Bos Duda

Bos Duda
Bab 39


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Daniel dan Mike sudah berada di depan rumah besar keluarga Danu Wirawan. Mereka menunggu satpam membukakan pagar untuk mereka.


Sedangkan satpam yang berjaga merasa bingung dengan ke datangan ke dua pria itu.


"Ada perlu apa, Mas?" tanya satpam dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Sesekali dia mengucek matanya yang terasa berat. Dia tidak sadar, jika ke dua tamu tidak tahu diri itu, orang yang sering berkunjung kerumah tuannya.


Daniel berdiri di luar pagar dengan menentenagkan kedua tangan, "Buka pagarnya! Aku mau masuk!" ucap Daniel cuek.


Satpam itu langsung membuka pagar saat mengenali suara Daneil.


Sedangkan Mike hanya mengekor di belakang Daniel, dia menggerutu di sepanjang langkah kakinya. Pria yang masih mengenakan piama tidur itu merasa sangat kesal dengan ulah Daniel, dia harus terbangun pagi sekali karena desainer mesum itu menggedor pintu kamarnya.


"Mike!" Teriak Daniel dari balik pintu.


"Ayo cepat! Rama akan segera berangkat," Seru Daniel saat itu.


Mike yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya langsung ikut saat Daniel menariknya keluar. Dia sudah berjanji mengantar Rama ke bandara.


Tapi semunya berubah saat Mike masuk ke dalam mobil Daniel. Dia menatap tajam ke arah temanya itu.


"Sekarang jam berapa," tanya Mike. Dia merasa curiga, karena hari masih sangat gelap sekarang.


Daniel menoleh saat akan menyalakan mesin mobil, "Jam setengah lima." Daniel menjawab dengan santai.


"Kau...!" Mike mendesis. Di menunjuk wajah Daniel dengan geram.


Jika saja saat ini Mike memegang pistol, pasti akan segera dia tembakkan tepat di kepala Daniel.


"Lebih baik kita datang awal, bukan?"


Daniel kemudian meyalaka mobilnya menuju rumah Rama, tanpa memperdulikan wajah merah Mike.


Mike hanya bisa meremat rambut frustasi, dia merasa bodoh jika di dekat Daniel. Sebenarnya Mike tidak tahu, kenapa sampai sekarang dia masih betah menjadi sahabat pria idiot yang sedang mengemudikan mobilnya.


Daniel mengrenyitkan dahi.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Daniel tersenyum sekilas kembali fokus mengemudi. "Aku tau... aku lebih tampan darimu. Jadi, jangan menatapku seperti itu. Aku risih."


Mike hanya mendengus seraya memejamkan matanya. Setelah pulang nanti, dia harus memberi hukuman kepada pelayan yang sudah membukakan pintu untuk Daniel.


****


Tidur Rama terusik saat terdengar suara gaduh dari balik pintu kamarnya. Dengan langkah berat Rama membukakan pintu. Rama menguap tepat saat pintu sudah terbuka. Tapi kemudian matanya terbelalak saat melihat sipa pelaku yang membuat keributan di luar kamarnya.


"Apa kalian tidak punya jam?"


"Dia yang memaksa." Tunjuk Mike ke arah Daniel yang sedang tersenyum bodoh.


Rama mengarahkan tatapan tajam ke arah Daniel.


"Aku hanya ingin mengantarmu," ucap Daniel polos.


"Minggir!" Mike merobos masuk kekamar Rama. Matanya masih terasa berat jadi dia akan melanjutkan tidurnya lagi. Masa bodo dengan Rama dan Daniel yang sedang berdebat.


"Ya, Tuhan!" Rama mengatupkan giginya dan mengusap wajah frustasi, "Kau tau penerbangan ku jam berapa, hah?"


"Tidak," jawab Daniel polos. "Boleh aku masuk?"


Tubuh Rama terhuyung karena Daniel menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"Memang kau akan berangkat jam berapa?" tanya Daniel seraya merebahkan badannya di sebelah Mike.


"Jam sepuluh!"

__ADS_1


"Berarti aku terlalu pagi datang kesini." Daniel menepuk bantal dan mencari posisi nyaman. "Kalau begitu aku tidur lagi saja. Tolong bangunkan aku jika kau akan berangkat."


"Seharusnya kau pakai mulutmu itu untuk bertanya! Aku heran kenapa pria sepertimu bisa menyandang gelar "Cum Laude"


"Aku sangat mengagumkan, bukan?" Daniel menjawab seolah ucapan Rama barusan adalah pujian.


Jika tidak ada hukum, mungkin sudah Rama cincang tubuh Daniel dan dia berikan kepada singa peliharaanya.


"Lapangkan hatimu, sebentar lagi kau akan terbebas darinya." Mike berbicara tanpa membuka matanya yang terpejam.


"Jika ada jasa reparasi otak tolong kabari aku," Mike melanjutkan gamamanya. Akan segera aku bawa dia kesana."


"Kau ganti saja kepalanya, dengan kepala sapi." Rama merebahkan tubuhnya sebelah Daniel.


"Kau sedang membicarakan siapa?" tanya Daniel yang berada dia antara Mike dan Rama.


Daniel menatap ke dua temanya dengan wajah bodoh. Dia ingin tahu siapa orang yang sedang di bicarakan oleh mereka.


"Selena Gomez!"


Ucap Rama dan Mike secara bersamaan.


