
Rani berjalan menuju warung yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Suara orang mengobrol terdengar sedang membicarakan sesuatu yang seriuas, obrolan mereka berhenti kala melihat ke datangan Rani.
"Beli apa, Bu Rani?" sapa wanita gempal dengan riasan yang mencolok. Sedangkan dua orang yang berada di belakang hanya tersenyum untuk menyapa Rani.
"Beli pisang, Bu Dian." Rani tersenyum dan kembali memilih pisang yang akan dia beli.
"Saya turut perihatin," Dian memulai pembicaraanya dengan wajah prihatin.
Rani mengangkat alis merasa tidak mengerti dengan ucapan Dian.
"Untuk apa?"
"Saya merasa kasihan dengan Sinta. Semenjak suaminya meninggal dia terlihat mengurung diri. Apa dia baik-baik saja," Dian menatap Rani untuk melanjutkan kalimatnya, "Maksud saya kejiwaannya."
"Sinta baik-baik saja. Bu Dian, tidak perlu khawatir."
Rani buru-buru memasukkan pisang ke dalam plastik dan memberikan uang kepada pemilik warung.
"Saya duluan, Bu Dian. Permisi!"
***
"Kau tidak tidur lagi, semalam?"
Rani meletakkan pisang goreng di atas meja dan mengambil tempat duduk di samping Sinta.
"Aku lupa minum obat tidur."
Rani mendesah, "Seharusnya kau periksakan gangguan tidurmu,"
"Aku sudah periksa," Sinta mengambil pisang goreng dan memakannya.
Rani menatap tidak percaya, "Kau sebut periksa, jika hanya meminta kepada dokter resep obat tidur? Ini sudah enam bulan, Sinta. Sejak Doni meninggal dan selama itu pula kau mengalami insomnia."
Sinta hanya diam.
Sebenernya Rani sangat khawatir dengan kondisi Sinta. Dia takut anaknya mengalami depresi hingga berpengaruh pada pola tidurnya.
"Mamak pikir, ada baiknya kau periksakan dirimu ke psikiater."
Rani berbicara dengan lembut agar Sinta tidak tersinggung. Dia ingin Sinta mendapatkan terapi, agar insomnia yang di derita cepat sembuh. Dia khawatir akan ada efek sampng jika Sinta terlalu lama mengkonsumsi obat tidur.
"Aku masih waras Mak, jadi untuk apa ke psikiater?"
Sinta beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rani tanpa berpaling.
"Sinta, dengarkan Mamak dulu!" seru Rani seraya berdiri untuk mencegah Sinta.
Tapi Sinta tidak menggubris, dia malah menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Kusdi mengusap lembut bahu istriny. Dia yang dari tadi duduk di ruang tamu juga menyimak pembicaraan istri dan anaknya. Tidak hanya kali ini mereka menawarkan agar Sinta mau mengobati insomnia yang dia derita. Sudah sering, tapi Sinta selalu menolaknya. Alasannya, dia masih baik-baik saja.
"Kita coba lagi untuk membujuknya nanti," usul Kusdi mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
Rani memandang sendu ke arah suaminya.
"Dia mencoba memendam rasa kehilangannya atas meninggalnya Doni."
Rani tahu apa yang sebenarany Sinta rasakan. Dan dia ingin Sinta mau membagi semua rasa yang dia pendam kepada mereka.
"Dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi aku tahu dia tidak sedang baik-baik saja. Aku ingin dia mencurahkan semua yang dia rasakan agar bebannya berkurang." Rani menatap pintu kamar sinta yang sedang tertutup. "Aku takut jiwanya akan terguncang."
Kusdi memeluk bahu istrinya. "Sinta wanita yang kuat, kau jangan cemas. Mungkin dia masih butuh waktu untuk membagi semua yang dia rasakan kepada kita."
Di kamar, Sinta sedang manatapi foto Doni. Selalu seperti ini, selama berada di rumah orang tuanya Sinta lebih senang menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Kau tau?" Sinta mengusap foto Doni. "Mereka berfikir jika aku sekarang sudah gila." Kemudian Sinta memeluk foto Doni.
"Padahal karena aku jarang keluar rumah dan kesulitanku saat akan memejamkan mata pada malam hari." Sinta kembali meletakkan foto Doni ke atas meja.
Sinta mengatuk-atukkan jari lentiknya di atas meja.
"Mungkin aku harus segera kembali."
Sinta meletakkan ke dua tangannya di atas meja untuk dia jadikan tumpuan. "Terlalu lama disini membuatku benar-benar gila."
Sinta segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Jemput aku besok. Aku akan kembali," Perintah Sinta saat panggilanya di angkat.
Terdengar suara seseorang di seberang sana mengumpat, dia merasa kesal karena Sinta mengabarinya dengan mendadak.
