
Pagi ini, Doni sedang melakukan olah raga di dalam apartemen. Rencananya setelah sarapan Doni ingin mengajak istrinya jalan-jalan, dia ingin memberi sedikit kejutan untuk Sinta.
"Kau hari ini ada acara?"
Tubuh Doni masih basah dengan keringat saat memasuki kamar.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
Sinta yang sedang membersihkan wajahnya, langsung menatap Doni dari depan cermin.
"Kemana?"
"Rahasia."
Doni langsung meninggalkan Sinta yang sedang menatapnya dengan tatapan heran. Pria itu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Setelah mereka selesai mandi dan sarapan Doni langsung mengajak Sinta ke tempat yang akan mereka tuju.
"Sebenarnya kita mau kemana?"
"Aku ingin memberimu kejutan."
Doni memasangkan sabuk pengaman ke tubuh istrinya.
"Aku tidak sedang berulang tahun."
"Memang harus menunggu sampai kau ulang tahun, baru boleh memberi kejutan."
"Awas, jika itu menyangkut hal yang aneh-aneh."
"Aku janji, kau pasti akan suka."
Setelah itu sinta hanya diam dan mengikuti kemana suaminya membawa mobil.
Sinta di buat takjub saat Doni memepikan mobilnya di sebuah rumah mewah dangan desain modern. Dinding rumah mewah itu didominasi dengan kaca dan banyak tanaman dan pepohonan yang mengelilingi rumah.
"Ini...?"
Sinta tidak melanjutka ucpanya karena masih merasa takjub. Dia tidak menyangka jika suaminya mempersiapkan rumah semewah ini.
"Ini rumah kita. Apa kau suka?"
"Aku suka. Ini sangat indah," ucap Sinta takjub.
Istri Doni itu masih menatap rumah mewah di depanya, tanpa berpaling sedikitpun.
"Ayo, kita lihat kedalam!"
Sinta mengangguk. Setelah itu, Doni menggenggam tangan istrinya dan membawanya masuk kedalam rumah. Sinta kembali di buat takjub saat kakinya sudah memasuki rumah yang di bangun Doni tanpa dia ketahui.
"Kapan kita akan pindah?"
"Aku ikut kau saja."
Sinta maih mentap sekeliling rumah. Dia tidak melewatkan sedikitpun pandangannya dari interior rumah.
__ADS_1
"Bagaimana kalu lusa?"
Sinta menatap Doni, karena menurut dirinya terlalu cepat, jika lusa harus pindah kerumah baru.
"Apa tidak terlalu capat? aku saja belum mengemasi semua barang-barang yang akan kita bawa."
"Kemasi saja baju yang akan kau bawa. Karena semuanya sudah aku persiapkan disini. Jadi kita tidak perlu repot pindah dengan membawa semua barang yang ada di apartemen."
"Apa tidak sayang."
Sinta merasa sayang, jika barang yamg ada di aprtemen harus di tinggal begitu saja.
"Tidak, lagi pula aku busa menjualnya lagi."
"Ya, sudah aku ikut saja," ujar Sinta seraya melangkahkan kakinya untuk menjelajahi rumah lebih dalam, "Apa Mama dan Papa sudah tau?"
"Sudah. Malah mereka yang memilihkan perabotan untuk rumah kita."
"Bagus," ucap Sinta sambil menggerakan kepalanya, "Kalian berhasil membuat aku terkejut.
Doni tersenyum menatap istrinya dia pikir Sinta akan marah.
"Ayo, kita pulang aku sudah merasa lapar lagi."
"Padahal baru saja kau sarapan."
"Aku juga tidak tau kenapa, nafsu makanku akhir-akhir ini meningkat."
"Kita ke restoran saja. Aku hanya masak sedikit tadi."
"Baiklah."
Rama ada janji bertemu dengan temanya di sebuah restoran ternama, saat akan memasuki restoran tersebut tidak sengaja netra Rama bertatapan dengan mata indah milik Sinta.
Dia merindukan wanita itu, tapi entah mengapa langkahnya enggan untuk menghampirinya, mungkin karena Sinta duduk di temani dengan suaminya atau karena dia merasa kecewa.
Dengan tatapan datar Rama melangkah melewati Sinta, menuju meja yang sudah dia pesan.
