
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa merasakan namanya berlibur," ujar Diska riang sembari melompat-lompat kecil.
Mereka check-in lebih awal dan saat ini sedang menunggu keberangkatan pesawat mereka.
"Aku juga sudah tidak sabar ingin segera berenang disana," ujar Rania menimpali.
Mereka nampak senang dan tidak henti-hentinya berceloteh membayangkan indahnya pula yang akan menjadi tempat mereka berlibur.
Sedangkan Sinta yang duduk tidak jauh dari Daniel hanya menyimak obrolan Rania dan Diska.
"Sepertinya kau terlihat tidak antusias dengan liburan ini?" tanya Daniel.
"Tidak juga. Malah aku sangat senang dengan pantai."
"Tapi wajahmu menunjukkan jika kau tida senang, tidak seperti mereka."
Bukan Sinta tidak senang melakukan liburan ini. Jika ada Mike dan Daniel tentu saja pasti Rama juga akan ikut. Dia malas untuk bertemu Rama lagi setelah insiden itu.
"Mungkin karena baru pertama kali ini mereka merasakan liburan selama bekerja denganmu," kilah Sinta.
"Aku memang tidak pernah mengajak mereka liburan," jawab Daniel jujur
"Yang benar saja," ujar Sinta tidak percaya. "Bagaimana mereka bisa betah bekerja denganmu?" tanya Sinta lagi. "Jika aku jadi mereka pasti aku akan segera keluar dari perusahaanmu," Sinta mencibir sikap Daniel yang terlalu semena-mema terhadap Rania dan Diska.
"Kau tidak salah berbicara?" Daniel menatap Sinta dengan mata yang sedikit melebar.
"Apa bedanya denganmu sekarang?" lanjut Daniel.
"Tentu saja berbeda, aku hanya sedikit beruntung dari mereka. Jika kau samakan sikapmu kepadaku seperti apa yang kau lakukan pada mereka, tentu saja aku dengan senang hati akan keluar dari perusahaanmu."
"Mana bisa? Kau masih terikat kontrak dengan perusahaanku."
"Maka dari itu kau harus memperbaiki sikapmu kepada mereka."
"Ya, ya, terserah kau saja," ujar Daniel mengalah.
"Hai semua," sapa Mike yang baru saja tiba membuat mereka menoleh bersama.
"Dimana Rama?"
Daniel menatap ke sekitar Mike, orang yang di cari ternyata tidak ada.
"Dia tidak ikut. Dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya."
Sinta tersenyum samar mendengar bahwa Rama tidak ikut dalam liburan ini.
"Aku tidak percaya jika dia sibuk," ucap Daniel tidak percaya.
"Ah, aku lupa mengataknnya padamu, jika orang tidak berguna itu saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan barunya."
Daniel hnya mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Dia mengurus perusahaan ayahnya sekarang."
"Jadi dia akan memetapa lagi di sini?"
Mike hanya mengangguk.
Setelah itu terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat senentar lagi take off.
Pramugari berbaris sangat rapih dan cantik mempersilahkan mereka masuk dengan sangat sopan. Sesui nomor yang tertera di tiket, Sinta duduk tepat di dekat jendela. Posisi yang dia sukai. Di seberangnya Daniel duduk berdekatan dengan Mike, sedangkan Rania dan Diska diduduk di kursi bagian depan Sinta.
Sinta mengamati ke sekitar, semua kursi sudah terisi penuh, hanya tinggal kursi di sebelahnya saja yang kosong.
Mungkin dia terlambat. Seharusnya, dia bisakan check-in lebih awal?
Saat tengah sibuk dengan pemikirannya, seseorang duduk di sebelahnya dengan kemeja pendek dengan corak abstrak dan celana pendek berwarna putih.
Sinta bisa mengenali pria itu saat di membuka kacamatanya. Tiba-tiba rasa kesal menyeruak di dadanya.
"Aku pikir kau tidak ikut," ujar Daniel sedikit pelan.
"Aku pikir tidak ada salahnya ikut berlibur." Rama menjatuhkan bokongnya di kursi sebelah Sinta.
Aku tidak menghiraukan obrolan manusia yang duduk di sampingku dengan Daniel. Aku lebih memeilih menetralkan jantungku yang berdetak lebih kencang karena peswat mulai take off. Entah kenapa walaupun sudah sering naik pesawat ketika akan take off perasaan Sinta jadi tidak karuan.
"Is... is... is... wajahmu pucat. Jika tidak bisa naik pesawat seharusnya kau di runah saja."
Terdengar suara Rama mencibir Sinta. Sedangkan Sinta lebih memilih menyalakan layar monitor di hadapannya dan memasangkan earphone di telinga. Setelah itu dia memilih salah satu film dan menontonnya.
Sinta memalingkan wajahnnya ke arah jendela untuk menikmati pemandangan lautan yang terbentang luas.