Salah satu alasan,dari banyaknya alasan Sinta memutuskan kembali ke kota adalah, dia tidak mau menjadi beban orang tuanya. Sudah cukup waktunya untuk membenahi diri, walupun yang dia dapat hanya penyakit sialan yang menggangu tidurnya. Banyak orang yang berpikir dia depresi karena di tinggal mati suaminya atau lebih parah lagi Sinta sering di bicarakna gila. Mungkin karena selalu mengurung diri dan tidak pernah bergaul. Padahal tanpa mereka ketahui di saat siang hari Sinta menghabiskan waktunya untuuk tidur.
Kemudian di menatap bergantian kedua orang tuanya. "Aku janji setelah sampai di sana akan langsung memeriksakan diri." Sinta tersenyum untuk meyakinkan ke dua orang tuanya.
"Mamak, sangat khawatir denganmu Sinta. Apa tidak lebih baik kau jual saja rumah itu. Agar kau bisa menetep disini?"
"Tidak bisa, Mak. Aku tidak berniat untuk menjualnya karena rumah itu peninggalan mas Doni."
Kusdi hanya diam. Semua pertanyaan yang ada di pikiranya sudah di utarakan oleh Rani.
"Bapak, mengijinkan Sinta pergi, kan?" Sinta bertanya kepada Kusdi yang dari tadi hanya diam.
Kusdi menghela nafas. Merasa berat untuk membiarkan Sinta kembali ke kota.
"Bapak akan memberimu ijin, tapi ..." Kusdi menjeda kalimatnya untuk beberapa saat, "tidak ada alasanmu untuk tidak melakukan pengobatan."
Sinta mengangguk kemudian tersenyum menyetujui permintaan Kusdi.
"Suadah siap." Suara Diana mengintrupsi ketiga orang yang sedang berbicara serius. Diana baru saja dari luar untuk menerima telpon dari manajernya.
"Kami titip Sinta, Nak Diana."
"Jangan khawatir saya akan menjaga wanita keras kepala ini."
Diana kemudian menyalami ke dua orang tua Sinta.
__ADS_1
***
Saat dalam perjalanan Diana tidak berhenti mengoceh, dia merasa kesal karen adik iparnya itu mebuatnya harus menunda jadwal pemotretan.
"Aku kan hanya memberikan kabar," kilah Sinta yang merasa sangat pusing mendengar ocehan Diana.
"Kau meminta jemput, apa itu yang di namakan memberi kabar?"
Sinta meringis memdengar nada bicara Siana yng sedikit keras. "Kau kan bisa menyuruh supir," elak Sinta.
"Bagaimana bisa aku menyuruh supir jika Mama dan Papa yang memaksaku. Mereka akan merasa lega jika aku yang menjemputmu sendiri."
Sinta tersenyum mertuanya itu memang sangat perhatian.
"Lagi pula heran, sebenarnya yang menjadi anak mereka itu siapa?" gerutu Diana.
Kemudian Diana menatapa sekilas Sinta yang duduk di sebelahnya. Dia terkekeh melihat penampilan Sinta sekarang. Terlihat cacat fashion dan berantakan dalam arti sebenarnya.
"Kau kenapa, Kak?"
"Penampilanmu kacau sekali. Kau sangat berantakkan."
Diana merasa aneh dengan penampilan Sinta. Menggunakan baju longgar dan celana bahan sedangkan rambutnya yang acak-acakan hanya diikat begitu saja.
"Aku nyaman seperti ini. Kenapa kau cerewet sekeli?"
"Jika Doni melihatmu seperti ini pasti--" Diana menghentikan kalimatnya karena dia salah dengan berbicara seperti itu.
"Maaf," lanjut Diana. "Seharusnya aku tidak menyebut adikku tadi."
"Tidak apa, Kak. Aku baik-baik saja." Sinta memaksakkan senyumnya.
Walaupun Sinta akui jika ada seseorang yang membahas tentang Doni, hatinya akan terasa ngilu.
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku tidak tahu. Mungkin aku akan mencari kesibukan. Dengan begitu aku bisa tidur dengan nyenyak."
Diana mengangkat salah satu alisnya, "Aku tidak mengerti dengan ucapanmu."
"Akhir-akhir ini pola tidurku tidak baik."
"Lalu apa hubungannya?" tanya diana yang masih tidak mengerti.
"Mungkin saja jika tubuhku lelah akan membantuku cepat tidur."
"Aku rasa ucapanmu terdengar sedikit aneh. Tapi terserah kau saja. Aku hanya ingin memberitahu saja, jika tawaran Papa masih berlaku."
Sinta menyandarkan salah satu sikunya di pintu mobil telapak tangannya dia gunakan untuk mengusap keningnya. Dia merasa enggan untuk kembali bekerja di kantor.
"Aku ingin bekerja dengan suasana yang baru, Kak."
Bersambung...
__ADS_1
🍁🍁🍁