambil mengacak rambut.


Doni mulai menebak, apa yang akan dilakukan Sinta besok.


"Mungkin, besok aku akan di tampar." Doni meringis, membayangkan tangan sinta mendarat di pipinya.


"Apa aku berkata jujur saja, kalau selama ini aku menyukainya?"


"Tapi, kenapa rasanya sangat malu." Pria itu mondar mandir dikamar layaknya setrika. "Aku coba besok saja, sekarang aku harus tidur agar fisikku kuat. Kuat menerima kenyataan."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Doni terbangun lebih dulu, berjalan menuju dapur dan mengambil air putih untuk dia minum.


"Apa dia belum bangun?"


Doni menatap pintu kamar yang belum terbuka.


Berjalan menuju sofa dan merebahkan badan, Doni menyalakan tv.


Doni bukan orang yang suka menonton acara tv. Entah kenapa, pagi ini dia ingin melihat benda kotak besar itu.


"Acaranya kenapa gosip semua?" ujar Doni sambil memindah saluran tv.


Badannya sedikit kaku, saat terdengarΒ  pintu kamar Sinta terbuka.


"Maaf, pak! Saya kesiangan." Sinta menyelipkan rambut ke telinga, untuk menutupi rasa gugup.


Doni merasa lega, karena dugaannya salah. Tidak ada tamparan, seperti yang di pikirkan semalam.


"Tak apa, aku juga baru bangun, aku sudah pesan makanan, kita sarapan bersama."


Suasana di antara mereka masih terasa canggung. "Mau kopi?" tawar Doni, sambil berjalan menuju dapur.


'Semoga, di melupakan kejadian semalam,' batin Doni berucap.


Sinta mengikuti langkah Doni. "Boleh, jika tidak merepotkan."


Doni tertawa kecil, sambil membuka bungkusan kopi instan yang tersedia.


Sinta menyatukan alis, memastikan yang ia dengar.


"Apa ucapanku salah? Kenapa bapak tertawa?" tanya Sinta, sambil menarik kursi makan.


Doni semakin terkekeh. "Bajumu terbalik," Doni menunjuk baju yang sinta pakai.


"Eh?" Sinta menunduk, memastikan ucapan Doni barusan. "Pantas saja, aku susah tidur semalam," ucap Sinta polos.

__ADS_1


Doni yang sedang mengaduk kopi berhenti, mendengar ucapan Sinta barusan. "Kau begadang semalam?"


Sinta yang masih duduk di kursi makan menatap Doni. "Aku?" tanya Sinta, dengan raut polos.


"Iya, kau bilang tidak bisa tidur," ucap Doni, sambil meletakkan cangkir kopi.


Sinta meringis, kenapa dia tadi bisa keceplosan. "Aku hanya merindukan, Gea," ucap Sinta berbohong.


"Siapa dia?" tanya Doni, sambil menjatuhkan badan di kursi.


Sinta mengerjapkan mata, "Teman satu kost, dia juga kerja di perusahaan, Bapak."


Obrolan mereka terputus, karena makanan yang di pesan Doni sudah tiba. Sinta menyiapkan semuanya ke atas meja.


"Sepertinya, sangat enak," ucap Sinta, sambil menatap makanan.


"Ayo, cepat makan! Biar badan'mu tidak terlalu ringan."


Sinta mencebik sambil mengerucut'kan bibir, "Jangan sok tahu!"


Doni tertawa, Lalu memajukan badan, menatap Sinta. "Aku semalam yang membawa'mu ke kamar, jadi aku tau." Setelah itu, Doni memposisikan badannya seperti semula.


Sinta langsung memeluk tubuh nya dan memandang Doni curiga.


"Hanya memindahkan? Bapak yakin tidak melakukan hal lain?" pancing sinta, dengan tatapan mengintimidasi.


Doni hanya mengangkat bahu. "Kalu ada hal lain, apa kau akan tahu. Kau tidur saja sudah mirip seperti mayat," ucap Doni acuh.


"Pak!" menarik nafas dan mengacungkan sendok ke arah Doni. "Awas, jika bapak berani melakukan sesuatu!" Sinta mengancam dengan muka dibuat sedikit garang.


"Sudahlah, kita lanjutkan nanti saja!" Doni mengalihkan pembicaraan. "Aku sekarang sudah lapar," ujar Doni, sambil memasukkan makanan ke dalam piring.


Setelah itu, Doni tidak berbicara, dia fokus menikmati makanan di atas meja.


"Nanti, kau ikut denganku," ucap Doni, setelah makanan di piring habis.


Sinta berhenti membereskan meja. "Inikan hari libur, Pak! Kenapa masih harus bekerja?"


