Bos Duda

Bos Duda
Bab 24


__ADS_3

"Berhenti!"


Dua orang yang sedang beradu argumen seketika menoleh ke arah Sinta.


"Bisa kalian berhenti, kepala ku terasa pusing melihat kalian berdebat."


"Kau itu bagaiman, Doni? cepat ambilkan obat sakit kepala!"


"Tidak usah." Sinta mencegah Doni yang hendak berdiri. "Aku hanya butuh istirahat saja. Aku permisi, silahkan kalian lanjutkan lagi."


ย 


Setelah Doni dan Diana mengangguk, gadis itu berjalan meninggalkan ruangan.


"Aku menyukainya," ucap Diana saat melihat punggung Sinta mulai menghilang dari balik pintu. "Apa, Papa juga setuju?


"Papa dan Mama sangat menyukai Sinta."


"Bagus kalu begitu. Kapan akan segera kau resmikan."


"Aku belum memikirkan itu, kak."


"Kenapa? menurutku, gadis seperti Sinta cukup mudah untuk mendapatkan pria jika kau tidak segera bertindak."


Doni berpikir apa yang Diana ucapkan barusan benar. Mungkin dia harus segera melamar Sinta sebelum ada yang menggeser posisinya. Satu nama langsung muncul dalam pikirannya, "Rama" mungkin dia yang akan mengambil alih posisinya jika Doni tidak bergerak cepat.


"Apa, kau masih menunggu Anne?" tebak Diana.


"Tidak. Bagiku dia sudah menjadi masa lalu."


"Aku senang mendengarnya. Lupakan Anne dan jadikanlah Sinta masa depanmu."


Doni mengangguk. "Aku orang pertama yang akan memberi pelajaran jika kau menyakiti Sinta," lanjut Diana.


Entah kenapa Diana merasa sangat menyukai Sinta, sama seprti dulu saat Diana pertam kali bertemu dengan Lidya. Berbeda dengan Anne yang menurutnya penuh kepalsuan. Walaupun Anne dan Lidya kembar, tapi sifat mereka sangat berbeda.


"Akan aku cari waktu yang pas untuk melamar Sinta."


Diana tersenyum dan menepuk bahu Doni. "Baiklah, kau atur saja." Setelah itu Diana berdiri mengambil tasnya yang berada di atas meja. "Aku pulang dulu. Tadinya aku kesini ingin memukulmu, tapi karena sekarang aku sedang baik. Jadi kau aku bebaskan."


"Kenapa aku harus di pukul?"


Diana langsung menatap tajam Doni yang masih duduk di sofa. Seketika pria itu tersadar jika tadi dia membuat kesalahan dengan meninggalkan kakaknya.


"Oke. Aku minta maaf," ucap Doni, seraya mengangkat tangannya ke atas tanda menyerah.


"Anak pintar. Jangan buat aku kembali marah."


Setelah itu Diana benar-benar meninggalkan ruangan Doni.


Sinta langsung pulang setelah keluar ruangan Doni. Gadis itu rencanany akan menyiapkan keperluan untuk keluar kota. Tapi sebelum itu Sinta akan istirahat sebentar.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Sinta saat ini sedang merapikan baju yang akan dia bawa, menurut Doni mereka di luar kota sekitar tiga hari. Gawainya berbunyi saat dia tengah menutup koper.


'Kau dimana?'


'Aku di tempat kos. Ada apa?'


Tidak ada jawaban disana Rama mematikan sambungan telepon.


"Dasar aneh." Sinta meletakkan kembali gawai di atas meja.


Saat akan ke kamar kecil, gawainya kembali berdering.


'Aku diluar. Cepat kemari.'

__ADS_1


"Awas saja jika bukan hal penting."


Mengambil cardigan dan mengenakannya, Sinta keluar dari kamar kos untuk menemui Rama.


"Ada apa?" Sinta berdiri di depan Rama yang sedang duduk memainkan gawainya.


"Kau galak sekali. Tidak baik menerima tamu dengan wajah seperti itu."


