
Dukung Author dengan memberikan vote dan Rating 5....
Terima kasih.
🍁🍁🍁
Setelah pertemuannya dengan Bagas sinta menemui Andi, dokter yang menangani suaminya.
"Aku sudah tahu semuanya. Tolong beritahu aku sedetail mungkin."
Sinta meremat jemarinya mencoba menguatkan diri saat Dokter Andi mengatakan segalanya. Air mata Sinta tidak bisa di bendungan lagi saat tahu hidup Doni hanya tinggal tiga bulan. Dadanya sesak, ingin rasanya dia berterik kepada Tuhan bahwa semua ini sangatlah tidak adil.
Getaran ponsel di atas nakas membangunkan Doni dari tidur siangnya. Dengan sedikit mengantuk Doni mengangkat panggilan dari Dokter Andi.
"Apa kabarmu Dokter?"
"Aku hanya ingin memberi tahu. Seorang wanita bernama Sinta, datang menemuiku."
Doni terkejut.
"Untuk apa dia datang kesana?" tanya Doni yang langsung bangkit dari tempat tidur.
"Dia bilang dia istrimu. Di tahu jika kau sakit. Jadi dia memintaku untuk menjelaskan dengan detail mengenai penyakitmu."
Setelah itu Doni menutup pembicaraan dengan Andi lalu berjalan kelur dari kamarnya. Dia khawatir dengan Sinta, setelah tau mengenai penyakitnya. Dia berpikir pasti Bagas yang telah memberi tahu istrinya.
Saat sampai di lantai satu Doni mendapati Sinta tengah duduk di sofa. Wanita itu menunduk fokus membuka lembaran album foto.
Doni menghampiri Sinta dan duduk di sebelahnya.
"Kau ingat ini," tujuk Sinta "ini foto kita setelah melaksanakan ijab di balai desa." Suara Sinta sedikit tercekat.
"Aku dulu tidak menyangka, jika kita akan menikah." Sinta masih menunduk. "Kau tau ... kau dulu sangat menyebalkan."
Sinta menghela nafas dan memaksakan senyum, "Tapi aku sekarang sangat bahagia hidup denganmu."
Air mata lolos dan membasahi album foto, buru-buru Sinta mengusapnya.
"Maaf, fotonya jadi basah. "Aku ... aku hanya sedang terharu," jelas Sinta terbata.
Doni menarik bahu Sinta agar berbicara dengan menatapnya.
"Apa yang kau dengar?" mengangkat dagu Sinta agar dia bisa melihat wajah istrinya.
Sinta tidak sanggup menatap wajah pria yang saat ini tengah menatapnya, dia berhambur memeluk tubuh suaminya.
"Berjanjilah kamu tidak akan mati." Sinta terisak. "Ayo berjanjilah!" Tuntut Sinta, menenggelamkan wajahnya di dada Doni.
Doni bergeming.
Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sinta.
"Jangan menangis." Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
"Aku tidak bisa berjanji, Sayang...
Aku juga tidak tahu, alasan Tuhan memberikan aku sakit. Tapi di balik itu semua pasti ada rahasia. Entah kapan akan terkuak, saat aku masih bernafas atau di saat tubuhku telah terbujur kaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Tapi aku takut ... aku takut tidak bisa mengingatmu sebelum kematian menjemput."
__ADS_1
Doni bermonolog dan mempererat pelukannya.
****
Gea tengah duduk bersantai di salah satu kursi yang biasanya di gunakan untuk menerima tamu. Dia memejamkan mata dan melipat kakinya di atas kursi.
Dia sedang merapal mantra, Gea menggerkan tangan dengan posisi masih terpejam.
"Bimsalabim ... belahan jiwa datanglah."
"Bimsalabim... belahan jiwa kumohon datanglah, datanglah,"
Gea merasakan seperti ada yang meniup wajahnya. Dia membuka mata secara perlaham.
"Astaga!" Gea terkejut, dan hampir saja terjengkang jika tangan Bagas tidak menahan kursi yang ia duduki.
"Untung saja," ujar Gea. Wanita itu mengusap dada merasa terkejut dan beruntung karena gagal terjatuh.
Bagas terkekeh. "Aku tidak percaya wanita sepertimu, masih percaya dengan hal-hal seperti itu."
Bagas mengomentari sikap ke kanak-kanakan Gea, dengan masih menahan kursi yang di duduki Gea.
"Memangnya kenapa?"
"Kau sudah tua tapi masih mengikuti ucapan anak-anak SMP."
Gea mencebikan bibirnya, "Awas! bapak menghalangi pandanganku." Gea merasa kesal karena Bagas mengacaukan ritualnya.
"Jangan menunduk dan memandangku seperti itu." Gea metasa posisi mereka sangat dekat.
"Baiklah." Bagas melepaskan tangan yang dia gunakan untuk menahan kursi.
Karana sudah tidak ada penyangga Gea hampir saja terjatuh. Dengan sigap dia menarik tangan Bagas untuk menahanya kembali. Tapi karena Bagas tidak siap tubuhnya oleng dan terjatuh bersama Gea.
