
"Nona, tunggu!" seru Rania dari belakang Sinta.
Rania dan Diska sedikit berlari saat mengikuti langkah lebar Sinta.
"Nona tolonglah kami," mohon Diska dengan wajah memelas.
Masalah mereka dengan Daniel sudah beres. Kini tugas mereka mencoba meyakinkan Sinta agar mau menerima tawaran menjadi model. Nasip mereka berada pada keputusan Sinta. Jika Sinta menolak tamatlah riwayat mereka.
"Jika kau tidak mau membantu ... kami akan di pecat. Kau tau ibuku sedang berada di rumah sakit. Jika aku di pecat bagaimana dengan ibuku?" ucap Rania masih mengikuti langkah Sinta.
Sinta berhenti kemudian membalikkan tubuhnya. Di tatapnya satu persatu wajah Rania dan Diska. Mereka pun melakukan hal yang sama, menatap Sinta penuh harap.
"Aku tidak bisa. Aku juga tidak tahu dunia modeling itu seperti apa."
Sinta sebenarnya tidak tega melihat wajah memelas dua wanita yang berdiri di hadapannya. Jika bisa pasti Sinta sudah membantu Rania dan Diska. Tapi dia sama sekali tidak ada pengetahuan di dunia modeling.
"Kau serahkan masalah itu pada kami. Walaupun kau sama sekali tidak tau bagaimana dasar-dasarnya, kami akan tetap membantu," ucap Diska penuh semangat mencoba meyakinkan Sinta.
"Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau membantu kami, Nona. Aku yakin Tuhan dengan sengaja mengirimu kemari untuk menyelamatkan kami," ucap Rania dengan wajah yang masih memelas.
Sinta menghela nafas. Dia berpikir sejenak untuk menimbang keputusannya. Sedangkan dua wanita yang berdiri di depan Sinta menunggu dengan was-was.
"Baiklah."
Satu kata dari mulut Sinta mebuat Rania dan Diska bersorak girang. Akhirnya mereka tidak jadi di pecat. Kedua wanita itu menghambur untuk memeluk Sinta.
"Kau malaikat kami, Nona," ujar Diska sambil memeluk Sinta erat.
Sedangkan Rania hanya tersenyum mengiyakan ucapan Diska.
Bukan tanpa alasan Sinta memerima tawaran untuk menjadi model. Walaupun sama sekali dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan di depan kamera. Mungkin ini bisa membantunya untuk mencari kesibukan.
-----
"Ada apa?" tanya Daniel saat sudah menginjakkan kakinya di klub milik Mike.
Daniel melempar kunci mobil ke atas meja. Setelah itu, membuka kancing teratas kemejanya dan sedikit melonggarkan dasinya.
"Kau terlihat lelah," ucap Mike melihat Daniel menghempaskan tubuhnya di kursi. Wajahnya terlihat kusut tapi tidak mengurangi ketampanan Daniel.
"Ada sedikit masalah."
Mike mendengus, "Aku tau masalahmu pasti menyangkut wanita."
Mike menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya kesembarang arah.
"Ada sedikit masalah dengan pemotretan besok."
Daniel merebahkan tubuhnya di kursi panjang tepat dimana dia sedang duduk.
"Kenapa? apa kau meniduri modelmu hingga tidak bisa berjalan lagi?" tebak Mike.
"Aish bukan. Aku belum selesai bicara."
"Lalu?"
"Aku memarahi karyawanku karena tidak becus bekerja. Aku menyuruh mereka mencari model yang lebih fresh tapi tidak ada satupun dari mereka yang sesuai dengan kriteriaku," papar Daniel.
"Tentu saja mereka tidak mendapatkan model yang kau maksud. Aku tau kriteria wanita yang ada di otakmu, jika akan kau jadikan model untuk kain-kain yang kau jahit itu. Wanita itu harus terlihat eksklusif dan mahal."
"Kau terlalu memuji," timpal Daniel seraya tersenyum bangga.