"Kau membuat waktuku terbuang." Gadis itu menjatuhkan bokongnya di sofa. "Aku sebentar lagi harus keluar kota."


"Bersama Doni?" Sinta mengangguk menjawab pertanyaan Rama.


Sampai saat ini Rama tidak mengetahui jika yang menjadi kekasih Sinta adalah Doni. Gadis itu juga tidak berniat untuk memberi tahu. Biar saja nanti Rama mengetahui dengan sendirinya.


Setelah itu, Rama memberikan kotak yang berisikan makanan.


"Apa ini?" tanya Sinta meraih kotak yang di berikan Rama.


"Buka saja pasti kau menyukainya."


"Wah.... Dari mana kau tahu aku sangat menyukai Donat?"


Bagi Rama, mengetahui apa yang Sinta suka itu sangat mudah.


"Itu mudah. Bahkan yang ada di otak-mu saja aku bisa tahu."


"Ya ya ya. Terserah kau saja," ucap Sinta sambil menyuapkan donat ke dalam mulutnya.


Rama berdiri dari duduknya dan memasukan ponsel kedalam saku celana. "Aku harus pulang. Hari-hati di jalan," ucap Rama sambil menepuk kepala Sinta.


Sinta menghentikan kunyahan saat merasakan tangan Rama menyentuh kepala. Ada perasaan hangat di sudut hatinya.


'Mungkin begini rasanya jika punya kakak laki-laki,' gumam Sinta.


Setelah itu Rama berjalan menuju gerbang. "Lain kali bawakan lagi jika kau berkunjung!" teriak Sinta. Rama memberikan isyarat Ok dengan tangannya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


"Perlengkapan wanita itu lebihย  banyak dari pada pria."


"Tapi tidak sebanyak itu juga." Tunjukย  Doni ke arah koper.


"Itu 'kan, hanya koper kecil. Kalau kau keberatan, aku tidak usah ikut saja."


Doni menghela nafas "Oke. Aku tidak akan protes lagi. Sekarang pakai sabuk pengaman kita akan berangkat."


Setelah itu Doni menjalankan mobilnya menembus jalan raya.


Meraka sudah menempuh perjalanan selama dua jam tapi belum juga sampai. Saat memasuki area pegunungan Sinta berdecak kagum melihat pemandangan indah disisi jalan.ย 


"Apa kita masih lama?" tanya Sinta yang merasa perutnya sudah mulai lapar.


"Sebentar lagi kita sampai."


"Aku sudah lapar. Bisa kau berhenti di rumah makan atau restoran."


"Baiklah, kita mencari makan dulu."


Doni menepikan kendaraan saat melihat rumah makan padang yang terletak di pinggir jalan. Pemandangan hamparan sawah yang luas menambah sejuk mata setiap orang yang sedang menyantap makan. Mereka turun dan langsung memesan makanan tidak bisa berlama-lama menikmati pemandangan karena hari sudah mulai gela.


"Kenyang," ucap Sinta setelah menghabiskan satu piring nasi rendang.


"Setelah ini kita lanjutkan perjalanan lagi. Sebelum hari gelap kita harus sampai di villa."


Sinta mengangguk. "Sebenarnya kita kesini akan bertemu dengan siapa?"


"Pemilik Royal hotel dia ingin aku mengunjunginya."

__ADS_1


"Pemilik Royal hotel?" ulang Sinta tidak percaya. "Aku heran kenapa orang sekaya dia lebih memilih tempat yang jauh dari kota."


"Aku juga tidak tahu."


Sedikit lagi mereka akan sampai di villa milik keluarga Doni tapi seperti tidak mau di ajak kerja sama mobil Doni tiba-tiba mogok.


"Shit. Aku lupa tidak mengisi bahan bakar."


Sinta hanya memandang tidak percaya padahal sedikit lagi mereka akan sampai. "Sekarang kita harus bagaimana?"


"Terpaksa kita harus jalan kaki." Doni menatap Sinta yang sepertinya enggan untuk turun. "Hanya tinggal 100m lagi." Doni meyakinkan Sinta bahwa jarak meraka dengan villa sudah tidak jauh.