"Aduh!" pekik Gea.
Bagas hanya bisa meringis, pinggangnya terasa sakit apalagi Gea masih berada di atas tubuhnya sekarang.
"Kau berat sekali," suara Bagas sedikit tertahan karena menahan berat badan Gea.
Gea buru-buru bangun dan duduk di sebelah Bagas.
Bagas menarik nafas lega, merasa beban di atas tubuhnya sudah hilang.
"Kenapa di lepaskan?" Gea menatap Bagas yang masih tidur di sampingnya.
Bagas mengrenyitkan dahi, merasa aneh dengan wanita yang tengah duduk disisinya.
"Bukannya kau yang menyuruhku tadi?"
Gea meringis, merutuki kebodohannya.
"Tetap saja. Bapak seharusnya tidak melepaskan kursi yang aku duduki," Gea bersikeras tidak mau mengalah. "Dan kita jadi jatuh seperti ini."
"Aku tidak akan terjatuh jika kau tidak menarikku." Bagas bangun dari posisinya.
Gea yang tidak menyadari Bagas sudah duduk di sampingnya, menoleh dengan cepat. Mulut yang sudah terbuka ingin mengucapkan sesuatu kembali tertutup.
Tubuh Gea membeku.
__ADS_1
Posisi mereka sangat dekat dengan tatapan yang saling bertubrukkan. Hanya terdengar suara hembusan nafas dari keduanya.
Cup!
Bgas mengecup bibir Gea yang sedikit terbuka. Gea melebarkan mata karena merasa terkejut. Setelah itu Bagas berdiri dan pergi meninggalkan gea yang masih syok. Pria itu lupa apa tujuanya mengunjungi Gea.
Kedua tangan Gea di tangkapan ke depan dada untuk meraba detak jantung.
"Apa ini yang di namakan senam jantung."
***
Sinta berjalan menuju balkon rumahnya. Dia berjalan dengan pelan seolah dia sedang menanggung beban yang sangat berat.
Hembusan angin malam menerpa wajah ketika sinta menatap langit yang bertabur jutaan bintang. Hari ini langit begitu indah, tapi tidak sama halnya dengan keadaan hatinya sekarang.
"Apa aku boleh membuat permintaan?" Sinta bertanya kepada bintang-bintang.
"Aku ingin meminta satu saja keajaiban ...," suara Sinta lirih, dadanya perih saat akan mengucapkan permintaanya,
"Bolehkah suamiku hidup lebih lama lagi?"
Sinta tersenyum kecut merasa permintaannya sangat mustahil. Dia berbalik untuk duduk di ayunan kayu yang sering dia gunakan bersama Doni.
Dia mengrenyit saat menemukan buku dengan sampul berwarna hitam.
Sinta tahu buku yang dia pegang milik Doni, terlihat dari tulisan tanganya. Hanya ada beberapa catatan, mungkin Doni menulis saat ingatannya mulai melemah.
"Akhir-akhir ini aku sedikit pelupa, kepalaku juga terasa sakit. Mulai hari ini aku membuat catatan aku tidak mau membuat istriku khawatir. Dia juga sering berkomentar saat aku sering meninggalkan telepon."
Sinta membalik lembaran berikutnya.
"Hari ini aku baru pulang dari dokter. Dia bilang kondisiku mulai memburuk. Jadi, aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi denganmu, Sinta."
Air mata Sinta meluncur begitu saja.
Dai segera bangkit dan melangkah menuruni tangga. Saat kakinya sudah berada di tengah-tengah tangga, dia mendengar suara benda berat terjatuh dari arah kamar.
Buru-buru dia berlari, teringat kondisi Doni.
***
Doni merasakan kepalanya tiba-tiba kembali terasa nyeri. Dia memijiti kepalanya karena sakitnya sudah tidak tertahankan. Pandangannya mulai buyar.
Doni menenggak obat penahan rasa sakit. Perutnya terasa mual, dengan tubuh yang bergetar hebat doni berjalan menuju kamar mandi. Setelah memuntahkan isi perut Doni berniat kembali kekamar. Sayangnya tubuh Doni tidak kuat lagi dan terjatuh di lantai.
Sinta yang baru kembali dari balkon terduduk lemas mendapati suaminya sudah terkapar di lantai. Dia tidak mungkin kuat untuk mengangkat Doni, sehingga dia putuskan untuk mengompres Doni disana.
Perlahan kesadaran Doni mulai pulih.
"Lebih baik kita periksakan ke dokter," Sinta membantu Doni untuk duduk bersandar. Kemudian mengambil telepon genggam berniat untuk menghubungi Dokter Andi.
Belum sempat membuat panggilan, Doni sudah merebut dan membanting telepon milik Sinta.
Brakk!
Sinta menghela napas, menatap telepon miliknya yang sudah terpisah dari bentuk semula.
"Keluar!" Bentak Doni.
__ADS_1
**Bersambung...
🍁🍁🍁**