Setelah itu, Rama dan Mike tidak menanggapi ocehan Daniel. Mereka tertidur dan membiarkan Daniel berbicara seolah mereka sedang mendengarkan orang mendongeng.


*****


Sudah tiga hari Bagas tidak mengantar jemput Gea. Setelah mengembalikan kemeja Bagas kemarin, Gea sudah tidak menghampirinya lagi. Bagas merasa ada sesuatu yang hilang.


Dan entah kenapa pagi ini Bagas melajukan mobilnya menuju indekos Gea. Wanita itu terlihat berdiri di pinggir jalan sedang menunggu angkutan umum.


"Ayo masuk!" Perintah Bagas saat berhenti tepat di depan Gea.


"Apa?" Gea menatap bingung.


"Cepat masuk!"


"Aku naik angkot saja, Pak!" Gea melanjutkan jalannya.


"Angkot tidak akan ada yang lewat."


Gea berhenti. "Kenapa?"


"Sedang ada demo."


"Benarkah?"


"Kau mau masuk atau tidak. Jika kau tidak mau aku akan pergi." Bagas memberi penawaran.


Gea merasa bimbang jika dia tidak ikut Bagas pasti nanti akan terlambat sampai di kantor.


"Aku ikut!" Teriak Gea saat Bagas sudah meyalakan mobilnya. Dengan cepat Gea membuka pintu mobil dan duduk tepat di sebelah Bagas.


Wanita itu mengerenyit bingung saat mobil Bagas sudah melaju di jalan raya.


"Kenapa banyak angkot?" Gea menatap angkot yang melaju sejajar dengan mobil Bagas. "Bapak bilang sedang ada demo?" ucap Gea sambil mengelus punggung tangannya yang berkeringat.


Bagas bingung harus menjawab apa, tapi saat dia menoleh, pria itu menautkan alisnya, "Kau sakit?" tanya Bagas, "wajahmu pucat sekali."


"Tidak. Aku baik-baik saja." Gea melap keringat dingin yang keluar dari dahinya.


"Kau yakin?" ujar Bagas memastikan. "Jika kau sedang tidak enak badan, lebih baik ijin untuk tidak masuk kantor saja."


"Tidak perlu." Cepat. Gea mengibaskan kedua tangannya.  "Setelah sampia nanti akan lebih baik."


Bagas mengangguk.

__ADS_1


Dua tidak tahu jika yang membuat wajah Gea pucat adalah dirinya.


*****


Langkah Doni sudah sampai di tangga terakhir. Dia menandangi istrinya dari jauh. Sebenarnya dia ingin berbicara sesuatu tapi di masih ragu.


"Kita sarapan dulu," ucap Sinta saat Doni memeluk pinggang rampingnya.


"Iya," jawab Doni sambil mengecup pelipis istrinya.


Sinta heran karena Doni sedikit pendiam. Tidak biasanya sauminya seperti itu.


"Sedang ada masalah di kantor?" tanya Sinta sambil meletakkan satu gelas susu.


Doni menengadah, "Tidak ada. Memangnya kenapa?"


"Aku rasa kau sedikit pendiam akhir-akhir ini. Apa ada yang kau sembunyikan?" tebak Sinta.


Doni hampir tersedak karena mendengar ucapan Sinta.


"Pelan-pelan," Sinta menyodorkan satu gelas air putih ke samping Doni dan menepuk pelan punggung suaminay.


"Aku harus segera ke kantor hari ini ada rapat." Doni mengakhiri pembicaran.


Doni meraih gelas susus dan meminumnya hingga tandas.


Sinta menghela nafas, "Hati-hati di jalan."


Doni mencium kening Sinta dan berjalan menuju mobilnya dengan langkah lebar.


"Dia terlihat aneh," ucap Sinta saat deru mobil Doni meninggalkan rumah.


Sinta menatap ponsel yang tergeletak di atas meja. Suaminya akhir-akhir ini memang sedikit pelupa.


"Dia selalu melupakan sesuatu."


Sinta sebenarnya penasaran dengan ponsela suaminya. Selama menikah tidak pernah sekalipun dia memegang atau membuka ponsel Doni.


"Ternyata tidak di kunci," gumam Sinta saat dia berhasil membuka layar ponsel.


Dan bersamaan dengan itu ada satu pesan instan masuk ke dalam ponsel Doni.


"N..." Sinta bergumam saat membaca nama si pengirim pesan, "Siapan, N?"


Tanpa membuka pesan Sinta tahu dari layar notifikasi si pengirim pesan mengajak bertemu dengan Doni.


Saat jarinya akan membuka pesan, suara Doni sudah lebih dulu menyapanya.


"Kau melihat ponselku?" ucap Doni sedikit tergesa.


Sinta segera mengunci ponsel Doni dan memberikannya. Sebenarnya dia penasaran isi lanjutan pesan itu.


"Kau selalu saja melupakan sesuatu."


"Mungkin aku hanya kelelahan." Soni mengusap tengkuknya. Dia terlihat gugup.


Doni meraih ponsel yang di sodorkan Sinta dan memasukan ke dalam saku.


"Ambilah cuti. Kau akhir-akhir ini sering pulang larut."


Doni  mengangguk. "Iya," membalik tubuhnya dan pergi menuju kantor.


**Bersambung...


🌺🌻🌼🌷🌸🌹**

__ADS_1


__ADS_2