Tidak terasa mata Sinta mulia mengantuk dan dia berniat untuk menarik penutup jendela pesawat. Tabi sebelum itu suara yang berada sangat dekat di sebelahnya membuat Sinta berhenti.
"Jangan di tutup. Aku suka pemandangan saat di atas pesawat." bisik Rama setelah menarik earphone yang menutup telinga Sinta.
"Ck..!" Sinta berdecak kesal. "Seharusnya kau memilih tempat duduk di dekat jendela saat membeli tiket. Jangan merepotkan aku seperti ini," ujar Sinta tidak suka.
"Kau pelit sekali. Jika aku mau, aku akan membeli pesawat ini sekarang dan menendangmu keluar dari sini."
Sinta yang kesal langsung menarik penutup jendela tanpa menghiraukan Rama yang sedang menggerutu. Setelah itu, Sinta mendorong wajah Rama dengan telapak tangan agar pria itu menjauh.
"Terserah! Lakukan sesuka hatimu."
"Kau kurang ajar sekali mendorong wajahku dengan tangan jelekmu itu."
Sinta tidak menjawab, matanya terpejam dan hanya mengarahkan telapak tangannya tepat ke depen wajah Rama.
Ngomong sama tangan, Gue!
"Kau!" bentak Rama sedikit keras. Semua mata menatap ke arahnya membuat Rama tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kau berisik sekali, Dude. Apa kau baru pertama kali naik pesawat?" Sindir Daniel.
__ADS_1
Rama hanya memberikan tatapan tajam ke arah Daniel.
Tidak tetasa perjalanan sudah memakan waktu dua jam. Pemberitahuan dari pramugari bahwa sebentar lagi pesawat akan landing membuat Sinta menghembuskan nafas lega.
Akhirnya bebas.
Setelah keluar dari pesawat Daniel memandu mereka menuju bus yang akan membawa mereka ke pelabuhan. Setelah itu, mereka akan menaiki kapal yanag akan membawa mereka menyeberang menuju pulau.
Memang perjalanan mereka nampak melelahkan tapi semua itu terbayar saat mereka sudah sampai di pulau.
"Jika tahu begini, lebih baik aku naik jet saja tadi," gerutu Mike.
"Tidak ada landasan disini. Akan kau parkirkan dimana pesawatmu?"
"Aku sangat lelah. Kenapa tidak kau bangun landasan saja disana." Mike mengembuskan nafas kencang.
Kapal yang membawa mereke menuju pulau milik Daniel sudah berlabuh. Tidak henti-hentinya Rania dan Diska berdecak kagum saat kaki mereka menginjak pulau dengan luas 15 hektare yang di kelilingi pantai pasir putih dan terumbu karang. Sedangkan karyawan lain memilih mengabadikan momen langka ini di dalam kamera ponselnya. Ini menjadi penglaman pertama merek berlibur di pulau dengan fasilitas resort mewah.
"Dimana kamarku?" tanya Sinta sambil menyeret koper miliknya. "Aku tidak mau harus sekamar dengan orang lain."
Sedangkan rama hanya bersikap mmeyebalkan dengan mertawakan Sinta remeh.
Di resort pulau milik Daniel memang tedapat 15 villa. Terdiri dari 5 villa pantai, 2 di antaranya merupakan twin badroom, 4 villa kebun dan 4 villa air. Jika sedang tidak di gunakan Daniel akan memyewakan tempat ini dengan harga sewa permalam kisaran 16 juta per malam.
Bisa di bilang otak bisnis Daniel berjalan selaras dengan otak mesumnya.
"Ini." Daniel memberikan kunci villa kepada Sinta.
Daniel melakukan hal yang sama kada Rama, Mike, dan karyawan lain.
Bedanaya. Tapi itu tidak masalah untuk mereka.
Setelah itu Sinta menyeret kopernya menuju villa tepi pantai sesuai dengan kunci yang di berikan Daniel. Saat melewati Rama di berikannuya tatapan menanang untuk Rama. Terbersit ide jahil saat Rama membalas tatapan Sinta.
"Aduh!" pekik Rama saat kaki Sinta dengan kuat menginjak kakinya.
"Ah, maaf aku tidak sengaja," ucap Sinta dengan wajah bersalah yang di buat-buat. "Aku tidak tahu jika kakimu ada di situ."
Sedangkan wajah Rama memerah menahan sakit dan kesal secara bersamaan.
"Dia tidak apa-apa, Nona. Hanya terinjak tidak akan membuatnya pingsan," sahut Mike.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi."
Sinta tersenyum manis meninggalkan mereka. Senyum manis Sinta berubah menjadi senyuman puas saat tubuhnya berbalik. Akhirnya dia bisa membalas rasa kesalnya.
"Awas kau!" Desis Rama saat tubuh Sinta mulai menjauh.
Bersambung...
🍁🍁🍁
__ADS_1