Mike kemudian terkekeh. "Tapi aku heran, kenapa kau bisa meniduri semua wanita tanpa pilih-pilih."
Daniel melempar bungkusan rokok ke arah Mike. Dia tidak terima jika di katakan seperti itu.
"Sialan!" umpat Daniel.
"Itu kenyataan. Aku berkata benar kenapa kau tidak terima?"
__ADS_1
"Kau terlalu jujur!" seru Daniel. "Sudahlah. Apa yang kau inginkan hingga menyuruhku kemari?"
Mike mengarahkan dagunya ke arah pria yang baru saja masuk kedalam ruangan mereka.
"Hai, pria sialan. Kapan kau pulang?" Daniel bangkit dari tidurnya untuk menyapa Rama.
Sedangkan Rama hanya berdecak kesal dengan ucapan Daniel barusan.
"Kau sombong sekali," ujar Daniel saat Rama menolak untuk di peluk.
"Kita terlihat menjijikan jika sedang berpelukkan."
"Kau bilang akan lama di Turki," sela Mike.
"Padahal belum ada setahun, ternyata kau sudah kembali," Daniel ikut menimpali.
"Apa kau merindukan aku?" tanya Mike mengikuti gaya berlebihan Daniel.
Rama bergidik melihat gaya mike yang kaku. "Kau terlihat menjijikan, Mike."
Kemudian Rama tersenyum miris merasa kasihan melihat teman-temanya semakin parah.
Mike mendengus, "Aku terlihat menyedihkan jika kau tersenyum seperti itu."
"Kalian memang terlihat menyedihkan. "
------
Sinta di pandu Diska menuju studio di mana dia akan melakukan pemotretan. Kemudian Diska memperkenalkan Sinta kepada Rio fotografer yang akan mengambil gambarnya.
"Mohon kerja samanya, Sinta," ucap Rio Saat Sinta memperkenalkan dirinya.
Setelah itu, Diska membawa Sinta menuju penata rias. Wajahnya akan di poles agar lebih bagus lagi saat di foto nanti.
"Kau terlihat gugup," ucap penata rias yang sedang menyapukan bedak pada wajah Sinta.
Penata rias terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku yakin setelah ini kau akan terbiasa. Anggap saja kau sedang berfoto untuk koleksimu sendiri. Mungkin akan sedikit mengurangi rasa gugupmu."
"Terima kasih untuk sarannya."
"Apa sudah siap," tanya Diska yang sudah berada di samping Sinta.
Penata rias itu mengangguk tanda bahwa Sinta sudah siap untuk memulai sesi pemotretan.
Disana nampak Rio sedang memberikan pengarahan agar Sinta mengikuti perintahnya.
"Kau harus berputar dan sibakkan gaun panjangmu, setelah itu berikan tatapan seksi ke arah kamera. Apa kau mengerti.
"Aku mengerti."
Sinta mengangguk tanda mengerti dengan arahan Rio.
"Ingat, kuncinya kau tidak boleh gugup," lanjut Rio.
Setelah itu Sinta mengmbil posisinya dan mengikuti arahan yang Rio perintahkan tadi.
"Kita ulangi lagi," ucap Rio saat pengmbilan gambar pertamanya gagal.
Rio mengulang kembali karena dia tidak fokus, hingga momen untuk mengambil gambar sedikit terlewat. Di terlalu terpesona dengan kecantika Sinta.
Setelah itu, Sinta kembali mengulangi lagi gerakan sesuai yang di perintahkan fotografer.
"Sempurna," seru Rio saat Dia sudah mendapatkan gambar Sinta dengan baik.
Ada sekitar tiga baju yang harus Sinta pakai di sesi pemotretan ini. Tubuhnya sedikit lelah tapi tidak di pungkiri dia juga cukup menikmati pekerjaan barunya.
__ADS_1
Saat pemotretan untuk baju yang terakhir, Daniel tiba. Sinta melihat Daniel sedang tetlibat obrolan dengan Diska.