Sedangkan Sinta merasa aneh dengan sikap Rama, niatnya untuk menyapa dia urungkan, Rama bersikap seolah mereka tidaklah saling mengenal. Sikap ramah dan senyum manis Rama, seolah hilang berganti dengan wajah datar.
Kenapa dia? apa dia marah padaku karena aku lupa mengundangnya di acara pernikahan, atau dia marah karena sudah lama tidak aku hubungi.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit kedua teman Rama akhirnya tiba.
"Hey, Bro. Kau melamun?"
Mike menepuk bahu Rama yang diam saja tanpa menyambut kedatangan mereka.
"Tidak." Rama hanya menjawab pendek.
"Aku lihat dari tadi kau hanya sibuk memandangi wanita yang duduk di depan kita." Daniel bergumam sambil membuka buku menu.
"Tunggu! Jangan katakan jika wanita yang membuatmu akhir-akhir ini murung adalah dia." Mike menunjuk tepat kearah Sinta.
Rama yang melihat itu langsung menarik tangan Mike untuk segera di turunkan sebelum Sinta mengetahuinya.
"Apa-apan kau ini! Kau ingin membuat keributan, jika pria itu tau kau sedang menunjuk istrinya?"
__ADS_1
"Kau kenapa marah-marah?" tanya Mike, "lagi pula suaminya juga tidak melihat."
Daniel yang melihat ke dua temanya hanya sibuk berdebat langsung menggebrak meja.
Brak!!
Semu pengunjung menatap kearah meja yang di tampati Daniel, termasuk Doni dan Sinta yang menatap heran.
"Apa kalian bisa berhenti. Aku kemari ingin makan, bukan ingin melihat kalian berdebat."
Daniel berucap dengan kencang, tanpa memperdulikan orang yang menatapnya aneh.
Tidak berselang lama makanan yang mereka pesan akhirnya tiba. Saat Rama mengalihkan pandangan Sinta sudah tidak ada di tempatnya.
Mungkin mereka sudah pulang.
"Mungkin ini terakhir aku mentraktir kalian."
Daniel dan Mike langsung meletakan kembali makanan yang akan masuk ke dalam mulut mereka.
"Maksudmu?" tanya Mike.
"Besok aku harus berangkat ke turki."
Daniel mendengus sambil menelan kembali makanannya, "Patah hati saja, kau sampai terbang ke turki."
"Kau mau apa ke turki," tanya Mike yang berpikir sedikit waras.
"Aku harus mengawasi usaha ayahku. Disana ada sedikit masalah."
"Kau kesana bukan karena patah hati, kan?"
Sebenarnya alasan Rama pergi ke turki bukan semata-mata karena urusan pekerjaan. Dia ingin menata hatinya kembali, jika dia terus berada disini bisa saja dia mempunyai pikiran untuk merebut Sinta dari suaminya. Maka dari itu, pergi yang jauh adalah pilihanya untuk bisa melupakan Sinta.
"Aku pasti sangat merindukanmu," Daniel berdiri dan menghambur untuk memeluk Rama, "Kau jangan lama-lama disana," lanjut Daniel.
"Kau seperti orang miskin saja," celetuk Rama seraya melepaskan pelukan Daniel.
Rama merasa malu atas tingkah Daniel. Semua pandangan mata mengarah padanya dengan tatapan miris.
"Ah, iya aku lupa. Aku bisa meminjam jet milik Mike, jika aku merindukanmu."
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi disana."
Mike menepuk bahu Rama untuk memberi kekuatan pada sahabatnya itu, "Baik-baik disana, setelah urusanmu selesai cepatlah kembali."
Setelah itu, mereka bertiga keluar dari restoran, sampai di parkiran mereka berpisah menuju kendaraan masing-masing.
Daniel melambaikan tangan saat Rama akan memasuki mobil, pria itu menangis seperti akan di tinggal pacarnya pergi. Mike yang melihat itu langsung memukul kepala Daniel.
"Kau berlebihan sekali, jika ada wanita yang melihat pasti dia berpikir kau penyuka tongkat."
"Biarkan saja."
Setelah Daniel masuk kedalam mobil Mike langsung mengendarai mobilnya menunggalkan Restoran.
Bersambung...
__ADS_1
🌺🌻🌼🌷🌸🌺