Sinta menghela nafas menatap jalanan yang menanjak di depannya, "Baiklah hanya 100m."


"Koper milik'mu letakkan disini, bawa baju seperlunya saja. Besok pagi biar Pak Hadi (penjaga villa) yang mengambil mobil."


ย 


Akhirnya Sinta dan Doni berjalan kaki menuju villa yang akan mereka tuju. Sinta mengumpat karena berjalan kepayahan dengan kondisi jalan yang menanjak. Dia berpikir mungkin sepatu yang ia kenakan sangat menghambat dengan kesal dia melepaskannya.


"Kenapa aku sial sekali."


"Sebentar lagi sepertinya akan hujan." Doni menatap langit yang memancarkan kilat tanpa menjawab pernyataan Sinta. Baru tertutup bibir Doni hujan lebat langsung mengguyur mereka.


Sinta yang sudah merasa kesal ingin menangis saat itu juga. Gadis itu tidak menyangka jika perjalanannya akan seperti ini.


"Ayo cepat! kau nanti kedinginan." Doni menarik tangan Sinta untuk mengikuti langkahnya.


Doni merasa lega karena mereka sudah sampai di villa. Tidak ada orang lain selain mereka Pak Hadi dan istrinya sudah pulang sebelum petang. Mereka ada anak yang masih kecil jadi tidak bisa di ajak untuk menginap.


"Cepat ganti bajumu."


Doni mengalihkan tatapan kearah Sinta karena merasa tidak ada jawaban. Pria itu kaget melihat Sinta yang menggigil dengan bibir yang sudah berwarna biru.


"Apa kau punya riwayat Hipotermia?"


Sinta mengangguk karena tidak sanggup menjawab pertanyaan Doni. Cuaca pegunungan yang dingin dan baju Sinta yang basah kuyup membuat tubuhnya tidak bisa mengatasi tekanan suhu dingin.


Tidak menunggu lama Doni langsung menggendong Sinta menuju kamar.


Dengan perlahan pria itu mengganti baju Sinta yang basah. Tidak ada penolakan dari Sinta membuat pekerjaannya lebih mudah. Setelah slesai dengan sinta Doni langsung mengganti pakaiannya dengan yang kering.


Kau tunggu sebentar aku buatkan teh hangat dulu." Sinta yang setengah tersadar hanya mengangguk.


Doni kembali Ke kamar dengan membawa satu gelas teh, pria itu langsung menyuapi Sinta dengan perlahan. Doni pikir setelah mengganti pakaian dan memberi Sinta teh hangat keadaan akan membaik.


Kenyataannya Sinta mulai kehilangan kesadarannya hanya bunyi gemelutukย  gigi Sinta yang beradu.


"Sinta!" Panggil Doni dengan menepuk pipi kekasihnya agar merespon.


Pria itu semakin bingung karena tidakย  ada kendaraan untuk mencari obat atau membawanya kerumah sakit. Hanya satu cara yang harus Doni lakukan saat ini.


"Maafkan aku," ucap Doni yang kembali membuka pakaian Sinta.


Pria itu melucuti semu pakaian yang dikenakan Sinta, hanya menyisakan pakaian dalam saja. Doni pun melakukan hal yang sama.


Dia menaiki ranjang dan langsung memeluk Sinta. Tidak lupa dia menggunakan selimut yang tebal dan mematikan AC. Doni melakukannya bukan tanpa alasan dia ingin menyalurkan panas tubuh miliknya. Maka dari itu dia harus memeluk Sinta karena panas tubuh akan mudah berpindah ketika tubuh saling menempel ke tubuh lainya.


"Kenapa dia bisa berdiri disaat seperti ini," ucap Doni.


Merasakan ada yang hidup di bawah sana membuatnya frustasi. Mungkin akibat dari tubuhnya yang bersentuhan dengan kulit lembut milik Sinta.


"Mungkin setelah ini aku yang demam."


Bersambung...


๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2