"Oke. Sesi pemotretan sudah selesai," ujar Rio kembali merapikan kamera miliknya. "Aku senang bisa bekerja sama denganmu." Rio tersenyum ke arah Sinta. "Biasanya orang yang tudak ada basic sepertimu akan sulit untuk di arahkan. Tapi aku salah kau cepat mengerti ternyata."
"Itu juga karena bantuanmu, aku jadi cepat mengerti."
"Baikalah, kalu begitu aku harus pergi dulu." Pamit Rio. "Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya."
Setelah Rio beranjak Sinta berjalan menuju Daniel dan Diska yang sedang terlibat diskusi.
"Kerja bagus, Nona," ujar Daniel saat melihat Sinta berjalan medekat.
"Terima kasih."
"Apa kau ingin merayakan pekerjaan barumu?" tanya Daniel. "Maksudku aku akan mentraktir makan untuk menyambutmu."
"Tidak perlu," tolak Sinta. "Kau sangat berlebihan."
"Ayolah, kau jangan menolak. Lagi pula kita tidak hanya makan berdua."
Setelah berpikir sejenak akhirnya Sinta menerima tawaran Daniel. Lagi pula perutnya juga sudah terasa lapar.
-----
Mobil Daniel berhenti di parkiran hotel mewah yang terletak tidak jauh dari kantornya. Sinta mengenyeritkan dahi seraya memberika tatapan curiga.
"Kau jangan berpikir buruk dulu," ujar Daniel. "Kita akan makan malam disini. Pemilik hotel ini temanku. Dia membuat perayaan kecil atas kembalinya dia dari Turki."
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?"
"Dia baru saja memberikan kabar. Lagi pula restoran yang akan kita tuju terletak diasana," tunjuk Daniel ke arah restoran mewah di seberang jalan.
"Tidak apa-apa kan? aku merasa tidak enak jika menolak undangan temanku."
Sinta menarik nafas dalam, "Baiklah."
Setelah turun dari mobil Daniel membawa Sinta mesuk kedalam lift menuju lantai sepuluh.
"Kau terlambat lima menit," sapa Mike saat Daniel dan Sinta baru sampai.
Sinta menyapukan pandangan ke penjuru ruangan. Sinta berpikir mungkin ini ruangan privat, karena ruangan ini terlihat cukup luas.
Tatapan Sinta berhenti pada seorang pria yang duduk tidak jauh dari tempat Daniel berdiri. Pria itu sedang memangku seorang wanita denga posisi sangat mesra.
"Menjijikan!"
Perut Sinta terasa mual saat pria itu dengan cuek mencium bibir wanita di pangkuannya. Sinta merasa matanya ternoda dengan pertunjukan yang baru saja dia lihat.
"Siapa dia?" tanya Mike dengan tatapan penasaran.
Daniel yang melihat tatapan penasaran dari Mike akhirnya memperkenalkan Sinta.
"Dia model yang aku bicarakan kemarin."
"Senang bekenalan denganmu, Sinta." sapa Mike dengan anggukan kepala.
"Terima kasih Mike."
Saat Mike mempersilahkan Sinta duduk tatapan mata Sinta terpaku pada pria yang tadi berciuman. Wanita yang ada di pangkuan pria itu sudah tidak ada, jadi Sinta bisa melihat dengan jelas wajahnya.
"Rama," gumam Sinta tidak percaya.
Sinta duduk dan melihat dari ekor mata Rama tidak menyadari keberadaannya.
Tapi saat Daniel memperkenalkan Sinta ada tatapan terkejut dari mata Rama yang sedikit melebar.
"Kenapa kau menatap Sinta seperti itu?" tanya Daniel. "Apa kalian saling kenal?
"Tidak," sela Rama cepat. "Dia hanya mirip seseorang di masa lalu."
__ADS_1
Bersambung...
🍁🍁🍁