"Aku tidak menyuruh kau bekerja," Doni berdiri dari kursi.


"Lalu?" tanya sinta, kembali membereskan meja.


"Kau harus temani aku jalan." Doni berlalu ke arah sofa.


Mata Sinta mengikuti arah Doni. "Bapak tidak pernah kencan?" ucap Sinta mengejek.


Doni yang duduk di sofa langsung menoleh, "Kau menghinaku!"


"Bapak terlalu kaku," Sinta tertawa "mengajak wanita keluar saja tidak bisa."


"Memang kau pernah? Pacar saja tidak punya," ucap Doni santai, sambil memindah chanel tv.


Sinta mencebik dan melipat bibir. "Dasar duda tidak tahu diri," bisik sinta pelan sambil mengacungkan sendok. "Pantas saja, dia di tinggal kembaran istrinya," gerutu Sinta, dengan bibir bersungut-sungut.


"Aku mendengarnya," ujar Doni yang masih fokus pada tv.

__ADS_1


Sinta gelagapan, dia langsung berlalu membawa piring kotor. Setelah selesai mencuci piring, Sinta langsung bersiap-siap.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Kita mau kemana, Pak?" tanya Sinta, sambil memasang sabuk pengaman.


Doni yang sedang menyalakan mesin mobil menoleh kearah Sinta "Kencan!"Β  jawab Doni sekenanya.


"Kencan!" ulang Sinta cepat.


"Bukankah, kau belum pernah kencan?" Dononmelajukan mobilnya ke arah jalan raya.


Sinta tau, Doni sedang mengejek, jadi tidak dia tanggapi ucapan Doni barusan.


Selama perjalanan mereka masih berdebat masalah hal sepele, tentang kenapa mobil Doni warnanya hitam, kenapa tidak warna putih saja, yang terakhir kenapa ayam dan telur kelahirannya masih menjadi misteri. Anehnya Direktur seperti Doni yang mempunyai IQ di atas rata-rata, masih mau meladeni pertanyaan absurd, Sinta.


Setelah sampi di tujuan Sinta di buat melongo, dia tidak menyangka Doni akan mengajaknya ketempat seperti ini.


"Aku tidak menyangka, seorang direktur mengajak kencan wanita di kuburan," sindir Sinta, sambil melihat sekeliling. "Selera bapak luar biasa," ucapnya lagi, sambil mengikuti langkah Doni yang lebar.


Doni berhenti tiba-tiba, membuat Sinta yang tidak siap, langsung menabrak punggung Doni yang lebar.


"Aduh!" pekik Sinta, sambil meraba keningnya.


Doni berbalik dan menatap Sinta. "Kau benar-benar ingin kencan denganku?" Sinta tidak menjawab. "Baiklah, setelah ini kita kencan!"


Sinta bingung, "Bapak mengajakku kesini untuk apa, jika tidak kencan?"


Doni tertawa kencang. "Kau pernah melihat orang kencan di kuburan?" tanya Doni yang masih tertawa.


"Pernah," jawab sinta cepat.


"Dimana?" tanya Doni lagi.


"Tetangga waktu di desa, pernah ketahuan sedang kencan di kuburan. Mereka langsung di nikahkan, apa bapak mengajakku kesini, agar kita dinikahkan?


Doni tertawa lebih kencang lagi, dia tidak perduli sedang berada dimana.


"Apa salahku dulu, bisa memilih'mu sebagai Sekretaris. Kau pintar, tapi kenapa bodohnya masih ikut."


Setelah itu, Doni berjalan kembali sambil menggelengkan kepala. Tidak ia pedulikan lagi, Sinta yang sedang menggerutu di belakang.


Sampi ke tujuan, Doni usap batu nisan yang bertuliskan nama mendiang istrinya.


Sinta berhenti agak jauh, dia lihat Doni sedang mengusap batu nisan, Sinta baru sadar, ternyata dia kesini untuk menemani Doni berziarah ke makam istrinya.


"Sayang, maafkan aku jarang mengunjungi." Meletakkan bunga kesukaan Lidya yang dia beli tadi.


"Semoga kau baik-baik saja... Sayang, bolehkah aku bertanya. Apa kau lihat wanita disana?" Doni melihat Sinta yang berdiri agak jauh darinya.


"Sepertinya, aku menyukainya." Mengelus kembali batu nisan.


"Sayang ....maukah kau mengizinkan aku untuk memulai hubungan kembali dengan seorang wanita." Doni melihat lagi Sinta yang sepertinya sudah pegal karena berdiri.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku akan sering berkunjung."

__ADS_1


Setelah itu, Doni berdiri dan berlalu dari makam istrinya.


__ADS_2